Jumat, 25 Januari 2013

MEMUPUK CINTA TANAH AIR : RENUNGAN DARI FILM "HABIBIE DAN AINUN"





Tidak biasanya saya nonton film bioskop hanya berdua saja dengan istri saya, karena biasanya anak saya semata wayang pasti ikut serta. Tetapi siang hari itu (kebetulan hari libur nasional), anak saya lebih memilih untuk tinggal di rumah dan mengerjakan tugas dari sekolahnya yaitu membuat karya tulis.

Jadilah, istri dan saya menonton film bioskop berdua saja di salah satu bioskop di Semarang. Judul filmnya "Habibie dan Aiunun".

**********

Sebagai sebuah film, "Habibie dan Aiunun" menurut saya (dari segi Psikologi, karena saya adalah ilmuwan di bidang ini) menghadirkan nilai-nilai positif yang layak untuk direnungkan oleh para orang tua, untuk kemudian dapat diceritakan sebagai nilai luhur yang perlu dimiliki oleh anak. Nilai luhur itu adalah cinta kepada tanah air dengan keahlian yang ada. Jadi, keahlian itu bukan semata-mata atau bukan terutama untuk mendapatkan uang.

**********

Sebagai manusia, Profesor Dr. Ing. B. J. Habibie tentu tidak luput dari kekurangan. Tetapi rasa cintanya kepada tanah airnya, termasuk ketika pemikiran-pemikirannya juga tidak sepenuhnya dapat diterima oleh bangsanya sendiri, tidak membuatnya surut untuk tetap mencintai Indonesia.

Saya pribadi juga merenungkan hal ini : apakah saya sudah mencintai Indonesia dengan menggunakan / membeli barang-barang buatan Indonesia (sepanjang memang sudah ada yang buatan Indonesia) ?

Tokoh Habibie dalam film "Habibie dan Ainun" telah menunjukkan bahwa kita mestinya jangan "berbuat atau tidak berbuat" sekedar karena mencari uang saja, tetapi karena memang kita cinta kepada Indonesia.

**********

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0o-----

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph.

Penulis adalah lulusan Perikanan Universitas Diponegoro (1989-1995) dalam bidang aquaculture engineering. Belajar Hukum dan Psikologi di Universitas Semarang. Bekerja sebagai praktisi psikologi industri dan komunikasi bisnis (2002 - sekarang). Sebelumnya, bekerja di international service / export-import PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk dan di export marketing of yarn division PT Polysindo Eka Perkasa Tbk (Texmaco Group). Menjadi salesman buku, agen asuransi, dan guru les matematika & IPA sejak usia 19 tahun (setelah lulus dari SMA Kolese Loyola Semarang, Jurusan Fisika).

Kamis, 24 Januari 2013

WISATA KE MUSEUM RADYA PUSTAKA




Beberapa orang tua yang memiliki anak usia SD bertanya kepada saya, objek wisata apa yang relatif murah dan bagus untuk dikunjungi.

"Muesum," jawab saya.

Ternyata, jawaban saya cukup mengagetkan mereka. 

"Wisata kok ke museum ? Bukankah itu tempat untuk studi wisata murid-murid dengan gurunya di sekolah ?" begitu kira-kira tanggapan dari beberapa orang tua tersebut.

********************



Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Sebagaimana sudah pernah saya tuliskan di pertengahan tahun 2012 tentang Museum Ronggowarsito di Kota Semarang, Museum juga merupakan tempat yang baik untuk dijadikan sebagai objek kunjungan wisata para orang tua dengan anak-anaknya.

"Bukankah di museum hanya ada barang-barang kuno ?" tanya salah satu orang tua murid kepada saya.

"Ya. Dan mempelajari barang-barang kuno itu banyak gunanya," jawab saya berusaha meyakinkan. "Karena dengan begitu, kita bisa melihat trend dari kemajuan zaman, termasuk juga nilai-nilai luhur yang menjadi dasar dari kemajuan yang kita alami sekarang ini."

********************

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----o0o-----



Minggu, 20 Januari 2013

MENEMANI ANAK : PRAKTIKUM "OUT BOND" SEDERHANA


Di hari Minggu atau di hari Libur, anak dapat diajak untuk membuat praktikum sederhana secara “out bond” alias berkegiatan di alam terbuka.
Tampak pada gambar di atas, Susana Adi Astuti (alumnus Perikanan Universitas Diponegoro tahun 1995) menemani Bernardine Agatha Adi Konstantia (sedang memotret sambil menderngarkan penjelasan) siswi kelas VIII SMP Pangudi Luhur Domenico Savio Semarang.

Prinsipnya, sambil jalan-jalan di hari libur, orang tua dapat memanfaatkan pengetahuan / pengalamannya untuk menemani anak guna menambah pengetahuan / wawasan / pengalaman anak dengan membuat praktikum sederhana.


Kegiatan praktikum sederhana ini dapat dilakukan secara sederhana saja. Anak diajak oleh orang tuanya untuk berhenti dan mengamati apa yang ada di alam sekitar, kalau misalnya praktikum sederhana ini tentang ekologi.

