Senin, 11 Juli 2016

Menemani Anak : ALOKASI WAKTU YANG SEIMBANG



"Apakah latihan karate tidak membuat pendidikan anak saya terbengkalai ?"

Pertanyaan di atas adalah wajar kalau diajukan oleh ibu atau ayah yang anaknya ingin ikut latihan karate.

Menjawab pertanyaan tersebut, saya mengatakan bahwa ada banyak orang yang pelajarannya terbengkalai meskipun dia tidak ikut latihan karate.

"Sesuai dengan apa yang saya sampaikan dalam training-training saya tentang leadership, komunikasi, dan human resources, setiap orang harus selalu melakukan perenungan tentang apa yang menjadi TUJUAN HIDUP-nya," kata saya. "Kalau tujuan hidupnya ingin menjadi PROFESIONAL di bidang MANAJEMEN, maka latihan karate harus dilakukan sesuai porsinya".

"Sesuai porsinya ?" begitu pertanyaan yang selanjutnya muncul.

"Sesuai porsinya itu dalam pelaksanaannya bisa berbeda-beda untuk masing-masing orang," kata saya. "Sekali lagi, ini disesuaikan dengan tujuan masing-masing orang. Tidak bisa disamaratakan".

* * * * *



Untuk latihan karate bagi anak kelas 3 - 6 SD, 7 - 9 SMP, 10 - 12 SMA, dan mahasiswa perguruan tinggi, biasanya dua kali seminggu @ 90 - 120 menit. Untuk yang ingin menjadi atlet, tentu latihan ditambah lagi frekuensinya maupun kualitasnya. Untuk karyawan, bisa ada variasi, tergantung pada usia dan tujuan-nya ("kenapa dia ikut latihan karate").

"Yang penting, juga latihan rutin di rumah, meskipun hanya 30 menit, setiap harinya," kata saya. "Gerakannya sederhana saja, tetapi mengulangi apa yang sudah dipelajari saat latihan di  dojo (tempat latihan).

* * * * *



"O.... Jadi tidak mengganggu pendidikan, ya ?" tanya sahabat saya.

"jelas tidak," jawab saya. "Asalkan pandai mengalokasikan waktu".


* * * * *



Selamat menemani anak.

Selamat menemani anak supaya anak mempunyai kegiatan yang seimbang, antar kegiatan akademis dan kegiatan non akademis (termasuk kegiatan rohani /


keagamaan, kegiatan sosial, dan kegiatan fisik dalam hal ini latihan karate (perlu diingat bahwa karate juga memberikan materi  tentang "akal + mental + teknik + fisik + filosofi").

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"


-----oOo-----



Tulisan dan foto oleh Constantinus J. Joseph, Susana Adi Astuti, dan Bernardine Agatha Adi Konstantia.

Constantinus adalah praktisi karate, praktisi psikologi industri, anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), dan anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO). Susana adalah praktisi karate dan karyawati perusahaan. Agatha adalah praktisi karate dan murid SMA.

Minggu, 10 Juli 2016

Menemani Anak : LATIHAN KARATE SESUAI TAHAPAN PERKEMBANGAN MANUSIA




"Apakah latihan karate untuk anak-anak usia Taman Kanak-Kanak dan latihan karate untuk ibu / ayah usia 40 tahun ke atas (yang di masa mudanya tidak pernah latihan karate) sama dengan latihan karate untuk peserta usia SD / SMP / SMA / Perguruan Tinggi ?"

Setiap kali ada yang mengajukan pertanyaan tersebut kepada saya, saya jawab dengan kata, "Tidak !"



Mengapa demikian ?

Pada setiap tahap perkembangan manusia, selalu ada kondisi psikologi dan fisik yang khas. Contohnya, kondisi psikologi dan fisik anak usia TK (Taman Kanak-Kanak) berbeda dengan remaja usia SMA. Hal ini menyebabkan latihan karate untuk masing-masing usia tersebut juga berbeda, disesuaikan dengan kondisi fisik dan psikologi masing-masing, yang secara otomatis juga terkait dengan APA TUJUAN YANG HENDAK DICAPAI pada masing-masing tahap perkembangan tersebut.



Pada anak TK (usia 4-5 tahun) dan SD kelas 1-2 (usia 6-7 tahun), latihan karate lebih bersifat "permainan" yang menyiapkan gerakan tubuh dan anggota tubuh, yang berguna sebagai DASAR dari latihan karate di usia selanjutnya. Selain itu, latihan karate pada tahap ini pun sudah menanamkan dasar-dasar SIKAP HORMAT kepada orang lain. Kepada mereka ditanamkan sikap CINTA DAMAI dan TIDAK MEM-BULLY orang lain (yang lebih lemah secara fisik dan mental dari mereka).



Pada anak SD kelas 3-6 (usia 8-11 tahun), SMP kelas 7-9 (usia 12-14 tahun), latihan karate sudah diberikan sesuai "standar yang sebenarnya" (bukan lagi menggunakan metode "permainan" seperti pada tahap sebelumnya). Ujian kenaikan KYU ("kenaikan sabuk") sudah bisa diterapkan di tahap perkembangan ini. Bahkan bisa jadi sudah ada yang bisa menjadi atlet karate (meskipun itu bukan satu-satunya tujuan, karena karate mendidik AKAL + MENTAL + TEKNIK + FISIK + FILOSOFI; khusus untuk FILOSOFI memang masih terbatas, disesuaikan dengan usia pada tahap ini).  Bahkan, latihan karate juga merupakan sarana "anti bullying".



Tahap berikutnya adalah SMA kelas 10-12 (usia 15-17 tahun) dan perguruan tinggi (usia 18-22 tahun). Pada tahap ini diberikan latihan standar seperti tersebut di atas, ditambah dengan penekanan pada FILOSOFI : apa sebenarnya makna dan kegunaan karate bagi KEHIDUPAN & DUNIA KERJA. Dengan demikian, meskipun nantinya mereka ini sudah memasuki dunia kerja, mereka akan tetap melanjutkan latihan karate karena mereka sudah PAHAM KAITAN / MANFAAT KARATE BAGI KEHIDUPAN & DUNIA KERJA (apapun level jabatan / pekerjaannya : mulai dari STAF sampai SUPERVISOR, MANAJER, DIREKTUR, bahkan KOMISARIS). Bahkan, latihan karate juga berguna sebagai sarana "beladiri praktis".





