Saya sedang duduk di ruang kerja saya, ketika seorang pria berusia 45 tahunan meminta waktu untuk sharing dengan saya.
"Jadi, saya harus bagaimana, Mas ?" katanya kepada saya.
Untuk diketahui, pria ini secara kecerdasan (berdasarkan asesmen psikologi oleh sebuah lembaga psikologi terapan) adalah "baik", namun kemampuan komunikasinya "kurang". Sebagai akibatnya, sekalipun dia punya banyak sekali ide-ide bagus, tidak ada yang mau mendukungnya untuk mewujudkan ide itu karena dia "tidak bisa meng-komunikasi-kannya".
********************
Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Pengalaman nyata yang saya alami hari ini (Selasa, 15 Januari 2013) semoga dapat menjadi bahan renungan buat kita bersama : bahwa kemampuan komunikasi itu ternyata juga penting.
"Kalau cerdas tapi tidak punya kemampuan komunikasi baik, bagaimana ?" tanya seorang ibu kepada saya dalam salah satu pelatihan di Semarang.
Saya menjawabnya secara praktis. "Kalau anak itu ketika sudah dewasa bekerja di sebuah perusahaan besar yang memungkinkannya fokus pada penelitian yang sifatnya mandiri dan tidak perlu meng-komunikasi-kannya kepada orang lain, ya tidak masalah. Tetapi pada umumnya perusahaan di Indonesia, orang tetap harus bisa meng-komunikasi-kan ide-idenya kepada orang lain, sehingga ketrampilan komunikasi itu penting dan harus dikuasai," kata saya.
********************
"Perlu belajar untuk menempatkan diri dan melihat dari sudut pandang orang lain yang menjadi lawan bicara, sehingga komunikasi jadi nyambung," kata saya menjawab pertanyaan pria tadi, yang dikisahkan pada awal tulisan ini.
Kepada pria ini saya katakan bahwa kalau ingin bisa meningkatkan kemampuan komunikasi, maka dia harus MEMAHAMI pola pikir dan sudut pandang lawan bicaranya, kemudian baru secara PERLAHAN-LAHAN menunjukkan kepada lawan bicara itu APA KEUNTUNGAN YANG BISA DIPEROLEHNYA kalau lawan bicara itu mau merubah / menggunakan pola pikir / sudut pandang kita.
"Jadi memang harus TELATEN / SABAR," kata saya.
********************
Mumpung masih kecil, setidaknya masih kelas 4, 5, 6 SD atau kelas 7, 8, 9 SMP (sebenarnya, menurut Psikologi mereka ini sudah remaja), marilah kita temani anak-anak kita supaya memiliki POLA PIKIR dan KETRAMPILAN yang mencukupi / baik tentang komunikasi sesuai TUNTUTAN MASYARAKAT yang ada di sekitar kita, supaya anak mampu MENG-KOMUNIKASI-KAN ide-ide positifnya dengan baik, dan banyak orang dengan senang hati menerimanya.
********************
Selamat menemani anak.
"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"
-----o0o-----
Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph.
Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.
Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Sarjana di bidang Ilmu Sosial, Magister di bidang Manajemen.
Rumah : Jl. Anjasmoro V no. 24 Semarang.
Telp. 081 229 255 689.
E-mail : constantinus99@gmail.com
Dikelola oleh : (1) Dr. Susana Adi Astuti, S.Pi, M.M., M.Si, (2) Dr. Constantinus, S.Pi, S.H., S.Psi, M.M., M.M., M.Psi, Advokat, Psikolog, (3) Bernardine Agatha Adi Konstantia, S.T.P., M.Sc. Kantor : Kedaton Terrace D9/03, BSB City, Semarang. WA : 082 136 424 089. Rekanan : PSIKOLOGI INDUSTRI & MANAJEMEN "Dr.Constantinus & Rekan".
Selasa, 15 Januari 2013
Senin, 14 Januari 2013
FOKUS DAN AHLI / PUNYA PERSIAPAN
Sore itu kami (anak saya, saya, istri saya) lewat bangunan Joglo yang
merupakan Balai Pertemuan RT (Rukun Tetangga) di kampung kami. Sore itu memang tidak ada pertemuan warga. Yang ada justru anak-anak SD kelas 3 atau 4 yang bersama-sama mengerjakan PR (pekerjaan rumah). Bagus juga. Sebab saat itu adalah hari Minggu sore, hari libur, tetapi mereka ini memanfaatkannya untuk belajar / mengerjakan PR bersama. Bagus sekali.
********************
"Aku kadang-kadang malah lebih cepat belajar sendiri daripada belajar kelompok," celetuk anak saya. "Kalau teman belajar kelompok banyak bercanda, belajar kelompok malah jadi lama".
Maksud anak saya : jadi lama dan buang-buang waktu.
********************
Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Kesempatan berdiskusi dengan anak seperti ini kemudian saya kembangkan dengan melihat kenyataan yang lebih luas.
"Memang, kalau ada banyak orang bertemu / bekerja sama, sebenarnya belum tentu hasilnya lebih baik daripada kalau dikerjakan sendiri tetapi oleh orang yang ahli dan fokus di bidangnya. Tetapi tentu saja, kalau kerja sama itu dilakukan oleh orang-orang yang ahli dan fokus di bidangnya, hasilnya akan lebih baik," kata saya. "Yang jadi masalah, kalau kerja sama itu dilakukan oleh banyak orang tetapi memang semuanya tidak ahli dan tidak fokus, misalnya tidak fokus belajar, maka yang terjadi justru hanya sekedar ngobrol-ngobrol saja, bukan kelompok belajar".
********************
Diskusi dengan anak memang lebih baik tentang dunia nyata yang dialami oleh anak. Dalam tulisan kali ini adalah tentang belajar / belajar kelompok. Anak diajak MENGENALI KENYATAAN bahwa belajar kelompok atau KERJA SAMA itu yang penting BUKAN ASAL KUMPUL, tetapi masing-masing orang harus FOKUS punya niat yang sama untuk belajar (bukan untuk ngobrol atau bercanda) dan punya KEAHLIAN / PERSIAPAN yang cukup untuk belajar kelompok (kalau peserta belajar kelompok sama-sama tidak punya persiapan misalnya membawa buku yang diperlukan, ya percuma belajar kelompok).
Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Dari pengalaman ataupun pengamatan plus diskusi semacam itu, anak akan TERBIASA melakukan ANALISIS tentang perlunya KEAHLIAN / PERSIAPAN dan FOKUS pada tujuan dari masing-masing orang ketika bekerja dalam satu tim. Dan, KETRAMPILAN BERPIKIR seperti ini akan bermanfaat ketika anak sudah dewasa / bekerja kelak.
Dalam bekerja sebagai praktisi psikologi industri, saya berkali-kali menjumpai tim kerja yang gagal menjalankan tugasnya karena anggota-anggotanya TIDAK FOKUS dan TIDAK AHLI / TIDAK ADA PERSIAPAN; sedangkan ketika tugas itu dijalankan oleh seseorang atau tim yang lebih kecil ternyata hasilnya lebih bagus karena mereka ini lebih FOKUS dan lebih AHLI / PUNYA PERSIAPAN.
********************
Selamat menemani anak.
"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"
-----o0o-----
Minggu, 13 Januari 2013
NILAI "HIDUP PRIHATIN"
Pagi ini (Minggu, 13/01/2013) hujan turun cukup deras. Saya jadi tidak bisa olah raga jalan kaki dari rumah di Jalan Anjasmoro ke Simpang Lima di kota Semarang. Sambil jalan santai selama 1,25 jam itu, biasanya saya mendapatkan ide-ide untuk menulis di majalah Psikologi Plus (terima kasih buat Pak Petrus, pemimpin redaksi Psikologi Plus; kiriman majalahnya sudah saya terima dengan baik) atau majalah Lifestyle, atau blog Holiparent ini (selain saya masih "mengampu" majalah dinding online www.media1visi.blogspot.com). Memang, untuk mendapat ide menulis, saya perlu kondisi yang membuat pikiran jadi jernih (he...he...he...saya pikir, semua penulis juga begitu, ya...).
Karena hujan dan tidak bisa olah raga jalan kaki, maka saya di rumah saja membaca koran pagi yang sudah datang. Salah satu beritanya tentang Mahasiswa Bidikmisi yang hidup prihatin di Semarang (koran Seputar Indonesia, Minggu 13/01/2013, halaman 1). Mereka sering terpaksa puasa dan jalan kaki ke kampus, karena bantuan biaya hidup yang diberikan pemerintah Rp 600.000 per bulan sangat mepet untul bayar kos dan makan. Bidikmisi adalah program yang diberikan oleh pemerintah bagi mahasiswa yang pandai dan berprestasi tetapi tidak mampu secara ekonomi.
********************
Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Tulisan ini saya buat untuk tujuan mengajak kita merenung dan bisa mengajak ngobrol anak-anak kita tentang "ada orang-orang yang untuk bisa berselolah / kuliah harus berjuang keras demi mewujudkan hidup yang lebih baik".
Semoga setelah itu anak kita jadi lebih bersyukur dan jadi lebih rajin sekolah, dan siapa tahu juga tergerak untuk memberikan bantuan keuangan kepada sesama yang membutuhkan (misalnya kepada panti asuhan di dekat rumah, tidal harus kepada Mahasiswa Bidikmisi).
Saya sendiri memang sering mengajak anak ngobrol tentang "perlunya hidup prihatin untuk mendisiplinkan diri dan menguatkan semangat untuk mencapai tujuan / cita-cita".
Memang, standar "hidup prihatin" itu berbeda-beda untuk setiap orang. Bahkan, untuk satu orang yang sama pun standar "hidup prihatin" pun bisa berubah sejalan dengan waktu dan situasinya / kondisinya. Tetapi prinsipnya sama : "hidup prihatin" = jangan hedonistis. (Kata dosen kuliah agama saya dulu di Perikanan Undip, hedonistis = hidup hanya mengutamakan kesenangan saja).
**********
Saya masih sering ngobrol dengan anak tentang "hidup tanpa nonton tivi" ketika saya duduk di bangku SMP karena memang orang tua tidak mampu belu tivi. Dulu ada tivi "hitam putih" kuno di rumah, dan ketika rusak memang tidal bisa diperbaiki lagi oleh tukang reparasi tivi. Bagi saya sendiri, "hidup prihatin" tanpa nonton tivi memang tidak mudah : ketika teman-teman saling cerita tentang film yang ditayangkan di tivi semalam, saya cuma bisa mendengarkan. Saya bersekolah di SMP Santo Bellarminus Semarang, yang rata-rata keuangan orang tua muridnya termasuk golongan bawah. Dalam kondisi seperti ini pun, keuangan orang tua saya (sepertinya) termasuk yang paling bawah.
Bersyukur, saya bisa sekolah di SMA Kolese Loyola atas kebaikan hati almarhum Bapak C. Sutono, guru SMA Kolese Loyola yang juga mengajar Bahasa Inggris di SMP Santo Bellarminus. (Mungkin beliau mengajar di SMP Santo Bellarminus sebagai amal, untuk membantu anak-anak seperti saya. Semoga amal bakti beliau diterima Tuhan dan beliau mendapatkan tempat di sisi-Nya. Amin). Tanpa dorongan dari Pak Tono (saya memanggil beliau demikian), saya akan minder / rendah diri mendaftar di SMA Kolese Loyola. Masih ada yang lain lagi : Mas Donny yang masih saudara saya, yang sudah sekolah di SMA Kolese Loyola saat itu, yang dengan bersemangat memboncengkan saya mendaftarkan diri di SMA Kolese Loyola dengan sepeda motornya. Saya senang sekali, karena biasanya saya ke mana-mana jalan kaki (dan naik angkutan umum kalau sedang punya uang).
Nilai positif apa yang bisa kita tularkan kepada anak ? Bahwa orang memang harus SALING MENOLONG dan HIDUP PRIHATIN. Bagi yang ekonominya lemah, HIDUP PRIHATIN = terus berjuang dengan apa yang ada, termasuk bantuan yang diberikan, tetapi jangan terus menggantungkan kepada yang memberikan bantuan (supaya dia juga masih bisa membantu orang yang lain lagi).
Bagi yang ekonominya kuat, HIDUP PRIHATIN = mau meluangkan diri membantu orang yang ekonominya lemah. Mas Donny tentu bisa jalan-jalan naik sepeda motornya, tetapi Mas Donny lebih memilih meluangkan waktu (juga bensin dan tenaga) untuk memboncengkan saya ke SMA Kolese Loyola.
