Minggu, 13 Desember 2020

Lingkungan, Pandemi, dan Produktivitas (Bagian 1)

 


Foto oleh : Bernardine Agatha Adi Konstantia (1)

(1/500 sec; f /4.5; 33 mm; ISO 1600; Canon EOS 550D; 8 Nov 2013)


Tulisan oleh :

Dr. (Cand) Susana Adi Astuti, S.Pi, MM, M.Si (2)

Dr. (Cand) Constantinus, S.Pi, S.Psi, MM, MM, M.Psi, Psikolog (3)


"Apakah pandemi ini ada kaitanya dengan lingkungan tempat kita hidup ?", begitulah pertanyaan yang muncul dalam beberapa kesempatan diskusi dengan para direktur maupun komisaris perusahaan. 


Kami menjawab dengan praktis saja, "Mari kita lihat kenyataan lingkungan tempat kita bekerja. Apakah sudah ada cukup banyak cahaya matahari yang masuk ? Apakah cukup banyak sirkulasi udara yang masuk terutama ketika cuaca cerah, atau selalu menggunakan AC (air conditioner) ? Apakah kepadatan populasi karyawan yang ada di suatu ruangan tempat kerja tidak terlalu tinggi ?"


Mendengar apa yang kami katakan, biasanya terdengar jawaban, "Saya tidak tahu". Atau, "Di tempat saya, tidak".


Harus diakui bahwa kebanyakan dari kita memang memiliki pandangan bahwa lingkungan di mana kita hidup maupun bekerja adalah sebatas tempat saja. Kebanyakan dari kita memang tidak memiliki pandangan bahwa lingkungan di mana kita hidup maupun bekerja sangat besar pengaruhnya pada diri kita melalui "jalur kesehatan psikologis" maupun melalui "jalur kesehatan fisik".  Lingkungan yang baik akan membuat kita sehat secara psikologis maupun fisik, sehingga kerja kita jadi produktif dan hidup kita jadi sejahtera (sebagai salah satu faktor penentu kebahagiaan). Demikian pula sebaliknya.


(Bersambung)


-----

(1) Mahasiswa S-1 Teknologi Pangan Unika Soegijapranata (sedang menyelesaikan penelitian untuk skripsi), aktivis pers kampus & kegiatan kepemimpinan, fotografer & penulis.

(2) Kandidat Doktor Unika Soegijapranata Semarang, employment counselor & trainer di bidang psikologi & manajemen, Direktur Holiparent Research & Education. Anggota HIMPSI nomor 20190017. Bersertifikat Manajemen SDM dengan skema SKKNI.

(3) Kandidat Doktor Unika Soegijapranata Semarang, employment counselor & trainer di bidang psikologi & manajemen, psikolog praktik dengan SIPP 1456-20-2-2. Anggota HIMPSI nomor 20120109. Bersertifikat Manajemen SDM dengan skema SKKNI.



HOLIPARENT RESEARCH & EDUCATION : Kedaton Terrace D9/03, BSB City, Semarang

HOLIPARENT TAMAN KREATIF : Permata Quanta AA I / 5, Permata Puri, Ngaliyan, Semarang

HOLIPARENT PSIKOLOGI & MANAJEMEN : Kedaton Terrace D9/03, BSB City, Semarang

Sabtu, 12 Desember 2020

Workshop dengan Protokol Kesehatan di Era Pandemi

Dr. (Cand) Susana Adi Astuti, S.Pi, MM, M.Si dan Dr. (Cand) Constantinus, S.Pi, S.Psi, MM, MM, M.Psi, Psikolog memberikan seminar dan workshop dengan protokol kesehatan di Yogya pada hari Sabtu tanggal 21 Nopember 2020.


Pembaca Holiparent Psikologi & Manajemen yang budiman,



Sejak tanggal 16 April 2020, tim Holiparent tidak memberikan seminar maupun workshop karena adanya pandemi Covid-19. Lalu, dengan adanya aturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Republik Indonesia tentang protokol kesehatan, tim Holiparent mengadakan seminar dan workshop sejak Oktober 2020 dengan protokol kesehatan. 


Pada tanggal 21 Nopember 2020, tim Holiparent memberikan sharing plus workshop tentang VUCA & RIANG FRAMEWORK bagi PT BPR Restu Mranggen Makmur. Kegiatan diadakan di Yogya, dengan protokol kesehatan sesuai aturan dari Pemerintah Republik Indonesia..



Memang, kondisi jadi tidak bebas seperti sebelum ada pandemi, karena harus memakai masker, sering mencuci tangan, dan juga harus menjaga jarak satu sama lain. Tapi inilah era new normal, di mana semua orang harus melakukan protokol kesehatan dalam rangka mencegah penyebaran virus Covid-19.

