Holiparent Food Division
Jalan-Jalan ILMIAH
dan "HOLIPARENT FOOD DIVISION" serta "GERAKAN ILMIAH dari DAPUR RUMAH" dikelola oleh : (1) Dr. Susana Adi Astuti, S.Pi, M.M., M.Si, (2) Dr. Constantinus, S.Pi, S.H., S.Psi, M.M., M.M., M.Psi, Advokat, Psikolog, (3) Bernardine Agatha Adi Konstantia, S.T.P., M.Sc. Kantor : Kedaton Terrace D9/03, BSB City, Semarang. WA : 082 136 424 089. Rekanan : PSIKOLOGI INDUSTRI & MANAJEMEN "Dr.Constantinus & Rekan".
Holiparent Food Division
Jalan-Jalan ILMIAH
Holiparent Food Division
Makan BAKSO & Hafal Rumus Kimia ASAM CUKA
Holiparent Food Division
BERMAIN yang ILMIAH
Dr. Constantinus, S.Pi, S.Psi, M.M., M.Psi, Psi. (Fisheries Scientist & Industrial Psychologist)
Bernardine Agatha Adi Konstantia, S.T.P., M.Sc (Food Scientist & Technologist)
Dr. Susana Adi Astuti, S.Pi, M.M., M.Si (Fisheries Scientist & Ecologist)
Dr. Constantinus, S.Pi, S.Psi, M.Psi, Psi. (Fisheries Scientist & Industrial Psychologist)
Bernardine Agatha Adi Konstantia, S.T.P., M.Sc (Food Scientist & Technologist)
Dr. Susana Adi Astuti, S.Pi, M.M., M.Si (Fisheries Scientist & Ecologist)
ILMIAH dari DAPUR RUMAH
Sejalan dengan program pemerintah Republik Indonesia dalam mengejar ketertinggalan Teknologi dan Rekayasa, Holiparent Food Division berbagi inspirasi tentang Bio-Teknologi kepada para orang tua, supaya orang tua untuk menjadi Agen Kecerdasan untuk meningkatkan kecerdasan dari generasi ke generasi.
Bagaimana prakteknya ?
Dengan gerakan Ilmiah dari Dapur Rumah di kalangan orang tua, supaya Bio-Teknologi dicintai sejak dini dengan peralatan yang sudah ada, yaitu peralatan dapur !
Kegiatan memasak di dapur diberi makna baru menjadi Praktikum Bio-Teknologi Terapan. Ketika orang tua dan anak sedang menggoreng ikan di dapur, orang tua mengajak anak melakukan obrolan ilmiah tentang denaturasi protein yang disebabkan :
1)Suhu tinggi di atas 50 derajat Celsius
2)Radiasi sinar ultra violet
3)Pengocokan yang kuat
4)Perubahan tingkat keasaman (pH)
5)Dan lain-lain
Dari mana bahan obrolan ilmiah ini bisa didapat orang tua ?
Obrolah ilmiah bisa bersumber dari konten Holiparent Food Division yang sederhana + praktis + ilmiah, yang dibuat oleh para lmuwan Bio-Teknologi.
Dr. Constantinus, S.Pi, S.Psi, M.Psi, Psi.
Sarjana Perikanan & Psikolog Industri
Dr. Constantinus, S.Pi, S.Psi, M.Psi, Psi.
Sarjana Perikanan & Psikolog Industri
Dr. Constantinus, S.Pi, S.Psi, M.Psi, Psi.
Sarjana Perikanan & Psikolog Industri
Dr. Constantinus, S.Pi, S.Psi, M.Psi, Psi.
Sarjana Perikanan & Psikolog Industri
Sarjana Perikanan & Psikolog Industri
PRO-ENVIRONMENTAL BEHAVIOUR :
Environment, Agricultural Technology, Food Technology, and Industrial
Psychology for a Healthy, Productive, and Prosperous Life
PERILAKU
RAMAH LINGKUNGAN :
Lingkungan,
Teknologi Pertanian, Teknologi Pangan, dan Psikologi Industri untuk Hidup yang
Sehat, Produktif, dan Sejahtera
Sharing by Dr. Constantinus
for the HOLIPARENT FOOD DIVISION
(Member of Holiparent Research & Education)
+62 82 136 424 089
Sharing
oleh Dr. Constantinus
untuk HOLIPARENT
FOOD DIVISION
(Member of
Holiparent Research & Education)
+62 82 136
424 089
Unlike most Psychologists in general, I first studied “Environmental Science” and “Industry” at the Faculty of Fisheries & Marine Sciences (formerly the Faculty of Animal Husbandry), researching the Recirculating Aquaculture System.