Ketika orang sudah memasuki tahapan perkembangan selanjutnya, yaitu usia TENAGA KERJA PRODUKTIF (yaitu 23 tahun ke atas) dan terutama ketika usia sudah memasuki 40 tahun atau lebih, maka latihan karate tetap meliputi AKAL + MENTAL + TEKNIK + FISIK + FILOSOFI, dan dalam hal ini FILOSOFI mendapatkan porsi yang lebih besar. Secara fisik, orang yang berusia 40 tahun ke atas (dan sebelumnya belum pernah latihan karate) memiliki keterbatasan dalam hal fisik (dibandingkan anak SD kelas 3 sampai mahasiswa usia 22 tahun), tetapi bukan berarti mereka ini tidak bisa mulai latihan karate. Dengan mendalami FILOSOFI karate (otomatis tetap harus latihan AKAL + MENTAL + TEKNIK + FISIK seperti pada tahap perkembangan sebelumnya, namun dengan "porsi" yang berbeda), maka mereka ini akan tetap dapat memperoleh manfaat karate bagi KEHIDUPAN & DUNIA KERJA, bahkan dalam MEMPERSIAPKAN DIRI MEMASUKI USIA PENSIUN (usia 55-60 tahun), yaitu : KESEHATAN FISIK & PSIKIS. Karate sebagai sarana "beladiri praktis" juga merupakan daya tarik bagi orang di usia ini, karena di zaman sekarang ini, ada juga orang tua yang menjadi sasaran kejahatan.





Tentu saja, sudut pandang orang bisa berbeda-beda, dan tidak semua praktisi karate memiliki sudut pandang seperti ini (latihan disesuaikan dengan tahapan perkembangan manusia yang dikenal dalam ilmu PSIKOLOGI & latihan disesuaikan dengan TUJUAN HIDUP masing-masing tahap perkembangan : dari sekedar permainan (usia TK & SD kelas 1-2) sampai kegunaan di tempat kerja, bahkan untuk menjaga KESEHATAN FISIK & PSIKIS memasuki usia pensiun). Namun, hal seperti ini diperlukan, supaya orang MERASA PERLU latihan karate sampai usia lanjut, karena MEMANG ADA KEGUNAAN PRAKTISNYA (dan karate tidak lagi hanya dilihat sebagai kegiatan FISIK apalagi untuk BERKELAHI).



Selamat menemani anak.

Selamat menemani anak dengan berlatih karate bersama (meskipun anak-anak TK / SD kelaa 1-2 lebih banyak "permainannya" sedangkan orang tua lebih banyak belajar "filosofinya").

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----oOo-----



Tulisan dan foto oleh Constantinus J. Joseph, Susana Adi Astuti, dan Bernardine Agatha Adi Konstantia.

Constantinus adalah praktisi karate, praktisi Psi industri, anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), dan anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO). Susana adalah praktisi karate dan karyawati perusahaan. Agatha adalah praktisi karate dan murid SMA.

Sabtu, 09 Juli 2016

Menemani Anak : Anak yang Berlatih Karate = Tidak Suka Berkelahi



"Apakah kalau berlatih karate, anak saya tidak jadi mudah terpancing emosinya dan jadi suka berkelahi ?"

Pertanyaan bernada khawatir seperti tersebut di atas juga banyak dilontarkan oleh para ibu dan bapak, yang anaknya ingin ikut latihan karate.

Menjawab pertanyaan seperti itu, saya berkata, "Tidak. Karate tidak membuat anak jadi gampang terpancing emosinya apalagi berkelahi. Sebaliknya, anak jadi bisa tetap tenang dan mengendalikan diri".

"Bahkan, kalau kita melihat 'gaya' anak-anak muda (remaja) yang tawuran, hal itu jelas menunjukkan bahwa mereka tidak bisa karate," jawab saya.

Kenapa saya berani menjawab seperti itu ?



Karena ilmu karate bukanlah ilmu untuk menyerang atau tawuran, tapi sebatas membela diri. Setiap orang yang belajar / berlatih karate pasti paham bahwa tawuran secara massal dengan senjata yang tidak dikuasai penggunaannya (yang banyak kita lihat dalam foto / video tawuran)  justru membahayakan si pembawa senjata itu sendiri. Maka, orang yang belajar / berlatih karate tidak tertarik untuk tawuran (apalagi dengan membawa senjata yang tidak dikuasai bagaimana cara menggunakannya !).



Masih ada lagi : orang yang belajar / berlatih karate "terikat" dengan janji dojo-nya (dojo = tempat latihan karate). Sebagai informasi, janji dojo karate aliran Shotokan adalah sebagai berikut :
- Sanggup memelihara kepribadian
- Sanggup patuh pada kejujuran
- Sanggup mempertinggi prestasi
- Sanggup menjaga sopan santun
- Sanggup menguasai diri



Sedangkan contoh lainnya adalah janji dojo pada aliran Kyokushin adalah sebagai berikut :
1. Kami akan selalu ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa,
agar kami dijauhkan dari segala kesesatan.
2. Kami akan melatih jiwa dan raga kami,
untuk menciptakan semangat yang tinggi.
3. Kami akan menjiwai arti yang sebenarnya dari seni beladiri karate ini,
sehingga dalam setiap waktu kami selalu siap dan waspada.
4. Kami akan memelihara semangat percaya pada diri sendiri,
dengan keteguhan yang sungguh-sungguh.
5. Kami akan bersikap sopan santun,
menghormati orang yang layak dihormati,
dan menjauhkan diri dari kekerasan.
6. Kami akan menjunjung tinggi ilmu yang kami peroleh ini,
untuk membela kebenaran.
7. Kami akan menjalankan seluruh kehidupan kami,
melalui disiplin seni beladiri Kyokushin Karate .



Terakhir, selain kedua hal tersebut di atas (bahwa tawuran / berkelahi bukanlah "gaya" orang karate & bahwa janji dojo karate mengendalikan diri orang yang berlatih karate supaya tidak suka berkelahi (= supaya bisa mengendalikan diri)), ada lagi yang ketiga : Gichin Funakoshi (pendiri karate Shotokan) mengatakan bahwa kalau dua harimau bertarung, maka yang satu (yang kalah) mati, sedangkan yang lainnya (yang menang) luka parah. Intinya, berkelahi itu tidak ada untungnya; jadi, jangan berkelahi kalau tidak terpaksa (karena sudah terlanjur DISERANG SECARA FISIK) dan terpaksa harus mem-BELA diri.

Selamat menemani anak.



Selamat menemani anak untuk menhendalikan diri (dan menghindari perkelahian) dengan latihan karate.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----oOo-----



Tulisan dan foto oleh Constantinus J. Joseph, Susana Adi Asruti, dan Bernardine Agatha Adi Konstantia.

