Jumat, 08 Juli 2016

Menemani Anak : Menyeimbangkan AKAL dan OKOL



Salah satu pertanyaan yang sering muncul di dalam hati saya dan juga ditanyakan oleh banyak orang adalah, "Apa gunanya berlatih karate dalam menjalankan pekerjaan, kalau pekerjaan itu adalah pekerjaan 'kantoran' atau pekerjaan yang sifatnya 'non fisik' / bukan di bidang jasa 'security' ?"

Jujur saja, saya memerlukan waktu yang lama untuk melakukan perenungan guna mencari jawaban yang betul-betul jujur dan karena itu tidak mengada-ada. Dan jawaban itu saya dapatkan dalam kuliah filsafat pada saat saya menyelesaikan pendidikan formal di bidang psikologi. Kalau saya pikir-pikir, sebenarnya jawabannya sederhana saja. Tetapi, memang jawaban yang sederhana itulah yang mendasar, dan untuk mendapatkannya memerlukan proses renungan yang panjang (setidaknya, inilah proses yang harus saya jalani).


* * * * *

Pendidikan formal di bidang psikologi yang saya tempuh mulai usia 37 tahun (latar belakang pendidikan saya adalah "aquaculture engineering", yang saya tempuh sejak umur 19 tahun, setelah itu saya belajar ilmu manajemen), membawa saya pada kesadaran  bahwa FISIK MAUPUN PSIKIS adalah sama-sama penting. Kesadaran inilah yang membuat saya  (dan istri saya; kami suami dan istri sama-sama berlatih karate sejak usia 19 tahun, namun dengan "style" karate yang berbeda) "kembali" berlatih karate, setelah sekian lama kami tidak berlatih di dojo (saya dan istri kembali berlatih di tahun 2007, tetapi hal ini karena saya dan istri menemani anak kami yang saat itu berusia 8 tahun dan senang dengan karate).

FISIK adalah sama pentingnya dengan PSIKIS ! Mengapa hal ini saya tuliskan lagi ? Karena adalah merupakan TUGAS KITA SEBAGAI ORANG TUA untuk menemani anak-anak kita, supaya kedua hal yang SAMA PENTINYA itu tumbuh secara SEIMBANG !

Mengapa saya mengatakan hal ini dengan huruf besar (untuk menekankan pentingnya hal ini ) ?
Karena kita sudah melihat fakta ini dalam kehidupan sehari-hari (bahkan mungkin juga kita alami sendiri) :

----- Anak-anak yang menonjol secara akademik, PADA UMUMNYA tidak menonjol dalam bidang olah raga (atau kegiatan fisik lainnya). Anak-anak ini BERPOTENSI menjadi korban "bullying".

----- Anak-anak yang menonjol dalam bidang olah raga (atau kegiatan fisik lainnya) PADA UMUMNYA tidak menonjol secara akademik. Anak-anak ini BAHKAN BERPOTENSI melakukan "bullying" (meskipun hanya sebagian kecil saja; karena tidak semua anak-anak dalam kelompok ini melakukan "bullying").

Bahkan dalam dunia kerja / di tempat kerja sekalipun, hal yang sama masih berlaku :

----- Para karyawan "pemikir" biasanya pendiam, tidak banyak bersosialisasi, dan bahkan cenderung "kutu buku".

----- Para karyawan yang suka bersosialisasi cenderung suka aktivitas fisik (termasuk olah raga), kurang suka membaca buku (akibatnya : kurang dalam memikirkan dan mengemukakan ide-ide serius), dan ada kecenderungan berani berkonflik bahkan secara fisik (berani "ribut" / berani berkelahi).

Lalu, bagaimana kalau ada karyawan yang memiliki kedua tipe tersebut di atas ? Dia memiliki peluang menjadi PEMIMPIN di tempat kerjanya, entah secara formal (memang diangkat oleh perusahaan menjadi supervisor / manajer dengan surat keputusan direksi), entah secara informal (tidak punya jabatan supervisor / manajer tapi punya pengikut / pendapatnya diikuti oleh rekan kerja bahkan atasannya !)

Memang, kepemimpinan itu bukan hanya perlu AKAL ("otak" / pemikiran) saja, tetapi juga perlu OKOL (fisik / tubuh) yang kuat ! Dan sebagaimana sudah saya kemukakan dalam tulisan saya di blog ini sebelumnya, karate mendukung keseimbangan ini : AKAL - MENTAL - TEKNIK - FISIK - FILOSOFI.

"Jadi, kenapa seorang pemimpin itu perlu belajar karate ?" tanya anak saya.

"Karena pemimpin itu harus 'meluruskan' hal-hal yang tidak benar, dengan menggunakan pemikirannya," jawab saya. "Nah, anak buah yang tidak baik, tidak suka kalau hal-hal yang tidak benar ini ----- misalnya pungutan uang liar di perusahaan ----- 'diluruskan' alias ditiadakan, sebab hal ini merugikan mereka. Maka, mereka bisa saja 'main kasar' seperti mengancam bahkan menyerang secara fisik (memukul dan sebagainya). Memang, manajemen perusahaan ketika diberi laporan tentang hal itu pasti tidak akan tinggal diam".

"Tapi, pada saat kejadian, adalah SANGAT MENGUNTUNGKAN dan MENINGKATKAN WIBAWA PEMIMPIN tersebut apabila dia bisa MENGHENTIKAN SERANGAN yang ditujukan kepadanya dengan TENANG dan TIDAK BERLEBIHAN dengan ilmu karatenya," saya menjelaskan lebih lanjut. "Di kemudian hari, orang tidak akan berani lagi 'main-main' dengan pemimpin ini, karena sudah terbukti bahwa dia bisa karate".


* * * * * 

Selamat menemani anak.

Selamat menemani anak guna mempersiapkan masa depannya, yaitu memasuki dunia kerja dan menjadi pemimpin. Sebab, hal itu tidak bisa disiapkan secara "instant", tetapi memerlukan waktu bertahun-tahun.
Selamat menemani anak belajar di bidang akademis maupun belajar karate.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----oOo-----



Tulisan dan foto oleh Constantinus J. Joseph, Susana Adi Astuti, dan Bernardine Agatha Adi Konstantia.

Constantinus adalah praktisi karate, praktisi psikologi industri, anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO). Susana adalah praktisi karate dan karyawati perusahaan. Agatha adalah praktisi karate dan murid SMA.

Kamis, 07 Juli 2016

Menemani Anak : KALAH POPULER BUKAN BERARTI KALAH KEGUNAANNYA




Saya tahu, tidak banyak perusahaan yang ada kegiatan karate-nya (atau beladiri yang lain). Pada umumnya, kegiatan olah raga di kantor-kantor adalah badminton atau futsal atau yang lain, yang bisa dipertandingkan dan jelas SIAPA YANG MENANG. Menjadi PEMENANG ini memang fenomena umum di masyarakat per-kantor-an kita, sampai-sampai saya pernah punya teman yang pandai main badminton yang sering di-bon (diakui sebagai karyawan, padahal tidak)  oleh berbagai perusahaan tertentu yang akan melakukan pertandingan dengan kantor lain. Kalau dipikir-pikir, itu ada unsur menipu / curang-nya, tapi demi sebuah kemenangan pertandingan "persahabatan" badminton antar perusahaan, ya sah-sah saja. Ini adalah suatu kenyataan.