********************
Ketika kuliah di Perikanan Undip, orang tua hanya sanggup membayar uang SPP Rp 20.000 per bulan (bayarnya Rp 120.000 per semester). Padahal, di Perikanan Undip banyak praktikum ke luar kota.
Maka, sejak semester pertama kuliah, saya sudah jalan jaki ke mana-mana : kuliah, jadi salesman buku, jadi agen asuransi, jadi guru les.
Memberi les dari rumah ke rumah dengan jalan kaki (plus naik angkutan kota kalau memang rumah murid les ada di jalur angkutan kota) ini bertahan sampai tahun keenam jadi guru les (sampai akhir kuliah, karena saya 6 tahun baru lulus sarjana), sampai akhirnya saya bisa membeli seped motor secara kredit ! (Itupun yang tanda tangan perjanjian kredit adalah calon bapak mertua saya, Drs. Adi Prabowo, yang bekerja jadi pegawai negeri sipil. Kalau yang tanda tangan kredit adalah saya yang cuma guru les privat atau ayah saya yang bekerja jadi sopir serabutan, pasti tidak bisa cair kreditnya, karena pekerjaannya tidak meyakinkan untuk diberi kredit. Terima kasih untuk bapak mertua saya, yang telah mau menandatangani perjanjian kredit buat saya. Tentu saja, saya harus disiplin membayar angsurannya dari penghasilan saya sebagai guru les privat).
Di sini, gaya "hidup prihatin" (= tidak foya-foya) itu memang memberikan hasil. Dari penghasilan sebagai guru les, saya bisa ikut kursus Programmer Komputer dBase III+ dan kursus Perbankan.
Saya kemudian diterima bekerja di PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, dan cukup lama bertugas di Departemen Luar Negeri - Kantor Cabang Utama Semarang.
Kepada anak saya, saya katakan bahwa "hidup prihatin" itu memang memperlancar jalan hidup kita. Tentu saja, dengan berdoa kepada Tuhan. Dan, pengalaman saya juga : "nyekar" (bahasa Jawa, artinya pergi ke makam orang tua) juga sangat membantu untuk "menenangkan diri dan fokus" dalam meraih cita-cita.
********************
Selamat menemani anak.
"Menemanu Anak = Mencerdaskan Bangsa".
-----o0o-----
Karena hujan dan tidak bisa olah raga jalan kaki, maka saya di rumah saja membaca koran pagi yang sudah datang. Salah satu beritanya tentang Mahasiswa Bidikmisi yang hidup prihatin di Semarang (koran Seputar Indonesia, Minggu 13/01/2013, halaman 1). Mereka sering terpaksa puasa dan jalan kaki ke kampus, karena bantuan biaya hidup yang diberikan pemerintah Rp 600.000 per bulan sangat mepet untul bayar kos dan makan. Bidikmisi adalah program yang diberikan oleh pemerintah bagi mahasiswa yang pandai dan berprestasi tetapi tidak mampu secara ekonomi.
********************
Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Tulisan ini saya buat untuk tujuan mengajak kita merenung dan bisa mengajak ngobrol anak-anak kita tentang "ada orang-orang yang untuk bisa berselolah / kuliah harus berjuang keras demi mewujudkan hidup yang lebih baik".
Semoga setelah itu anak kita jadi lebih bersyukur dan jadi lebih rajin sekolah, dan siapa tahu juga tergerak untuk memberikan bantuan keuangan kepada sesama yang membutuhkan (misalnya kepada panti asuhan di dekat rumah, tidal harus kepada Mahasiswa Bidikmisi).
Saya sendiri memang sering mengajak anak ngobrol tentang "perlunya hidup prihatin untuk mendisiplinkan diri dan menguatkan semangat untuk mencapai tujuan / cita-cita".
Memang, standar "hidup prihatin" itu berbeda-beda untuk setiap orang. Bahkan, untuk satu orang yang sama pun standar "hidup prihatin" pun bisa berubah sejalan dengan waktu dan situasinya / kondisinya. Tetapi prinsipnya sama : "hidup prihatin" = jangan hedonistis. (Kata dosen kuliah agama saya dulu di Perikanan Undip, hedonistis = hidup hanya mengutamakan kesenangan saja).
**********
Saya masih sering ngobrol dengan anak tentang "hidup tanpa nonton tivi" ketika saya duduk di bangku SMP karena memang orang tua tidak mampu belu tivi. Dulu ada tivi "hitam putih" kuno di rumah, dan ketika rusak memang tidal bisa diperbaiki lagi oleh tukang reparasi tivi. Bagi saya sendiri, "hidup prihatin" tanpa nonton tivi memang tidak mudah : ketika teman-teman saling cerita tentang film yang ditayangkan di tivi semalam, saya cuma bisa mendengarkan. Saya bersekolah di SMP Santo Bellarminus Semarang, yang rata-rata keuangan orang tua muridnya termasuk golongan bawah. Dalam kondisi seperti ini pun, keuangan orang tua saya (sepertinya) termasuk yang paling bawah.
Bersyukur, saya bisa sekolah di SMA Kolese Loyola atas kebaikan hati almarhum Bapak C. Sutono, guru SMA Kolese Loyola yang juga mengajar Bahasa Inggris di SMP Santo Bellarminus. (Mungkin beliau mengajar di SMP Santo Bellarminus sebagai amal, untuk membantu anak-anak seperti saya. Semoga amal bakti beliau diterima Tuhan dan beliau mendapatkan tempat di sisi-Nya. Amin). Tanpa dorongan dari Pak Tono (saya memanggil beliau demikian), saya akan minder / rendah diri mendaftar di SMA Kolese Loyola. Masih ada yang lain lagi : Mas Donny yang masih saudara saya, yang sudah sekolah di SMA Kolese Loyola saat itu, yang dengan bersemangat memboncengkan saya mendaftarkan diri di SMA Kolese Loyola dengan sepeda motornya. Saya senang sekali, karena biasanya saya ke mana-mana jalan kaki (dan naik angkutan umum kalau sedang punya uang).