Constantinus adalah praktisi karate, praktisi psikologi industri, anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO). Susana adalah praktisi karate dan karyawati perusahaan. Agatha adalah praktisi karate dan murid SMA.


Jumat, 08 Juli 2016

Menemani Anak : Menyeimbangkan AKAL dan OKOL



Salah satu pertanyaan yang sering muncul di dalam hati saya dan juga ditanyakan oleh banyak orang adalah, "Apa gunanya berlatih karate dalam menjalankan pekerjaan, kalau pekerjaan itu adalah pekerjaan 'kantoran' atau pekerjaan yang sifatnya 'non fisik' / bukan di bidang jasa 'security' ?"

Jujur saja, saya memerlukan waktu yang lama untuk melakukan perenungan guna mencari jawaban yang betul-betul jujur dan karena itu tidak mengada-ada. Dan jawaban itu saya dapatkan dalam kuliah filsafat pada saat saya menyelesaikan pendidikan formal di bidang psikologi. Kalau saya pikir-pikir, sebenarnya jawabannya sederhana saja. Tetapi, memang jawaban yang sederhana itulah yang mendasar, dan untuk mendapatkannya memerlukan proses renungan yang panjang (setidaknya, inilah proses yang harus saya jalani).


* * * * *

Pendidikan formal di bidang psikologi yang saya tempuh mulai usia 37 tahun (latar belakang pendidikan saya adalah "aquaculture engineering", yang saya tempuh sejak umur 19 tahun, setelah itu saya belajar ilmu manajemen), membawa saya pada kesadaran  bahwa FISIK MAUPUN PSIKIS adalah sama-sama penting. Kesadaran inilah yang membuat saya  (dan istri saya; kami suami dan istri sama-sama berlatih karate sejak usia 19 tahun, namun dengan "style" karate yang berbeda) "kembali" berlatih karate, setelah sekian lama kami tidak berlatih di dojo (saya dan istri kembali berlatih di tahun 2007, tetapi hal ini karena saya dan istri menemani anak kami yang saat itu berusia 8 tahun dan senang dengan karate).

FISIK adalah sama pentingnya dengan PSIKIS ! Mengapa hal ini saya tuliskan lagi ? Karena adalah merupakan TUGAS KITA SEBAGAI ORANG TUA untuk menemani anak-anak kita, supaya kedua hal yang SAMA PENTINYA itu tumbuh secara SEIMBANG !

Mengapa saya mengatakan hal ini dengan huruf besar (untuk menekankan pentingnya hal ini ) ?
Karena kita sudah melihat fakta ini dalam kehidupan sehari-hari (bahkan mungkin juga kita alami sendiri) :

----- Anak-anak yang menonjol secara akademik, PADA UMUMNYA tidak menonjol dalam bidang olah raga (atau kegiatan fisik lainnya). Anak-anak ini BERPOTENSI menjadi korban "bullying".

----- Anak-anak yang menonjol dalam bidang olah raga (atau kegiatan fisik lainnya) PADA UMUMNYA tidak menonjol secara akademik. Anak-anak ini BAHKAN BERPOTENSI melakukan "bullying" (meskipun hanya sebagian kecil saja; karena tidak semua anak-anak dalam kelompok ini melakukan "bullying").

Bahkan dalam dunia kerja / di tempat kerja sekalipun, hal yang sama masih berlaku :

----- Para karyawan "pemikir" biasanya pendiam, tidak banyak bersosialisasi, dan bahkan cenderung "kutu buku".

----- Para karyawan yang suka bersosialisasi cenderung suka aktivitas fisik (termasuk olah raga), kurang suka membaca buku (akibatnya : kurang dalam memikirkan dan mengemukakan ide-ide serius), dan ada kecenderungan berani berkonflik bahkan secara fisik (berani "ribut" / berani berkelahi).

Lalu, bagaimana kalau ada karyawan yang memiliki kedua tipe tersebut di atas ? Dia memiliki peluang menjadi PEMIMPIN di tempat kerjanya, entah secara formal (memang diangkat oleh perusahaan menjadi supervisor / manajer dengan surat keputusan direksi), entah secara informal (tidak punya jabatan supervisor / manajer tapi punya pengikut / pendapatnya diikuti oleh rekan kerja bahkan atasannya !)

Memang, kepemimpinan itu bukan hanya perlu AKAL ("otak" / pemikiran) saja, tetapi juga perlu OKOL (fisik / tubuh) yang kuat ! Dan sebagaimana sudah saya kemukakan dalam tulisan saya di blog ini sebelumnya, karate mendukung keseimbangan ini : AKAL - MENTAL - TEKNIK - FISIK - FILOSOFI.

"Jadi, kenapa seorang pemimpin itu perlu belajar karate ?" tanya anak saya.

"Karena pemimpin itu harus 'meluruskan' hal-hal yang tidak benar, dengan menggunakan pemikirannya," jawab saya. "Nah, anak buah yang tidak baik, tidak suka kalau hal-hal yang tidak benar ini ----- misalnya pungutan uang liar di perusahaan ----- 'diluruskan' alias ditiadakan, sebab hal ini merugikan mereka. Maka, mereka bisa saja 'main kasar' seperti mengancam bahkan menyerang secara fisik (memukul dan sebagainya). Memang, manajemen perusahaan ketika diberi laporan tentang hal itu pasti tidak akan tinggal diam".

"Tapi, pada saat kejadian, adalah SANGAT MENGUNTUNGKAN dan MENINGKATKAN WIBAWA PEMIMPIN tersebut apabila dia bisa MENGHENTIKAN SERANGAN yang ditujukan kepadanya dengan TENANG dan TIDAK BERLEBIHAN dengan ilmu karatenya," saya menjelaskan lebih lanjut. "Di kemudian hari, orang tidak akan berani lagi 'main-main' dengan pemimpin ini, karena sudah terbukti bahwa dia bisa karate".


* * * * * 

Selamat menemani anak.

Selamat menemani anak guna mempersiapkan masa depannya, yaitu memasuki dunia kerja dan menjadi pemimpin. Sebab, hal itu tidak bisa disiapkan secara "instant", tetapi memerlukan waktu bertahun-tahun.
Selamat menemani anak belajar di bidang akademis maupun belajar karate.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----oOo-----



Tulisan dan foto oleh Constantinus J. Joseph, Susana Adi Astuti, dan Bernardine Agatha Adi Konstantia.