Bagaimana dengan karate ?

Karate adalah bukan PERMAINAN kalah menang seperti badminton maupun futsal. Memang, bagi praktisi karate yang sudah belajar sampai level terentu, dimungkinkan mengikutipertandingan yang disebut KUMITE. Akan tetapi, orang yang baru pertama kali ikut karate tidak akan diizinkan mengikuti pertandingan ini. Hal ini berbeda sekali dengan badminton atau futsal : siapapun yang ikut, boleh langsung ikut main di pertandingan (meskipun hanya sebatas FUN saja).

"Apakah menurut kamu, hal ini merupakan penyebab dari tidak begitu populernya karate di kantor-kantor ?" tanya sahabat saya, sebut saja Slontrot, kepada saya.

"Kamu sudah tahu jawabnya," kata saya. "Karyawan di kantor-kantor selalu bersemangat membahas siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam pertandingan badminton atau futsal mingguan mereka. Apa kamu bisa membayangkan bahwa kalau kegiatan mereka adalah karate, mereka juga bisa membahas siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam setiap olah raga mingguan di kantor mereka ?"

"Sepertinya tidak ya," kata Slontrot. "Saya membayangkan, berapa banyak karyawan yangcedera".

"Ya," kata saya. "Pemikiran seperti itulah yang ada pada kebanyakan orang. Karate selalu identik dengan cedera. Padahal, di pertandingan badminton dan futsal, yang cedera juga banyak, tapi yang berminat tetap banyak, karena ada KALAH MENANGNYA dan orang yang baru pertama kali ikut pun sudah bisa langsung ikut main. Di karate, tidak bisa".

"Sebenarnya, ke mana arah jawabanmu ?" tanya Slontrot, sahabat saya.

"Bahwa karate itu memang kalah populer dibandingkan badminton atau futsal, bukan berarti kegunaan atau manfaat karate lebih rendah;" kata saya. "Tetapi karena masyarakat kita adalah masyarakat yang lebih suka dengan badminton atau futsal yang setiap kali ada kalah menangnya. Sedangkan di karate, hanya orang-orang yang sudah latihan beberapa lama yang boleh bertanding. Jadi, tidak boleh orang yang baru ikut karate, langsung bertanding. Dia harus sabar latihan dengan sungguh-sungguh dulu".

* * * * *





Selain tidak semua orang langsung boleh ikut bertanding (kalau belum menguasai teknik yang benar), para praktisi karate juga tidak mau diajak berkelahi (apalagi memulai perkelahian). Hal ini juga yang membuat kebanyakan orang  semakin gemas dengan karate. Sebab, kebanyakan orang ingin supaya (kalau punya teman) praktisi karate selaluberani berkelahi di jalanan dan MENANG. Kenyataannya, praktisi karate hanya MEMBELA DIRI kalau terpaksa, dan itu pun TIDAK SAMPAI MENANG, tetapi cukuplah kalau lawan sudah dihentikan / tidak menyerang lagi.

"Hmmm.... Memang aneh, ya...." kata Slontrot. "Mempelajari karate, tapi hanya digunakan kalau benat-benar terpaksa. Itupun tidak ada ambisi untuk menang, tapi cukuplah kalau lawan sudah berhenti menyerang".

"Memang demikian," kata saya. "Itu sebabnya, berlatih karate itu berarti berlatih sabar dan mengendalikan diri / rendah hati, dengan tetap selalu siap dan waspada. Kalau kamu mau belajar hal-hal itu, berlatihlah karate".

-----oOo-----






Tulisan dan foto oleh Constantinus J. Joseph, Susana Adi Astuti, dan Bernardine Agatha Adi Konstantia.

Constantinus adalah praktisi karate, praktisi psikologi industri, anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), anggota Asosiasi Psikologi Industri danOrganisasi (APIO). Susana adalah praktisi karate dan karyawati perusahaan. Agatha adalah praktisi karate dan murid SMA.

Menemani Anak : PRACTICE MAKE PERFECT dalam Woman Self Defence




"Apakah saya perlu ikut latihan karate ? Bukankah saya sudah membeli buku tentang 'Woman Self Defence' di toko buku ?"

Pertanyaan seperti itu tidak jarang saya tangkap dari para wanita kenalan saya.

Secara sederhana, saya menjawab begini, "Beladiri itu selain tentang pengetahuan, juga tentang melatih fisik. Ada  'speed' dan 'power' yang hanya didapat dengan latihan rutin, dan lebih baik dengan arahan dari orang yang paham tentang itu".



* * * * *

PRACTICE MAKE PERFECT. Itulah sebabnya, karate (dan juga beladiri praktis) harus dilatih secara rutin. Di karate, ada latihan PEMANASAN supaya tidak cedera selama latihan, ada latihan KIHON (gerakan dasar yang benar, juga supaya tidak cedera), ada latihan KATA (jurus-jurus dalam karate, yang berguna untuk meningkatkan TEKNIK gerakan), dan KUMITE (tidak selalu berarti perkelahian, tetapi latihan dengan partner / orang lain, supaya bisa paham tentanggerak reflek, benturan dengan pukulan / tendangan lawan (ketika menangkis), melancarkan pukulan / tendangan, bahkan menahan rasa sakit ketika terkena tendangan / pukulan yang "masuk" dari lawan, atau melepaskan dari cengkeraman / cekikan lawan). Intinya adalah : JANGAN PERNAH BERANGGAPAN BAHWA LAWAN AKAN PASIF / BERDIAM DIRI SAJA; karena lawan pasti juga akan menangkis dan menyerang secara beruntun ! Inilah perlunya berlatih dan punya teman latihan.

* * * * *

"Jadi hanya membaca buku tentang 'Woman Self Defence' itu belum cukup, ya ?" tanya kenalan saya.

"Ya. Itu boleh dijadikan pengetahuan awal dalam belajar beladiri, tapi tentu harus ada metode latihan prakteknya," jawab saya.

Selamat berlatih beladiri sambil tetap menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

* * * * *



Tulisan dan foto oleh Constantinus J. Joseph, Susana Adi Astuti, dan Bernardine Agatha Adi Konstantia.

Constantinus adalah praktisi karate, praktisi psikologi industri, anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO). Susana adalah praktisi karate dan karyawati perusahaan. Agatha adalah praktisi karate dan murid SMA.

Menemani Anak : Karate untuk Melatih Diri "MENGATASI RASA BOSAN"


Novena (8 tahun) sedang berlatih karate


MENGATASI RASA BOSAN. Hal ini penting untuk dikuasai oleh seseorang dalam dunia kerja. Mengapa ? Karena sebagai seorang praktisi psikologi industri selama 14 tahun, saya melihat kenyataan bahwa ada banyak orang yang pandai secara pendidikan akademis, ternyata gagal dalam bekerja (sering pindah kerja / perusahaan) karena muda bosan (ada yang rata-rata setiap 6 bulan atau 1 tahun sekali pindah kerja). Orang seperti ini (sekalipun pandai secara akademis) tidak akan mempunyai karir yang bagus, karena "tidak sabaran" dan karena "mudah menyerah" (alias tidak gigih).

