Dikelola oleh : (1) Dr. Susana Adi Astuti, S.Pi, M.M., M.Si, (2) Dr. Constantinus, S.Pi, S.H., S.Psi, M.M., M.M., M.Psi, Advokat, Psikolog, (3) Bernardine Agatha Adi Konstantia, S.T.P., M.Sc. Kantor : Kedaton Terrace D9/03, BSB City, Semarang. WA : 082 136 424 089. Rekanan : PSIKOLOGI INDUSTRI & MANAJEMEN "Dr.Constantinus & Rekan".
Rabu, 11 Mei 2022
Rabu, 09 Februari 2022
Green Parenting
When the President of the Republic of Indonesia launched the "Green Taxonomy" on January 20, 2021, this was a positive thing for observers and practitioners of "Sustainable Business".
So, what will holiparent do after the launch of this "Green Taxonomy" ? What holiparent does is upgrade the discussion material to be more green-oriented.
Based on research conducted by Dr. Constantinus (2021), it is necessary to have local wisdom and green psychological conditions to support the realization of an environmentally friendly business as referred to in the "Green Taxonomy". Local wisdom is the wisdom to care for the environment. The green psychological condition is a psychological condition that includes environmental intelligence, personality, and social interest. In addition, pro-environmental behavior is also needed as an intermediary of local wisdom and green psychological conditions to realize performance that is not only oriented to financial profit, but also environmental sustainability and the welfare of the whole community.
Thus, holiparent encourages parents to understand environmental-oriented local wisdom. Parents also become aware of the condition of green psychology, and are more active in accompanying their children to behave in an environmentally friendly manner. The goal is to accompany children to have environmental leadership in sustainable business; not only pursuing financial gain, but also realizing environmental sustainability and community welfare.
Happy accompanying the children !
"Accompanying Children = Educating the Nation"
Pada saat Presiden Republik Indonesia meluncurkan "Taksonomi Hijau" tanggal 20 Januari 2021, hal ini merupakan hal positif bagi pemerhati dan praktisi "Bisnis Berkelanjutan".
Lantas, apa yang akan dilakukan holiparent setelah peluncuran "Taksonomi Hijau" ini ? Yang dilakukan holiparent adalah meng-upgrade materi diskusi menjadi lebih berorientasi lingkungan hidup.
Berdasarkan riset yang dilakukan Dr. Constantinus (2021), diperlukan adanya kearifan lokal dan kondisi psikologi hijau untuk mendukung terwujudnya bisnis ramah lingkungan sebagaimana dimaksud dalam "Taksonomi Hijau". Kearifan lokal adalah kearifan untuk merawat lingkungan hidup. Adapun kondisi psikologi hijau adalah kondisi psikologi yang mencakup kecerdasan lingkungan hidup, kepribadian, dan minat sosial. Selain itu, diperlukan juga perilaku ramah lingkungan sebagai perantara dari kearifan lokal dan kondisi psikologi hijau untuk mewujudkan kinerja yang tidak semata-mata berorientasi laba keuangan, tetapi juga kelestarian lingkungan hidup dan kesejahteraan seluruh masyarakat.
Dengan demikian, holiparent mendorong orang tua untuk memahami kearifan lokal yang berorientasi kelestarian lingkungan hidup. Orang tua juga menjadi sadar akan kondisi psikologi hijau (psikologi ramah lingkungan), dan lebih aktif dalam mendampingi anak-anaknya untuk berperilaku ramah lingkungan. Tujuannya adalah untuk menemani anak memiliki kepemimpinan lingkungan dalam bisnis yang berkelanjutan; tidak hanya mengejar keuntungan finansial, tetapi juga mewujudkan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
Selamat menemani anak !
"Mendampingi Anak = Mencerdaskan Bangsa"
Dr. Constantinus, Psychologist
Feb 6th, 2021
Edisi dwi bahasa ditujukan untuk pembaca Indonesia dan pembaca internasional.