Berbeda
dengan kebanyakan Psikolog pada umumnya, saya pertama-tama belajar tentang “Ilmu
Lingkungan” dan “Industri” di Fakultas Perikanan & Kelautan (dulu Fakultas
Peternakan), meneliti tentang Recirculating Aquaculture System.
After graduating as a Bachelor in the field of “Aquaculture Technology”, I always remember one of the discussions when I was still studying at the Faculty of Fisheries & Marine Sciences, namely the Minamata Tragedy.
Setelah
lulus sebagai seorang Sarjana dalam bidang “Teknologi Akuakultur”, saya selalu
teringat pada salah satu pembahasan ketika masih kuliah di Fakultas Perikanan
& Ilmu Kelautan, yaitu tentang Tragedi Minamata.
The Minamata disaster was an environmental pollution disaster in Minamata City, Kumamoto Prefecture, Japan, in 1956. It was caused by the discharge of industrial wastewater containing methylmercury into Minamata Bay. Local residents who consumed fish products became physically and psychologically ill, resulting in what is known as Minamata Disease.
Tragedi
Minamata adalah tragedi pencemaran lingkungan di Kota Minamata, Prefektur
Kumamoto, Jepang, pada tahun 1956. Penyebabnya adalah pembuangan limbah cair
yang mengandung metilmerkuri dari perusahaan ke Teluk Minamata. Masyarakat setempat
yang memakan produk perikanan menjadi sakit secara fisik maupun psikis, yang
disebut Penyakit Minamata.
After graduating, I worked for a company for 20 years. My job was "Quality Relationship Management." Memories of the Minamata Tragedy and the work of "Quality Relationship Management" led me to pursue further studies in Management Science, Law, Industrial Psychology, and Clinical Psychology. Ultimately, I completed my doctoral studies in Environmental Science.
Setelah
lulus, saya bekerja di sebuah perusahaan selama 20 tahun. Pekerjaan saya adalah
“Quality Relationship Management”. Kenangan tentang Tragedi Minamata dan
pekerjaan “Quality Relationship Management” membuat saya kuliah lagi di bidang “Ilmu
Manajemen”, “Ilmu Hukum”, “Psikologi Industri”, dan juga “Psikologi Klinis”.
Pada akhirnya, saya menyelesaikan studi Doktoral saya di bidang “Ilmu Lingkungan”.
Sekarang
ini, saya masih terus mempelajari dan menyebarluaskan gagasan kepada banyak
orang (mahasiswa saya, rekan-rekan Dosen, dan masyarakat luas) tentang
pentingnya “memahami dan menjaga lingkungan, teknologi pertanian,
dan teknologi pangan” dengan “perilaku ramah lingkungan” supaya manusia
tetap “sehat, produktif, dan sejahtera”.
Salah satu keajaiban (menurut saya) dalam hidup ini adalah ketika saya menjadi Psikolog. Mengapa saya sebut keajaiban ? Karena saya memang tidak pernah punya cita-cita menjadi Psikolog. Bercita-cita kuliah S1 Psikologi saja tidak pernah, apalagi sampai lulus S2 Profesi Psikolog.
Tetapi begitulah hidup ini. Saya selalu berusaha terbuka pada kemungkinan-kemungkinan. Maksudnya, selama saya merasa bisa menjalani dan peluang untuk berkarya terbuka bagi saya, maka saya akan meningkatkan skill dalam bidang itu (dalam konteks ini adalah kuliah S1 Psikologi di usia 37 tahun - 42 tahun dan kuliah S2 Profesi Psikolog di usia 43 tahun - 48 tahun).
Lulus S2 Profesi Psikolog tanggal 4 April 2018, saya langsung membuka Biro Psikologi "Constantinus & Rekan" sambil tetap bekerja sebagai Komisaris di beberapa perusahaan perbankan.
Hari ini, 4 April 2026, adalah Hari Ulang Tahun VIII Biro Psikologi "Constantinus & Rekan". Puji syukur kepada Tuhan, dan semoga selalu dalam berkat Tuhan untuk berkarya bagi sesama. Terima kasih kepada istri saya, Dr. Susana Adi Astuti, S.Pi, M.M., M.Si (Dosen dan Ilmuwan Psikologi) dan kepada anak saya, Bernardine Agatha Adi Konstantia, S.T.P., M.Sc sebagai teman bertukar cerita yang asyik. Terima kasih kepada para pemilik perusahaan dan karyawan perusahaan yang menjadi klien, juga kepada para mahasiswa dari berbagai program studi dan berbagai perguruan tinggi yang sering nongkrong di Biro Psikologi "Constantinus & Rekan". Terima kasih kepada para Dosen dan Peneliti serta Calon Doktor yang sering ngobrol di Biro Psikologi "Constantinus & Rekan". Tak lupa juga, kepada para Sarjana, Magister, dan Doktor dari berbagai disiplin ilmu yang antusias mengikuti Bimbingan Teknis di Biro Psikologi "Constantinus & Rekan".