Tentu saja, ada berbagai macam cara supaya orang tidak mudah bosan. Tetapi pada tulisan ini, saya akan mengaitkannya dengan karate.

* * * * *



KARATE MENDIDIK ORANG UNTUK MENGATASI RASA BOSAN. Saya pribadi mengalaminya, dan saya menyebutnya "BERDAMAI DENGAN RASA BOSAN", bukan "memusuhi" rasa bosan, bukan pula "ingin mengalahkan" rasa bosan. Jadi, ini merupakan salah satu PROSES yang harus dilalui, dalam rangka PENGENDALIAN DIRI.

Suatu ketika, ketika istri dan anak saya beserta saya sedang menganalisis tendangan ke depan (di karate disebut "mae geri"), seorang saudara saya berkata kepada saya, "Kok dari dulu gerakannya itu-itu saja sih ?"

Wajar saja kalau saudara saya berkata seperti itu. Sebab, 6 bulan yang lalu ketika dia sedang liburan di Semarang, dia melihat saya beserta anak dan istri melakukan "mae geri". Dan sekarang, ketika dia liburan di Semarang lagi, dia melihat kami sedang melakukan "mae geri" lagi. Apa yang tidak dia ketahui adalah : bahwa sejak tahun 1989 (atau 27 tahun lalu) saya dan istri melakukan dan menganalisis "mae geri"; demikian pula anak saya sejak tahun 2007 (atau 9 tahun lalu) juga melakukan dan menganalisis "mae geri" !

Apakah saya, anak, istri saya tidak bosa melakukan "mae geri" bertahun-tahun ?

Ternyata tidak !

Kami tidak bosan ! Mengapa ? Pertama, karena kami tahu ARTI PENTINGNYA "mae geri" dalam karate. Kedua, karena kami tahu bahwa "mae geri" orang yang berlatih baru 6 bulan adalah beda kualitasnya dengan yang sudah berlatih selama 5 tahun, 10 tahun, atau lebih dari itu.

Memang, "mae geri" adalah salah satu gerakan yang sifatnya mendasar, dan karena itu (meskipun kelihatannya sederhana) harus dilakukan berulang-ulang, untuk mendapatkan KESEMPURNAANNYA !

* * * * *



Apakah apa yang saya beserta istri dan anak saya lakukan terkait dengan "mae geri" selama bertahun-tahun itu ada gunanya dalam bekerja dan / atau kehidupan sehari-hari ?

Ya ! Karena disiplin untuk selalu mengulangi pelajaran hal-hal yang sifatnya sederhana ini membuat SADAR DIRI bahwa setiap hal itu TIDAK AKAN MEMBOSANKAN kalau kita selalu mengulang-ulang hal itu sambil MERENUNG untuk mengetahui MAKNA yang LEBIH MENDALAM (betapapun sederhananya itu; hal ini tentu saja berlaku di kehidupan sehari-hari maupun di tempat kerja).

* * * * *

"Tapi, mengapa hal itu harus dipelajari dengan ikut karate sejak masih sekolah / kuliah ?"  begitu (secara umum) komentar orang kepada saya.

"Karena untuk menanamkan hal itu di dalam diri seseorang TIDAK BISA INSTANT," jawab saya. "Kalau sekedar menirukan gerakan 'mae geri', dalam 3 sampai 6 bulan sudah bisa. Tetapi mendapatkan kepribadian yang selalu ingin merenungkan arti yang mendalam dan mendapatkan makna yang sebenarnya dari setiap hal yang dilakukan, itu perlu PROSES yang tidak singkat".

* * * * *

Selamat menemani anak.

Selamat menemani anak dalam membentuk generasi muda yang GIGIH dan TIDAK MUDAH BOSAN.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----oOo-----



Tulisan dan foto oleh Constantinus J. Joseph, Susana Adi Astuti, dan Bernardine Agatha Adi Konstantia.

Constantinus adalah praktisi karate, praktisi psikologi industri, anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), dan anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO). Susana adalah praktisi karate dan karyawati perusahaan. Agatha adalah praktisi karate dan murid SMA.

Selasa, 05 Juli 2016

Menemani Anak : KISAH NYATA MENINGKATNYA RASA PERCAYA DIRI KARENA KARATE




BAGAIMANA KARATE BISA MENINGKATKAN RASA PERCAYA DIRI ? Ini juga pertanyaan yang sering saya dapatkan dari ibu-ibu dan bapak-bapak yang mulai berminat mengikutkan anaknya dalam latihan karate. Atas pertanyaan seperti itu, saya memberikan jawaban demikian, "Di karate, anak-anak mendapatkan pengalaman berupa tugas-tugas yang MENANTANG. Mereka melakukan tugas BARU yang BELUM PERNAH mereka lakukan. Dan ketika tugas BARU yang MENANTANG ini dapat mereka selesaikan, otomatis RASA PERCAYA DIRI mereka meningkat. Padahal  TANTANGAN seperti ini akan diberikan TERUS-MENERUS secara BERTAHAP, sehingga RASA PERCAYA DIRI juga MENINGKAT secara BERTAHAP dan TERUS-MENERUS".

* * * * *




Saya selalu setuju dengan orang tua yang secara selektif memilah-milah kegiatan bagi anak-anaknya : kalau TIDAK ADA GUNANYA untuk MASA DEPAN, untuk apa suatu kegiatan diikuti ? Sebab, tidak dapat dipungkiri bahwa (adakalanya) anak hanya mengikuti suatu kegiatan hanya karena MENYENANGKAN, padahal TIDAK ADA GUNANYA untuk masa depan (jelasnya : untuk bekal kerja nantinya). Orang tua akan mendukung kalau anak-anaknya ikut les Bahasa Inggris atau komputer, karena hal itu JELAS TERPAKAI kelak pada saat sudah BEKERJA.

Bagaimana halnya dengan karate ? Apakah orang tua mendukung kalau anaknya ingin ikut karate ?





Ada orang tua yang setuju, tetapi banyak yang ragu-ragu atau bahkan melarang. Alasan orang tua ragu-ragu atau bahkan melarang (antara lain) adalah : APA KEGUNAANNYA UNTUK BEKERJA ?

Keragu-raguan seperti itu adalah wajar, selama orang tua (dan bahkan anaknya) tidak mendapatkan PENJELASAN DENGAN CONTOH NYATA ( = pengalaman, bukan hanya teori) bahwa karate BERGUNA UNTUK MENINGKATKAN RASA PERCAYA DIRI, di mana rasa percaya diri ini SANGAT PENTING untuk MENITI KARIR DI TEMPAT KERJA, apapun bidangnya dan apapun level jabatannya (bahkan sampai ke level Direktur atau Komisaris).