Constantinus adalah praktisi karate, praktisi psikologi industri, anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO). Susana adalah praktisi karate dan karyawati perusahaan. Agatha adalah praktisi karate dan murid SMA.

Kamis, 07 Juli 2016

Menemani Anak : KALAH POPULER BUKAN BERARTI KALAH KEGUNAANNYA




Saya tahu, tidak banyak perusahaan yang ada kegiatan karate-nya (atau beladiri yang lain). Pada umumnya, kegiatan olah raga di kantor-kantor adalah badminton atau futsal atau yang lain, yang bisa dipertandingkan dan jelas SIAPA YANG MENANG. Menjadi PEMENANG ini memang fenomena umum di masyarakat per-kantor-an kita, sampai-sampai saya pernah punya teman yang pandai main badminton yang sering di-bon (diakui sebagai karyawan, padahal tidak)  oleh berbagai perusahaan tertentu yang akan melakukan pertandingan dengan kantor lain. Kalau dipikir-pikir, itu ada unsur menipu / curang-nya, tapi demi sebuah kemenangan pertandingan "persahabatan" badminton antar perusahaan, ya sah-sah saja. Ini adalah suatu kenyataan.

Bagaimana dengan karate ?

Karate adalah bukan PERMAINAN kalah menang seperti badminton maupun futsal. Memang, bagi praktisi karate yang sudah belajar sampai level terentu, dimungkinkan mengikutipertandingan yang disebut KUMITE. Akan tetapi, orang yang baru pertama kali ikut karate tidak akan diizinkan mengikuti pertandingan ini. Hal ini berbeda sekali dengan badminton atau futsal : siapapun yang ikut, boleh langsung ikut main di pertandingan (meskipun hanya sebatas FUN saja).

"Apakah menurut kamu, hal ini merupakan penyebab dari tidak begitu populernya karate di kantor-kantor ?" tanya sahabat saya, sebut saja Slontrot, kepada saya.

"Kamu sudah tahu jawabnya," kata saya. "Karyawan di kantor-kantor selalu bersemangat membahas siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam pertandingan badminton atau futsal mingguan mereka. Apa kamu bisa membayangkan bahwa kalau kegiatan mereka adalah karate, mereka juga bisa membahas siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam setiap olah raga mingguan di kantor mereka ?"

"Sepertinya tidak ya," kata Slontrot. "Saya membayangkan, berapa banyak karyawan yangcedera".

"Ya," kata saya. "Pemikiran seperti itulah yang ada pada kebanyakan orang. Karate selalu identik dengan cedera. Padahal, di pertandingan badminton dan futsal, yang cedera juga banyak, tapi yang berminat tetap banyak, karena ada KALAH MENANGNYA dan orang yang baru pertama kali ikut pun sudah bisa langsung ikut main. Di karate, tidak bisa".

"Sebenarnya, ke mana arah jawabanmu ?" tanya Slontrot, sahabat saya.

"Bahwa karate itu memang kalah populer dibandingkan badminton atau futsal, bukan berarti kegunaan atau manfaat karate lebih rendah;" kata saya. "Tetapi karena masyarakat kita adalah masyarakat yang lebih suka dengan badminton atau futsal yang setiap kali ada kalah menangnya. Sedangkan di karate, hanya orang-orang yang sudah latihan beberapa lama yang boleh bertanding. Jadi, tidak boleh orang yang baru ikut karate, langsung bertanding. Dia harus sabar latihan dengan sungguh-sungguh dulu".

* * * * *





Selain tidak semua orang langsung boleh ikut bertanding (kalau belum menguasai teknik yang benar), para praktisi karate juga tidak mau diajak berkelahi (apalagi memulai perkelahian). Hal ini juga yang membuat kebanyakan orang  semakin gemas dengan karate. Sebab, kebanyakan orang ingin supaya (kalau punya teman) praktisi karate selaluberani berkelahi di jalanan dan MENANG. Kenyataannya, praktisi karate hanya MEMBELA DIRI kalau terpaksa, dan itu pun TIDAK SAMPAI MENANG, tetapi cukuplah kalau lawan sudah dihentikan / tidak menyerang lagi.

"Hmmm.... Memang aneh, ya...." kata Slontrot. "Mempelajari karate, tapi hanya digunakan kalau benat-benar terpaksa. Itupun tidak ada ambisi untuk menang, tapi cukuplah kalau lawan sudah berhenti menyerang".

"Memang demikian," kata saya. "Itu sebabnya, berlatih karate itu berarti berlatih sabar dan mengendalikan diri / rendah hati, dengan tetap selalu siap dan waspada. Kalau kamu mau belajar hal-hal itu, berlatihlah karate".

-----oOo-----






Tulisan dan foto oleh Constantinus J. Joseph, Susana Adi Astuti, dan Bernardine Agatha Adi Konstantia.

Constantinus adalah praktisi karate, praktisi psikologi industri, anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), anggota Asosiasi Psikologi Industri danOrganisasi (APIO). Susana adalah praktisi karate dan karyawati perusahaan. Agatha adalah praktisi karate dan murid SMA.

Menemani Anak : PRACTICE MAKE PERFECT dalam Woman Self Defence




"Apakah saya perlu ikut latihan karate ? Bukankah saya sudah membeli buku tentang 'Woman Self Defence' di toko buku ?"

Pertanyaan seperti itu tidak jarang saya tangkap dari para wanita kenalan saya.

Secara sederhana, saya menjawab begini, "Beladiri itu selain tentang pengetahuan, juga tentang melatih fisik. Ada  'speed' dan 'power' yang hanya didapat dengan latihan rutin, dan lebih baik dengan arahan dari orang yang paham tentang itu".



* * * * *

PRACTICE MAKE PERFECT. Itulah sebabnya, karate (dan juga beladiri praktis) harus dilatih secara rutin. Di karate, ada latihan PEMANASAN supaya tidak cedera selama latihan, ada latihan KIHON (gerakan dasar yang benar, juga supaya tidak cedera), ada latihan KATA (jurus-jurus dalam karate, yang berguna untuk meningkatkan TEKNIK gerakan), dan KUMITE (tidak selalu berarti perkelahian, tetapi latihan dengan partner / orang lain, supaya bisa paham tentanggerak reflek, benturan dengan pukulan / tendangan lawan (ketika menangkis), melancarkan pukulan / tendangan, bahkan menahan rasa sakit ketika terkena tendangan / pukulan yang "masuk" dari lawan, atau melepaskan dari cengkeraman / cekikan lawan). Intinya adalah : JANGAN PERNAH BERANGGAPAN BAHWA LAWAN AKAN PASIF / BERDIAM DIRI SAJA; karena lawan pasti juga akan menangkis dan menyerang secara beruntun ! Inilah perlunya berlatih dan punya teman latihan.

