Jumat, 20 Maret 2026

Alasan saya memakai istilah Praktisi Manajemen SDM

Menjadi Psikologi dengan keahlian Industri dan Organisasi adalah jalan hidup bagi saya, meski saya tidak pernah mencita-citakannya; setidaknya sampai saya berumur 38 tahun di tahun 2008. Cita-cita saya adalah bekerja sebagai insinyur di bidang perikanan, atau menjadi ilmuwan di laut. Tetapi kenyataan berkata lain. Saya bekerja di bank, kuliah lagi di bidang manajemen pemasaran, kuliah lagi di bidang hukum perusahaan / perbankan, dan kuliah lagi di bidang psikologi karena harus mengembangkan sumberdaya manusia di perusahaan tempat saya bekerja. Setelah itu, saya kuliah lagi di program S-2 profesi psikolog (kurikulum lama) dengan keahlian psikologi industri & organisasi. Semua itu saya lakukan karena saya harus menjalankan peran sebagai Direktur HRD di sebuah group perusahaan.

Tahun 2022 saya meminta pensiun dini dari perusahaan itu, untuk membuka Biro Psikologi milik saya sendiri, selain menjadi Dosen di bidang Psikologi & Industri. Konsentrasi saya adalah menemani orang tua (dalam mendidik anak) maupun remaja serta dewasa untuk memahami jalan hidup guna memasuki dunia kerja. Pada awalnya saya memberikan konsultasi (dengan kata-kata), tetapi karena tidak efektif dalam memcahkan masalah, saya akhirnya memberikan Bimbingan Teknis (Bimtek) menggunakan peralatan pendukung yang nyata (ada barangnya).

PRAKTISI MANAJEMEN SDM

Salah satu tugas saya ketika belum pensiun dari sebuah group perusahaan adalah menjadi Direktur HRD (Human Resources Department) mulai tahun 2002 sampai 2022. Rekrutmen (menjaring pelamar), seleksi, penempatan, promosi, demosi, pensiun karyawan di group perusahaan tersebut adalah pekerjaan yang saya jalani selama 20 (dua puluh tahun). Dan ketika melakukan seleksi penerimaan karyawan baru, saya menghadapi kenyataan ada banyak pelamar yang tidak diterima bekerja. Sering saya berkata kepada para asisten saya, "Para pelamar ini memiliki potensi yang baik dan cocok dengan lowongan kerja yang ada, tetapi potensi itu belum dirubah menjadi kompetensi kerja (pengetahuan praktis + keterampilan praktis + sikap praktis dalam menjalankan suatu pekerjaan). Jadi, ya mereka tidak bisa diterima." Atau saya juga sering berkata kepada para asisten saya, "Para pelamar ini memiliki potensi yang baik tetapi tidak cocok dengan lowongan kerja yang ada. Seharusnya mereka berani merantau ke luar kota atau ke luar propinsi atau ke luar pulau atau bahkan ke luar negeri untuk mendapatkan pekerjaan yang cocok dengan potensi mereka. Tentu saja, potensi itu juga harus dikonversi menjadi kompetensi kerja supaya mereka bisa diterima." Ketika para asisten saya bertanya, apa penyebabnya mereka seperti itu, saya menjawab, "Para pelamar ini dan juga para orang tua mereka tidak memiliki mentor yang memberitahu secara praktis."

Setelah pensiun dari group perusahaan itu, saya menjalankan Biro Psikologi dengan konsentrasi mendukung kesiapan sumberdaya manusia di masyarakat untuk semakin siap memasuki dunia kerja sesuai dengan potensi yang mereka miliki dan juga kompetensi yang sudah mereka bangun berdasarkan potensi yang mereka miliki. Kenyataannya, ini harus dimulai sejak masih kanak-kanak, sehingga peran orang tua untuk menemani anak di usia kanak-kanak dalam mengenali dan membangun potensi + kompetensi sangat penting. Orang tua juga masih berperan penting dalam menemani anak ketika anak sudah remaja (usia SMP / sederajat dan SMA / sederajat). Bahkan dalam budaya di Indonesia, orang tua juga masih berperan penting dalam menemani anak di usia dewasa awal mereka (masa kuliah S-1). Slogan yang dipakai masih menggunakan slogan HOLIPARENT Reserach & Education yang saya dirikan bersama istri di tahun 2012, yaitu "Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".