* * * * *




RASA PERCAYA DIRI memang tidak secara "instant" didapat dengan berlatih karate. Ada PROSES yang harus DIRENUNGI selama  bertahun-tahun, menurut pengalaman saya di atas tiga tahun. Memang, berlatih karate tidak bisa dilepaskan dari latihan FISIK. Tetapi, jangan diartikan bahwa latihan fisik merupakan satu-satunya yang didapat dari karate. Bagi saya, latihan fisik HANYALAH PINTU MASUK untuk mempelajari hal-hal lainnya, yang saya rumuskan bersama istri (seorang praktisi karate) dan anak saya (praktisi karate juga) sebagai berikut :
(1) AKAL, dalam arti : bagaimana mencari dan menemukan pemecahan masalah
(2) MENTAL, dalam arti : sikap mental / kepribadian yang kuat; termasuk di sini adalah RASA PERCAYA DIRI yang tinggi da  TIDAK MUDAH MENYERAH (= memiliki SEMANGAT JUANG yang tinggi)
(3) TEKNIK, dalam arti : jurus-jurus / gerakan-gerakan karate yang harus dikuasai
(4) FISIK, dalam arti : fisik yang terlatih secara bertahap dan terus-menerus
(5) FILOSOFI, dalam arti : mengetahui sejarah / latar belakang dan makna / tujuan yang mendalam dari dilakukannya gerakan-gerakan / jurus-jurus karate dan APA KAITANNYA / KEGUNAANNYA BAGI KEHIDUPAN & DI TEMPAT KERJA. Hal ini yang memang MASIH JARANG dipelajari di saat latihan karatr di Indonesia (tetapi bukan berarti tidak ada; karena apa yang fipelajari dari karate adalah tergantung pada orang itu sendiri (yang belajar karate)).

* * * * *



Pertama kali saya belajar karate di tahun 1989, saya TIDAK MENDUGA bahwa latihan karate itu begitu berat. Gerakan-gerakan dasar yang harus dikuasai memang harus dilatih dengan sungguh-sungguh. Tetapi, di karate semuanya dilakukan SECARA SISTEMATIS, BERTAHAP, dan TERUS-MENERUS. Maklumlah, karate berakar dari ilmu perang (sekaligus ilmu beladiri) yang sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu, dan sampai saat ini selalu dilalukan penyempurnaan-penyempurnaan. Memang, karate BUKANLAH ILMU YANG INSTANT, baik dalam sejarah perkembangannya maupun dalam mempelajarinya !

Pada akhirnya, ketika sudah melatih tubuh secara rutin, gerakan-gerakan dasar itu bisa dikuasai. Di sini, RASA PERCAYA DIRI itu mulai tumbuh dan berkembang. Pada saat yang sama, tumbuh juga pemahaman melalui pengalaman nyata bahwa SEGALA SESUATUNYA MEMANG HARUS DIPERJUANGKAN, tidak bisa didapatkan secara cuma-cuma / secara mudah. Jadi, KEGIGIHAN hadir bersamaan dengan RASA PERCAYA DIRI.

(Bersambung : tulisan berikutnya adalah belajar tentang MENGATASI RASA BOSAN dalam belajar JURUS-JURUS KARATE)

-----oOo-----



Tulisan dan foto oleh Constantinus J. Joseph, Susana Adi Astuti, dan Bernardine Agatha Adi Konstantia.

Constantinus adalah praktisi karate, praktisi psikologi industri, anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO). Susana Adi Astuti adalah praktisi karate dan karyawati perusahaan. Agatha adalah praktisi karate dan murid SMA, dikenal sebagai penulis dan pembaca puisi / MC sejak masih SD.





Menemani Anak : APAKAH KARATE TIDAK MEMBUAT ANAK PEREMPUAN MENJADI TOMBOY ?



Foto di Tahun 2015


Pengantar

Salah satu penyebab dari dibuatnya tulisan ini adalah masih banyaknya masyarakat umum yang melihat bahwa karate tidak ada gunanya untuk masa depan. Maksudnya, karate tidak berguna untuk mencari, mendapatkan, dan mempertahankan / meniti karir di tempat kerja. Hal ini merupakan kenyataan, karena selama ini (setidaknya sejak saya dan istri saya mulai berlatih karate di tahun 1989 (di dua aliran karate yang berbeda)), yang diajarkan memang karate sebagai olah raga prestasi saja (dalam arti : untuk ikut pertandingan kata (jurus) atau kumite (fighting)), dan tidak banyak (atau bahkan tidak pernah) disinggung tentang karate sebagai sarana untuk membangun / meningkatkan rasa percaya diri, bersikap antisipatif, dan berkomunikasi, yang sangat diperlukan sebagai soft competency di tempat kerja.

Penyebab lain dari dibuatnya tulisan ini adalah masih banyaknya orang tua yang khawatir kalau anak perempuannya ikut latihan karate : apakah anak perempuannya bisa tetap feminim.

* * * * *


Foto di Tahun 2007

APAKAH KARATE COCOK UNTUK ANAK PEREMPUAN SAYA ? Ini pertanyaan yang diajukan (dengan nada khawatir) oleh para ibu maupun bapak kepada saya. Mengapa pertanyaan ini diajukan ? Ada beberapa sebab yang saya ketahui berdasarkan perbincangan saya dengan ibu-ibu maupun bapak-bapak yang punya anak perempuan (kebetulan anak saya juga perempuan, jadi mudah bagi saya untuk menjawabnya).


Foto di Tahun 2015

Pertama, kekhawatiran bahwa anak perempuan yang ikut karate akan menjadi "tomboy" atau "kelaki-lakian". Faktanya, istri saya yang berlatih sejak tahun 1989 (sejak berusia 19 tahun) sama sekali tidak "tomboy" / tidak "kelaki-lakian". Faktanya juga, anak perempuan saya yang berlatih sejak tahun 2007 (sejak berusia 8 tahun) juga tidak "tomboy" / tidak "kelaki-lakian". Rambut istri dan anak saya panjangnya sebahu lebih (dan umumnya praktisi karate (karateka) perempuan juga memiliki rambut yang panjang sebahu lebih; saat berlatih, biasanya rambutnya diikat dengan karet sehingga tidak mengganggu latihan).


Foto di Tahun 2015

Kedua, kekhawatiran bahwa anak perempuan yang berlatih karate akan memiliki badan yang "besar berotot" seperti laki-laki. Faktanya, istri dan anak perempuan saya (dan juga para praktisi karate (karateka) perempuan lainnya) tetap berbadan normal. Sebab, karate bukanlah kegiatan yang membentuk otot. Orang yang berlatih karate belajar tentang kelenturan tubuh dan kecepatan gerakan yang berguna untuk mendapatkan power yang tepat sasaran. Masih banyak orang yang belum mengerti tentang hal ini.


Foto di Tahun 2015

Semoga dengan adanya tulisan ini, maka kekhawatiran ibu-ibu dan bapak-bapak yang ingin mengikutsertakan anak perempuannya dalam latihan karate dapat terjawab dengan baik.

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----oOo-----



Tulisan dan foto oleh Constantinus J. Joseph, Susana Adi Astuti, dan Bernardine Agatha Adi Konstantia.

Constantinus adalah praktisi karate, praktisi psikologi industri, anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), dan anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO). Susana adalah praktisi karate dan karyawati perusahaan. Agatha adalah praktisi karate dan murid SMA.