Tampak dalam gambar di atas, Susana Adi Astuti (orang tua) sedang berjongkok sambil bercerita kepada Bernardine Agatha Adi Konstantia (juga berjongkok, memakai jaket warna putih). Bernardine Agatha mendengarkan cerita ibunya sambil memotret apa yang dilihatnya / menarik perhatiannya, sehingga nanti dapat dijadikan sebagai koleksi foto dan bahkan dapat digunakan untuk memperdalam pengetahuannya. Jadi, anak terbiasa belajar dari kenyataan sehari-hari yang ada di lingkungannya, selain membaca teori yang ada di buku-buku pelajaran.


Bagi Susana, kegiatan ini juga merupakan nostalgia tentang kegiatan praktikum Ekologi Laut, Biologi Laut, Mangrove / Bakau, dan Ekologi Ikan yang dulu dijalaninya ketika masih kuliah di Perikanan Universitas Diponegoro 1989-1995. Jadi, sambil bernostalgia pun, orang tua juga dapat menambah wawasan / pengetahuan / pengalaman anak.

Anak dibiasakan untuk belajar dari ke-NYATA-an, bukan semata-mata meng-HAFAL-kan buku pelajaran. Dengan demikian, anak lebih me-MAHAM-i apa yang dituliskan dalam TEORI-TEORI.


Mengamati muara sungai.

Foto di atas dibuat oleh Bernardine Agatha Adi Konstantia sambil mendengarkan uraian dari Susana Adi Astuti (ibunya) dan Constantinus Johanna Joseph (ayahnya).

Praktikum sederhana dengan metode “out bond” alias kegiatan di alam terbuka dengan tema “Ekologi Pantai dan Muara” dalam contoh tulisan ini dapat dilakukan dengan mudah karena ibu dan ayah dari Bernardine Agatha Adi Konstantia adalah lulusan dari Perikanan Universitas Diponegoro Semarang.

Setiap orang tua pada dasarnya dapat menggunakan ilmu ataupun pengalamannya sebagai tema praktikum sederhana dengan metode “out bond” alias kegiatan di alam terbuka bagi anaknya.

Sebagai contoh, apabila ayah dan ibu adalah seorang Sarjana Ekonomi, maka anak dapat diajak melakukan “out bond” praktikum sederhana ke pasa tradisional maupun ke pasar modern. Tentu saja, bukan untuk belanja seperti biasanya, tetapi untuk mendapat cerita dari ayah / ibunya (yang Sarjana Ekonomi) tentang apa definisi pasar, jenis-jenis pasar, tata niaga yang ada di pasar, dan sebagainya. Anak juga dapat sambil memotret apa saja yang dilihatnya di pasar, yang dinilainya perlu difoto untuk memperdalam pemahamannya tentang apa yang diuraikan oleh ayah / ibunya sambil praktikum sederhana dengan metode “out bond” di pasar.

Bakau / Mangrove.

Foto oleh Bernardine Agatha Adi Konstantia.

Sambil mendengarkan uraian dari ibu dan ayahnya tentang definisi bakau / mangrove, kegunaan dari bakau / mangrove, dan sebagainya, Bernardine Agatha Adi Konstantia memotret tanaman bakau / mangrove.

Foto-foto seperti ini selain berguna untuk memperdalam pemahamannya, juga dapat digunakan sebagai ilustrasi tulisan yang dibuat anak. Dengan demikian, secara alamiah anak akan terbiasa membuat tulisan ilmiah berdasarkan apa yang dialaminya dalam kehidupan sehari-hari. Anak akan tumbuh dengan pola pikir ilmiah, bukan semata-mata menjadi “burung beo” yang pandai menirukan (menghafalkan) tetapi tidak memahami dan karena itu tidak dapat mengembangkannya.
Memotret Muara.

Bernardine Agatha Adi Konstantia sedang memotret muara dari atas jembatan.

Memang, untuk melakukan kegiatan praktikum “out bond” seperti ini, ayah dan ibu harus siap mendampingi anak untuk berada di tempat-tempat yang dalam keseharian tidak pernah / jarang dikunjungi manusia dengan berjalan kaki.

Tampak dalam foto di atas, Bernardine Agatha sedang memotret dari atas jembatan yang memang relatif masih aman untuk didatangi manusia, meskipun pada kenyataannya memang jarang sekali manusia berkunjung ke tempat ini (sepi).

Perlu untuk diperhatikan adalah factor keamanan diri pada saat melakukan kegiatan praktikum “out bond” seperti ini. Dalam contoh di atas, yang perlu diperhatikan adalah bahwa jembatan yang dikunjungi relatif aman / tidak rusak sehingga tidak membahayakan keselamatan diri. Selain itu juga karena mengingat tempatnya relatif sepi, maka perlu anitisipasi terhadap pelaku kejahatan. Maka, pakaian yang dikenakan juga harus sederhana / jangan menyolok / jangan memakai banyak perhiasan. Selain itu, untuk berjaga-jaga, ada baiknya jangan berdua saja dengan anak, tetapi setidaknya bertiga atau berombongan ketika mengunjungi tempat praktikum “out bond” yang relatif sepi. Juga, mempersenjatai diri dengan peralatan yang tidak melanggar hukum adalah perlu. Misalnya, jangan membawa pisau / belati (apalagi kalau tidak bisa menggunakannya untuk membela diri); membawa kunci-tambahan stir mobil (terbuat dari besi) atau stang dongkrak mobil (juga terbuat dari besi) adalah lebih masuk akal (asalkan tidak terlalu menyolok, misalnya dengan dimasukkan ke dalam jaket).