Semoga pandemi segera berakhir, dan kita semua selalu sehat sejahtera dalam lindungan Tuhan Yang Mahaesa. Amin.


----- oOo -----

"HOLIPARENT PSIKOLOGI & MANAJEMEN"

&

"HOLIPARENT TAMAN KREATIF"

adalah bagian dari "HOLIPARENT RESEARCH & EDUCTION"

Alamat :

Kedaton Terrace D9/03, BSB City, Semarang

&

Permata Quanta AA I / 5, Permata Puri, Ngaliyan Semarang

WA ; 082 136 424 089



 

MENTOR | KECERDASAN STERNBERG


Pembaca Holiparent yang budiman,

Bagi yang ingin mengetahui pentingnya mencari dan mendapatkan mentor yang handal untuk kesuksesan karir, silakan membaca tulisan Psikolog Constantinus di media-1-visi.blogspot.com edisi 10 Desember 2020.

Adapun bagi yang ingin membaca tulisan Susana & Constantinus tentang kecerdasan Sternberg, silakan membaca di media-1-visi.blogspot.com edisi 8 Desember 2020.

Susana dan / atau Constantinus sebagai praktisi manajemen SDM bersertifikat BNSP  & ahli psikologi secara rutin menulis tentang psikologi di media-1-visi.blogspot.com setiap Selasa dan Kamis sejak 15 Oktober 2020.

Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Salam,

Dr. (Cand) Susana, Dr. (Cand) Constantinus, Bernardine Agatha



Minggu, 12 Juli 2020

WEBINAR tentang VUCA - INDUSTRY 4.0 - NEW NORMAL (panitia : mahasiswa S-1 Psikologi UIN Walisongo)













Konsultasi Gratis : RE-KREASI RAMAH LINGKUNGAN


Konseling Psikologi untuk Produktivitas di Era New Normal : ANTI DISTRESS


Dr. (Cand) Susana Adi Astuti di LPK : TETAP KREATIF & PRODUKTIF di Era New Normal


Dr. (Cand) Susana Adi Astuti di LPK : MANAJEMEN STRES di Era New Normal


Dr. (Cand) Susana Adi Astuti di LPK : MENEMANI PEMBELAJARAN ANAK di Era New Normal


Dr. (Cand) Susana Adi Astuti di LPK : WORK FORM HOME yang Efektif


Psikolog CONSTANTINUS di LPK : PENCAHAYAAN TEMPAT KERJA yang Ergonomis (untuk Work from Home)


Psikolog CONSTANTINUS di LPK : PENGGUNAAN LAPTOP YANG ERGONOMIS untuk Work from Home


Bincang-Bincang MSDM : ERGONOMIKA & GEMBA KAIZEN di Era New Normal


Bincang-Bincang MSDM : SISTEM ORGANISASI di Era New Normal


Senin, 15 Juni 2020

Psikolog CONSTANTINUS : ASESMEN PSIKOLOGI HOLISTIK


Psikolog CONSTANTINUS : NEW NORMAL


FGD online : AUDIT KOMUNIKASI di Era New Normal / VUCA dan Aplikasi Psikologi Jawa





Holiparent Research & Education - Studio 26h pada hari Sabtu tanggal 13 Juni 2020 mengadakan focus group discussion (FGD).  Materi yang dibahas adalah audit komunikasi, new normal / VUCA world, dan psikologi Jawa. Acara terbuka bagi masyarakat umum,  dan diikuti oleh praktisi manajemen sumberdaya manusia serta juga mahasiswa psikologi.

Studio 26h sebagai penyelenggara adalah divisi dari Holiparent Research & Education yang memberikan layanan counseling & coaching psikologi di bidang berpikir, menulis, dan berbicara. Kalau mengikuti pelatihan / seminar lain, ketika pulang menjadi (merasa) lebih tahu / lebih pandai, maka setelah mengikuti FGD ini peserta ketika pulang menjadi sadar bahwa masih ada banyak sekali yang belum diketahui.



Personil Studio 26h  terdiri dari Susana Adi Astuti, Bernardine Agatha Adi Konstantia, dan Constantinus. Bernardine Agatha adalah jurnalis / aktivis pers kampus dan mahasiswa food technology di Universitas Katolik Soegijapranata. 