Senin, 04 Juli 2016

Karate untuk Kehidupan & Dunia Kerja : RASA PERCAYA DIRI, SIKAP ANTISIPATIF, dan KOMUNIKASI



PENGANTAR

Tulisan kali ini masih merupakan kelanjutan dari tulisan-tulisan sebelum ini, yaitu tentang KARATE UNTUK KEHIDUPAN. Serial tulisan ini dibuat untuk men-sharing-kan pengalaman nyata penulis kepada para ibu dan ayah dalam menemani anak-anaknya, di mana nantinya anak-anak itu akan memasuki dunia kerja.

Constantinus selaku penulis berlatih karate sejak usia 19 tahun, dan saat itu TIDAK TAHU APA KAITAN KARATE DENGAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI & DUNIa KERJA. Lama setelah itu, yaitu ketika sudah berusia 46 tahun ( = 27 tahun kemudian), baru disadari bahwa karate bukanlah sekedar olah raga dan juga bukan sekedar alat untuk bela diri. Setelah mempelajari ILMU ALAM, ILMU SOSIAL, dan PROFESI PSIKOLOGI, penulis melihat kenyataan bahwa belajar karate adalah belajar tentang "AKAL - MENTAL - TEKNIK - FISIK - FILOSOFI" yang sangat berguna dalam membentuk RASA PERCAYA DIRI dan SIKAP ANTISIPATIF serta KOMUNIKASI yang sangat berguna dalam KEHIDUPAN SEHARI-HARI & di TEMPAT KERJA.

Yang pasti, karate itu BUKAN UNTUK BERKELAHI (tetapi untuk  membela diri kalau memang terpaksa, yaitu karena diserang) !

* * * * *

APA KEGUNAAN KARATE DALAM BEKERJA ? Kalimat seperti ini sudah berkali-kali saya dengar. Anehnya, yang mengajukan pertanyaan seperti ini bukan hanya ibu atau ayah yang tidak pernah berlatih karate, tetapi juga yang di masa mudanya sudah berlatih karate (atau beladiri lainnya). Bahkan, ada orang yang di masa mudanya merupakan atlet beladiri (kebetulan bukan karate) yang bahkan melarang anaknya berlatih beladiri itu, sebab dia tidak melihat kegunaan beladiri dengan dunia kerja.

Bagi saya sendiri, karate (asalkan dipelajari secara menyeluruh yaitu meliputi "AKAL - MENTAL - TEKNIK - FISIK - FILOSOFI; bukan sekedar olah raga saja) berguna dalam memupuk RASA PERCAYA DIRI, SIKAP ANTISIPATIF, serta KOMUNIKASI. Ini yang menurut pengalaman saya dan juga ilmu yang saya pelajari lewat pendidikan formal, merupakan hal yang SANGAT MENDASAR (karena itu menjadi sangat penting) dalam memasuki dunia kerja dan meniti karir, apapun bidang pekerjaannya, dan apapun level jabatannya.

PERCAYA DIRI saya pelajari dalam karate, karena selama berlatih karate, secara FISIK maupun MENTAL selalu DITEMPA untuk menjadi lebih baik. Dalam pengalaman saya pribadi, berlatih karate membuat seseorang TIDAK CENGENG, dan ini sangat penting di dalam dunia kerja. Orang yang berlatih karate melatih dirinya untuk DISIPLIN DALAM MENGATASI KESUKARAN / TANTANGAN. Hal ini menjadi semakin penting karena dalam profesi saya di bidang "human reaources" sejak 14 tahun yang lalu, saya menemui kenyataan bahwa semakin banyak pelamar kerja maupun karyawan baru yang dalam penilaian saya cenderung manja dan cengeng. Tentu saja, berlatih karate yang saya maksudkan di sini bukan hanya selama dua atau tiga bulan saja ! Sebab, saya juga sering bertemu dengan orang yang berkata, "Saya juga pernah ikut karate selama dua bulan". Kalau hanya ikut selama dua bulan, apa yang sudah didapat ? (tanya saya dalam hati).

SIKAP ANTISIPATIF saya pelajari selama berlatih karate, karena di karate diajarkan untuk selalu SIAP & WASPADA. Selain itu, karate juga mengajarkan untuk MENGHORMATI ORANG LAIN YANG LAYAK DIHORMATI, yang sangat berguna dalam dunia kerja : orang itu ada yang baik dan ada yang tidal baik; jangan disamaratakan apalagi sampai terbalik dalam memperlakukannya (maksudnya : orang baik harus dihormati, tetapi orang tidak baik harus diwaspadai).

KOMUNIKASI ! Bagaimana karate bisa berguna di dunia kerja, yaitu dalam hal komunikasi ?  Sekali lagi, tentu saja, kalau berlatih karate hanya untuk olah raga saja, apalagi hanya selama beberapa bulan, maka hal KOMUNIKASI ini tidak akan didapat dari karate. Tetapi saya sendiri mendapatkan manfaat nyata dari karate dalam hal komunikasi : dengan orang yang saya bisa ajak menggunakan AKAL, saya berkomunikasi menggunakan AKAL. Sebaliknya, dengan orang yang hanya bisa diajak menggunakan OKOL (bahasa tubuh yang tegas / keras, bahkan ada kemungkinan terjadi konflik secara fisik), maka saya harus bisa berkomunikasi menggunakan OKOL juga. (Anehnya, orang-orang yang pada awalnya mengajak berkomunikasi dengan OKOL, ketika dilayani berkomunikasi dengan OKOL juga, pada umumnya justru kemudian mau berubah menjadi berkomunikasi dengan AKAL; jadi sebenarnya mereka ini hanya menggertak saja).

Ibu-ibu dan bapak-bapak pembaca blog inspirasi pendidikan kreatif "Holiparent" yang saya hormati,

Demikianlah telah saya sharing-kan : pengalaman nyata saya tentang KARATE UNTUK KEHIDUPAN & PEKERJAAN. Sebenarnya, hal ini merupaka  materi tentang (apa yang disebut dengan) KEPEMIMPINAN DI DUNIa KERJA, tetapi saya menceritakannya dengan cara yang praktis.

Selamat menemani anak....

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"


-----oOo-----



Tulisan dan Foto oleh Constantinus J. Joseph, Susana Adi Astuti, dan Bernardine Agatha Adi Konstantia.

Constantinus  adalah praktisi karate, praktisi psikologi industri, anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), dan anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO). Susana adalah praktisi karate dan karyawati perusahaan. Agatha adalah praktisi karate dan murid SMA.


Kisah Nyata : Karate untuk Melamar Kerja di Level Direksi




(Tulisan ini merupakan lanjutan dari edisi sebelumnya)

Untuk menjawab pertanyaan"apakah karate berguna dalam mendapatkan pekerjaan?", saya menuliskan pengalaman saya di tahun 2002.

Waktu itu, saya sedang mengikuti seleksi penerimaan karyawan baru di sebuah perusahaan swasta di kota Semarang, karena saya ingin kembali bekerja di Semarang (kota kelahiran saya dan di mana anak dan istri saya selama ini tinggal) setelah sekian lama saya bekerja di Jakarta.