This bilingual edition is intended for Indonesian readers and international readers.
Selasa, 08 Februari 2022
Menemani Anak, Mencerdaskan Bangsa
Kelahiran holiparent ditandai dengan tulisan pertama di holiparent.blogspot.com. Saat ini, holiparent menggunakan alamat skot.holiparent.com.
Holiparent's birthday is marked with the first post on holiparent.blogspot.com. Currently, holiparent uses the address skot.holiparent.com.
Slogan yang diangkat oleh holiparent adalah “Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa”.
Holiparent's slogan is "Accompanying Children = Educating the Nation".
Slogan ini digunakan berdasarkan kenyataan yang dihadapi oleh para pendiri holiparent, bahwa masih ada kejadian di mana anak menjadi objek dari kekuasaan dan kejayaan yang hendak diraih oleh orang tuanya. Anak disuruh ini dan itu untuk dalam pendidikan (maupun dalam pekerjaan saat dia sudah dewasa), tanpa memperhatikan minat dan bakat anak. Akibatnya, anak menjadi stres atau memberontak. Pemberontakan ini muncul saat dia sudah kuliah di perguruan tinggi, atau ketika dia SMA, bahkan saat dia SMP. Orang tua tidak menemani anak dalam pendidikan maupun pekerjaan, sesuai minat dan bakat anak.
This slogan is used based on the reality faced by the founders of holiparent, that there are still incidents where children become objects of power and glory that their parents want to achieve. Children are told this and that for education (as well as in work when he is an adult), regardless of the child's interests and talents. As a result, the child becomes stressed or rebellious. This rebellion arose when she/he was already in college, or when she/he was in senior high school, even when she/he was in junior high school. Parents do not accompany children in education or work, according to her/his interests and talents.
Sepuluh tahun berlalu. Agatha, salah seorang pendiri holiparent saat itu masih berusia 13 tahun, dan menjadi jurnalis di SMP-nya. Dia sekarang sudah menyelesaikan sarjana di bidang teknologi pangan, dan tetap menjadi penulis, sambil mempersiapkan diri melanjutkan ke pendidikan master teknologi pangan.
Ten years passed. Agatha, one of the founders of holiparent, was 13 years old at the time, and was a journalist in her junior high school. She has now completed his bachelor's degree in food technology, and remains a writer, while preparing to continue her education for a master's in food technology.
Susan, pendiri holiparent, saat itu belum memulai pendidikan master di bidang psikologi sosial, apalagi pendidikan doktor di bidang psikologi lingkungan. Susana sekarang sudah menyelesaikan pendidikanpendidikan itu.
Susan, the founder of holiparent, had not yet started her master's degree in social psychology. She has now completed her master's in social psychology, as well as a doctorate in environmental psychology.
Tinus, juga pendiri holiparent, di tahun 2012 juga belum memulai pendidikan master di bidang psikologi industri / organisasi, apalagi pendidikan doktor di bidang psikologi lingkungan. Tinus sekarang sudah menyelesaikan pendidikan-pendidikan itu.
Tinus, also the founder of holiparent, in 2012 also did not start his master's education in industrial / organizational psychology. Now Tinus has completed his master's education in industrial / organizational psychology, and completed a doctoral degree in environmental psychology.
Saat ini, holiparent melihat perlunya orang tua memiliki ketrampilan untuk menemani anak supaya anak pada saat memasuki dunia kerja sudah memiliki kepemimpinan lingkungan yang bukan sebatas mengejar keuntungan keuangan, tetapi juga mewujudkan tanggung jawab sosial dan lingkungan hidup. Anak dengan demikian akan menjadi pemimpin yang mewujudkan bisnis berkelanjutan yang ramah sosial dan ramah lingkungan.
Currently, holiparent considers that parents must have the skills to accompany children so that children have environmental leadership. Thus, when she/he is an adult, she/he works not only for the pursuit of financial gain, but also for realizing social and environmental responsibilities. He will be a leader who realizes a sustainable business that is socially and environmentally friendly.