* * * * *

"Jadi hanya membaca buku tentang 'Woman Self Defence' itu belum cukup, ya ?" tanya kenalan saya.

"Ya. Itu boleh dijadikan pengetahuan awal dalam belajar beladiri, tapi tentu harus ada metode latihan prakteknya," jawab saya.

Selamat berlatih beladiri sambil tetap menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

* * * * *



Tulisan dan foto oleh Constantinus J. Joseph, Susana Adi Astuti, dan Bernardine Agatha Adi Konstantia.

Constantinus adalah praktisi karate, praktisi psikologi industri, anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO). Susana adalah praktisi karate dan karyawati perusahaan. Agatha adalah praktisi karate dan murid SMA.

Menemani Anak : Karate untuk Melatih Diri "MENGATASI RASA BOSAN"


Novena (8 tahun) sedang berlatih karate


MENGATASI RASA BOSAN. Hal ini penting untuk dikuasai oleh seseorang dalam dunia kerja. Mengapa ? Karena sebagai seorang praktisi psikologi industri selama 14 tahun, saya melihat kenyataan bahwa ada banyak orang yang pandai secara pendidikan akademis, ternyata gagal dalam bekerja (sering pindah kerja / perusahaan) karena muda bosan (ada yang rata-rata setiap 6 bulan atau 1 tahun sekali pindah kerja). Orang seperti ini (sekalipun pandai secara akademis) tidak akan mempunyai karir yang bagus, karena "tidak sabaran" dan karena "mudah menyerah" (alias tidak gigih).

Tentu saja, ada berbagai macam cara supaya orang tidak mudah bosan. Tetapi pada tulisan ini, saya akan mengaitkannya dengan karate.

* * * * *



KARATE MENDIDIK ORANG UNTUK MENGATASI RASA BOSAN. Saya pribadi mengalaminya, dan saya menyebutnya "BERDAMAI DENGAN RASA BOSAN", bukan "memusuhi" rasa bosan, bukan pula "ingin mengalahkan" rasa bosan. Jadi, ini merupakan salah satu PROSES yang harus dilalui, dalam rangka PENGENDALIAN DIRI.

Suatu ketika, ketika istri dan anak saya beserta saya sedang menganalisis tendangan ke depan (di karate disebut "mae geri"), seorang saudara saya berkata kepada saya, "Kok dari dulu gerakannya itu-itu saja sih ?"

Wajar saja kalau saudara saya berkata seperti itu. Sebab, 6 bulan yang lalu ketika dia sedang liburan di Semarang, dia melihat saya beserta anak dan istri melakukan "mae geri". Dan sekarang, ketika dia liburan di Semarang lagi, dia melihat kami sedang melakukan "mae geri" lagi. Apa yang tidak dia ketahui adalah : bahwa sejak tahun 1989 (atau 27 tahun lalu) saya dan istri melakukan dan menganalisis "mae geri"; demikian pula anak saya sejak tahun 2007 (atau 9 tahun lalu) juga melakukan dan menganalisis "mae geri" !

Apakah saya, anak, istri saya tidak bosa melakukan "mae geri" bertahun-tahun ?

Ternyata tidak !

Kami tidak bosan ! Mengapa ? Pertama, karena kami tahu ARTI PENTINGNYA "mae geri" dalam karate. Kedua, karena kami tahu bahwa "mae geri" orang yang berlatih baru 6 bulan adalah beda kualitasnya dengan yang sudah berlatih selama 5 tahun, 10 tahun, atau lebih dari itu.

Memang, "mae geri" adalah salah satu gerakan yang sifatnya mendasar, dan karena itu (meskipun kelihatannya sederhana) harus dilakukan berulang-ulang, untuk mendapatkan KESEMPURNAANNYA !

* * * * *



Apakah apa yang saya beserta istri dan anak saya lakukan terkait dengan "mae geri" selama bertahun-tahun itu ada gunanya dalam bekerja dan / atau kehidupan sehari-hari ?

Ya ! Karena disiplin untuk selalu mengulangi pelajaran hal-hal yang sifatnya sederhana ini membuat SADAR DIRI bahwa setiap hal itu TIDAK AKAN MEMBOSANKAN kalau kita selalu mengulang-ulang hal itu sambil MERENUNG untuk mengetahui MAKNA yang LEBIH MENDALAM (betapapun sederhananya itu; hal ini tentu saja berlaku di kehidupan sehari-hari maupun di tempat kerja).

* * * * *

"Tapi, mengapa hal itu harus dipelajari dengan ikut karate sejak masih sekolah / kuliah ?"  begitu (secara umum) komentar orang kepada saya.

"Karena untuk menanamkan hal itu di dalam diri seseorang TIDAK BISA INSTANT," jawab saya. "Kalau sekedar menirukan gerakan 'mae geri', dalam 3 sampai 6 bulan sudah bisa. Tetapi mendapatkan kepribadian yang selalu ingin merenungkan arti yang mendalam dan mendapatkan makna yang sebenarnya dari setiap hal yang dilakukan, itu perlu PROSES yang tidak singkat".

* * * * *

Selamat menemani anak.

Selamat menemani anak dalam membentuk generasi muda yang GIGIH dan TIDAK MUDAH BOSAN.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----oOo-----



Tulisan dan foto oleh Constantinus J. Joseph, Susana Adi Astuti, dan Bernardine Agatha Adi Konstantia.

Constantinus adalah praktisi karate, praktisi psikologi industri, anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), dan anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO). Susana adalah praktisi karate dan karyawati perusahaan. Agatha adalah praktisi karate dan murid SMA.

Selasa, 05 Juli 2016

Menemani Anak : KISAH NYATA MENINGKATNYA RASA PERCAYA DIRI KARENA KARATE




BAGAIMANA KARATE BISA MENINGKATKAN RASA PERCAYA DIRI ? Ini juga pertanyaan yang sering saya dapatkan dari ibu-ibu dan bapak-bapak yang mulai berminat mengikutkan anaknya dalam latihan karate. Atas pertanyaan seperti itu, saya memberikan jawaban demikian, "Di karate, anak-anak mendapatkan pengalaman berupa tugas-tugas yang MENANTANG. Mereka melakukan tugas BARU yang BELUM PERNAH mereka lakukan. Dan ketika tugas BARU yang MENANTANG ini dapat mereka selesaikan, otomatis RASA PERCAYA DIRI mereka meningkat. Padahal  TANTANGAN seperti ini akan diberikan TERUS-MENERUS secara BERTAHAP, sehingga RASA PERCAYA DIRI juga MENINGKAT secara BERTAHAP dan TERUS-MENERUS".

