Pengantar
(1) Tulisan ini dibuat untuk menjawab pertanyaan mahasiswa saya maupun para karyawan perusahaan yang berkonsultasi tentang strategi karir kerja.
(2) Tulisan ini diharapkan juga berguna bagi para orang tua dalam menemani anaknya membangun dan mewujudkan cita-cita dengan "Segitiga Holiparent" berdasarkan :
(a) Minat Bakat,
(b) Peluang yang ada,
(c) Barulah kemudian membangun "skill" dengan sekolah / kuliah maupun pelatihan / kursus / seminar dan lain-lain.
Segitiga Holiparent (2025)
oleh Dr. Constantinus, Dr. Susana Adi Astuti,
Bernardine Agatha Adi Konstantia, M.Sc
Bekerja di bank dengan ijasah S-1 Perikanan (Akuakultur)
Jalan hidup membuat saya bekerja di Bank BNI di akhir tahun 1995 setelah lulus dari S-1 Perikanan (Akuakultur) di awal tahun 1995. Beruntung, selama kuliah di S-1 Perikanan (Akuakultur), saya mendapatkan kuliah-kuliah Ekonomi / Manajemen yang "masih nyambung" untuk bekerja di bank, seperti :
(a) Pengantar Ilmu Ekonomi
(b) Dasar-Dasar Manajemen
(c) Ekonomi (Perikanan)
(d) Tata Niaga (Hasil Perikanan)
(e) Manajemen Usaha (Perikanan)
Memang, ada embel-embel "Perikanan" di kuliah-kuliah itu, tetapi "konsep dasarnya" adalah Ekonomi / Manajemen.
Selain itu, juga ada kuliah-kuliah lain yang juga "nyambung" untuk bekerja di Bank, yaitu :
(a) Bahasa Indonesia
(b) Bahasa Inggris
(c) Matematika I dan II
(d) Statistika (berguna untuk membuat laporan transaksi layanan nasabah)
(e) Ilmu Budaya Dasar (berguna untuk memahami perilaku nasabah berdasarkan latar belakang budayanya)
(f) Ilmu Sosial Dasar (berguna untuk memahami kebutuhan dan harapan nasabah berdasarkan latar belakang sosialnya)
(g) Sosiologi (berguna untuk memahami nasabah, sama seperti Ilmu Budaya Dasar dan Ilmu Sosial Dasar)
(h) Hukum & Peraturan (Perikanan) (berguna untuk memahami dasar-dasar hukum di Indonesia)
(i) Penyuluhan (berguna untuk memberikan edukasi kepada nasabah)
Sampai di sini, saya ingin berbagi pengalaman bahwa di dunia kerja, ada banyak (mata) kuliah S-1 Perikanan (Akuakultur) yang tetap bisa dipakai.
Tentu saja, saya juga melihat kenyataan bahwa untuk bisa diterima bekerja di bank, saya harus memiliki nilai lebih dibandingkan pelamar lainnya. Yang jelas, saya tidak punya kerabat atau kenalan yang merupakan orang hebat, sehingga saya mengandalkan hasil tes penerimaan karyawan secara murni. Upaya nyata yang saya lakukan menjelang lulus adalah :
(a) Mengikuti kursus perbankan selama 1 atau 2 bulan
(b) Mengikuti kursus pemrograman komputer (sekarang disebut coding) dengan dBase 3+.
Memang, biaya kursus ini tidak murah. Tetapi saya sudah "nyambi" bekerja sebagai salesman dan guru les privat sejak masih kuliah di semester II, sehingga saya memiliki uang yang cukup untuk membayar biaya kursus-kursus tersebut.