FGD ini menggunakan buku dengan judul Audit Komunikasi tulisan Mohammed dan Bungin (2015) sebagai salah satu bahan diskusi, dikombinasikan dengan materi tentang VUCA world (volatility - uncertainty - complexity - ambiguity) sebagaimana dikemukakan oleh Warren Bennis dan Burt Nanus (1987) serta VUCA prime (vision - understanding - clarity - agility) sebagaimana dikemukakan oleh Robert Johansen (2007). Selain itu, dipaparkan juga materi tentang new normal & self efficacy oleh Susana Adi Astuti, S.Pi, MM, M.Si (peneliti & ilmuwan psikologi sosial & lingkungan) dan materi tentang psikologi Jawa oleh Constantinus, S.Pi, S.Psi, MM, MM, M.Psi, Psikolog (peneliti & psikolog organisasi & lingkungan). 

Susana Adi Astuti, S.Pi, MM, M.Si
(Direktur HOLIPARENT Research & Education,
Peneliti & Ilmuwan Psikologi Sosial dan Lingkungan)


Constantinus, S.Pi, S.Psi, MM, MM, M.Psi, Psikolog
(Peneliti & Psikolog Organisasi dan Lingkungan)


Foto bersama peserta FGD

Tujuan dari diadakannya FGD ini adalah :

  1. Meningkatkan ketrampilan berpikir dan berbicara para peserta, betapapun kecilnya
  2. Meningkatkan kesadaran tentang ke-belumtahu-an mengenai komunikasi & audit komunikasi untuk kinerja / produktivitas dikaitkan dengan new normal maupun VUCA world dan Psikologi Jawa



Pembahasan yang dilakukan dalam FGD ini meliputi :

  1. Perlukah melakukan audit komunikasi ?
  2. Bagaimana melakukannya dengan berbasis Psikologi Jawa ?



Intisari dari Audit Komunikasi yang dijadikan bahan FGD



Pengantar FGD yang dibawakan oleh Constantinus, S.Pi, S.Psi, MM, MM, M.Psi, Psikolog

\

Dari FGD yang dilakukan, diperoleh catatan sebagai berikut :

  1. Audit komunikasi semakin perlu di saat new normal sekarang ini, karena ada banyak orang yang tidak terstandar ketrampilaan komunikasinya. Lalu, bagaimana cara melakukannya ? Apakah dengan cara formal ? Ataukah dengan cara non formal ? Bagaimana menggunakan Psikologi Jawa untuk hal ini ?
  2. Kalau untuk melakukan komunikasi saja sudah ada rasa ewuh pekewuh di kalangan anak muda, maupun “dipandang berperilaku kurang ajar” dari kalangan orang tua, apalagi untuk melakukan audit komunikasi ! Lalu, apakah samesthine dan sabenere bisa membantu untuk ini ?
  3. Melakukan audit dengan metode cerita perlu dilakukan ntuk menjaga rasa nyaman di pihak komunikan. Lalu, bagaimana caranya membuat komunikator terampil menggunakan metode cerita ?
  4. Dalam melakukan audit komunikasi, perlu untuk memeriksa apakah jalur komunikasi yang selama ini ada memang sudah mencukupi atau belum.  Kalau ternyata belum mencukupi, lalu apa yang harus dilakukan ?
  5. Juga perlu dilakukan pengukuran daya tangkap komunikan. Lalu, apa yang harus dilakukan ?
  6. Adalah perlu untuk menyamakan dengan “frekuensi”  komunikan ketika menjalankan audit komunikasi. Lalu, sejauh apa mirroring  yang harus dilakukan ? Atau, kapan mulai perlu digunakan “pendekatan kekuasaan” ?
  7. Audit komunikasi dalam Psikologi Jawa harus didasari doa. Lalu, kalau semua sudah dilakukan ternyata tidak berubah, kapan saatnya harus merasa ikhlas ? Apakah itu pertanda kedewasaan, atau sudah menyerah ? 




Semoga dengan berakhirnya FGD ini, peserta menjadi semakin sadar tentang ke-belumtahuan-nya, dan menjadi pendorong untuk terus belajar guna mengatasi permasalahan sehari-hari.



Sabtu, 06 Juni 2020

VIP - LANJUT I



Menjawab pertanyaan peserta tentang kelanjutan program VIP bagi yang sudah lulus, dengan ini disampaikan ketentuan "Jenjang Magang Kerja Online VIP" di Komunitas Psikologi "Holiparent Research & Education". Bagi yang sudah sudah lulus tahap I / sekarang sudah yellow belt dan berminat ikut program lanjutan, silakan mengisi formulir pendataran lewat WA (formulir dapat diminta ke WA 0852 1540 6189).

FORM PENDAFTARAN VIP - LANJUT I dilakukan lewat WA.