Ini semata-mata untuk jaga-jaga saja. Membawa alat komunikasi seperti “handphone” juga perlu, untuk melakukan komunikasi / meminta bantuan saudara apabila memerlukan bantuan secara tidak terduga.
Selamat menemani anak.

“Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa”.

-----o0o-----

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph.
Foto-foto oleh Bernardine Agatha Adi Konstantia dan Constantinus Johanna Joseph.


Constantinus adalah Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922, Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Sarjana di bidang Ilmu Sosial.

Rumah : Jalan Anjasmoro V nomor 24 Semarang.
Telepon : 081 229 255 689.
E-mail : constantinus99@gmail.com


Jumat, 18 Januari 2013

MENIMBULKAN RASA CINTA pada ILMU ALAM


Malam itu kami sekeluarga (anak, istri, dan saya) sedang jalan-jalan ke Toko Buku Gramedia di Jalan Pandanaran, Kota Semarang, ketika kami melihat ada buku dengan judul "Jawaban untuk Pertanyaan Sains" dipajang di salah satu rak buku toko tersebut.

Ditulis oleh William C. Robertson, Ph.D, buku ini memiliki gambar sampul yang cukup "jahil". Dan, justru gambar sampul seperti inilah yang membuat kami semakin tertarik untuk membeli buku ini.

********************

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Seperti halnya pada tulisan-tulisan saya sebelumnya di blog pendidikan kreatif ini, saya memang punya semangat untuk mengajak orang tua menemani anak-anaknya mempelajari secara seimbang, baik Ilmu Alam maupun Ilmu Sosial. Dan kali ini, memang ini adalah buku tentang Ilmu Alam. 

Buku ini memang tepat untuk dijadikan bacaan orang tua (entah dulu waktu SMA maupun kuliah mengambil Jurusan Ilmu Alam atau Ilmu Sosial), juga untuk anak-anak (yang sudah mampu membaca dengan lancar).

Lalu, apa sih "untungnya" membaca buku ini ?

Tidak dapat dipungkiri, bahwa sebagian dari kita (yang saat ini menjadi orang tua) dulu (pada saat sekolah atau kuliah) memiliki "pengalaman yang tidak menyenangkan" dengan guru dan / atau pelajaran Ilmu Alam.

Nah, kalau kita (orang tua) ingin menemani anak untuk "mencintai" Ilmu Alam, tentunya di dalam diri kita sendiri SEKARANG INI harus terlebih dahulu kita tanamkan bahwa kita MEMANG MENCINTAI pelajaran Ilmu Alam (meskipun dulu pada saat kita sekolah dan kuliah kenyataannya TIDAK SUKA). Buku semacam "Jawaban untuk Pertanyaan Sains" seperti ini akan membantu kita untuk MENCINTAI pelajaran Ilmu Alam, karena sudut pandangnya yang praktis : MENJAWAB KEINGINTAHUAN (anak maupun kita) tentang KEJADIAN-KEJADIAN ALAMIAH dalam kehidupan sehari-hari.

********************

Jadi, selamat menemani anak untuk membaca buku-buku yang MENIMBULKAN RASA CINTA pada Ilmu Alam.
 
"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0o-----

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph.
Anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.
Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Sarjana di bidang Ilmu Sosial.
Rumah : Jl. Anjasmoro V nomor 24 Semarang.
Telp. : 081 229 255 689.
e-mail : constantinus99@gmail.com

Kamis, 17 Januari 2013

MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA


Saya memang tidak pernah berkomentar tentang RSBI. Tidak berkomentar ketika dulu RSBI sedang jadi primadona. Tidak berkomentar juga ketika sekarang ada putusan Mahkamah Konstitusi bahwa "tidak ada RSBI".

"Sedikit saja, Pak....," pinta seorang ibu kepada saya supaya saya berkomentar tentang RSBI.

"Tidak, Bu. Terima kasih. Saya tidak kompeten berkomentar tentang itu," jawab saya sesantun mungkin.

********************
"Mencerdaskan kehidupan bangsa". Kata-kata itulah yang masih saya ingat. Kebetulan, sewaktu masih di SMA Kolese Loyola Semarang kelas I, saya (dan semua murid lainnya) diberi tugas oleh Guru Pendidikan Moral Pancasila untuk menghafal seluruh Undang-Undang Dasar 1945. Meskipun berat, saya pikir ada gunanya juga. Setidaknya, bagi saya, kata-kata "mencerdaskan kehidupan bangsa" masih menempel di pikiran saya, bahwa untuk itulah Bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya.