Bekerja di perusahaan manufaktur dengan Ijazah S-2 Manajemen (Pemasaran)
Sambil bekerja di Bank BNI, saya juga "nyambi" kuliah S-2 Manajemen (Pemasaran). Saya memilih konsentrasi bidang pemasaran karena pekerjaan saya banyak berkaitan dengan "memberikan layanan kepada nasabah". Jangan dikira bahwa keuangan saya aman-aman saja selama saya kuliah S-2 Manajemen (Pemasaran). Sering "tidak ada uang di dompet" karena uang saya habis untuk membayar kuliah S-2 Manajemen (Pemasaran). Untuk menghibur diri, saya melakukan "self talking" bahwa semua ini adalah "laku prihatin di era ke-kini-an" untuk menjalankan Strategi Karir yang saya buat.
Meski saya kuliah S-2 Manajemen (Pemasaran) selama masih bekerja di Bank BNI, saya baru lulus S-2 Manajemen (Pemasaran) di tahun 2000, ketika saya sudah pindah kerja ke Group Perusahaan Texmaco (Jakarta). Ilmu + relasi + ijazah S-2 Manajemen (Pemasaran) ini sangat berguna untuk menjalankan Strategi Karir saya, karena di Group Perusahaan Texmaco saya bekerja di Departemen Pemasaran Ekspor (Divisi Benang Sintetis). Saya pernah bekerja di Kantor Jakarta, di Pabrik Kaliwungu (Kendal), dan di pabrik Klari (Karawang).
Kuliah S-1 Hukum (Perusahaan) karena ada peluang karir
Berbekal ijazah S-1 Perikanan (Akuakultur) dan S-2 Manajemen (Pemasaran), pada tahun 2002, saya pindah kerja di sebuah group perusahaan yang masih pada level "perusahaan keluarga". Memang ada "culture shock" yang saya alami, karena dulu saya bekerja untuk Bank BNI (P.T. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk) kemudian saya bekerja untuk Group Perusahaan Texmaco (saya bekerja di P.T. Polysindo Eka Perkasa, Tbk), keduanya adalah "perusahaan besar" dengan "kantor cabang di luar negeri" dan merupakan "perusahaan terbuka".
Saya tertarik bekerja di group perusahaan pada level "perusahaan keluarga" ini karena "saya bisa kembali ke Semarang" dan karena gajinya besar serta bonusnya besar. Tentu saja, pekerjaannya juga banyak. Suatu ketika, saya tersenyum kecil ketika melihat struktur organisasi di kantor pusat maupun di berbagai anak perusahaan, karena saya memiliki 17 (tujuh belas) jabatan, antara lain :
(1) Direktur Operasional Dealer Mobil Bekas A
(2) Direktur Humas Korporat
(3) Sekretaris Korporat
(4) Direktur HRD Korporat
(5) Komisaris Bank B
(6) Komisaris Bank C
(7) Komisaris Bank D
(8) Direktur Legal & Remedial Korporat
(9) Direktur Pelatihan Korporat
(10) Trainer di LPK (Lembaga Pelatihan Kerja) Manajemen Bank
(11) Manajer SDM Pabrik Kayu E
(12) Direktur Humas & HRD Hotel F
(13) Marketing Support Dealer Mobil Baru G
(14) Direktur Dana Kesehatan Internal Karyawan
(15) Direktur Humas & HRD Properti H
(16) Direktur Humas & HRD Properti I
(17) Pelatih Satpam Korporat berbasis karate (saya berlatih karate sejak masih kuliah S-1 Perikanan)
Keadaan waktu itu memang membuat saya harus menjalani semua jabatan tersebut, bukan karena saya "gila jabatan" atau "haus kekuasaan". Tentu saja, satu persatu jabatan itu saya serahkan ke orang lain ketika sudah ada orang yang kompeten untuk menjalankan jabatan tersebut.
Lalu, mengapa saya meluangkan waktu "nyambi" kuliah S-1 Hukum (Perusahaan) ?
