Jumat, 08 Juli 2016

Menemani Anak : Menyeimbangkan AKAL dan OKOL



Salah satu pertanyaan yang sering muncul di dalam hati saya dan juga ditanyakan oleh banyak orang adalah, "Apa gunanya berlatih karate dalam menjalankan pekerjaan, kalau pekerjaan itu adalah pekerjaan 'kantoran' atau pekerjaan yang sifatnya 'non fisik' / bukan di bidang jasa 'security' ?"

Jujur saja, saya memerlukan waktu yang lama untuk melakukan perenungan guna mencari jawaban yang betul-betul jujur dan karena itu tidak mengada-ada. Dan jawaban itu saya dapatkan dalam kuliah filsafat pada saat saya menyelesaikan pendidikan formal di bidang psikologi. Kalau saya pikir-pikir, sebenarnya jawabannya sederhana saja. Tetapi, memang jawaban yang sederhana itulah yang mendasar, dan untuk mendapatkannya memerlukan proses renungan yang panjang (setidaknya, inilah proses yang harus saya jalani).


* * * * *

Pendidikan formal di bidang psikologi yang saya tempuh mulai usia 37 tahun (latar belakang pendidikan saya adalah "aquaculture engineering", yang saya tempuh sejak umur 19 tahun, setelah itu saya belajar ilmu manajemen), membawa saya pada kesadaran  bahwa FISIK MAUPUN PSIKIS adalah sama-sama penting. Kesadaran inilah yang membuat saya  (dan istri saya; kami suami dan istri sama-sama berlatih karate sejak usia 19 tahun, namun dengan "style" karate yang berbeda) "kembali" berlatih karate, setelah sekian lama kami tidak berlatih di dojo (saya dan istri kembali berlatih di tahun 2007, tetapi hal ini karena saya dan istri menemani anak kami yang saat itu berusia 8 tahun dan senang dengan karate).

FISIK adalah sama pentingnya dengan PSIKIS ! Mengapa hal ini saya tuliskan lagi ? Karena adalah merupakan TUGAS KITA SEBAGAI ORANG TUA untuk menemani anak-anak kita, supaya kedua hal yang SAMA PENTINYA itu tumbuh secara SEIMBANG !

Mengapa saya mengatakan hal ini dengan huruf besar (untuk menekankan pentingnya hal ini ) ?
Karena kita sudah melihat fakta ini dalam kehidupan sehari-hari (bahkan mungkin juga kita alami sendiri) :

----- Anak-anak yang menonjol secara akademik, PADA UMUMNYA tidak menonjol dalam bidang olah raga (atau kegiatan fisik lainnya). Anak-anak ini BERPOTENSI menjadi korban "bullying".

----- Anak-anak yang menonjol dalam bidang olah raga (atau kegiatan fisik lainnya) PADA UMUMNYA tidak menonjol secara akademik. Anak-anak ini BAHKAN BERPOTENSI melakukan "bullying" (meskipun hanya sebagian kecil saja; karena tidak semua anak-anak dalam kelompok ini melakukan "bullying").

Bahkan dalam dunia kerja / di tempat kerja sekalipun, hal yang sama masih berlaku :

----- Para karyawan "pemikir" biasanya pendiam, tidak banyak bersosialisasi, dan bahkan cenderung "kutu buku".

----- Para karyawan yang suka bersosialisasi cenderung suka aktivitas fisik (termasuk olah raga), kurang suka membaca buku (akibatnya : kurang dalam memikirkan dan mengemukakan ide-ide serius), dan ada kecenderungan berani berkonflik bahkan secara fisik (berani "ribut" / berani berkelahi).

Lalu, bagaimana kalau ada karyawan yang memiliki kedua tipe tersebut di atas ? Dia memiliki peluang menjadi PEMIMPIN di tempat kerjanya, entah secara formal (memang diangkat oleh perusahaan menjadi supervisor / manajer dengan surat keputusan direksi), entah secara informal (tidak punya jabatan supervisor / manajer tapi punya pengikut / pendapatnya diikuti oleh rekan kerja bahkan atasannya !)

Memang, kepemimpinan itu bukan hanya perlu AKAL ("otak" / pemikiran) saja, tetapi juga perlu OKOL (fisik / tubuh) yang kuat ! Dan sebagaimana sudah saya kemukakan dalam tulisan saya di blog ini sebelumnya, karate mendukung keseimbangan ini : AKAL - MENTAL - TEKNIK - FISIK - FILOSOFI.

"Jadi, kenapa seorang pemimpin itu perlu belajar karate ?" tanya anak saya.

"Karena pemimpin itu harus 'meluruskan' hal-hal yang tidak benar, dengan menggunakan pemikirannya," jawab saya. "Nah, anak buah yang tidak baik, tidak suka kalau hal-hal yang tidak benar ini ----- misalnya pungutan uang liar di perusahaan ----- 'diluruskan' alias ditiadakan, sebab hal ini merugikan mereka. Maka, mereka bisa saja 'main kasar' seperti mengancam bahkan menyerang secara fisik (memukul dan sebagainya). Memang, manajemen perusahaan ketika diberi laporan tentang hal itu pasti tidak akan tinggal diam".

"Tapi, pada saat kejadian, adalah SANGAT MENGUNTUNGKAN dan MENINGKATKAN WIBAWA PEMIMPIN tersebut apabila dia bisa MENGHENTIKAN SERANGAN yang ditujukan kepadanya dengan TENANG dan TIDAK BERLEBIHAN dengan ilmu karatenya," saya menjelaskan lebih lanjut. "Di kemudian hari, orang tidak akan berani lagi 'main-main' dengan pemimpin ini, karena sudah terbukti bahwa dia bisa karate".


* * * * * 

Selamat menemani anak.

Selamat menemani anak guna mempersiapkan masa depannya, yaitu memasuki dunia kerja dan menjadi pemimpin. Sebab, hal itu tidak bisa disiapkan secara "instant", tetapi memerlukan waktu bertahun-tahun.
Selamat menemani anak belajar di bidang akademis maupun belajar karate.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----oOo-----



Tulisan dan foto oleh Constantinus J. Joseph, Susana Adi Astuti, dan Bernardine Agatha Adi Konstantia.

Constantinus adalah praktisi karate, praktisi psikologi industri, anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO). Susana adalah praktisi karate dan karyawati perusahaan. Agatha adalah praktisi karate dan murid SMA.