* * * * *




Saya selalu setuju dengan orang tua yang secara selektif memilah-milah kegiatan bagi anak-anaknya : kalau TIDAK ADA GUNANYA untuk MASA DEPAN, untuk apa suatu kegiatan diikuti ? Sebab, tidak dapat dipungkiri bahwa (adakalanya) anak hanya mengikuti suatu kegiatan hanya karena MENYENANGKAN, padahal TIDAK ADA GUNANYA untuk masa depan (jelasnya : untuk bekal kerja nantinya). Orang tua akan mendukung kalau anak-anaknya ikut les Bahasa Inggris atau komputer, karena hal itu JELAS TERPAKAI kelak pada saat sudah BEKERJA.

Bagaimana halnya dengan karate ? Apakah orang tua mendukung kalau anaknya ingin ikut karate ?





Ada orang tua yang setuju, tetapi banyak yang ragu-ragu atau bahkan melarang. Alasan orang tua ragu-ragu atau bahkan melarang (antara lain) adalah : APA KEGUNAANNYA UNTUK BEKERJA ?

Keragu-raguan seperti itu adalah wajar, selama orang tua (dan bahkan anaknya) tidak mendapatkan PENJELASAN DENGAN CONTOH NYATA ( = pengalaman, bukan hanya teori) bahwa karate BERGUNA UNTUK MENINGKATKAN RASA PERCAYA DIRI, di mana rasa percaya diri ini SANGAT PENTING untuk MENITI KARIR DI TEMPAT KERJA, apapun bidangnya dan apapun level jabatannya (bahkan sampai ke level Direktur atau Komisaris).

* * * * *




RASA PERCAYA DIRI memang tidak secara "instant" didapat dengan berlatih karate. Ada PROSES yang harus DIRENUNGI selama  bertahun-tahun, menurut pengalaman saya di atas tiga tahun. Memang, berlatih karate tidak bisa dilepaskan dari latihan FISIK. Tetapi, jangan diartikan bahwa latihan fisik merupakan satu-satunya yang didapat dari karate. Bagi saya, latihan fisik HANYALAH PINTU MASUK untuk mempelajari hal-hal lainnya, yang saya rumuskan bersama istri (seorang praktisi karate) dan anak saya (praktisi karate juga) sebagai berikut :
(1) AKAL, dalam arti : bagaimana mencari dan menemukan pemecahan masalah
(2) MENTAL, dalam arti : sikap mental / kepribadian yang kuat; termasuk di sini adalah RASA PERCAYA DIRI yang tinggi da  TIDAK MUDAH MENYERAH (= memiliki SEMANGAT JUANG yang tinggi)
(3) TEKNIK, dalam arti : jurus-jurus / gerakan-gerakan karate yang harus dikuasai
(4) FISIK, dalam arti : fisik yang terlatih secara bertahap dan terus-menerus
(5) FILOSOFI, dalam arti : mengetahui sejarah / latar belakang dan makna / tujuan yang mendalam dari dilakukannya gerakan-gerakan / jurus-jurus karate dan APA KAITANNYA / KEGUNAANNYA BAGI KEHIDUPAN & DI TEMPAT KERJA. Hal ini yang memang MASIH JARANG dipelajari di saat latihan karatr di Indonesia (tetapi bukan berarti tidak ada; karena apa yang fipelajari dari karate adalah tergantung pada orang itu sendiri (yang belajar karate)).

* * * * *



Pertama kali saya belajar karate di tahun 1989, saya TIDAK MENDUGA bahwa latihan karate itu begitu berat. Gerakan-gerakan dasar yang harus dikuasai memang harus dilatih dengan sungguh-sungguh. Tetapi, di karate semuanya dilakukan SECARA SISTEMATIS, BERTAHAP, dan TERUS-MENERUS. Maklumlah, karate berakar dari ilmu perang (sekaligus ilmu beladiri) yang sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu, dan sampai saat ini selalu dilalukan penyempurnaan-penyempurnaan. Memang, karate BUKANLAH ILMU YANG INSTANT, baik dalam sejarah perkembangannya maupun dalam mempelajarinya !

Pada akhirnya, ketika sudah melatih tubuh secara rutin, gerakan-gerakan dasar itu bisa dikuasai. Di sini, RASA PERCAYA DIRI itu mulai tumbuh dan berkembang. Pada saat yang sama, tumbuh juga pemahaman melalui pengalaman nyata bahwa SEGALA SESUATUNYA MEMANG HARUS DIPERJUANGKAN, tidak bisa didapatkan secara cuma-cuma / secara mudah. Jadi, KEGIGIHAN hadir bersamaan dengan RASA PERCAYA DIRI.

(Bersambung : tulisan berikutnya adalah belajar tentang MENGATASI RASA BOSAN dalam belajar JURUS-JURUS KARATE)

-----oOo-----



Tulisan dan foto oleh Constantinus J. Joseph, Susana Adi Astuti, dan Bernardine Agatha Adi Konstantia.

Constantinus adalah praktisi karate, praktisi psikologi industri, anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO). Susana Adi Astuti adalah praktisi karate dan karyawati perusahaan. Agatha adalah praktisi karate dan murid SMA, dikenal sebagai penulis dan pembaca puisi / MC sejak masih SD.





Menemani Anak : APAKAH KARATE TIDAK MEMBUAT ANAK PEREMPUAN MENJADI TOMBOY ?



Foto di Tahun 2015


Pengantar

Salah satu penyebab dari dibuatnya tulisan ini adalah masih banyaknya masyarakat umum yang melihat bahwa karate tidak ada gunanya untuk masa depan. Maksudnya, karate tidak berguna untuk mencari, mendapatkan, dan mempertahankan / meniti karir di tempat kerja. Hal ini merupakan kenyataan, karena selama ini (setidaknya sejak saya dan istri saya mulai berlatih karate di tahun 1989 (di dua aliran karate yang berbeda)), yang diajarkan memang karate sebagai olah raga prestasi saja (dalam arti : untuk ikut pertandingan kata (jurus) atau kumite (fighting)), dan tidak banyak (atau bahkan tidak pernah) disinggung tentang karate sebagai sarana untuk membangun / meningkatkan rasa percaya diri, bersikap antisipatif, dan berkomunikasi, yang sangat diperlukan sebagai soft competency di tempat kerja.