********************

Dulu, ketika SD, SMP, SMA, bagi saya yang penting adalah "hafal" UUD 1945. Ketika kuliah (di Perikanan Undip waktu itu) saya mulai "merenungkan makna" dari kata-kata yang tertulis pada UUD 1945, terutama kata-kata "mencerdaskan kehidupan bangsa" ini.

Ketika duduk di bangku kuliah Fakultas Hukum, kata-kata "mencerdaskan kehidupan bangsa" ini semakin menarik untuk direnungkan secara lebih mendalam. Apalagi, ketika dosen saya di Fakultas Hukum menyampaikan bahwa negara itu di-ada-kan dengan konsep "Welfare State" alias negara itu di-ada-kan untuk menyejahterakan rakyatnya.

********************

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Itu tadi sekedar mengingatkan, atau barangkali juga menambah (sedikit) wawasan kita bersama bahwa sebagai orang tua yang sekaligus juga merupakan bangsa dan rakyat Indonesia, kita sudah bisa ikut menegakkan apa yang tertulis dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu "mencerdaskan kehidupan bangsa", yaitu dengan cara menemani dan mendidik (setidaknya) anak kita sendiri.

Mungkin anak kita tidak sekolah di RSBI. Mungkin anak kita sekolah dj (eks) RSBI. Tidak masalah. Yang penting justru kita sebagai orang tua selalu setia menemani anak.

********************

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0o-----

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph.
Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Sarjana di bidang Ilmu Sosial.
Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.
Magister Manajemen dan Praktisi Psikologi Industri & Komunikasi Marketing.
Rumah : Jl. Anjasmoro V nomor 24 Semarang.
Telp. : 081 229 255 689.
E-mail : constantinus99@gmail.com

Rabu, 16 Januari 2013

AYO KE KANTOR POS : "SAHABAT PENA"





Di zaman yang serba "SMS dan e-mail" sekarang ini, ternyata "sahabat pena" masih ada juga. Setidaknya, anak saya sampai sekarang masih "berkirim surat ria" memakai surat, amplop, dan perangko dengan sahabat-sahabat pena-nya di luar kota, luar propinsi, dan luar pulau.

********************




Dari segi ke-praktisan, kecepatan, dan harga murah, memang "berkirim surat ria" memakai surat, amplop, dan perangko (atau pakai Pos Tercatat di Kantor Pos) memang kalah praktis, kalah cepat, dan kalah murah dibandingkan SMS atau e-mail.





Tetapi dalam pengamatan dan juga pengalaman saya, ada nilai-nilai positif yang tidak tergantikan dari berkirim surat ria dengan surat, amplop, dan perangko, yaitu :

1. Melatih sekaligus praktek sopan santun dan tata krama berkirim surat. Ada nama kota / kabupaten dan tanggal tempat ditulisnya surat. Ada nama dan alamat yang dituju. Ada salam pembuka. Ada pengantar. Ada isi. Ada penutup. Ada salam penutup. Ada tanda tangan dan nama penulis surat. ANAK BELAJAR UNTUK BERTINDAK RUNUT DAN TIDAK SEKEDAR TO THE POINT SAJA.

2. Ada kesugguhan mulai dari menulis surat, meng-amplop-i, sampai memasang perangko / pergi ke Kantor Pos untuk mengirim surat. ADA KETEKUNAN DALAM PROSES INI, TIDAK ASAL KIRIM SAJA (seperti kalau kirim SMS atau e-mail).

3. Ada KESABARAN dalam menunggu surat jawban. Anak jadi punya pengalaman praktis tentang arti kata MENUNGGU DENGAN SABAR.

********************


Tulisan ini bukan berarti tidak mendukung anak memakai SMS atau e-mail. Tetapi anak memang ada baiknya ditemani untuk "masih menulis surat dengan tulisan tangannya sendiri" dan berkirim surat dengan menggunakan amplop plus perangko karena "ada nilai-nilai positif" yang memang "melekat" pada per-sahabat-pena-an.

Selamat menemani anak

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0o-----

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph,
Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.
Sarjana di bidang Ilmu Alam & Ilmu Sosial.
Rumah : Jl. Anjasmork V no. 24 Semarang.
Telp : 081 229 255 689.
E-mail : constantinus99@gmail.com.qq

Selasa, 15 Januari 2013

BUKAN HANYA CERDAS, KEMAMPUAN KOMUNIKASI ITU PENTING JUGA

Saya sedang duduk di ruang kerja saya, ketika seorang pria berusia 45 tahunan meminta waktu untuk sharing dengan saya.

"Jadi, saya harus bagaimana, Mas ?" katanya kepada saya.

Untuk diketahui, pria ini secara kecerdasan (berdasarkan asesmen psikologi oleh sebuah lembaga psikologi terapan) adalah "baik", namun kemampuan komunikasinya "kurang". Sebagai akibatnya, sekalipun dia punya banyak sekali ide-ide bagus, tidak ada yang mau mendukungnya untuk mewujudkan ide itu karena dia "tidak bisa meng-komunikasi-kannya".