Posisi yang saya lamar adalah posisi di level direktur, dan saya sudah menjalani sekian macam tes dalam rangka seleksi. Pada wawancara terakhir, pemilik perusahaan langsung hadir dan mewawancarai saya. Salah satu pertanyaan yang diajukan oleh pemilik perusahaan itu adalah, "Apakah kamu bisa beladiri ?"

Saya menjawab, "Ya. Saya berlatih karate".

Selang beberapa hari kemudian, saya diberitahu bahwa saya diterima bekerja di perusahaan tersebut. Dan dari kisah nyata tersebut di atas, bisa diketahui bahwa karate merupakan salah satu nilai lebih yang penting; sebab, kalau tidak, untuk apa seorang pemilik perusahaan mengajukan pertanyaan tentang hal ini.

Perlu saya tambahkan bahwa pekerjaan saya adalah di bidang pengembangan organisasi dan kualitas sumber daya manusia; suatu pekerjaan di level strategis yang selama ini dilihat banyak orang sebagai "tidak ada kaitannya dengan karate". Kenyataannya, selain adanya pertanyaan dari pemilik perusahaan tentang beladiri, saya secara praktis juga merasakan kegunaan karate dalam menata strategi perusahaan. Dan saya akan menceritakannya pada tulisan berikutnya.....

Jadi, selamat menemani anak dengan mengenalkan anak pada karate (atau beladiri lainnya).

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".


-----oOo-----



Constantinis J. Joseph bersama dengan Susana Adi Astuti (istri) dan Bernardine Agatha Adi Konstantia (anak) memberikan "training berbasis karate" untuk tujuan rasa percaya diri dan komunikasi dengan motto "AKAL - MENTAL - TEKNIK - FISIK - FILOSOFI".

Sehari-hari, Constantinus adalah seorang praktisi psikologi industri, anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dan Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO), serta praktisi karate. Susana bekerja sebagai karyawati perusahaan dan praktisi karate. Agatha adalah murid SMA dan praktisi karate.

Kamis, 23 Juni 2016

Apa Manfaat Karate dalam Memasuki Dunia Kerja ?


Sosialisasi untuk mengajak masyarakat menghentikan kekerasan seksual pada anak & wanita dalam bentuk stiker oleh training berbasis karate "Tekad Kuat"



*****

Hal yang sering saya dengar ketika saya menawarkan (latihan) karate adalah kalimat ini, "Waduh ! Memangnya mau berkelahi ?"

Ya, walau bagaimanapun harus diakui bahwa karate dalam pandangan masyarakat masih dikaitkan dengan berkelahi. Tentu saja, ada bagian dari masyarakat yang tidak seperti itu, tapi itu tidak banyak. Setidaknya, begitulah pengalaman saya : masih lebih banyak masyarakat yang berpendapat bahwa karate = berkelahi, dan kurang berguna untuk melamar pekerjaan.

Bahkan, ada orang-orang yang dulu ketika masih sekolah / kuliah berlatih karate, pada saat Sudan bekerja ada yang berhenti berlatih. Alasannya, karate tidak relevan / tidak bisa dipakai untuk mendukung pekerjannya, jadi tidak usah berlatih karate lagi.

Tetapi, benarkah demikian ?

(Bersambung)

----- "Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa" -----





TRAINING untuk Ibu-Ibu / Remaja Putri / Anak-Anak : TRAINING Berbasis Karate "TEKAD KUAT"



Peserta training berbasis karate (karate based training) "Tekad Kuat" menyelesaikan ujian Program Dasar-1 yaitu memecah bata dan genting sungguhan (bukan bata / genting dibuat khusus untuk demonstrasi). 
Tujuannya adalah untuk melatih sikap mental / kepribadian dan fisik peserta.

*****

 Apa latar belakang didirikannya Karate Based Training / 
Spirit of Karate Outbound Training “Tekad Kuat” ini ?
         
Yang pertama adalah adanya orang-orang yang di masa SMP / SMA / kuliah  adalah seorang karateka, tetapi setelah bekerja tidak lagi berlatih karate karena berpikir bahwa karate tidak berkaitan dengan dunia kerja. Aibatnya, anak-anak mereka juga tidak punya keinginan maupun diarahkan untuk berlatih karate. Padahal, karate berguna dalam dunia kerja. Sebab, ketika seseorang mempelajari karate secara utuh (akal, mental, teknik, fisik, dan filosofinya), maka orang itu akan mempunya sikap mental & perilaku fisik yang kuat, yang diperlukan untuk memasuki dan tetap eksis di dunia kerja (dengan didukung asesmen psikologi & personal unconscious mind).

Yang kedua adalah adanya ibu-ibu maupun remaja putri yang perlu untuk belajar beladiri praktis sebagai perwujudan dari sikap waspada, berbasis asesmen psikologi & personal unconscious mind.  

Yang ketiga adalah adanya anak-anak dan remaja, baik perempuan maupun laki-laki, yang perlu untuk meningkatkan rasa percaya diri supaya tidak di-bully berbasis karate, asesmen psikologi & personal unconscious mind.


Seorang wanita peserta training menyelesaikan ujian Program Dasar-1


Mengapa disebut Karate Based Training (KBT) /
Spirit of Karate Outbound Training (SKOT) ?
         
Disebut sebagai Karate Based Training (KBT) karena program ini merupakan program training berbasis karate, yang penuh dengan suasana kekeluargaan dan menyenangkan, serta didukung dengan asesmen psikologi & personal unconscious mind.

Disebut sebagai Spirit of Karate Outbound Training (SKOT) karena pada awal berdirinya program ini merupakan training berbasis karate, yang mengajarkan akal, mental, teknik, fisik, dan filosofi secara menyeluruh, jadi bukan sekedar olah raga saja, apalagi sekedar mengejar sabuk hitam; KBT / SKOT “Tekad Kuat” hanya memberikan maksimal sabuk coklat strip (tidak memberikan sabuk hitam).

Seorang wanita peserta training menyelesaikan ujian Program Dasar-1


Apakah sabuk yang diberikan oleh
KBT / SKOT “Tekad Kuat” ini sama dengan sabuk dari
tempat latihan karate yang lain ?
         
Ada banyak aliran karate di dunia ini, masing-masing memiliki tempat latihannya sendiri. Masing-masing aliran menghormati aliran lainnya, tetapi sistem sabuk dan kurikulumnya berbeda-beda.

Misalnya, karate aliran Shotokan menggunakan sabuk warna putih (pemula) kemudian kuning kemudian hijau kemudian biru kemudian coklat. Sedangkan karate aliran Kyokushin menggunakan sabuk warna putih (pemula) kemudian biru kemudian kuning kemudian hijau kemudian coklat.

Contoh lainnya, jurus pertama karate aliran Shotokan merupakan jurus kedua karate aliran Shitoryu; jurus kedua Shotokan merupakan jurus pertama Shitoryu.


Peserta training berbasis karate "Tekad Kuat" yang sebelumnya tidak memiliki sabuk dari dojo karate atau beladiri lain, berlatih menggunakan sabuk warna putih. Adapun peserta training yang sebelumnya sudah memiliki sabuk warna dari dojo karate atau beladiri lain, berlatih menggunakan sabuk warna tersebut. Hal ini dikarenakan program ini adalah program training, bukan sebuah dojo maupun aliran karate. 