Meskipun sama-sama mengurusi manusia, saya tidak lagi menyebut diri saya sebagai praktisi HRD. Alasannya, praktisi HRD diartikan sebagai orang yang mengurusi manusia yang bekerja di perusahaan sebagai karyawan. Saya memilih menggunakan istilah praktisi Manajemen Sumberdaya Manusia (Manajemen SDM), karena sumberdaya manusia itu memiliki cakupan luas, yaitu orang-orang yang ada di masyarakat, yang melakukan pekerjaan untuk berproduksi, entah sebagai karyawan maupun bukan karyawan.

MASALAH DIMULAI SEJAK MASA KANAK





 

Sepeda sebagai Sarana Menemani Anak


 

Pagi ini saya masih membersihkan sepeda saya. Sepeda warna oranye ini saya beli sekitar tahun 2011, sudah 15 tahun yang lalu. Sempat terlantar sejak tahun 2014 atau 2015, tiba-tiba saja saya tersadar untuk merawat sepeda ini setelah melihat foto-foto dan membaca tulisan-tulisan anak saya ketika dia kuliah di Belgia tahun 2022 - 2024. Ya, saya memang banyak belajar dari pengalaman anak saya. 



Selama kuliah di Universiteit Gent maupun di Katholieke Universiteit Leuven, Agatha --- anak saya --- naik sepeda sewaan untuk kuliah. Sepeda sewaan itu tentu bukan sepeda baru, tetapi sangat terawat. 


Bersepeda memang sudah menjadi kegiatan saya dan istri menemani anak jalan-jalan. Sepeda bagi saya merupakan alat yang sangat bagus untuk menemani anak. Dalam pengamatan saya, semua anak suka bersepeda. Jadi, orang tua sangat tepat kalau juga memiliki sepeda supaya bisa jalan-jalan bersama anak.


Untunglah, masih ada dua sepeda milik anak saya. Sepeda yang berwarna hijau tua dibeli ketika anak saya masih SD kelas 6, sekitar tahun 2009 atau 2010. Anak saya menamai sepeda ini Thunderbolt Super. 


Hari Selasa tanggal 17 Maret 2026 saya membawa Thunderbolt Super ke bengkel sepeda Pak Kemad di Jatisari, Mijen, Semarang. Saya membeli pipa setang baru supaya setangnya jadi tinggi dan bisa dinaiki oleh orang dewasa. Sebelum itu, sadelnya sudah saya tinggikan di rumah.


Sepeda yang berwarna kuning juga milik anak saya. Meskipun tidak lagi digunakan secara rutin, saya rawat juga karena saya terinspirasi sepeda sewaan di Gent dan Leuven yang selalu bagus kondisinya.


Selain sepeda oranye milik saya, ada juga sepeda hijau muda milik Susan --- istri saya --- yang juga dibeli di tahun 2011. Memang, masih ada karat di beberapa bagian yang belum sempat saya hilangkan dengan cairan antikarat. Bagi saya, proses merawat sepeda tua yang sudah lama terbengkalai ini merupakan olang raga sekaligus kegiatan merenung tentang bagaimana orang tua seperti saya bisa belajar dari pengalaman anak, dalam hal ini tentang sepeda sewaan yang digunakannya.


Ini juga menjadi jawaban saya kepada para orang tua yang bertanya dengan nada cemas, "Bagaimana mengatasi anak yang kecanduan main game di HP ?". Sebagai seorang psikolog, saya menjawab, "Temanilah anak melakukan petualangan-petualangan kecil, misalnya setiap hari Minggu atau hari libur jalan-jalan berkeliling kota naik sepeda masing-masing."

Semarang, 20 Maret 2026 pukul 15.25 WIB

"Mememani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

✓ Foto oleh Constantinus
✓ Tulisan oleh Psikolog Dr. Constantinus, S.Pi, S.H., S.Psi, M.M., M.M., M.Psi, Advokat
✓ Constantinus adalah Direktur Biro Psikologi "Dr. Constantinus & Rekan", Dosen Psikologi Industri & Organisasi, Pensiunan Bank, dan Praktisi Manajemen Sumberdaya Manusia
✓ Tulisan ini berisi pengalaman pribadi bersama Dr. Susana Adi Astuti, S.Pi, M.M., M.Si (istri, Dosen Psikologi Lingkungan) dan Bernardine Agatha Adi Konstantia, S.T.P., M.Sc. (Peneliti Teknologi Pangan).
✓ Untuk informasi dan pendaftaran Bimbingan Teknis tentang Pangan + Perilaku + Lingkungan, silakan menghubungi lewat WA : 082 136 424 089
✓ Biro Psikologi "Dr. Constantinus & Rekan" : Kedaton Terrace D9/3, BSB, Semarang 50212