********************

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Pengalaman nyata yang saya alami hari ini (Selasa, 15 Januari 2013) semoga dapat menjadi bahan renungan buat kita bersama : bahwa kemampuan komunikasi itu ternyata juga penting.

"Kalau cerdas tapi tidak punya kemampuan komunikasi baik, bagaimana ?" tanya seorang ibu kepada saya dalam salah satu pelatihan di Semarang.

Saya menjawabnya secara praktis. "Kalau anak itu ketika sudah dewasa bekerja di sebuah perusahaan besar yang memungkinkannya fokus pada penelitian yang sifatnya mandiri dan tidak perlu meng-komunikasi-kannya kepada orang lain, ya tidak masalah. Tetapi pada umumnya perusahaan di Indonesia, orang tetap harus bisa meng-komunikasi-kan ide-idenya kepada orang lain, sehingga ketrampilan komunikasi itu penting dan harus dikuasai," kata saya.

********************

"Perlu belajar untuk menempatkan diri dan melihat dari sudut pandang orang lain yang menjadi lawan bicara, sehingga komunikasi jadi nyambung," kata saya menjawab pertanyaan pria tadi, yang dikisahkan pada awal tulisan ini.

Kepada pria ini saya katakan bahwa kalau ingin bisa meningkatkan kemampuan komunikasi, maka dia harus MEMAHAMI pola pikir dan sudut pandang lawan bicaranya, kemudian baru secara PERLAHAN-LAHAN menunjukkan kepada lawan bicara itu APA KEUNTUNGAN YANG BISA DIPEROLEHNYA kalau lawan bicara itu mau merubah / menggunakan pola pikir / sudut pandang kita.

"Jadi memang harus TELATEN / SABAR," kata saya.

********************

Mumpung masih kecil, setidaknya masih kelas 4, 5, 6 SD atau kelas 7, 8, 9 SMP (sebenarnya, menurut Psikologi mereka ini sudah remaja), marilah kita temani anak-anak kita supaya memiliki POLA PIKIR dan KETRAMPILAN yang mencukupi / baik tentang komunikasi sesuai TUNTUTAN MASYARAKAT yang ada di sekitar kita, supaya anak mampu MENG-KOMUNIKASI-KAN ide-ide positifnya dengan baik, dan banyak orang dengan senang hati menerimanya.

********************

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0o-----

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph.
Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.
Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Sarjana di bidang Ilmu Sosial, Magister di bidang Manajemen.

Rumah : Jl. Anjasmoro V no. 24 Semarang.
Telp. 081 229 255 689.
E-mail : constantinus99@gmail.com

Senin, 14 Januari 2013

FOKUS DAN AHLI / PUNYA PERSIAPAN


Sore itu kami (anak saya, saya, istri saya) lewat bangunan Joglo yang
merupakan Balai Pertemuan RT (Rukun Tetangga) di kampung kami. Sore itu memang tidak ada pertemuan warga. Yang ada justru anak-anak SD kelas 3 atau 4 yang bersama-sama mengerjakan PR (pekerjaan rumah). Bagus juga. Sebab saat itu adalah hari Minggu sore, hari libur, tetapi mereka ini memanfaatkannya untuk belajar / mengerjakan PR bersama. Bagus sekali.

********************

"Aku kadang-kadang malah lebih cepat belajar sendiri daripada belajar kelompok," celetuk anak saya. "Kalau teman belajar kelompok banyak bercanda, belajar kelompok malah jadi lama".

Maksud anak saya : jadi lama dan buang-buang waktu.

********************

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Kesempatan berdiskusi dengan anak seperti ini kemudian saya kembangkan dengan melihat kenyataan yang lebih luas.

"Memang, kalau ada banyak orang bertemu / bekerja sama, sebenarnya belum tentu hasilnya lebih baik daripada kalau dikerjakan sendiri tetapi oleh orang yang ahli dan fokus di bidangnya. Tetapi tentu saja, kalau kerja sama itu dilakukan oleh orang-orang yang ahli dan fokus di bidangnya, hasilnya akan lebih baik," kata saya. "Yang jadi masalah, kalau kerja sama itu dilakukan oleh banyak orang tetapi memang semuanya tidak ahli dan tidak fokus, misalnya tidak fokus belajar, maka yang terjadi justru hanya sekedar ngobrol-ngobrol saja, bukan kelompok belajar".

********************

Diskusi dengan anak memang lebih baik tentang dunia nyata yang dialami oleh anak. Dalam tulisan kali ini adalah tentang belajar / belajar kelompok. Anak diajak MENGENALI KENYATAAN bahwa belajar kelompok atau KERJA SAMA itu yang penting BUKAN ASAL KUMPUL, tetapi masing-masing orang harus FOKUS punya niat yang sama untuk belajar (bukan untuk ngobrol atau bercanda) dan punya KEAHLIAN / PERSIAPAN yang cukup untuk belajar kelompok (kalau peserta belajar kelompok sama-sama tidak punya persiapan misalnya membawa buku yang diperlukan, ya percuma belajar kelompok).