Nilai positif apa yang bisa kita tularkan kepada anak ? Bahwa orang memang harus SALING MENOLONG dan HIDUP PRIHATIN. Bagi yang ekonominya lemah, HIDUP PRIHATIN = terus berjuang dengan apa yang ada, termasuk bantuan yang diberikan, tetapi jangan terus menggantungkan kepada yang memberikan bantuan (supaya dia juga masih bisa membantu orang yang lain lagi).
Bagi yang ekonominya kuat, HIDUP PRIHATIN = mau meluangkan diri membantu orang yang ekonominya lemah. Mas Donny tentu bisa jalan-jalan naik sepeda motornya, tetapi Mas Donny lebih memilih meluangkan waktu (juga bensin dan tenaga) untuk memboncengkan saya ke SMA Kolese Loyola.
********************
Ketika kuliah di Perikanan Undip, orang tua hanya sanggup membayar uang SPP Rp 20.000 per bulan (bayarnya Rp 120.000 per semester). Padahal, di Perikanan Undip banyak praktikum ke luar kota.
Maka, sejak semester pertama kuliah, saya sudah jalan jaki ke mana-mana : kuliah, jadi salesman buku, jadi agen asuransi, jadi guru les.
Memberi les dari rumah ke rumah dengan jalan kaki (plus naik angkutan kota kalau memang rumah murid les ada di jalur angkutan kota) ini bertahan sampai tahun keenam jadi guru les (sampai akhir kuliah, karena saya 6 tahun baru lulus sarjana), sampai akhirnya saya bisa membeli seped motor secara kredit ! (Itupun yang tanda tangan perjanjian kredit adalah calon bapak mertua saya, Drs. Adi Prabowo, yang bekerja jadi pegawai negeri sipil. Kalau yang tanda tangan kredit adalah saya yang cuma guru les privat atau ayah saya yang bekerja jadi sopir serabutan, pasti tidak bisa cair kreditnya, karena pekerjaannya tidak meyakinkan untuk diberi kredit. Terima kasih untuk bapak mertua saya, yang telah mau menandatangani perjanjian kredit buat saya. Tentu saja, saya harus disiplin membayar angsurannya dari penghasilan saya sebagai guru les privat).
Di sini, gaya "hidup prihatin" (= tidak foya-foya) itu memang memberikan hasil. Dari penghasilan sebagai guru les, saya bisa ikut kursus Programmer Komputer dBase III+ dan kursus Perbankan.
Saya kemudian diterima bekerja di PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, dan cukup lama bertugas di Departemen Luar Negeri - Kantor Cabang Utama Semarang.
Kepada anak saya, saya katakan bahwa "hidup prihatin" itu memang memperlancar jalan hidup kita. Tentu saja, dengan berdoa kepada Tuhan. Dan, pengalaman saya juga : "nyekar" (bahasa Jawa, artinya pergi ke makam orang tua) juga sangat membantu untuk "menenangkan diri dan fokus" dalam meraih cita-cita.
********************
Selamat menemani anak.
"Menemanu Anak = Mencerdaskan Bangsa".
-----o0o-----
Sabtu, 12 Januari 2013
BEDANYA MALAS DENGAN KREATIF-INOVATIF
Malam ini saya sedang tiduran karena sakit flu yang cukup berat, ketika anak saya yang sedang duduk di kelas VIII alias kelas II SMP bertanya tentang "arti dari alur cerita campuran", "arti dari kata kolosal", dan "arti dari kata figur".
Tentu saja, untul menjawabnya saya harus bernostalgia tentang pelajaran Bahasa Indonesia di SMP dan SMA dulu.
********************
Ibu-Ibu dan Bapal-Bapak Yth.,
Kalau kita renungkan, mungkin saja apa yang kita pelajari di masa sekolah dulu memang pada kenyataannya tidak kita gunakan untuk mencari nafkah sehari-hari. Saya, misalnya, tidak mencari nafkah dengan ilmu kimia yang dulu saya pelajari di SMA dan bangku kuliah. Tetapi apa yang telah kita pelajari itu toh tetap ada gunanya, yaitu untuk menjawab / menemani anak belajar.
********************
"Bagaimana kalau dulu saya tidak suka dengan pelajaran A, padahal anak minta ditemani belajar pelajaran A ?" seorang teman pernah bertanya kepada saya.
Pengalaman saya sendiri, hal seperti itu sekarang ini dapat disiasati dengan teknologi. Saya dulu tidak jago pelajaran Sejarah. Maka, kalau anak bertanya tentang pelajaran Sejarah, saya akan mencari jawabnya dengan Google.
"Menggunakan Google membuat anak jadi malas," kata seorang teman kantor saya.
Saya tidak mau berdebat dengan beliau. Menurut saya, ada 2 hal yang patut untuk direnungkan lebih dalam.
Pertama, malas tidaknya seseorang tidak patut hanya diukur dari belajar menggunakan Google atau tidak.
Kedua, belajar dengan menggunakan teknologi baru seperti Google mendidik anak untuk memanfaatkan kemajuan teknologi / ilmu pengetahuan yang ada sekarang inj.
******************
"Orang malas dan orang yang kreatif - inovatif itu sebenarnya sama, yaitu sama-sama tidak mau repot. Bedanya, orang malas itu tidak mau repot dan juga tidak produktif, maka dia tidak melakukan apa-apa. Orang kreatif-inovatif itu produktif, maka dia melakukan banyak upaya penemuan supaya hidup dapat dijalani dengan mudah / tidak repot tetapi tetap produktif," kata saya kepada Agatha, anak saya semata wayang.
********************
Selamat menemani anak.
"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"
-----o0o-----
Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph.
Anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.
Pernah belajar Ilmu Alam, Ilmu Hukum, Ilmu Manajemen, dan tentu saja Ilmu Jiwa & Perilaku Manusia (Psikologi).
Telepon : 081 229 255 689.
Alamat Surat : Jl. Anjasmoro V no. 24 Semarang.
e-mail : constantinus99@gmail.com
Tentu saja, untul menjawabnya saya harus bernostalgia tentang pelajaran Bahasa Indonesia di SMP dan SMA dulu.
********************
Ibu-Ibu dan Bapal-Bapak Yth.,
Kalau kita renungkan, mungkin saja apa yang kita pelajari di masa sekolah dulu memang pada kenyataannya tidak kita gunakan untuk mencari nafkah sehari-hari. Saya, misalnya, tidak mencari nafkah dengan ilmu kimia yang dulu saya pelajari di SMA dan bangku kuliah. Tetapi apa yang telah kita pelajari itu toh tetap ada gunanya, yaitu untuk menjawab / menemani anak belajar.