VIP - LANJUT I ini sifatnya perorangan dan mandiri. Perorangan artinya tidak harus menunggu beberapa orang baru dimulai. Mandiri artinya setelah mendaftar lewat WA, bisa langsung mencari 2 orang klien yang akan diberi konsultasi seputar menjadi SDM yang baik berbasis ilmu psikologi yang sudah didapat di bangku kuliah. Misalnya : bagaimana membuat Daftar Riwayat Hidup, bagaimana mengenali kecerdasan pribadi, dll. Prinsip dari VIP - LANJUT I adalah peserta menerapkan ilmu psikologi di masyakat / tempat kerja.

Dalam waktu 1 bulan sejak mendaftarkan diri, perserta VIP - LANJUT I harus mengirim laporan & melakukan presentasi / gelar karya secara online (jadwal akan ditentukan pengelola). Laporan harus ada dokumentasi foto / video ssebagai bukti pendukung.

SURAT TUGAS diberikan kepada peserta 1 hari setelah mendaftar lewat WA. 
Surat Tugas berlaku selama 1 bulan.

Bagi peserta yang sudah dinyatakan lulus VIP - LANJUT I, diberikan SURAT KETERANGAN yang menuliskan bahwa sudah lulus LANJUT I dalam skema VIP. Adapun contoh surat keterangan adalah seperti tersebut di bawah ini.




Semoga kita semua selalu dalam berkat dan lindungan Tuhan Yang Mahaesa. Amin. 




Sdr. Nathaniel, Sdri. Kezia, Sdr. Mahbub : lulus evaluasi VIP tingkat dasar dengan metode online


Pengelola Komunitas Psikologi "Holiparent Research & Education" mengucapkan SELAMAT kepada Sdr. Nathaniel dan Sdri. Kezia yang sudah lulus evaluasi / gelar karya VIP secara online pada hari Jumat tanggal 29 Mei 2020, dan kepada Sdr. Mahbub yang sudah lulus evaluasi / gelar karya secara online pada hari Jumat 5 Juni 2020.

Menjawab pertanyaan dan harapan dari para peserta VIP yang sudah lulus tentang kelanjutan program VIP, dengan ini diberitahukan bahwa pada tanggal 6 Juni 2020 telah dibuka program VIP - LANJUT I.

Selamat mengikuti !

Jumat, 05 Juni 2020

Evaluasi VIP secara online, Jumat 5 Juni 2020

Bagi teman-teman peserta VIP yang belum maupun sudah lulus evaluasi / gelar karya dari angkatan berapapun, silakan hadir di Google Meet hari Jumat tanggal 5 Juni 2020 pk 19.00 - 21.00. Bagi yang sudah lulus, semoga berguna untuk menambah wawasan. Bagi yang belum lulus, ini merupakan kesempatan untuk mendapatkan evaluasi & pengarahan, supaya dapat memperoleh sertifikat (akan dikirim lewat e-mail).



Senin, 06 April 2020

BINGKAI PSIKOLOGI untuk Pemimpin & Calon Pemimpin : STOP Wawancara Tanpa Observasi Lapangan Lebih Dulu !








Bingkai Psikologi[1]
Bersama : Constantinus[2]
& Susana Adi Astuti[3]
 


(STOP WAWANCARA BERBASIS ASUMSI SAJA !)
JANGAN MELAKUKAN WAWANCARA
TANPA OBSERVASI DI LAPANGAN 
LEBIH DULU

 “Apakah yang harus dilakukan oleh seorang pewawancara sebelum dia mewawancarai calon karyawan ?” tanya Slontrot kepada saya.

“Dia harus tahu betul apa yang harus dikerjakan oleh calon  karyawan itu kalau nantinya diterima,” jawab saya.

“Jadi pewawancara harus tahu betul apa yang nantinya harus dikerjakan oleh seorang operator SPBU[4] kalau akan mewawancarai calon operator SPBU ?” tanya Slontrot.

“Ya,” jawab saya tegas.

“Bagaimana caranya ?” Slontrot kelihatan ingin tahu.

“Harus hafal Job Desc[5] dan SOP[6] operator SPBU di luar kepala,” jawab saya. “Juga melakukan observasi dan wawancara informal kepada para operator SPBU yang sudah berpengalaman”.