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Dari pengalaman ataupun pengamatan plus diskusi semacam itu, anak akan TERBIASA melakukan ANALISIS tentang perlunya KEAHLIAN / PERSIAPAN dan FOKUS pada tujuan dari masing-masing orang ketika bekerja dalam satu tim. Dan, KETRAMPILAN BERPIKIR seperti ini akan bermanfaat ketika anak sudah dewasa / bekerja kelak.

Dalam bekerja sebagai praktisi psikologi industri, saya berkali-kali menjumpai tim kerja yang gagal menjalankan tugasnya karena anggota-anggotanya TIDAK FOKUS dan TIDAK AHLI / TIDAK ADA PERSIAPAN; sedangkan ketika tugas itu dijalankan oleh seseorang atau tim yang lebih kecil ternyata hasilnya lebih bagus karena mereka ini lebih FOKUS dan lebih AHLI / PUNYA PERSIAPAN.

********************

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0o-----

Minggu, 13 Januari 2013

NILAI "HIDUP PRIHATIN"

Pagi ini (Minggu, 13/01/2013) hujan turun cukup deras. Saya jadi tidak bisa olah raga jalan kaki dari rumah di Jalan Anjasmoro ke Simpang Lima di kota Semarang. Sambil jalan santai selama 1,25 jam itu, biasanya saya mendapatkan ide-ide untuk menulis di majalah Psikologi Plus (terima kasih buat Pak Petrus, pemimpin redaksi Psikologi Plus; kiriman majalahnya sudah saya terima dengan baik) atau majalah Lifestyle, atau blog Holiparent ini (selain saya masih "mengampu" majalah dinding online www.media1visi.blogspot.com). Memang, untuk mendapat ide menulis, saya perlu kondisi yang membuat pikiran jadi jernih (he...he...he...saya pikir, semua penulis juga begitu, ya...).
Karena hujan dan tidak bisa olah raga jalan kaki, maka saya di rumah saja membaca koran pagi yang sudah datang. Salah satu beritanya tentang Mahasiswa Bidikmisi yang hidup prihatin di Semarang (koran Seputar Indonesia, Minggu 13/01/2013, halaman 1). Mereka sering terpaksa puasa dan jalan kaki ke kampus, karena bantuan biaya hidup yang diberikan pemerintah Rp 600.000 per bulan sangat mepet untul bayar kos dan makan. Bidikmisi adalah program yang diberikan oleh pemerintah bagi mahasiswa yang pandai dan berprestasi tetapi tidak mampu secara ekonomi.
********************
Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Tulisan ini saya buat untuk tujuan mengajak kita merenung dan bisa mengajak ngobrol anak-anak kita tentang "ada orang-orang yang untuk bisa berselolah / kuliah harus berjuang keras demi mewujudkan hidup yang lebih baik".
Semoga setelah itu anak kita jadi lebih bersyukur dan jadi lebih rajin sekolah, dan siapa tahu juga tergerak untuk memberikan bantuan keuangan kepada sesama yang membutuhkan (misalnya kepada panti asuhan di dekat rumah, tidal harus kepada Mahasiswa Bidikmisi).
Saya sendiri memang sering mengajak anak ngobrol tentang "perlunya hidup prihatin untuk mendisiplinkan diri dan menguatkan semangat untuk mencapai tujuan / cita-cita".
Memang, standar "hidup prihatin" itu berbeda-beda untuk setiap orang. Bahkan, untuk satu orang yang sama pun standar "hidup prihatin" pun bisa berubah sejalan dengan waktu dan situasinya / kondisinya. Tetapi prinsipnya sama : "hidup prihatin" = jangan hedonistis. (Kata dosen kuliah agama saya dulu di Perikanan Undip, hedonistis = hidup hanya mengutamakan kesenangan saja).
**********
Saya masih sering ngobrol dengan anak tentang "hidup tanpa nonton tivi" ketika saya duduk di bangku SMP karena memang orang tua tidak mampu belu tivi. Dulu ada tivi "hitam putih" kuno di rumah, dan ketika rusak memang tidal bisa diperbaiki lagi oleh tukang reparasi tivi. Bagi saya sendiri, "hidup prihatin" tanpa nonton tivi memang tidak mudah : ketika teman-teman saling cerita tentang film yang ditayangkan di tivi semalam, saya cuma bisa mendengarkan. Saya bersekolah di SMP Santo Bellarminus Semarang, yang rata-rata keuangan orang tua muridnya termasuk golongan bawah. Dalam kondisi seperti ini pun, keuangan orang tua saya (sepertinya) termasuk yang paling bawah.
Bersyukur, saya bisa sekolah di SMA Kolese Loyola atas kebaikan hati almarhum Bapak C. Sutono, guru SMA Kolese Loyola yang juga mengajar Bahasa Inggris di SMP Santo Bellarminus. (Mungkin beliau mengajar di SMP Santo Bellarminus sebagai amal, untuk membantu anak-anak seperti saya. Semoga amal bakti beliau diterima Tuhan dan beliau mendapatkan tempat di sisi-Nya. Amin). Tanpa dorongan dari Pak Tono (saya memanggil beliau demikian), saya akan minder / rendah diri mendaftar di SMA Kolese Loyola. Masih ada yang lain lagi : Mas Donny yang masih saudara saya, yang sudah sekolah di SMA Kolese Loyola saat itu, yang dengan bersemangat memboncengkan saya mendaftarkan diri di SMA Kolese Loyola dengan sepeda motornya. Saya senang sekali, karena biasanya saya ke mana-mana jalan kaki (dan naik angkutan umum kalau sedang punya uang).
Nilai positif apa yang bisa kita tularkan kepada anak ? Bahwa orang memang harus SALING MENOLONG dan HIDUP PRIHATIN. Bagi yang ekonominya lemah, HIDUP PRIHATIN = terus berjuang dengan apa yang ada, termasuk bantuan yang diberikan, tetapi jangan terus menggantungkan kepada yang memberikan bantuan (supaya dia juga masih bisa membantu orang yang lain lagi).
Bagi yang ekonominya kuat, HIDUP PRIHATIN = mau meluangkan diri membantu orang yang ekonominya lemah. Mas Donny tentu bisa jalan-jalan naik sepeda motornya, tetapi Mas Donny lebih memilih meluangkan waktu (juga bensin dan tenaga) untuk memboncengkan saya ke SMA Kolese Loyola.
********************
Ketika kuliah di Perikanan Undip, orang tua hanya sanggup membayar uang SPP Rp 20.000 per bulan (bayarnya Rp 120.000 per semester). Padahal, di Perikanan Undip banyak praktikum ke luar kota.
Maka, sejak semester pertama kuliah, saya sudah jalan jaki ke mana-mana : kuliah, jadi salesman buku, jadi agen asuransi, jadi guru les.
Memberi les dari rumah ke rumah dengan jalan kaki (plus naik angkutan kota kalau memang rumah murid les ada di jalur angkutan kota) ini bertahan sampai tahun keenam jadi guru les (sampai akhir kuliah, karena saya 6 tahun baru lulus sarjana), sampai akhirnya saya bisa membeli seped motor secara kredit ! (Itupun yang tanda tangan perjanjian kredit adalah calon bapak mertua saya, Drs. Adi Prabowo, yang bekerja jadi pegawai negeri sipil. Kalau yang tanda tangan kredit adalah saya yang cuma guru les privat atau ayah saya yang bekerja jadi sopir serabutan, pasti tidak bisa cair kreditnya, karena pekerjaannya tidak meyakinkan untuk diberi kredit. Terima kasih untuk bapak mertua saya, yang telah mau menandatangani perjanjian kredit buat saya. Tentu saja, saya harus disiplin membayar angsurannya dari penghasilan saya sebagai guru les privat).
Di sini, gaya "hidup prihatin" (= tidak foya-foya) itu memang memberikan hasil. Dari penghasilan sebagai guru les, saya bisa ikut kursus Programmer Komputer dBase III+ dan kursus Perbankan.
Saya kemudian diterima bekerja di PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, dan cukup lama bertugas di Departemen Luar Negeri - Kantor Cabang Utama Semarang.
Kepada anak saya, saya katakan bahwa "hidup prihatin" itu memang memperlancar jalan hidup kita. Tentu saja, dengan berdoa kepada Tuhan. Dan, pengalaman saya juga : "nyekar" (bahasa Jawa, artinya pergi ke makam orang tua) juga sangat membantu untuk "menenangkan diri dan fokus" dalam meraih cita-cita.
********************
Selamat menemani anak.
"Menemanu Anak = Mencerdaskan Bangsa".
-----o0o-----