Senin, 07 Februari 2022
Ngobrol Bareng Slontrot: Pemimpin
Rabu, 01 September 2021
Cobek Batu: Mengamati dan Mengasah Kreasi di Masa Pandemi
Ibu-Ibu dan
Bapak-Bapak terkasih,
Kondisi pandemi
Covid-19 dan kegiatan pembatasan
masyarakat masih belum memungkinkan kita untuk bisa beraktivitas di luar
rumah seperti biasanya. Bekerja dan belajar dari rumah menjadi salah satu upaya
kita bersama untuk memutus rantai persebaran virus dan mewujudkan Indonesia
sehat. Kita semua tentu berharap keadaan akan segera membaik sehingga tercipta
lingkungan yang aman dan kondusif bagi kehidupan kita bersama.
Meskipun sebagian
besar aktivitas kita kini berada di dalam rumah, hal itu tak boleh menyurutkan
dan membatasi kita untuk menemani anak dalam berkreasi, berpikir kreatif, dan
mengeksplorasi minat dan lingkungan sekitarnya untuk mengisi waktu berharga
mereka.
Berkegiatan dari
rumah ternyata mengajarkan banyak hal kepada kita untuk memberikan fokus kepada
hal-hal yang mungkin selama ini terlewat atau luput dari pengamatan kita. Ternyata
ada banyak kegiatan sederhana yang dilakukan sehari-hari di dalam rumah yang
bisa menjadi obrolan asyik dengan anak.
Beberapa waktu
lalu, kami sekeluarga rindu makan petis sayur dan tahu petis kesukaan kami.
Biasanya, kami sering jajan petis sayur dan tahu petis ketika sedang berjalan-jalan di kota Semarang. Namun karena
kondisi yang tidak memungkinkan untuk saat ini, kami pun berinisiatif untuk
membeli petis secara online. Akses melalui gawai pintar terbilang mudah
karena kami pun sudah mulai terbiasa membeli barang-barang kebutuhan
sehari-hari melalui aplikasi digital ini. Harganya pun terjangkau. Kami
mendapatkan petis 1 kg seharga Rp25.000 yang pengirimannya sampai hanya dalam
dua hari.
Ketika mulai
menyiapkan petis, kami tertarik dengan cobek batu yang biasa digunakan untuk
mengulek dan mencampurkan bawang putih geprak dengan petis yang sudah dimasak
sebelumnya. Cobek batu atau layah beserta ulekan dari batu adalah salah satu
alat masak yang sering dipakai di dapur rumah kami. Secara turun temurun, kami
percaya bahwa cobek batu bisa membuat masakan jadi lebih sedap, lezat, dan
nikmat. Tentu saja memang benar, apalagi jika makanan disantap dengan bumbu dan
sambel cabai yang diulek di atas cobek tersebut.
Namun selain itu,
ada yang menarik dari karakteristik cobek batu. Apabila diamati, cobek batu
adalah salah satu piranti masak yang cukup unik. Ia memiliki tekstur permukaan
yang bergeronjal dan tidak rata. Menariknya, ternyata permukaan yang tidak rata
inilah yang justru kita manfaatkan untuk menghasilkan ulekan sambal yang sedap.
Permukaan yang tidak rata dari cobek batu dapat dengan lebih mudah menggerus
dan menghancurkan bahan-bahan masak yang kita ulek, seperti bawang putih geprak
atau daun jeruk. Karena gesekan yang timbul dari permukaan cobek yang tidak
rata itulah, minyak atsiri dari bahan-bahan masak lebih mudah keluar dari
matriks sel tumbuhan. Minyak atsiri adalah komponen dalam tumbuhan yang membawa
aroma wangi untuk masakan. Selain mengecilkan ukuran bahan, gerakan yang kita
lakukan ketika memasak seperti mengulek di atas cobek dan menggeprak bawang
putih juga memberikan gaya gesek dan menghancurkan bahan-bahan tersebut,
sehingga memudahkan minyak beraroma wangi untuk keluar dari matriks sel daun
jeruk, bawang putih, dan cabai yang kita ulek.