*****

Pertanyaan yang kemudian muncul, itu untuk pewawancara psikologi atau wawancara kompetensi ? Jawabannya adalah untuk keduanya. Pewawancara psikologi maupun pewawancara kompetensi sama-sama harus mengetahui dengan pasti, bukan hanya berdasarkan angan-angan tentang SOP dan Job Desc operator SPBU. Jangan sampai membuat rekomendasi dapat diproses lanjut, masih dapat diproses lanjut, atau kurang disarankan untuk diproses lanjut hanya berdasarkan angan-angan saja, tanpa pernah secara nyata melakukan observasi dan wawancara, dan tanpa hafal di luar kepala tentang SOP dan Job Desc pekerjaan yang di-wawancara-kan.

*****

“Terus, apa perbedaan pewawancara psikologi dan pewawancara kompetensi kalau sama-sama harus melakukan observasi dan wawancara serta hafal SOP dan Job Desc operator SPBU ?” tanya Slontrot.

“Pewawancara psikologi akan mendalami dengan BEI-STAR[7] tentang kecocokan calon karyawan itu dengan pekerjaan sebagai operator SPBU ditinjau dari tujuan hidup atau motifnya bekerja, kecerdasannya, kepribadiannya, dan minatnya,” kata saya. “Pewawancara kompetensi akan mendalami dengan wawancara hal-hal teknis serta  simulasi atau peragaan untuk mengukur kecocokan calon karyawan itu dengan pekerjaan sebagai operator SPBU”.

Slontrot mengangguk-anggukkan kepala.

“Dan ada tambahan lagi,” kata saya mengagetkan Slontrot. “Pewawancara psikologi harus mengukur juga potensi yang dapat dikembangkan dalam diri calon karyawan itu. Misalnya, karena dia relatif pandai berhitung atau matematika, atau karena komunikasinya ramah dan jelas, atau karena dia terlihat percaya diri dan mempersiapkan diri mengikuti wawancara dilihat dari cara berpakaian, kerapian rambut, bahasa tubuh, dan sebagainya. Pewawancara dapat mengukur apakah calon karyawan ini apabila nantinya diterima dapat dikembangkan menjadi supervisor dengan pelatihan dan pendidikan yang khusus diberikan kepada calon supervisor.”  

“O… Jadi memang harus ada pelatihan dan pendidikan khusus untuk mengembangkan karyawan yang punya potensi lebih baik dari yang biasanya, ya ?” tanya Slontrot.

*****

Godaan bagi pewawancara pemula adalah kurang menggali lebih dalam dan melihat secara lebih luas atau lebih utuh serta lebih jauh ke depan tentang apa yang ada pada diri calon karyawan, serta kondisi nyata dari bisnis yang sedang di-wawancara-kan (dalam contoh ini adalah bisnis SPBU). Termasuk dalam kondisi nyata dari bisnis adalah harapan / tuntutan dari masyarakat selaku konsumen, aturan yang diterapkan oleh institusi terkait tentang penjaminan mutu, aturan dari pemilik perusahaan tentang target yang harus dicapai dan kepemimpinan untuk kerja sama tim, dan lain-lain.

Dengan demikian, menjadi pewawancara potensi haruslah benar-benar membumi alias mengetahui betul kondisi nyata di lapangan, lewat observasi dan wawancara kepada para operator yang sudah berpengalaman, serta hafal tentang SOP dan Job Desc yang harus dikerjakan operator SPBU.

*****

Slontrot pamit pulang. Dia sudah lebih paham sekarang. Tinggal melakukan apa yang sudah saya katakan, yaitu harus melakukan observasi dan wawancara di lapangan, serta hafal SOP dan Job Desc, supaya dalam melakukan wawancara psikologi jangan didasarkan pada asumsi saja.


Semarang, 6 April 2020
di teras rumah
Jl. Anjasmoro V/24 Semarang


[1] Adalah tulisan yang dibuat sebagai bahan refleksi kepemimpinan bagi para pemimpin dan calon pemimpin di Komunitas Psikologi “Holiparent Research & Education” Semarang, supaya tidak membatasi diri untuk melihat pekerjaan sebatas kegiatan mencari uang (karena pekerjaan adalah kesempatan berkarya untuk memuji Tuhan Yang Mahaesa).
[2] Constantinus, S.Pi, S.Psi, MM, MM, M.Psi, Psikolog adalah psikolog praktek, employment counselor bersertifikat manajemen sumber daya manusia dari BNSP RI, Direktur “Praktek Psikologi Constantinus & Rekan”.  
[3] Susana Adi Astuti, S.Pi, MM, M.Si adalah ilmuwan psikologi sosial, employment counselor bersertifikat manajemen SDM dari BNSP RI, Direktur “Holiparent Research & Education”.
[4] Stasiun Pompa Bensin untuk Umum alias pom bensin.
[5] Job Description
[6] Standard Operation & Procedure
[7] Behavior Event Interview – Situation Task Action Result