Seorang wanita peserta training melakukan gerakan pemanasan


Secara prinsip, apa manfaat KBT / SKOT “Tekad Kuat” ?

1. Meningkatkan rasa percaya diri
2. Memelihara kesehatan fisik
3. Memberikan kemampuan beladiri praktis

Hal ini dikarenakan KBT / SKOT merupakan training yang mengombinasikan karate dengan asesmen psikologi dan personal unconscious mind. Orang yang mengikuti training KBT / SKOT memang tidak dilatih untuk menjadi atlet karate, tetapi dilatih untuk keperluan praktis dalam hidup sehari-hari maupun di tempat kerja


Para peserta training sedang melakukan gerakan pemanasan di luar ruangan (outbound training)




Training dilakukan secara berpasangan, menumbuhkan sikap saling membantu dan saling membutuhkan di antara peserta training



Training sikap mental / kepribadian dan fisik berupa memanggul teman / sesama peserta training untuk meningkatkan sikap mental / kepribadian dan kekuatan fisik

Lambang training

*****

Menemani anak sambil mengikuti training berbasis karate ? Mengapa tidak ?

Selamat menemani anak.... 

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

*****




Senin, 20 Juni 2016

Holiparent Masih Menemani Orang Tua dalam Menemani Anak




Sejak awal mula terbit pada tanggal 8 Mei 2012, "Holiparent" - blog inspirasi pendidikan kreatif ini ditujukan kepada para orang tua dalam menemani anaknya. "Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa" adalah motto yang selalu ditulis pada bagian akhir setiap tulisan.

Setelah sekian lama tidak terbit, "Holiparent" - blog inspirasi pendidikan kreatif kini hadir kembali. Empat tahun bukanlah waktu yang singkat bagi perjalanan sebuah blog, apalagi ada para orang tua yang dalam berbagai pertemuan dengan pengelola blog ini bertanya, "Mengapa blog Holiparent tidak terbit lagi ?"

Pertanyaan dari para orang tua seperti itulah yang mendorong blog ini terbit kembali, apalagi ditambah dengan beberapa telepon yang diterima oleh pengelola blog ini, yang intinya bahwa ada orang-orang yang sebelumnya tidak dikenal oleh pengelola blog ini yang bertanya melalui telepon dan bisa mendapatkan bantuan dikarenakan membaca tulisan dalam blog ini.

Terima kasih atas semua dukungan yang diberikan. Semoga kita semua selalu dalam berkat dan lindungan Tuhan Yang Mahaesa dalam menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----Selesai :-)

Rabu, 25 Mei 2016

Menemani Ibu-Ibu dan Anak-Anak Berlatih Bela Diri


Sejak tahun 1989 saya dan istri berlatih karate, yaitu sejak kami masih berpacaran ketika kuliah di Universitas Diponegoro Semarang. Anak saya sejak tahun 2007 (masih berusia 8 tahun) juga berlatih karate (selain sempat berlatih taekwondo di SMA).

Sejak Agustus 2015, istri, saya, dan anak saya mulai melatih para karyawati dan karyawan : beladiri praktis. Tentu saja, kami tidak menjanjikan kenaikan sabuk, karena waktu latihan yang terbatas.

Foto di atas menunjukkan Sdri. Wina Desiana Wardhani, S.Pt sedang berlatih bersama Sdr. Franes Pradusuara, S.Pt, M.Si dalam kegiatan beladiri praktis yang kami latih.

****"

Sudah lama juga saya tidak menulis di blog inspirasi pendidikan kreatif ini.....

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak yang selalu menemani anak untuk mencerdaskan bangsa Indonesia....

 Akhir-akhir ini ada banyak kejadian yang diberitakan di berbagai media massa tentang penyerangan kepada para wanita dan anak-anak dalam berbagai bentuk kejahatan. Saya sendiri tidak tega membaca berita seperti itu, sehingga saya hanya membaca judul beritanya saja.

Hal yang penting untuk kita lakukan adalah : melakukan langkah-langkah nyata dimulai dari diri kita sendiri : apakah kita sudah peduli pada lingkungan  kita ?

Apa yang dimaksud dengan peduli pada lingkungan kita ?

Ada dua hal yang praktis (bukan teoritis) yang bisa kita lakukan.

PERTAMA,

Melatih seluruh keluarga (anak - ibu - ayah) berlatih bela diri praktis (bukan untuk tujuan ikut turnamen kejuaraan / pertandingan). Biasanya, kalau mempelajari sesuatu (ilmu memasak, ilmu komputer, ilmu manajemen, dan sebagainya), memang kita ingin agar dapat segera digunakan. Tetapi dalam hal mempelajari bela diri praktis ini tidak : kita justru harus selalu berdoa kepada Tuhan Yang Mahaesa semoga dijauhkan dari masalah supaya kita tidak perlu menggunakan bela diri praktis ini.

KEDUA,

Meluangkan waktu untuk peduli dan menolong orang yang terlihat membutuhkan bantuan di jalan. Tentu saja, kita juga harus selalu siap dan waspada, supaya ketika kita melakukan pertolongan, maka kita benar-benar mampu menolong (bukan malah kita yang akhirnya menjadi korban juga dan memerlukan pertolongan); karena itu memang harus selalu melatih diri dengan belajar bela diri.

*****

Satu atau dua tahun yang lalu, sekitar pukul 20.00 WIB, saya dan istri sedang dalam perjalanan melewati salah satu jalan yang sepi dan gelap. Di kedelapan di pinggir jalan itu, kami mendengar suara seorang wanita menjerit-jerit. Saya bersepakat dengan istri untuk menghentikan mobil yang kami kendarai (kebetulan istri dan saya sama-sama berlatih karate sejak tahun 1990, setidaknya ada bekal beladiri). Saya turun dari mobil (sambil tetap siap dan waspada) dan mendekati suara itu. Ternyata, wanita itu sedang bertengkar dengan seorang laki-laki (saya menduga : kekasihnya). Saya katakan kepada mereka (dengan suara tegas), bahwa tidak baik bertengkar malam-malam di tempat gelap. Saya suruh mereka pergi dari situ (karena mereka ternyata berhenti di jalan itu karena bertengkar ketika berboncengan naik sepeda motor). Akhirnya, mereka menuruti kata-kata saya. Mereka berboncengan naik sepeda motor (saya dan istri mengikuti dengan mobil) sampai mereka berada di jalanan yang terang dan banyak orang.

Mengapa saya dan istri sepakat melakukan hal itu ?

Sebab kami tidak tahu (kalau kami tidak menghentikan mobil dan saya mendatangi wanita yang berteriak-teriak itu), apakah dia sedang terancam dan apakah dia membutuhkan bantuan lebih lanjut.

*****

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yang Terhormat,

Tentu saja kita harus selalu berdoa, selalu melatih diri, selalu siap dan waspada.

Semoga kita semua selalu dalam berkat dan lindungan Tuhan Yang Mahaesa. Amin.


****"




"Menemani Anak, Mencerdaskan Bangsa"

-----Constantinus J. Joseph, 25 Mei 2016.







