Senin, 04 Juli 2016

Karate untuk Kehidupan & Dunia Kerja : RASA PERCAYA DIRI, SIKAP ANTISIPATIF, dan KOMUNIKASI



PENGANTAR

Tulisan kali ini masih merupakan kelanjutan dari tulisan-tulisan sebelum ini, yaitu tentang KARATE UNTUK KEHIDUPAN. Serial tulisan ini dibuat untuk men-sharing-kan pengalaman nyata penulis kepada para ibu dan ayah dalam menemani anak-anaknya, di mana nantinya anak-anak itu akan memasuki dunia kerja.

Constantinus selaku penulis berlatih karate sejak usia 19 tahun, dan saat itu TIDAK TAHU APA KAITAN KARATE DENGAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI & DUNIa KERJA. Lama setelah itu, yaitu ketika sudah berusia 46 tahun ( = 27 tahun kemudian), baru disadari bahwa karate bukanlah sekedar olah raga dan juga bukan sekedar alat untuk bela diri. Setelah mempelajari ILMU ALAM, ILMU SOSIAL, dan PROFESI PSIKOLOGI, penulis melihat kenyataan bahwa belajar karate adalah belajar tentang "AKAL - MENTAL - TEKNIK - FISIK - FILOSOFI" yang sangat berguna dalam membentuk RASA PERCAYA DIRI dan SIKAP ANTISIPATIF serta KOMUNIKASI yang sangat berguna dalam KEHIDUPAN SEHARI-HARI & di TEMPAT KERJA.

Yang pasti, karate itu BUKAN UNTUK BERKELAHI (tetapi untuk  membela diri kalau memang terpaksa, yaitu karena diserang) !

* * * * *

APA KEGUNAAN KARATE DALAM BEKERJA ? Kalimat seperti ini sudah berkali-kali saya dengar. Anehnya, yang mengajukan pertanyaan seperti ini bukan hanya ibu atau ayah yang tidak pernah berlatih karate, tetapi juga yang di masa mudanya sudah berlatih karate (atau beladiri lainnya). Bahkan, ada orang yang di masa mudanya merupakan atlet beladiri (kebetulan bukan karate) yang bahkan melarang anaknya berlatih beladiri itu, sebab dia tidak melihat kegunaan beladiri dengan dunia kerja.

Bagi saya sendiri, karate (asalkan dipelajari secara menyeluruh yaitu meliputi "AKAL - MENTAL - TEKNIK - FISIK - FILOSOFI; bukan sekedar olah raga saja) berguna dalam memupuk RASA PERCAYA DIRI, SIKAP ANTISIPATIF, serta KOMUNIKASI. Ini yang menurut pengalaman saya dan juga ilmu yang saya pelajari lewat pendidikan formal, merupakan hal yang SANGAT MENDASAR (karena itu menjadi sangat penting) dalam memasuki dunia kerja dan meniti karir, apapun bidang pekerjaannya, dan apapun level jabatannya.

PERCAYA DIRI saya pelajari dalam karate, karena selama berlatih karate, secara FISIK maupun MENTAL selalu DITEMPA untuk menjadi lebih baik. Dalam pengalaman saya pribadi, berlatih karate membuat seseorang TIDAK CENGENG, dan ini sangat penting di dalam dunia kerja. Orang yang berlatih karate melatih dirinya untuk DISIPLIN DALAM MENGATASI KESUKARAN / TANTANGAN. Hal ini menjadi semakin penting karena dalam profesi saya di bidang "human reaources" sejak 14 tahun yang lalu, saya menemui kenyataan bahwa semakin banyak pelamar kerja maupun karyawan baru yang dalam penilaian saya cenderung manja dan cengeng. Tentu saja, berlatih karate yang saya maksudkan di sini bukan hanya selama dua atau tiga bulan saja ! Sebab, saya juga sering bertemu dengan orang yang berkata, "Saya juga pernah ikut karate selama dua bulan". Kalau hanya ikut selama dua bulan, apa yang sudah didapat ? (tanya saya dalam hati).

SIKAP ANTISIPATIF saya pelajari selama berlatih karate, karena di karate diajarkan untuk selalu SIAP & WASPADA. Selain itu, karate juga mengajarkan untuk MENGHORMATI ORANG LAIN YANG LAYAK DIHORMATI, yang sangat berguna dalam dunia kerja : orang itu ada yang baik dan ada yang tidal baik; jangan disamaratakan apalagi sampai terbalik dalam memperlakukannya (maksudnya : orang baik harus dihormati, tetapi orang tidak baik harus diwaspadai).

KOMUNIKASI ! Bagaimana karate bisa berguna di dunia kerja, yaitu dalam hal komunikasi ?  Sekali lagi, tentu saja, kalau berlatih karate hanya untuk olah raga saja, apalagi hanya selama beberapa bulan, maka hal KOMUNIKASI ini tidak akan didapat dari karate. Tetapi saya sendiri mendapatkan manfaat nyata dari karate dalam hal komunikasi : dengan orang yang saya bisa ajak menggunakan AKAL, saya berkomunikasi menggunakan AKAL. Sebaliknya, dengan orang yang hanya bisa diajak menggunakan OKOL (bahasa tubuh yang tegas / keras, bahkan ada kemungkinan terjadi konflik secara fisik), maka saya harus bisa berkomunikasi menggunakan OKOL juga. (Anehnya, orang-orang yang pada awalnya mengajak berkomunikasi dengan OKOL, ketika dilayani berkomunikasi dengan OKOL juga, pada umumnya justru kemudian mau berubah menjadi berkomunikasi dengan AKAL; jadi sebenarnya mereka ini hanya menggertak saja).

Ibu-ibu dan bapak-bapak pembaca blog inspirasi pendidikan kreatif "Holiparent" yang saya hormati,

Demikianlah telah saya sharing-kan : pengalaman nyata saya tentang KARATE UNTUK KEHIDUPAN & PEKERJAAN. Sebenarnya, hal ini merupaka  materi tentang (apa yang disebut dengan) KEPEMIMPINAN DI DUNIa KERJA, tetapi saya menceritakannya dengan cara yang praktis.

Selamat menemani anak....

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"


-----oOo-----



Tulisan dan Foto oleh Constantinus J. Joseph, Susana Adi Astuti, dan Bernardine Agatha Adi Konstantia.

Constantinus  adalah praktisi karate, praktisi psikologi industri, anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), dan anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO). Susana adalah praktisi karate dan karyawati perusahaan. Agatha adalah praktisi karate dan murid SMA.