********************
"Bagaimana kalau dulu saya tidak suka dengan pelajaran A, padahal anak minta ditemani belajar pelajaran A ?" seorang teman pernah bertanya kepada saya.
Pengalaman saya sendiri, hal seperti itu sekarang ini dapat disiasati dengan teknologi. Saya dulu tidak jago pelajaran Sejarah. Maka, kalau anak bertanya tentang pelajaran Sejarah, saya akan mencari jawabnya dengan Google.
"Menggunakan Google membuat anak jadi malas," kata seorang teman kantor saya.
Saya tidak mau berdebat dengan beliau. Menurut saya, ada 2 hal yang patut untuk direnungkan lebih dalam.
Pertama, malas tidaknya seseorang tidak patut hanya diukur dari belajar menggunakan Google atau tidak.
Kedua, belajar dengan menggunakan teknologi baru seperti Google mendidik anak untuk memanfaatkan kemajuan teknologi / ilmu pengetahuan yang ada sekarang inj.
******************
"Orang malas dan orang yang kreatif - inovatif itu sebenarnya sama, yaitu sama-sama tidak mau repot. Bedanya, orang malas itu tidak mau repot dan juga tidak produktif, maka dia tidak melakukan apa-apa. Orang kreatif-inovatif itu produktif, maka dia melakukan banyak upaya penemuan supaya hidup dapat dijalani dengan mudah / tidak repot tetapi tetap produktif," kata saya kepada Agatha, anak saya semata wayang.
********************
Selamat menemani anak.
"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"
-----o0o-----
Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph.
Anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.
Pernah belajar Ilmu Alam, Ilmu Hukum, Ilmu Manajemen, dan tentu saja Ilmu Jiwa & Perilaku Manusia (Psikologi).
Telepon : 081 229 255 689.
Alamat Surat : Jl. Anjasmoro V no. 24 Semarang.
e-mail : constantinus99@gmail.com
Sabtu, 05 Januari 2013
SELAMAT TAHUN BARU !
Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak pembaca setia Blog Pendidikan Kreatif "Holiparent" yang saya hormati,
Pertama-tama tentu saja saya harus menyampaikan permohonan maaf karenna untuk beberapa hari ini Blog Pendidikan Kreatif "Holiparent" tidak terbit.
Yang kedua, saya mengucapkan "Selamat Tahun Baru" untuk semua pembaca setia Blog Pendidikan Kreatif "Holiparent" dan juga "Selamat Natal" bagi pembaca yang merayakan Natal. Semoga kita semua selalu dalam berkat dan lindungan Tuhan Yang Mahaesa. Amin.
********************
Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Liburan sekolah anak-anak memang baru saja berakhir, dan anak-anak kita sudah mulai masuk sekolah lagi.
Yang perlu kita renungkan adalah : karya kreatif apa yang telah dihasilkan oleh anak-anak kita selama liburan sekolah kali ini ?
Barangkali, liburan sekolah kali ini diisi dengan piknik atau jalan-jalan ke tempat tujuan wisata, dan sambil piknik atau jalan-jalan itu kita dan anak-anak banyak berfoto ria. Nah, foto-foto itu dapat di-edit oleh kita bersama dengan anak-anak kita, kemudian kita "up load" ke blog internet kita. Maka, jadilah karya kreatif hasil karya bersama kita dan anak kita.
Atau, barangkali kita dan anak kita tidak piknik ke mana-mana, hanya di rumah saja, membaca buku-buku novel atau bacaan lainnya. Nah, anak kita bisa kita temani untuk menulis buku dan kemudian dijilidkan di tempat "fotokopi dan penjilidan" yang ada di dekat rumah kita. Maka, jadilah hasil karya kreatif buatan anak. Buku ini dapat dibagi-bagikan kepada teman-teman anak dan menjadi suatu proses yang membanggakan bagi anak dalam menghasilkan karya kreatif.
********************
Kebetulan, saya bersama anak dan istri tidak banyak jalan-jalan ke tempat tujuan wisata dalam liburan kali ini. Kami hanya jalan-jalan ke Museum Manusia Purba "Sangiran" (18 km dari Solo). Maka, sebagian besar waktu liburan sekolah kali ini memang diisi oleh anak saya dengan menulis berbagai macam cerita.
Ketika sudah jadi, tulisan ini di-buku-kan di tempat "fotokopi dan penjilidan" yang ada di seberang kampus Universitas Semarang (sudah jadi langganan saya, namanya Fotokopi Andika). Biaya menjilid hard cover Rp 12.000,- per buku. Hasil jilidannya rapi dan bagus.
Apa yang bisa dipetik oleh anak dalam proses seperti ini ?
Anak jadi punya pengalaman bahwa untuk menghasilkan sebuah karya kreatif maka dia harus bekerja sama dengan orang lain yang ahli di bidangnya, supaya karya kreatifnya dapat terwujud dengan baik.
Anak jadi punya pengalaman bahwa membuat buku setidaknya memerlukan kehadiran seseorang yang ahli dalam menjilid buku. Selain itu, juga kehadiran penerbit yang membiayai penerbitan buku itu. Dalam hal ini, karena diterbitkan sendiri maka yang menjadi penerbit adalah dia (anak saya) sendiri. Namun demikian, anak jadi punya pengalaman bahwa setidaknya perlu adanya penulis, penerbit, dan yang mencetak / mem-buku-kan supaya sebuah karya dapat terwujud menjadi sebuah buku.
********************
Selamat menemani anak.
"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".
-----o0o-----
Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph, Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922, Praktisi Psikologi Industri dan Komunikasi.
Alamat e-mail : constantinus99@gmail.com
Alamat surat : Jalan Anjasmoro V nomor 24 Semarang
Telepon / SMS : 081 229 255 689
Senin, 31 Desember 2012
Menemani Anak ke Museum Sangiran : PENGETAHUAN YANG BERKEMBANG
Masih melanjutkan tulisan terdahulu tentang Museum Manusia Purba di Sangiran (sekitar 18 km utara Solo, Jawa Tengah).
Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Selain belajar tentang manusia purba, kunjungan ke museum ini juga memberikan wawasan dan pengetahuan baru tentang ke-ilmu-an tertentu yang dikembangkan sehingga menjadi ahli di bidang tertentu, yang (mungkin) belum kita ketahui sebelumnya.
Di Museum Sangiran, dijual buku dengan gambar-gambar dan ulasan yang sangat menarik tentang manusia purba. Buku ini ditulis oleh Profesor Etty Indriati, seorang guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Beliau adalah Doktor lulusan University of Chicago, Amerika Serikat dalam bidang Bio & Paleoantropologi. Beliau banyak melakukan penelitian tentang keragaman manusia Indonesia, baik manusia yang hidup sekarang maupun (fosil) manusia purba di masa silam.
Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Meskipun kami (anak, istri, dan saya) tidak berkesempatan bertemu langsung dengan Profesor Etty Indriati, namun beliau telah memberikan tambahan wawasan kepada kami sekeluarga : Profesor Etty Indriati memiliki gelar lengkap Prof. drg. Etty Indriati, Ph.D. Ya, beliau adalah dokter gigi yang mengembangkan ke-ilmu-annya sedemikian rupa sehingga menjadi ahli manusia purba.
Kami lalu jadi ingat tentang Profesor saya dan istri saya : Prof. Dr. Ir. Widodo Farid Ma'ruf dari Fakultas Perikanan Universitas Diponegoro yang sekarang ini menjadi ahli "rumput laut" (algae) dalam segala aspeknya, baik budidaya maupun manajemen / tata niaga-nya, termasuk hukum / kebijakan pemerintah di bidang ini. Awalnya, Profesor Farid Ma'ruf adalah Insinyur Perikanan.
Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Pengalaman-pengalaman seperti ini membuat kita sebagai orang tua dapat memberikan pendampingan kepada anak tentang luasnya kesempatan bagi anak untuk mempelajari suatu ilmu dan kemudian mengembangkannya sesuai minat dan bakat anak, sehingga anak nantinya menjadi ahli di bidang tertentu.
Bahkan di perusahaan besar seperti Coca-Cola, ada Paul Austin yang menjadi "Chief Executive Officer" Coca-Cola Company di Amerika Serikat tahun 1966-1981, seorang visioner yang mengembangkan Coca-Cola. Paul Austin adalah seorang pengacara / advokat, yang sukses memimpin perusahaan bisnis yang besar. (Ini juga "semacam" pembelaan saya bagi teman-teman advokat / pengacara di mata masyarakat, bahwa advokat / pengacara juga mahir memimpin perusahaan, bukan sekedar jago "ngeyel" saja).
Tidak dapat dipungkiri, istri saya yang Sarjana Perikanan lulusan Universitas Diponegoro nyatanya sejak tahun 1996 sampai sekarang bekerja sebagai bankir. Tentu saja, supaya "nyambung", dia meneruskan studi Magister di bidang Manajemen. Saya sendiri, Sarjana Perikanan lulusan Universitas Diponegoro yang sejak tahun 1995 bekerja jadi bankir dan sekarang jadi praktisi psikologi industri, supaya "nyambung" juga meneruskan studi di bidang manajemen, hukum, dan tentu saja psikologi.
Ketika anak saya menanyakan hal ini kepada saya, saya menjawabnya dengan jelas, bahwa hidup itu yang penting dimulai dengan kesungguhan hati, sesuai minat dan bakat yang ada pada masing-masing orang. Tidak ada yang namanya "salah sekolah" atau "salah kuliah", selama orang tersebut menjalaninya dengan sungguh-sungguh.
Memang, Sarjana Perikanan memang "jauh" dengan psikologi industri, tetapi saya punya pengalaman praktis yang menarik, yang akan saya ceritakan berikut ini.
Ketika masih kuliah di Perikanan Universitas Diponegoro, ada kuliah (dan praktikum di laut) yang namanya Metode Penangkapan Ikan (MPI) dan Fishing Gear and Material (FGM). Intinya, kuliah (dan praktikum di laut) ini memberikan pengetahuan dan pengalaman nyata bahwa ikan jenis tertentu memiliki karakteristik tempat hidup dan kecepatan renang tertentu sehingga untuk menangkapnya dibutuhkan kapal dan alat tangkap dengan disain bentuk yang khusus dan kecepatan yang khusus, yang dioperasikan di wilayah laut tertentu pada musim tertentu pula. Intinya, ini adalah alamiah, dan yang alamiah tidak bisa kita perlakukan semau kita supaya kita tidak kecewa. Kalau kita menentang alam, tidak selaras dengan alam, "semau gue", maka kita tidak akan mendapatkan hasil tangkapan ikan sesuai harapan kita. Misalnya : menangkap ikan tuna dengan jaring, pasti tidak / kurang sukses, karena seharusnya memakai alat yang disebut "tuna long line".
Nah, saya punya seorang teman yang berpendidikan S-2. Entah dapat inspirasi dari mana, teman ini memasang iklan lowongan kerja di berbagai surat kabar (tanpa berkonsultasi dengan saya). Ketika akhirnya beliau memberitahu saya bahwa iklan lowongan itu tidak berhasil merekrut pelamar / kandidat yang diharapkan, saya tidak terkejut. Mengapa ? Sebab menurut saya, iklan lowongan kerja yang dipasang oleh beliau itu menentang alam / tidak sesuai dengan kondisi alamiahnya. Kalau menggunakan istilah Metode Penangkapan Ikan dan Fishing Gear and Material, diibaratkan mau menangkap ikan hiu kok memakai pancing dan memancingnya di kolam ikan air tawar. Ya...mana mungkin dapat ikan hiu !
Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Apa yang saya sharingkan di sini adalah fakta-fakta bahwa pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang masih selalu dapat dan perlu dikembangkan, supaya orang itu menjadi ahli di bidangnya. Dan bahwa tidak ada sekolah atau kuliah yang "salah jurusan", karena sebenarnya apapun yang sudah dipelajari dengan sungguh-sungguh pasti ada manfaatnya.
Selamat menemani anak.
"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".
Sabtu, 29 Desember 2012
Seri Museum Sangiran : HOMO ERECTUS
Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Karena kesibukan menjelang akhir tahun maka Blog Holiparent ini memang terpaksa tidak terbit selama hampir satu minggu. Tidak bisa tidak, saya harus memohon maaf untuk itu. Juga menghaturkan banyak terima kasih atas kesetiaan para pembaca Blog Holiparent yang selalu setia mengunjungi blog ini.
Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Liburan sekolah kali ini kami manfaatkan dengan jalan-jalan ke Museum Manusia Homo Erectus di Sangiran. Nama Sangiran sudah tidak asing lagi bagi kita, karena sejak kita masih SD dulu (dan juga untuk anak-anak SD zaman sekarang) disebut-sebut dalam pelajaran Sejarah.
Apa menariknya berkunjung ke Museum Sangiran kalau sejak SD sudah diajarkan di pelajaran Sejarah ?
Menariknya adalah ini : di Museum Sangiran dipaparkan secara jelas (sehingga mudah dipahami) penemuan terbaru sesuai hasil penelitian terbaru. Misalnya ini : dulu saya "bingung" karena ada Pithecanthropus erectus, Pithecanthropus soloensis, Pithecanthropus modjokertoensis, Meganthropus paleojavanicus. Sekarang, itu semua digolongkan ke dalam Homo erectus. Homo erectus alias manusia yang berdiri tegak ini "lebih modern" dibandingkan Homo arcaic, tetapi masih "kalah modern" dibandingkan Homo sapien alias manusia modern. Tentu saja, kita semua yang hidup saat ini termasuk Homo sapien.
Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Mumpung masih liburan, tidak ada salahnya menemani anak berkunjung ke Museum Sangiran. Kalau dari Semarang, kira-kira 3 jam perjalanan dengan mobil (kecepatan rata-rata 60 km per jam). Kalau dari Solo, kira-kira hanya 30 menit saja.
Jadi, selamat menemani anak. Sambil piknik, juga menambah dan "memperbarui" pengetahuan.
"Menenani Anak = Mencerdaskan Bangsa"
-----o0o-----
Foto oleh Bernardine Agatha, Susana Adi, dan Constantinus Joseph.
Senin, 24 Desember 2012
BAGI YANG TIDAK JAGOAN MENGHAFAL....
Belajar dengan
menghafal memang tidak (selalu) mudah. Beberapa anak memang memiliki kemampuan
yang bagus untuk menghafal. Beberapa yang lainnya tidak. Saya termasuk golongan
yang kedua.
Bagi anak yang punya
kemampuan bagus untuk menghafal, tidak saya bahas di sini. Bagi yang kalau
menghafal harus "usaha keras minta ampun" (seperti saya), memang
harus memakai kiat khusus. Tentu saja, ini berdasarkan pengalaman yang sudah
saya lakukan juga.
PERTAMA, Menciptakan
gambaran ketika menghafal, bukan hanya sekedar menghafal. Sering, saya harus
menghafal sambil menulis RINGKASAN atau membuat GAMBAR / DENAH / SKETSA tentang
apa yang sedang dihafalkan. Sesaat sebelum ulangan, yang dibaca ulang adalah
ringkasan / gambar / denah / sketsa ini, tidak perlu membuka / membaca semua
buku yang tebal lagi (karena semua sudah diringkas). Tentu saja, ringkasan ini
bukan sebagai alat untuk mencontek.
KEDUA, Setiap kali
melihat barang / alat dalam kehidupan nyata sehari-hari, LUANGKAN WAKTU untuk
menikmatinya, mengamatinya, merenungkannya, mengaitkannya dengan teori yang
sudah didapat di sekolah.
Saya sedang
"jalan-jalan" (seperti biasa, sambil membawa kamera digital), ketika
saya sampai di depan Pasar Bulu yang sedang dibangun lagi. Di sana, saya
melihat "crane" untuk
mengangkat (orang teknik menyebutnya sebagai alat "angkat - angkut")
barang-barang yang berat. Saya menghentikan langkah kaki. Berhenti. Mengamati.
Memotret. Mengingat teori pelajaran Fisika tentang "pikulan" : lengan
yang pendek diberi beban yang berat, lengan yang panjang diberi beban yang
lebih ringan (sekalipun dalam hal ini, "beban yang lebih ringan" ini
pasti berat juga; jadi betapa beratnya
"beban yang berat" yang dipasang di lengan "pikulan" yang
pendek itu).
Ibu-Ibu dan
Bapak-Bapak Yth.,
Tulisan kali ini saya
buat sebagai ajakan untuk mengajak dan menemani anak "menikmati,
mengamati, merenungkan" barang-barang yang dijumpai secara nyata dalam
kehidupan sehari-hari, untuk lebih MEMPERKUAT GAMBARAN / PENGERTIAN anak
belajar, terutama kalau anak termasuk yang "sulit menghafal kalau tidak
ada gambaran nyata". Memang, tidak semua teori dapat dengan mudah kita
jumpai dalam kehidupan nyata sehari-hari. Tetapi ketika ada barang yang bisa
dijadikan alat untuk memperkuat gambaran tentang teori, jangan lewatkan kesempatan
baik untuk mengamatinya....
Selamat menemani anak.
"Menemani Anak =
Mencerdaskan Bangsa".
-----o0o-----
Foto dan tulisan oleh
Constantinus Johanna Joseph (Sarjana Ilmu Alam dan Sarjana Ilmu Sosial, anggota
Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922).
Minggu, 23 Desember 2012
LAGU ANAK-ANAK
Malam itu saya sedang
berjalan-jalan dengan anak dan istri saya di Citraland Mall - Semarang.
Ternyata, Citraland
Mall - Semarang malam itu sedang menggelar panggung yang mementaskan band
anak-anak dalam rangka promosi "Crazy Birds". Band anak-anak itu menyanyikan
lagu-lagu anak-anak, seperti lagu "...ayo kawan kita bersama...menanam
jagung di kebun kita..." dan masih banyak lagi.
Tentu saja, ada banyak
anak-anak (diantar / ditemani orang tuanya) yang menyaksikan dengan pandangan
mata berbinar-binar.
Kebetulan, anak saya
memang sudah kelas VIII alias kelas II SMP, tetapi ini tidak mengurungkan niat
kami bertiga (anak, istri, dan saya) untuk berhenti dan menonton /
memperhatikan, bukan hanya para personil band anak-anak itu main band dengan
sangat bagus dan interaktif dengan para penonton yang juga masih anak-anak,
tetapi kami juga menonton dan memperhatikan perilaku dan pandangan mata kagum
dan bahagia sekian banyak anak-anak yang menikmati pentas band anak-anak itu.