Jawabannya sederhana saja, karena ada kebutuhan sekaligus peluang bagi saya untuk "mengibarkan bendera" sebagai Direktur Legal & Remedial yang mengurusi penanganan kredit macet di group perusahaan tempat saya bekerja. Tulisan ini sekaligus menjawab pertanyaan dari banyak karyawan muda yang berkonsultasi dengan saya, "Sambil bekerja, sebaiknya "nyambi" kuliah S-1 atau S-2 di bidang apa ?" Saya selalu memberikan jawaban yang praktis, yaitu :
1) Apa yang menjadi minat dan bakat kamu ?
2) Apa peluang karir yang ada di perusahaan kamu bekerja ?
3) Setelah itu, baru kamu menentukan kursus / pelatihan / seminar / kuliah S-1 / kuliah S-2 sesuai butir (1) dan (2) di atas.
Kebutuhan sekaligus peluang yang saya maksud adalah sebagai berikut :
1) Sebagai Direktur Legal & Remedial Korporat, sehari-hari saya memberikan supervisi kepada Direktur dan Manajer di berbagai anak perusahaan dalam menangani penyelesaian kredit macet. Ini selalu berkaitan dengan masalah hukum pidana (selain tentu saja hukum perdata).
2) Sebagai Direktur HRD Korporat, Direktur Humas & SDM Hotel F, Direktur Humas & SDM Properti H dan I, sehari-hari saya juga menangani kasus-kasus hukum ketenagakerjaan di berbagai anak perusahaan.
3) Sebagai Direktur Humas Korporat, Direktur Humas & SDM Hotel F, Direktur Humas & SDM Properti H dan I, juga harus paham tentang hukum ketika memberikan jawaban kepada wartawan yang bertanya tentang kasus-kasus hukum terkait perkreditan, perhotelan, maupun properti.
4) Sebagai Komisaris Bank B, Bank C, Bank D, ilmu S-1 Hukum saya sangat berguna dalam menjalani Fit & Proper Test yang diadakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (dulunya oleh Bank Indonesia).
Singkat kata, saya merasa bahwa saya harus memahami hukum di Indonesia sehingga saya tidak salah langkah dalam mengambil keputusan.
Penutup
Setelah lulus S-1 Hukum pada tahun 2010, saya mengikuti PKPA (Pendidikan Khusus Profesi Advokat) tahun 2010 dan juga UPA (Ujian Profesi Advokat) tahun 2010. Saya menjadi Advokat setelah menjalani pelantikan dan pengambilan sumpah advokat pada tahun 2015.
Apa yang mau saya sampaikan melalui tulisan ini adalah :
1)Ada orang yang jalan hidupnya (dalam karir kerja) lurus menggunakan ilmu yang linier (S-1 Perikanan kemudian S-2 Perikanan, atau S-1 Manajemen kemudian S-2 Manajemen, dan sebagainya, sedangkan saya berkelak-kelok menggunakan ilmu yang multi-disiplin (S-1 Perikanan kemudian S-2 Manajemen terus S-1 Hukum).
2)Saya membuka diri pada berbagai kemungkinan dengan menggunakan prinsip minat + peluang + skill dalam menyusun dan menjalani Strategi Karir Kerja. Tiga hal inilah yang kemudian di tahun 2025 saya susun bersama istri saya (Dr. Susana Adi Astuti, S.Pi, M.M., M.Si) dan anak saya (Bernardine Agatha Adi Konstantia, S.T.P., M.Sc) menjadi Segitiga Holiparent untuk Karir Kerja.
Semoga sharing ini bermanfaat.
Bagi siapa saja yang berminat untuk mengetahui potensi kecocokan dalam bidang pendidikan maupun pekerjaan (asalkan berusia minimal 14 tahun), silakan menghubungi saya di Biro Psikologi "Constantinus & Rekan" melalui nomor WA 082 136 424 089 untuk mendapatkan Asesmen Psikologi.
Terima kasih dan tetap semangat dalam doa & upaya.
-----o0o-----
Biro Psikologi "Constantinus & Rekan"
Kedaton Terrace D9/3, BSB, Kota Semarang 50212
WA : 082 136 424 089