Cerita menarik
tentang petualangan berkreasi dengan sayur petis dan tahu petis di dapur dapat
diikuti selengkapnya melalui artikel di laman ini:
https://agathakonstantia2.blogspot.com/2021/08/petis-padu-padan-selera-hitam-manis.html?m=1
...
Ibu-Ibu dan
Bapak-bapak yang terkasih,
Ternyata mengamati
cobek batu di dapur bisa menjadi keasyikan sendiri untuk didiskusikan bersama.
Apa lagi ya piranti dan alat masak di dapur yang menarik untuk didiskusikan?
Selamat
mengeksplorasi rasa keingintahuan dan berpikir kreatif di dalam rumah!
"Menemani
Anak, Mencerdaskan Bangsa"
...
Artikel ini ditulis
oleh Bernardine Agatha Adi Konstantia. Sarjana Teknologi Pangan
dan jurnalis lepas.
Ditulis pada Rabu, 1 September 2021 pukul 08.00-09.00
...
*Semua gambar dan
foto yang dimuat di dalam artikel ini merupakan dokumen pribadi.
Sabtu, 23 Januari 2021
Holiparent Taman Kreatif : NGOBROL ONLINE dengan PARTNER / MAGANG KERJA
Senin, 18 Januari 2021
Minat Bakat Anak (Bagian 1)
- Dr. (Cand) Susana Adi Astuti, S.Pi, MM, M.Si (tengah)
- Dr. (Cand) Constantinus, S.Pi, S.Psi, MM, MM, M.Psi, Psikolog (kanan, berbaju batik merah)
- Bernardine Agatha Adi Konstantia (Cand. S.TP, aktivis pers kampus & latihan kepemimpinan; kiri, berbaju biru putih)
- Kedaton Terrace D9/03, BSB City, Semarang
- Elektron III Blok AA I/5, Permata Quanta, Permata Puri, Ngaliyan, Semarang
- HP / WA : 0852 1540 6189
- skot.holiparent.com
Kamis, 14 Januari 2021
Holiparent Taman Kreatif : Mengatasi RASA JENUH ortu & anak sekaligus MENDORONG KREATIVITAS ILMIAH anak
Prof. Dr. Utami Munandar dalam bukunya yang berjudul Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat mengatakan bahwa diperlukan adanya 4P untuk pengembangan kreativitas, yaitu :
- Pribadi, yaitu potensi yang ada di dalam diri anak tersebut
- Pendorong yang mendukung tumbuh kembang potensi dalam diri anak; peran orang tua sangat besar sebagai pendorong
- Proses yang harus dilalui; tidak bisa secara instan tapi berproses sesuai tahap tumbuh kembang anak
- Produk, yaitu kreativitas anak.
- Mengapa air kalau direbus menghasilkan uap air ?
- Proses apa yang terjadi dalam air itu ?
- Bagaimana kalau diberi perlakuan yang berbeda-beda (apinya besar / sedang / kecil, volume airnya banyak / sedang / sedikit) ?
- Dr. (Cand) Susana Adi Astuti, S.Pi, MM, M.Si
- Dr. (Cand) Constantinus, S.Pi, S.Psi, MM, MM, M.Psi, Psikolog
- Bernardine Agatha Adi Konstantia (Cand. S.TP)
- Kedaton Terrace D9/03, BSB City, Semarang
- Elektron III Blok AA I/5, Permata Quanta, Permata Puri, Ngaliyan, Semarang
Asesmen psikologi dilakukan oleh Biro Psikologi Constantinus & Rekan. Surat Izin Praktik Psikologi nomor 1456-20-2-2.