Sabtu, 12 Januari 2013

BEDANYA MALAS DENGAN KREATIF-INOVATIF

Malam ini saya sedang tiduran karena sakit flu yang cukup berat, ketika anak saya yang sedang duduk di kelas VIII alias kelas II SMP bertanya tentang "arti dari alur cerita campuran", "arti dari kata kolosal", dan "arti dari kata figur".

Tentu saja, untul menjawabnya saya harus bernostalgia tentang pelajaran Bahasa Indonesia di SMP dan SMA dulu.

********************

Ibu-Ibu dan Bapal-Bapak Yth.,

Kalau kita renungkan, mungkin saja apa yang kita pelajari di masa sekolah dulu memang pada kenyataannya tidak kita gunakan untuk mencari nafkah sehari-hari. Saya, misalnya, tidak mencari nafkah dengan ilmu kimia yang dulu saya pelajari di SMA dan bangku kuliah. Tetapi apa yang telah kita pelajari itu toh tetap ada gunanya, yaitu untuk menjawab / menemani anak belajar.

********************

"Bagaimana kalau dulu saya tidak suka dengan pelajaran A, padahal anak minta ditemani belajar pelajaran A ?" seorang teman pernah bertanya kepada saya.

Pengalaman saya sendiri, hal seperti itu sekarang ini dapat disiasati dengan teknologi. Saya dulu tidak jago pelajaran Sejarah. Maka, kalau anak bertanya tentang pelajaran Sejarah, saya akan mencari jawabnya dengan Google.

"Menggunakan Google membuat anak jadi malas," kata seorang teman kantor saya.