Serial Episode II
"Kembali ke Minat Awal"
Oleh Dr. Constantinus
(Sarjana Perikanan yang mencari nafkah lewat Manajemen, Hukum, Psikologi, dan Ilmu Lingkungan)
***
Di usia menjelang 60 tahun, kalau saya pikir-pikir, sebenarnya saya jatuh cinta dengan Ilmu Lingkungan sejak masih menjadi mahasiswa S1 Perikanan di tahun 1990-an. Di antara sekian banyak mata kuliah, Marine Ecology merupakan mata kuliah favorit saya. Ini adalah kuliah 3 SKS (Satuan Kredit Semester) sehingga ada praktikumnya di laut. Saya lulus dengan nilai A.
Saya masih ingat, buku wajibnya adalah Marine Biology : an Ecological Approach tulisan James W. Nybakken. Bukunya tebal, full colour. Sayangnya, karena saya miskin, saya tidak bisa membelinya. Saya "numpang baca" dari pacar saya --- yang kemudian menjadi istri saya : Dr. Susana Adi Astuti, S.Pi, M.M., M.Si --- yang membeli buku ini.
Saya masih ingat benar, pada bab akhir buku ini dibahas tentang polusi di lautan. Bab akhir ini pula yang mendorong saya mencari beasiswa ke Inggris untuk kuliah S2 di bidang polusi di lautan. Meski saya tidak mendapatkan beasiswa itu, tetapi saya puas karena dari 80 calon, tinggal 2 orang : saya lulusan S1 Perikanan Undip dan satu calon lain lulusan S1 Perikanan IPB. Dia bekerja sebagai Teknisi Akuarium di Sea World Jakarta, saya bekerja di Departemen Ekspor Impor Bank BNI. Dan bukan saya yang mendapatkan beasiswa itu karena saya tidak bekerja di bidang yang relevan dengan perikanan.
Saya juga masih ingat, dalam kuliah ---- saya lupa mata kuliah apa --- dibahas tentang Tragedi Minamata di Jepang. Tragedi ini disebabkan oleh Manajemen yang tidak sejalan dengan Perilaku Ramah Lingkungan yang menyebabkan pencemaran di laut sehingga masyarakat setempat mengalami sakit secara fisik maupun psikologis. Tetapi pada waktu itu memang belum ada Hukum di Jepang yang secara tegas melarang perilaku pencemaran itu, karena memang belum ada kejadian maupun penelitian tentang pencemaran seperti itu.
***
Kalau saya pikir-pikir di usia menjelang 60 tahun, selama kuliah S1 Perikanan saya sudah mendapatkan mata kuliah tentang Manajemen, Hukum, dan Sosiologi (di dalamnya dibahas tentang Psikologi / Perilaku), selain mata kuliah Teknik / Teknologi dan Ekologi yang memang merupakan kuliah pokok di S1 Perikanan (saya membuat tugas akhir tentang Recirculating Aquaculture System).
Recirculating Aquaculture System itu merupakan sistem akuakultur yang ramah lingkungan, tetapi saat itu di usia 20 tahunan saya belum mengetahuinya.
Yang (mungkin agak) berlebihan adalah :
1) Saya meneruskan belajar Manajemen dengan kuliah S2 Manajemen di Bidang Marketing dan S2 Manajemen di Bidang Sumber Daya Manusia
2)Saya meneruskan belajar Psikologi dengan kuliah S1 + S2 Psikologi di Bidang Industri
3)Saya juga belajar Hukum dengan kuliah S1 Hukum di Bidang Perusahaan
Tidak dipungkiri, kuliah-kuliah itu berguna untuk mendapatkan nafkah bagi keluarga.
Tetapi dengan kecintaan pada ilmu lingkungan untuk kesejahteraan manusia, tidak heran saya akhirnya menyelesaikan S3 di Bidang Ilmu Lingkungan.
***
Kesimpulan : Kepada para mahasiswa saya, tidak apa-apa kalau jalan hidupmu tidak lurus & rata, tetapi berputar & bergelombang. Pada akhirnya, di usia menjelan 60 tahun, kamu akan tersenyum kecil melihat jejak-jejak tapak kaki "pendidikan dan pekerjaan" yang telah kamu lalui.
Semarang, 31-Maret-2026