--------------------
Beberapa tahun lalu,
saya sempat tersenyum kecut (tersenyum tapi tidak bahagia) ketika di sebuah
panggung ada seorang anak usia 5 tahun-an menyanyikan dengan polos lagu dangdut
orang dewasa yang syairnya berkonotasi jorok / vulgar / hubungan sex
suami-istri. Anak itu (saya yakin) tidak paham akan syair itu. Saya lihat,
orang tua anak itu bangga dengan kemampuan anaknya menyanyikan di atas panggung
"lagu orang dewasa yang sensual" itu. Sekali lagi, saya hanya
tersenyum kecut. Miris rasanya hati saya. Entah bagaimana dengan sekian banyak
penoton lainnya....
--------------------
Ibu-Ibu dan
Bapak-Bapak Yth.,
Dalam banyak hal, anak
belum dapat memilih sendiri apa yang baik untuk dirinya. Misalnya, anak usia 5
tahun yang menyanyikan dengan polos lagu dangdut orang tua yang syairnya
berkonotasi jorok / vulgar / sensual tentang hubungan suami-istri tadi. Dalam
hal seperti itu, orang tua harus dengan bijaksana memilihkan lagu-lagu untuk
didengar, dinyanyikan, bahkan dipentaskan anak-anaknya.
"Tapi pentas band
anak-anak seperti itu 'kan tidak setiap saat ada, Nus," kata teman saya,
ketika saya ngobrol dengan dia tentang perlunya anak-anak ditemani menonton
pentas lagu anak-anak.
"Setidaknya,
kalau beli kaset atau CD atau VCD, ya jangan cuma lagu-lagu buat orang tua,
tetapi harus juga lagu-lagu untuk anak-anak," kata saya.
Jadi, memang anak
harus kita belikan susu dan makanan bergizi yang diperlukan untuk perkembangan
tubuh fisiknya. Dan jangan lupa, anak juga harus dibelikan lagu anak-anak
(jangan disuruh mendengarkan lagu orang dewasa yang dibeli bapaknya/ibunya),
karena lagu anak-anak ini diperlukan untuk perkembangan (tubuh) kejiwaan si
anak.
--------------------
Selamat menemani anak.
"Menemani Anak =
Mencerdaskan Bangsa".
-----o0o-----
Foto dan tulisan oleh
Constantinus Johanna Joseph, ilmuwan psikologi anggota Himpunan Psikologi
Indonesia nomor 03-12D-0922.
Selasa, 11 Desember 2012
MENGATUR WAKTU, MENEMANI ANAK
Dalam sebuah acara pelatihan yang diadakan oleh salah satu perusahaan perbankan bagi para karyawannya, seorang karyawati bertanya tentang "apakah saya salah kalau saya di pagi hari pasti marah kepada anak-anak, bahkan sampai 'main tangan' alias mencubit atau memukul anak, sebab anak seolah-olah tidak mau tahu bahwa saya harus buru-buru mempersiapkan ini dan itu kemudian segera berangkat kerja".
Training ini memang mengangkat tema tentang komunikasi dan kepemimpinan di tempat kerj, dan pertanyaan tadi muncul karena pada prakteknya "orang yang ketika di rumah / akan berangkat kerja sudah banyak masalah / tidak enak hati, pasti komunikasi dan kepemimpinannya di kantor juga akan terpengaruh". Memang, secara teori (idealnya) dikatakan bahwa "masalah rumah jangan dibawa ke kantor, masalah kantor jangan dibawa ke rumah". Pada prakteknya, suasana hati tidak dapat dibagi-bagi seperti itu.
Yang menjadi trainer dalam pelatihan ini adalah Psikolog Dra. Probowatie Tjondronegoro, M.Si. Menjawab pertanyaan tadi, psikolog di Rumah Sakit Elisabeth Semarang ini mengatakan bahwa orang tua harus memahami bahwa anak usia sampai 5 tahun belum paham / belum punya konsep tentang waktu.
"Artinya, orang tua tidak layak untuk jengkel apalagi marah karena anak tidak tahu bahwa orang tuanya harus buru-buru menyiapkan ini itu di pagi hari supaya tidak terlambat masuk kerja, karena anak sampai dengan 5 tahun memang belum punya pemahaman tentang waktu, tentang jam, tentang terlambat. Itu sebabnya, ketika orang tua sedang sibuk melakukan ini itu di pagi hari sebelum berangkat kerja, anak justru rewel seolah-olah minta perhatian (dan malah membuat jengkel) karena anak memang belum tahu," kata Psikolog Probowatie.
Lebih lanjut Psikolog Probowatie juga mengatakan bahwa yang dapat dilakukan oleh orang tua dalam kondisi seperti itu adalah mendisiplinkan diri sendiri dengan mengatur / merencanakan semua yang harus dikerjakan di pagi hari dengan sebaik mungkin, dan kalau memang ada yang sudah bisa dikerjakan di malam hari sebelumnya, seharusnya dilakukan / dipersiapkan di malam hari sebelumnya. "Dengan demikian di pagi hari sudah tidak terlalu sibuk dengan ini itu. Tetapi kalau dengan cara ini pun masih banyak yang harus dilakukan di pagi hari, maka orang tua harus bangun lebih pagi sehingga tidak terburu-buru mengerjakan ini itu," kata Probowatie.
--------------------
Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Dalam menemani, membimbing, mendidik anak, kita memang harus dapat memahami dan menyelami pikiran anak. Dalam uraian di atas, ketika anak sepertinya tidak mau tahu bahwa orang tuanya sedang tergesa-gesa di pagi hari (sebelum berangkat kerja), sebenarnya bukan disebabkan karena anak tidak mau memahami ketergesa-gesaan orang tuanya, tetapi hal ini disebabkan anak memang belum punya konsep tentang waktu (karena masih berusia sampai 5 tahun). Tentu saja, sejalan dengan bertumbuhkembangnya anak, anak juga harus di-ajar-i tentang waktu dan tentang disiplin waktu juga.
--------------------
Selamat menemani anak.
"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".
--------------------
Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph.
Langganan:
Postingan (Atom)