Penyebab lain dari dibuatnya tulisan ini adalah masih banyaknya orang tua yang khawatir kalau anak perempuannya ikut latihan karate : apakah anak perempuannya bisa tetap feminim.

* * * * *


Foto di Tahun 2007

APAKAH KARATE COCOK UNTUK ANAK PEREMPUAN SAYA ? Ini pertanyaan yang diajukan (dengan nada khawatir) oleh para ibu maupun bapak kepada saya. Mengapa pertanyaan ini diajukan ? Ada beberapa sebab yang saya ketahui berdasarkan perbincangan saya dengan ibu-ibu maupun bapak-bapak yang punya anak perempuan (kebetulan anak saya juga perempuan, jadi mudah bagi saya untuk menjawabnya).


Foto di Tahun 2015

Pertama, kekhawatiran bahwa anak perempuan yang ikut karate akan menjadi "tomboy" atau "kelaki-lakian". Faktanya, istri saya yang berlatih sejak tahun 1989 (sejak berusia 19 tahun) sama sekali tidak "tomboy" / tidak "kelaki-lakian". Faktanya juga, anak perempuan saya yang berlatih sejak tahun 2007 (sejak berusia 8 tahun) juga tidak "tomboy" / tidak "kelaki-lakian". Rambut istri dan anak saya panjangnya sebahu lebih (dan umumnya praktisi karate (karateka) perempuan juga memiliki rambut yang panjang sebahu lebih; saat berlatih, biasanya rambutnya diikat dengan karet sehingga tidak mengganggu latihan).


Foto di Tahun 2015

Kedua, kekhawatiran bahwa anak perempuan yang berlatih karate akan memiliki badan yang "besar berotot" seperti laki-laki. Faktanya, istri dan anak perempuan saya (dan juga para praktisi karate (karateka) perempuan lainnya) tetap berbadan normal. Sebab, karate bukanlah kegiatan yang membentuk otot. Orang yang berlatih karate belajar tentang kelenturan tubuh dan kecepatan gerakan yang berguna untuk mendapatkan power yang tepat sasaran. Masih banyak orang yang belum mengerti tentang hal ini.


Foto di Tahun 2015

Semoga dengan adanya tulisan ini, maka kekhawatiran ibu-ibu dan bapak-bapak yang ingin mengikutsertakan anak perempuannya dalam latihan karate dapat terjawab dengan baik.

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----oOo-----



Tulisan dan foto oleh Constantinus J. Joseph, Susana Adi Astuti, dan Bernardine Agatha Adi Konstantia.

Constantinus adalah praktisi karate, praktisi psikologi industri, anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), dan anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO). Susana adalah praktisi karate dan karyawati perusahaan. Agatha adalah praktisi karate dan murid SMA.

Senin, 04 Juli 2016

Karate untuk Kehidupan & Dunia Kerja : RASA PERCAYA DIRI, SIKAP ANTISIPATIF, dan KOMUNIKASI



PENGANTAR

Tulisan kali ini masih merupakan kelanjutan dari tulisan-tulisan sebelum ini, yaitu tentang KARATE UNTUK KEHIDUPAN. Serial tulisan ini dibuat untuk men-sharing-kan pengalaman nyata penulis kepada para ibu dan ayah dalam menemani anak-anaknya, di mana nantinya anak-anak itu akan memasuki dunia kerja.

Constantinus selaku penulis berlatih karate sejak usia 19 tahun, dan saat itu TIDAK TAHU APA KAITAN KARATE DENGAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI & DUNIa KERJA. Lama setelah itu, yaitu ketika sudah berusia 46 tahun ( = 27 tahun kemudian), baru disadari bahwa karate bukanlah sekedar olah raga dan juga bukan sekedar alat untuk bela diri. Setelah mempelajari ILMU ALAM, ILMU SOSIAL, dan PROFESI PSIKOLOGI, penulis melihat kenyataan bahwa belajar karate adalah belajar tentang "AKAL - MENTAL - TEKNIK - FISIK - FILOSOFI" yang sangat berguna dalam membentuk RASA PERCAYA DIRI dan SIKAP ANTISIPATIF serta KOMUNIKASI yang sangat berguna dalam KEHIDUPAN SEHARI-HARI & di TEMPAT KERJA.

Yang pasti, karate itu BUKAN UNTUK BERKELAHI (tetapi untuk  membela diri kalau memang terpaksa, yaitu karena diserang) !

* * * * *

APA KEGUNAAN KARATE DALAM BEKERJA ? Kalimat seperti ini sudah berkali-kali saya dengar. Anehnya, yang mengajukan pertanyaan seperti ini bukan hanya ibu atau ayah yang tidak pernah berlatih karate, tetapi juga yang di masa mudanya sudah berlatih karate (atau beladiri lainnya). Bahkan, ada orang yang di masa mudanya merupakan atlet beladiri (kebetulan bukan karate) yang bahkan melarang anaknya berlatih beladiri itu, sebab dia tidak melihat kegunaan beladiri dengan dunia kerja.

Bagi saya sendiri, karate (asalkan dipelajari secara menyeluruh yaitu meliputi "AKAL - MENTAL - TEKNIK - FISIK - FILOSOFI; bukan sekedar olah raga saja) berguna dalam memupuk RASA PERCAYA DIRI, SIKAP ANTISIPATIF, serta KOMUNIKASI. Ini yang menurut pengalaman saya dan juga ilmu yang saya pelajari lewat pendidikan formal, merupakan hal yang SANGAT MENDASAR (karena itu menjadi sangat penting) dalam memasuki dunia kerja dan meniti karir, apapun bidang pekerjaannya, dan apapun level jabatannya.

PERCAYA DIRI saya pelajari dalam karate, karena selama berlatih karate, secara FISIK maupun MENTAL selalu DITEMPA untuk menjadi lebih baik. Dalam pengalaman saya pribadi, berlatih karate membuat seseorang TIDAK CENGENG, dan ini sangat penting di dalam dunia kerja. Orang yang berlatih karate melatih dirinya untuk DISIPLIN DALAM MENGATASI KESUKARAN / TANTANGAN. Hal ini menjadi semakin penting karena dalam profesi saya di bidang "human reaources" sejak 14 tahun yang lalu, saya menemui kenyataan bahwa semakin banyak pelamar kerja maupun karyawan baru yang dalam penilaian saya cenderung manja dan cengeng. Tentu saja, berlatih karate yang saya maksudkan di sini bukan hanya selama dua atau tiga bulan saja ! Sebab, saya juga sering bertemu dengan orang yang berkata, "Saya juga pernah ikut karate selama dua bulan". Kalau hanya ikut selama dua bulan, apa yang sudah didapat ? (tanya saya dalam hati).

SIKAP ANTISIPATIF saya pelajari selama berlatih karate, karena di karate diajarkan untuk selalu SIAP & WASPADA. Selain itu, karate juga mengajarkan untuk MENGHORMATI ORANG LAIN YANG LAYAK DIHORMATI, yang sangat berguna dalam dunia kerja : orang itu ada yang baik dan ada yang tidal baik; jangan disamaratakan apalagi sampai terbalik dalam memperlakukannya (maksudnya : orang baik harus dihormati, tetapi orang tidak baik harus diwaspadai).

KOMUNIKASI ! Bagaimana karate bisa berguna di dunia kerja, yaitu dalam hal komunikasi ?  Sekali lagi, tentu saja, kalau berlatih karate hanya untuk olah raga saja, apalagi hanya selama beberapa bulan, maka hal KOMUNIKASI ini tidak akan didapat dari karate. Tetapi saya sendiri mendapatkan manfaat nyata dari karate dalam hal komunikasi : dengan orang yang saya bisa ajak menggunakan AKAL, saya berkomunikasi menggunakan AKAL. Sebaliknya, dengan orang yang hanya bisa diajak menggunakan OKOL (bahasa tubuh yang tegas / keras, bahkan ada kemungkinan terjadi konflik secara fisik), maka saya harus bisa berkomunikasi menggunakan OKOL juga. (Anehnya, orang-orang yang pada awalnya mengajak berkomunikasi dengan OKOL, ketika dilayani berkomunikasi dengan OKOL juga, pada umumnya justru kemudian mau berubah menjadi berkomunikasi dengan AKAL; jadi sebenarnya mereka ini hanya menggertak saja).

Ibu-ibu dan bapak-bapak pembaca blog inspirasi pendidikan kreatif "Holiparent" yang saya hormati,

Demikianlah telah saya sharing-kan : pengalaman nyata saya tentang KARATE UNTUK KEHIDUPAN & PEKERJAAN. Sebenarnya, hal ini merupaka  materi tentang (apa yang disebut dengan) KEPEMIMPINAN DI DUNIa KERJA, tetapi saya menceritakannya dengan cara yang praktis.

Selamat menemani anak....

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"


-----oOo-----



Tulisan dan Foto oleh Constantinus J. Joseph, Susana Adi Astuti, dan Bernardine Agatha Adi Konstantia.

Constantinus  adalah praktisi karate, praktisi psikologi industri, anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), dan anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO). Susana adalah praktisi karate dan karyawati perusahaan. Agatha adalah praktisi karate dan murid SMA.


Kisah Nyata : Karate untuk Melamar Kerja di Level Direksi




(Tulisan ini merupakan lanjutan dari edisi sebelumnya)

Untuk menjawab pertanyaan"apakah karate berguna dalam mendapatkan pekerjaan?", saya menuliskan pengalaman saya di tahun 2002.

Waktu itu, saya sedang mengikuti seleksi penerimaan karyawan baru di sebuah perusahaan swasta di kota Semarang, karena saya ingin kembali bekerja di Semarang (kota kelahiran saya dan di mana anak dan istri saya selama ini tinggal) setelah sekian lama saya bekerja di Jakarta.

Posisi yang saya lamar adalah posisi di level direktur, dan saya sudah menjalani sekian macam tes dalam rangka seleksi. Pada wawancara terakhir, pemilik perusahaan langsung hadir dan mewawancarai saya. Salah satu pertanyaan yang diajukan oleh pemilik perusahaan itu adalah, "Apakah kamu bisa beladiri ?"

Saya menjawab, "Ya. Saya berlatih karate".

Selang beberapa hari kemudian, saya diberitahu bahwa saya diterima bekerja di perusahaan tersebut. Dan dari kisah nyata tersebut di atas, bisa diketahui bahwa karate merupakan salah satu nilai lebih yang penting; sebab, kalau tidak, untuk apa seorang pemilik perusahaan mengajukan pertanyaan tentang hal ini.

Perlu saya tambahkan bahwa pekerjaan saya adalah di bidang pengembangan organisasi dan kualitas sumber daya manusia; suatu pekerjaan di level strategis yang selama ini dilihat banyak orang sebagai "tidak ada kaitannya dengan karate". Kenyataannya, selain adanya pertanyaan dari pemilik perusahaan tentang beladiri, saya secara praktis juga merasakan kegunaan karate dalam menata strategi perusahaan. Dan saya akan menceritakannya pada tulisan berikutnya.....

Jadi, selamat menemani anak dengan mengenalkan anak pada karate (atau beladiri lainnya).

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".


-----oOo-----



Constantinis J. Joseph bersama dengan Susana Adi Astuti (istri) dan Bernardine Agatha Adi Konstantia (anak) memberikan "training berbasis karate" untuk tujuan rasa percaya diri dan komunikasi dengan motto "AKAL - MENTAL - TEKNIK - FISIK - FILOSOFI".

Sehari-hari, Constantinus adalah seorang praktisi psikologi industri, anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dan Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO), serta praktisi karate. Susana bekerja sebagai karyawati perusahaan dan praktisi karate. Agatha adalah murid SMA dan praktisi karate.

Kamis, 23 Juni 2016

Apa Manfaat Karate dalam Memasuki Dunia Kerja ?


Sosialisasi untuk mengajak masyarakat menghentikan kekerasan seksual pada anak & wanita dalam bentuk stiker oleh training berbasis karate "Tekad Kuat"



*****

Hal yang sering saya dengar ketika saya menawarkan (latihan) karate adalah kalimat ini, "Waduh ! Memangnya mau berkelahi ?"

Ya, walau bagaimanapun harus diakui bahwa karate dalam pandangan masyarakat masih dikaitkan dengan berkelahi. Tentu saja, ada bagian dari masyarakat yang tidak seperti itu, tapi itu tidak banyak. Setidaknya, begitulah pengalaman saya : masih lebih banyak masyarakat yang berpendapat bahwa karate = berkelahi, dan kurang berguna untuk melamar pekerjaan.

Bahkan, ada orang-orang yang dulu ketika masih sekolah / kuliah berlatih karate, pada saat Sudan bekerja ada yang berhenti berlatih. Alasannya, karate tidak relevan / tidak bisa dipakai untuk mendukung pekerjannya, jadi tidak usah berlatih karate lagi.

Tetapi, benarkah demikian ?

(Bersambung)

----- "Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa" -----