Saya tidak mau berdebat dengan beliau. Menurut saya, ada 2 hal yang patut untuk direnungkan lebih dalam.

Pertama, malas tidaknya seseorang tidak patut hanya diukur dari belajar menggunakan Google atau tidak.

Kedua, belajar dengan menggunakan teknologi baru seperti Google mendidik anak untuk memanfaatkan kemajuan teknologi / ilmu pengetahuan yang ada sekarang inj.

******************

"Orang malas dan orang yang kreatif - inovatif itu sebenarnya sama, yaitu sama-sama tidak mau repot. Bedanya, orang malas itu tidak mau repot dan juga tidak produktif, maka dia tidak melakukan apa-apa. Orang kreatif-inovatif itu produktif, maka dia melakukan banyak upaya penemuan supaya hidup dapat dijalani dengan mudah / tidak repot tetapi tetap produktif," kata saya kepada Agatha, anak saya semata wayang.

********************

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0o-----

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph.
Anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.
Pernah belajar Ilmu Alam, Ilmu Hukum, Ilmu Manajemen, dan tentu saja Ilmu Jiwa & Perilaku Manusia (Psikologi).

Telepon : 081 229 255 689.
Alamat Surat : Jl. Anjasmoro V no. 24 Semarang.
e-mail : constantinus99@gmail.com

Sabtu, 05 Januari 2013

SELAMAT TAHUN BARU !



Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak pembaca setia Blog Pendidikan Kreatif "Holiparent" yang saya hormati,

Pertama-tama tentu saja saya harus menyampaikan permohonan maaf karenna untuk beberapa hari ini Blog Pendidikan Kreatif "Holiparent" tidak terbit.

Yang kedua, saya mengucapkan "Selamat Tahun Baru" untuk semua pembaca setia Blog Pendidikan Kreatif "Holiparent" dan juga "Selamat Natal" bagi pembaca yang merayakan Natal. Semoga kita semua selalu dalam berkat dan lindungan Tuhan Yang Mahaesa. Amin.

******************** 

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Liburan sekolah anak-anak memang baru saja berakhir, dan anak-anak kita sudah mulai masuk sekolah lagi.

Yang perlu kita renungkan adalah : karya kreatif apa yang telah dihasilkan oleh anak-anak kita selama liburan sekolah kali ini ?

Barangkali, liburan sekolah kali ini diisi dengan piknik atau jalan-jalan ke tempat tujuan wisata, dan sambil piknik atau jalan-jalan itu kita dan anak-anak banyak berfoto ria. Nah, foto-foto itu dapat di-edit oleh kita bersama dengan anak-anak kita, kemudian kita "up load" ke blog internet kita. Maka, jadilah karya kreatif hasil karya bersama kita dan anak kita. 



Atau, barangkali kita dan anak kita tidak piknik ke mana-mana, hanya di rumah saja, membaca buku-buku novel atau bacaan lainnya. Nah, anak kita bisa kita temani untuk menulis buku dan kemudian dijilidkan di tempat "fotokopi dan penjilidan" yang ada di dekat rumah kita. Maka, jadilah hasil karya kreatif buatan anak. Buku ini dapat dibagi-bagikan kepada teman-teman anak dan menjadi suatu proses yang membanggakan bagi anak dalam menghasilkan karya kreatif.


********************


Kebetulan, saya bersama anak dan istri tidak banyak jalan-jalan ke tempat tujuan wisata dalam liburan kali ini. Kami hanya jalan-jalan ke Museum Manusia Purba "Sangiran" (18 km dari Solo). Maka, sebagian besar waktu liburan sekolah kali ini memang diisi oleh anak saya dengan menulis berbagai macam cerita. 

Ketika sudah jadi, tulisan ini di-buku-kan di tempat "fotokopi dan penjilidan" yang ada di seberang kampus Universitas Semarang (sudah jadi langganan saya, namanya Fotokopi Andika). Biaya menjilid hard cover Rp 12.000,- per buku. Hasil jilidannya rapi dan bagus.

Apa yang bisa dipetik oleh anak dalam proses seperti ini ?


Anak jadi punya pengalaman bahwa untuk menghasilkan sebuah karya kreatif maka dia harus bekerja sama dengan orang lain yang ahli di bidangnya, supaya karya kreatifnya dapat terwujud dengan baik.

Anak jadi punya pengalaman bahwa membuat buku setidaknya memerlukan kehadiran seseorang yang ahli dalam menjilid buku. Selain itu, juga kehadiran penerbit yang membiayai penerbitan buku itu. Dalam hal ini, karena diterbitkan sendiri maka yang menjadi penerbit adalah dia (anak saya) sendiri. Namun demikian, anak jadi punya pengalaman bahwa setidaknya perlu adanya penulis, penerbit, dan yang mencetak / mem-buku-kan supaya sebuah karya dapat terwujud menjadi sebuah buku.


********************


Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".


-----o0o-----

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph, Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922, Praktisi Psikologi Industri dan Komunikasi.

Alamat e-mail : constantinus99@gmail.com
Alamat surat : Jalan Anjasmoro V nomor 24 Semarang
Telepon / SMS : 081 229 255 689