Minggu, 26 Juli 2015

Menemani Anak : BUKAN ASAL KERJA


Ada kalanya kita sebagai orang tua mendapatkan bahan ngobrol dengan anak dari peristiwa yang tidak terduga. Salah satunya adalah ini.

Hari Sabtu tanggal 4 Juli 2015 kami sekeluarga (Susan, Agatha, dan saya) sedang di Jakarta. Malam itu, kami berencana makan di salah satu rumah makan di kawasan Tamini Square, dekat Taman Mini Indonesia Indah. Ada rumah makan yang memasang tulisan dengan ukuran besar : Ikan Patin Bakar Bambu. Ini menarik perhatian dan minat kami.

Ketika kami masuk di rumah makan tersebut, sudah tidak ada meja yang kosong. Seorang pelayan memberitahu kami untuk menunggu sebentar, karena semua pengunjung yang saat itu memenuhi rumah makan tersebut sebentar lagi pulang, sebab mereka sudah selesai acara buka puasa bersama.

Tetapi karena kami sekeluarga melihat betapa penuh sesaknya rumah makan itu, dengan diam-diam kami keluar dari rumah makan itu jalan kaki hendak mencari rumah makan yang lain saja.

Tanpa kami duga, kami dipanggil-panggil oleh pelayan rumah makan Ikan Patin Bakar Bambu ini, padahal saat itu kami sudah jalan kaki cukup jauh hampir sampai di jalan raya. Rupanya, pelayan rumah makan Ikan Patin Bakar Bambu ini senantiasa mengawasi kami, sambil sungguh-sungguh mencarikan meja kosong untuk kami bertiga. Jadi, bukan hanya basa-basi.

Ini adalah PELAJARAN PERTAMA : pelayan di rumah makan Ikan Patin Bakar Bambu ini MEMPERHATIKAN kebutuhan setiap konsumen, sehingga ketika ada konsumen yang akan meninggalkannya, dia dapat tetap MEMPERTAHANNYA (TIDAK KEHILANGAN BISNISNYA, karena setiap konsumen yang makan di sana berarti memberikan transaksi bisnis kepada dia).

* * * * *

Pada saat kami sudah duduk di kursi yang tersedia, pelayan rumah makan tersebut memberikan daftar menu makanan dan kemudian mencatat makanan dan menuman yang kami pesan. Setelah dia membacakan apa yang dia catat supaya tidak salah menyajikan makanan dan minuman, dia menyampaikan kalimat bahwa pihak rumah makan mohon maaf karena kami harus menunggu beberapa saat sebab makanan yang kami pesan harus dimasak lebih dulu.

Mendengar kalimat ini, kami jadi gelisah : berapa lama kami harus menunggu pesanan kami.

Tetapi ternyata sebentar kemudia minuman yang kami pesan sudah tersaji di meja kami. Demikian pula makanan yang kami pesan juga sudah tersaji dalam waktu singkat, tidak selama yang kami bayangkan sebelumnya. Dan kami melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana seluruh karyawan rumah makan ini bekerja dengan SIGAP, PENUH SEMANGAT, dan CERIA.

Ini adalah PELAJARAN KEDUA : bekerja dengan SIGAP, PENUH SEMANGAT, dan CERIA.

* * * * *

Selamat menemani anak.

Selamat menemani anak dengan obrolan positif yang adakalanya kita alami tanda direncanakan terlebih dahulu. Misalnya, tentang pelayan rumah makan yang bekerja "TIDAK ASAL KERJA".

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----oOo-----

Holiparent ditulis oleh Constantinus Johanna Joseph, sarjana di bidang ilmu alam dan sarjana di bidang ilmu sosial. Anggota Himpunan Psikologi Indonesia dan anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi.

Menemani Anak : NGOBROL SAMBIL MAKAN MALAM



Beberapa orang tua bercerita kepada saya bahwa anak mereka yang sudah duduk di bangku SMP atau SMA sudah mulai jarang ngobrol dengan mereka. Setidaknya, dibandingkan dengan ketika anak-anak itu masih di SD.

Hal ini dapat dimaklumi. Anak-anak ketika sudah SMP atau SMA biasanya sudah punya teman bermain seusianya, biasanya merupakan teman sekolahnya. Anak usia SMP dan SMA sedang pada taraf mencari identitas diri, dan bermain serta ngobrol dengan teman sebaya adalah hal yang wajar. Tentu saja, orang tua tetap harus tahu siapa saja teman bermain anaknya. Maksudnya adalah supaya jangan sampai salah pergaulan : punya teman akrab yang sebaya ternyata yang perilakunya ,melanggar norma susila, norma agama, bahkan aturan hukum. Itu sebabnya, orang tua harus tetap tahu dengan siapa saja anaknya bergaul, meskipun orang tua sudah tidak bisa ngobrol dan bermain dengan anak sedekat ketika anak masih SD.

* * * * *

"Lha itu masalahnya, Kang....., " kata Slontrot kepada saya. "Terus terang saja, saya ini sibuk kerja. Istri saya juga. Jadi, saya dan istri tidak tahu siapa saja teman bermain anak kami".

Saya menyimak perkataan Slontrot. Slontrot adalah teman baik dan teman lama saya. Dia memang harus bekerja keras mencari nafkah. Demikian pula istrinya. Hanya dengan kerja berdua itulah, kebutuhan keuangan keluarga bisa tercukupi.

"Kalau pulang kerja, apa kamu dan istrimu tidak pernah ngobrol dengan anak-anak saat makan malam bersama ?" tanya saya.

"Ya tidak pernah, Kang. Kami memang tidak pernah makan malam bersama. Kalau makan malam ya sendiri-sendiri," jawab Slontrot.

"Begini..... Makan malam bersama itu perlu, karena sambil makan malam bisa ngobrol dengan anak selama kira-kira setengah jam. Tidak usah kamu membayangkam makan malam di meja makan. Makan malam sambil lesehan di tikar saja juga bisa. Tidak usah kamu membayangkan makan malam pakai lauk daging dan buah-buahan mahal. Makan malam pakai lauk tahu tempe dan sambal plus kerupuk juga bisa. Yang penting, sambil makan malam itu, kamu dan istrimu serta anak-anak bisa ngobrol sekitar setengah jam. Itu kesempatan yang bagus untuk ngobrol," kata saya.

Slontrot mengangguk-anggukkan kepala.

Saya menambahkan, "Pada saat kamu dan keluarga makan malam di rumah, jangan lupa semua handphone dan smartphonemu disimpan di kamar. Begitu juga dengan istri dan anak-anakmu. Jangan sampai kalian makan malam bersama, duduk bersama, tetapi masing-masing orang justru sibuk SMS-an dan lain-lain dengan smartphone-nya. Itu namanya DEKAT DI MATA TAPI JAUH DI HATI. Kalian sepertinya berkumpul, tetapi sesungguhnya tidak ada komunikasi di situ. Sayang sekali kalau begitu"

* * * * *

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----oOo-----

Holiparent ditulis oleh Constantinus Johanna Joseph, sarjana di bidang ilmu alam dan ilmu sosial. Anggota Himpunan Psikologi Indonesia dan anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi.