Minggu, 22 Februari 2015

RASA MALU = HAMBATAN DALAM BELAJAR




Keponakan saya yang tinggal di luar kota (saya tinggal di Semarang) sekarang ini duduk di kelas II Sekolah Dasar. Tetapi dia belum bisa naik sepeda. Ketika ibunya sedang meneruskan pendidikan di Semarang, keponakan saya ikut ke Semarang dan sekolahnya pindah ke Semarang. 

Sepulang dari sekolah di Semarang, dia belajar naik sepeda. Pada hari keempat dia belajar naik sepeda, keponakan saya sudah mahir bersepeda. Padahal selama lebih dari satu tahun di tempat tinggalnya, dia tidak bisa naik sepeda. 

Kenapa ? Karena dulu dia TIDAK BELAJAR naik sepeda !

* * *

"Kenapa kamu di rumahmu sendiri tidak bisa naik sepeda ?" tanya saya kepada keponakan saya.

"Saya malu," jawabnya.

"Malu kepada siapa ?"

"Malu dengan teman-teman".

"Kenapa ?"

"Karena aku sudah besar tapi belum bisa naik sepeda".

"Memangnya teman-temanmu di sana semua sudah pandai naik sepeda ?"

"Iya. Yang lebih kecil dari aku juga sudah bisa naik sepeda".

"Kenapa di Semarang kamu tidak malu belajar naik sepeda ?" tanya saya.

"Karena di sini aku tidak kenal mereka, jadi aku tidak malu," kata keponakanku.

* * *

Ibu - Ibu dan Bapak - Bapak Yth.,

Apa yang saya "sharing"-kan lewat tulisan kali ini sebenarnya adalah renungan bagi kita bersama.

Pertama, RASA MALU bisa menghambat proses belajar anak. Kita sebagai orang tua HARUS bisa MENGENALI rasa malu yang ada dalam diri anak (yang menyebabkan proses belajar anak terhambat, entah dalam hal belajar naik sepeda atau belajar apapun juga).

Kedua, ketika tidak ada rasa malu dan anak mulai belajar, maka KEMAJUANNYA TERLIHAT PESAT. Dalam hal ini, orang tua harus bisa menjadi teman bagi anak, supaya anak merasa DIAKUI KEBERHASILANNYA.

* * *

"Apa senjata paling ampuh untuk mengalahkan singa ?" tanya saya kepada keponakan saya itu. Siang itu, kami sedang main tebak-tebakan.

Seperti diduga, keponakan saya menyebut bermacam-macam senjata. Pedang dan pistol adalah yang disebutnya.

"Bukan....," kata saya sambil tersenyum.

"Terus jawabannya apa ?" tanya keponakan saya dengan penasaran.

"Penghapus," kata saya, dengan wajah serius.

"Kok bisa ?" tanya keponakan saya dengan tambah penasaran.

"Iya. Kalau singanya datang, kedua matanya kita hapus dengan penghapus. Maka singa itu tidak bisa melihat. Kemudian, ketika singa itu sedang bingung karena tidak bisa melihat, giliran mulutnya kita hapus. Maka singa itu tidak bisa menggigit," jawab saya.

"Ha....ha....ha....," keponakan saya tertawa,

Saya masih melanjutkan, "Setelah itu, kaki kiri depan dan kaki kiri belakang kita hapus juga. Maka singa itu akan bingung kalau mau berjalan".

"Ha....ha....ha....," keponakan saya tertawa tambah keras.

Saya ikut tertawa.

* * *

Keakraban dengan anak memang sangat perlu (dalam hal ini : saya dengan keponakan saya yang masih kelas II SD).

Keakraban ini bisa dibangun dengan lelucon-lelucon seperti ini, supaya anak merasa bahwa kita adalah sahabatnya. (Namun, kita tetap harus tegas dan memegang prinsip ketika mengharuskan anak belajar pada waktunya. Dengan demikian, ada KESEIMBANGAN antara "akrab sebagai sahabat" sekaligus "berwibawa dalam memberikan pengarahan". Keponakan saya "segan" kepada saya, karena di satu pihak saya yang menyiapkan sepedanya, di lain pihak saya bersikap tegas ketika mengharuskan dia tidak boleh  nonton televisi ketika sedang belajar).

Selamat menemani anak.
"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----oOo-----

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Sarjana Ilmu Alam dan Sarjana Ilmu Sosial. Anggota Himpunan Psikologi Indonesoa dan Anggota Asosiasi Psikologi Industri & Organisasi. Mahasiswa Magister Profesi Psikologi di Unika Soegijapranata.

SELALU MEMBAWA ALAT UNTUK MENANGKAP IDE YANG LEWAT





Banyak yang bertanya kepada saya, "Di mana kamu menulis ?"

Saya jawab dengan sejujurnya, "Di mana saja".

Lalu, ada lagi yang bertanya kepada saya, "Dengan apa kamu menulis ?"




Saya jawab (lagi-lagi) dengan sejujurnya, "Dengan apa saja". Maksud saya, saya bisa menulis artikel atau materi training atau sistem manajemen sumberdaya manusia dengan "smartphone" (kalau saya sedang bawa "smartphone"), dengan "handphone QWERTY" saya (kalau saya sedang membawa "handphone" QWERTY), atau dengan "tablet" ukuran 10 inchi (kalau saya sedang membawa "tablet" ukuran 10 inchi lengkap dengan "wireless keyboard"-nya), atau dengan "laptop" (kalau saya sedang membawa "laptop"). 





Demikian pula, foto-foto ilustrasi tulisan saya juga saya buat sendiri, karena itu (tidak jarang) saya membawa kamera DSLR.




* * *

Pada kenyataannya, saya biasanya membawa minimal dua alat untuk menulis. Misalnya, "smartphone" dan "tablet" 10 inchi, "smartphone" dan "laptop"; atau "smartphone" dengan "handphone" QWERTY. Alasannya sederhana : kalau saya kehabisan baterei di salah satu "alat tulis" yang saya bawa, saya masih punya "alat tulis" satu lagi (yang saya bawa). Ini semua "menjamin" bahwa ide yang melintas KAPAN PUN akan saya TANGKAP dengan alat tulis yang saya bawa saat itu. Atau, ketika saya sedang MENUNGGU seseorang atau suatu acara (termasuk menunggu film bioskop diputar), saya bisa mengetik di kafe atau di "lobby" bioskop atau bahkan di dalam mobil saya (yang sedang saya parkir).

* * *

"Wah, kamu niat banget bawa-bawa alat-alat elektronik buat menulis di perjalanan," begitu kira-kira komentar beberapa orang yang saya beri tahu tentang bagaimana saya bisa menulis di mana saja.

"Saya hanya mengisi waktu luang di perjalanan, makanya saya membawa alat-alat tulis," jawab saya, apa adanya. "Lagi pula, kalau saya menunggu sampai rumah baru menulis, ide biasanya sudah sudah lewat dan tulisan justru tidak selesai".

* * *

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa semua orang harus membawa alat tulis (elektronik) ke mana saja mereka pergi, supaya bisa langsung menuliskan ide-ide yang muncul (di setiap saat, di sembarang tempat). Tetapi saya ingin men-sharing-kan hal ini : bahwa supaya orang bisa produktif menulis, maka dia harus siap sedia setiap saat untuk menuliskan ide yang muncul dengan alat tulis elektronik yang dia punya. 

Prinsipnya, kalau ingin PRODUKTIF, maka harus SIAP SEDIA SETIAP SAAT untuk menangkap dan menuliskan ide yang muncul.

Selamat menemani anak.
"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----oOo-----

Foto dan tulisan oleh Constantinus  Johanna Joseph. Anggota Himpunan Psikologi Indonesia dan Asosiasi Psikologi Industri & Organisasi. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Sarjana di bidang Ilmu Sosial.

Teh Uwuh dan Teh Serai




Teh Uwuh dan Teh Serai. Kedua jenis minuman teh ini mungkin bagi banyak orang sudah sangat familiar. Tetapi bagi saya, saya mengenal keduanya di Tea House dan Tea Bar "Tong Tji".

* * *

Saya dengan Agatha dan Usie (anak dan istri saya) memang sengaja mampir ke Tea House atau Tea Bar "Tong Tji" bukan pertama-tama karena ingin makan atau minum. Tetapi (biasanya) karena kaki kami pegal setelah jalan-jalan keliling mall, dan sengaja mencari tempat duduk. Maka, jadilah kami ke Tea House atau Tea Bar "Tong Tji".

Memang, Bapak William dari "Tong Tji" adalah rekan pengurus APIO (Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi) Kota Semarang, dan kami sama-sama Sarjana Psikologi. Tetapi ke-mampir-an saya dan keluarga (memang pertama-tama) karena mencari tempat duduk di mall.

* * *

Ini bukan tulisan promosi. Bahkan (mungkin) Bapak William tidak tahu kalau saya menulis tentang Tea House dan Tea Bar "Tong Tji". Tetapi tidak apa-apa. Tujuan saya memang bukan untuk mempromosikan Tea House atau Tea Bar "Tong Tji" atau untuk memberitahu Bapak William tentang "saya sering mampir di Tea House atau Tea Bar-nya". Tujuan saya adalah men-sharing-kan apa yang saya dan keluarga alami dengan mampir ke Tea House dan Tea Bar "Tong Tji".
Kami (saya, Agatha, Usie) sepakat bahwa Tea House dan Tea Bar "Tong Tji" adalah suatu terobosan bisnis yang cerdas. Di Kota Semarang, Tea House dan Tea Bar "Tong Tji" adalah pelopor dalam hal tempat duduk dan makan camilan sambil minum teh (yang dimiliki oleh sebuah produsen teh, yaitu "Tong Tji").

Di Tea House dan Tea Bar "Tong Tji", minuman teh disajikan dengan berbagai macam variasi, misalnya (kesukaan saya) adalah Teh Uwuh dan Teh Serai.
Wedang Uwuh dan Wedang Serai sendiri sebenarnya adalah nama minuman tradisional di Jawa. Namun, "Tong Tji" mengombinasikannya dengan teh (karena dia adalah produsen teh).

"Dengan disajikan sebagai Teh Uwuh atau Teh Serai, minuman teh ini jadi tampil beda, dan bisa dijual dengan harga lebih tinggi tetap tetap terjangkau dan konsumen suka," kata saya kepada Agatha.

Sebagai seorang penjual bakso sapi dengan merk "Raja Rasa" ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar Pangudi Luhur "Bernardus" kelas VI (saat ini Agatha duduk di kelas X SMA Kolese Loyola Semarang), Agatha memang akrab dengan ide-ide kreatif pemasaran.



Sambil duduk-duduk membaca buku, kami bisa ngobrol banyak tentang Tea House dan Tea Bar "Tong Tji" yang bisa menarik pengunjung menjadi pelanggan (termasuk kami sekeluarga) karena "kecanduan" bukan hanya minumannya, tetapi tentu saja tempat duduknya (setelah lelah berjalan-jalan).

Pertanyaannya adalah : kenapa Tong Tji, kenapa bukan yang lain yang membuat Tea House atau Tea Bar seperti ini di Semarang ?

Ya. Itulah yang disebut kreativitas yang DIWUJUDKAN menjadi suatu inovasi. Mungkin saja, ide kreatif membuat Tea House atau Tea Bar juga sudah dipikirkan oleh produsen lain, tetapi yang berani BERTINDAK MEWUJUDKAN adalah "Tong Tji".

* * *

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Itulah renungan kita bersama kali ini : IDE KREATIF kalau tidak DITINDAKLANJUTI / DIWUJUDKAN hanya akan berhenti sebatas ide kreatif saja, sedangkan siapa yang CEPAT MEWUJUDKAN akan menjadi pelopor INOVASI (setidaknya, yang pertama MENANGKAP PELUANG yang ada).

Selamat menemani anak.
"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----oOo-----


Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Anggota Himpunan Psikologi Indonesia dan Asosiasi Psikologi Industri & Organisasi. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan  Sarjana di bidang Ilmu Sosial. Mahasiswa Profesi Psikologi Universitas Katholik Soegijapranata.

Rabu, 04 Februari 2015

BELAJAR ALA FINLANDIA (SEKEDAR TAHU)



Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak pembaca Blog Inspirasi Pendidikan Kreatif "Holiparent" yang saya hormati,

Pagi ini saya sedang membuka akun Facebook saya (Si Jurai Constantinus), dan saya menemukan sebuah tulisan yang ditautkan oleh seorang teman, yang menurut saya menarik untuk kita simak. Tentu saja, tidak berarti kita bisa langsung meniru 100% apa yang tertulis di situ, tetapi bisa menambah keyakinan kita bahwa dalam proses belajar, anak harus dalam suasana GEMBIRA dan JUSTRU BANYAK BERMAIN, meskipun MENGHAFAL JUGA PERLU.

Tulisan ini dibuat oleh Ibu Hardiana Noviantari pada tanggal 5 Desember 2014 dengan judul SEKOLAH CUMA 5 JAM, TANPA PR & UJIAN NASIONAL, KENAPA PELAJAR DI FINLANDIA BISA PINTAR ?

Sekali lagi, ini tidak otomatis 100% bisa kita tiru begitu saja, karena secara GENETIS / FAKTOR KETURUNAN bisa saja berbeda, dan secara PROSES BELAJAR SOSIAL / KEHIDUPAN SEHARI-HARI DI KELUARGA DAN MASYARAKAT juga bisa saja berbeda.

PERTAMA,

Di Finlandia, anak baru boleh bersekolah setelah usianya 7 tahun.

KEDUA,

45 menit belajar, 15 menit istirahat.

KETIGA,

Semua sekolah negeri bebas biaya, sekolah swasta juga diawasi ketat agar tetap terjangkau masyarakat.

KEEMPAT,

Semua guru dibiayai kulias sampai lulus Master. Gaji guru merupakan salah satu yang tertinggi di Finlandia.

KELIMA,

Guru adalah orang yang paling tahu bagaimana cara mengevaluasi murid-muridnya, karena itu Ujian Nasional tidak diperlukan.

KEENAM,

Murid SD-SMP hanya belajar 4-5 jam sehari. Ketika sudah SMP dan SMA, mereka belajar seperti mahasiswa kuliah (hanya datang pada jam pelajaran yang mereka PILIH; mereka tidak datang karena TERPAKSA).

KETUJUH,

Tidak ada ranking siswa di sekolah.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak yang terhormat,

Itulah sharing tentang pendidikan di Finlandia. Untuk membaca tulisan selengkapnya, silakan membuka www.hipwee.com dengan judul SEKOLAH CUMA 5 JAM, TANPA PR & UJIAN NASIONAL, KENAPA PELAJAR DI FINLANDIA BISA PINTAR ?

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0o-----

Minggu, 25 Januari 2015

Menemani Anak dengan Memberikan Makanan Sehat



Setelah sekian lama blog inspirasi pendidikan kreatif HOLIPARENT ini terbit, ad pertanyaan yang menngelitik hati saya : apakah menemani anak itu tidak perlu juga membahas makanan sehatnya ? Sebab sebagaimana kita ketahui bersama, makanan sehat juga diperlukan untuk berpikir kreatif anak, bukan hanya aspek Psikologi Kognitif saja. Bahkan, ketika seseorang sudah menjadi manusia dewasa dan memasuki dunia kerja, maka pola makan sehat ini juga perlu untuk menjaga kesehatannya yang otomatis menunjang produktivitasnya. Logikanya begini : seseorang yang kompeten melakukan suatu pekerjaan, kalau dia sakit, maka dia tidak akan bisa menjalankan pekerjaannya. Tentu saja, kesehatan adalah merupakan anugrah Tuhan, dan ini bukan berarti bahwa manusia kemudian tidak akan sakit (karena sakit itu adalah hal yang manusiawi). Namun, dengan pengetahuan yang merupakan anugrah dari Tuhan, maka marilah kita saling men-sharing-kan masalah kesehatan, dalam hal ini tentang makanan sehat.

"Tetapi kita bukan dokter, lho.... Makanya kita membatasi pembahasan pada makanan sehat saja, sebab kita memang dulu mendapatkan ilmu tentang itu," kata istri saya mengingatkan. 

Saya mengangguk-anggukkan kepala. Susana (istri saya) dan saya memang dulu di jurusan Perikanan Undip tahun 1989-1995 mendapatkan kuliah tentang  Kimia Organik, Kimia Anorganik, Biologi, Biokimia, Ilmu Pangan I, Ilmu Pangan II, Algologi (Ilmu tentang Rumput Laut), Teknologi Hasil Perikanan, Teknik Pengolahan Ikan, dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan.

"Modal ilmu yang kita punya sudah cukup, cuma selama ini memang belum kita terapkan, karena jalan hidup kita adalah bekerja di manajemen perbankan," kata saya. "Mungkin, sekaranglah saatnya kita bisa men-sharing-kan ilmu-ilmu itu, karena ilmu itu dianugrahkan Tuhan kepada kita pasti dengan tujuan tertentu."

Jadi, Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak yang kami hormati,
di edisi -edisi berikutnya kami juga akan memuat tulisan tentang makanan sehat sebagai wujud upaya kami dalam men-sharing-kan anugrah ilmu yang sudah kami dapatkan dari Tuhan sejak 25 tahun yang lalu.

Selamat menemani anak.
"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0o-----


Minggu, 19 Oktober 2014

Praktikum dalam Kurikulum 2013



Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak pecinta Blog Pendidikan Kreatif "Holiparent" yang saya hormati,

Beberapa hari yang lalu saya menghadiri rapat orang tua murid dan guru di sekolah anak saya (SMA Kolese Loyola Semarang). Saya hadir berdua dengan istri, dan karena kami sama-sama lulusan dari SMA tersebut, maka kesempatan ini sekalian sebagai ajang nostalgia.

Tetapi memang zaman sudah berubah. Saya dan istri saya sudah lulus dari SMA Kolese Loyola 25 tahun yang lalu, sehingga kami berdua harus menyimak dengan sungguh-sungguh penjelasan yang disampaikan oleh para guru tentang Kurikulum 2013 serta penilaian di rapor yang sangat berbeda dengan zaman saya sekolah dulu.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Dulu di zaman saya sekolah (satu zaman juga dengan sekolah Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak), nilai di rapor adalah angka 5, 6, 7, 8, 9 (setahu saya, belum pernah di rapor ada nilai 10). Kalau nilai di rapor 5 artinya "merah" (meskipun ditulis dengan tinta hitam). Sekarang, nilai di rapor adalah C, C+, B-, B, B+, A-, A. Nilai B adalah 3, A adalah 4, seperti saat kita kuliah dulu. Toh nilai ulangan harian dan ujian mid semester / semester masih memakai nilai 10 sampai 100, tinggal nanti dikonversi menjadi nilai 1 sampai 4 di rapor (2 = C, 3 = B, 4 = A, dan sebagainya). Jelas, ini merupakan sesuatu yang baru buat saya (membaca rapor murid SMA seperti ini).

Selain itu, nilai di rapor bukan hanya dari aspek pengetahuan (= hafalan + ujian tertulis), tetapi juga dari aspek ketrampian (= praktikum) dan sikap spiritual & sosial.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Sekali lagi saya menyampaikan bahwa tulisan kali ini adalah merupakan sharing dalam menemani anak bersekolah menggunakan Kurikulum 2013. Kalau dulu kita sekolah SMA yang penting adalah hafalan supaya dapat menjawab soal ulangan / ujian tertulis dengan baik, maka sekarang nilai praktikum juga mempunyai bobot yang sama dengan nilai pengetahuan (hafalan / pemahaman). Di zaman kita dulu memang ada praktikum, tetapi sifatnya masih sebagai pelengkap teori saja.

Lalu, apa yang harus dilakukan oleh orang tua dalam menemani anaknya dalam situasi seperti ini ?

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Kegiatan praktikum adalah kegiatan ketrampilan. Ketrampilan itu diperoleh seseorang karena dia melakukan (mempraktekkan) sesuatu berkali-kali, sehingga dia menjadi terampil. Dalam hal ini, saya berpikir bahwa anak memang harus ditemani untuk melakukan / mempraktekkan teori-teori yang diajarkan di sekolah (misalnya Fisika) di rumah, sehingga pada saat praktikum di sekolah, anak sudah bisa melakukan dengan trampil dan hasilnya baik. Ini sebenarnya sama dengan murid yang baik akan belajar / membaca materi di rumah sebelum materi itu diajarkan oleh guru di sekolah pada keesokan harinya, sehingga murid SUDAH MEMPERSIAPKAN DIRI.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Menyediakan alat-alat peraga di rumah supaya anak bisa mempersiapkan  melatih diri di rumah sebelum hari pelaksanaan praktikum memang bukan hal yang sederhana. Dan jujur saja, saya juga baru memulai. Namun demikian, ada satu semangat yang harus kita tanamkan dalam hati, yaitu bahwa zaman sudah berubah, dan kita sebagai orang tua harus mendukung anak dalam mempersiapkan diri menerima teori dari guru di keesokan hari, maupun menjalankan praktikum esok hari.

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"


-----oOo-----

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph.

Sabtu, 18 Oktober 2014

BAGAN TANCAP



Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak pecinta Blog Pendidikan Kreatif "Holiparent" yang saya hormati,

Sudah lsma says tidak menulis entri baru di Blog Pendidikan Kreatif "Holiparent" ini karena saya harus menyelesaikan tesis S-2 Magister Manajemen saya dalam bidang Sumber Daya Manusis, sekaligus menyelesaikan teori kuliah S-2 Magister Profesi Psikologi saya. Sementara itu, saya hanya bisa menengok Blog Pendidikan Kreatif "Holiparent" ini, yang jumlah pengunjungnya selalu bertambah. Saya sungguh bersyukur kepada Tuhan dan erterima kasih kepada Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak yang selalu menjadi pembaca Blog Pendidikan Kreatif "Holiparent" ini.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Saya bersyukur karena saya sudah lulus S-2 Magister Manajemen dalam bidang Sumber Daya Manusia (sebelumnya, saya lulus Magister Manajemen dalam bidang Marketing pada tahun 2000, atau 14 tahun yang lalu).Semua teori S-2 Magister Profesi Psikologi saya juga sudah selesai, saya hanya tinggal  menjalani Praktek Kerja dan menyelesaikan Tesis saja. Dengan demikian, saya sekarang berharap sudah punya cukup waktu untuk menulis di Blog Pendidikan Kreatif "Holiparent" ini.



Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Foto di atas adalah foto tentang Bagan Tancap. Foto itu saya buat dengan kamera digital saku merek Samsung di suatu hari Minggu dalam bulan Oktober 2014 ini. Seperti biasa, saya bersama anak dan istri sedang berjalan-jalan di Pantai Marina Semarang, ketika saya melihat bahwa di dekat Pantai Marina sekarang ini banyak didirikan Bagan Tancap oleh para nelayan.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Anak saya sekarang sudah SMA, sudah remaja. Beda dengan saat masih SD atau SMP, saya tidak bisa lagi mendongeng tentang Bagan Tancap kepada anak saya seperti dulu. Yang saya lakukan adalah ngobrol tentang nostalgia praktikum di atas Bagan Tancap semalaman di tengah laut saat saya dan istri masih kuliah di Perikanan Undip tahun 1989-1994.  Anak saya tentu saja mendengarkan obrolan saya dan istri, tentang cara kerja Bagan Tancap sebagai salah satu alat dan cara menangkap ikan di malam hari, tentang penggunaan lampu "petromaks" untuk menarik ikan supaya datang mendekati jaring pada Bagan Tancap karena sifat Fototaksis Positif, dan sebagainya.

Ada obrolan-obrolan antara saya dan istri yang didengar oleh anak, yang intinya adalah bahwa ada banyak sekali ilmu yang dapat diterapkan dengan wujud yang sederhana, yang bermanfaat untuk kehidupan manusia.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"


-----oOo-----

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph.


Rabu, 18 Juni 2014

KOMIK KIMIA



Puji syukur kepada Tuhan. Ujian kelulusan SMP baru saja diumumkan pada hari Sabtu tanggal 14 Juni 2014. Agatha (anak saya semata wayang) merupakan satu di antara sekian banyak murid SMP yang dinyatakan lulus. Mendapatkan nilau Ujian Nasional Bahasa Indonesia 8,80, Bahasa Inggris 9,40, Matematika 9,50, dan IPA 10,00 membuat Agatha sangat gembira. Tentu saja, ada murid lain yang nilainya lebih tinggi dari Agatha, ada juga yang lebih rendah. Bagaimana pun, hasil belajar ini patut disyukuri oleh para orang tua, sambil selalu MENEMANI ANAK untuk ingat bahwa YANG PENTING ADALAH PENGUASAAN MATERI-nya, dan bukan semata-mata "silau" dengan "tinggi-tinggian" nilai (mohon maaf, saya masih beberapa kali bertemu orang tua yang sukanya "tinggi-tinggian" nilai antara anaknya dengan teman anaknya. Kasihan anaknya, kalau memang "tidak kuat", sebab setiap anak dikaruniai bakat yang berbeda, bukan sekedar "nilai di sekolah" saja).



Tulisan kali ini bukan tentang nilai Ujian Nasional IPA-nya Agatha yang mendapat nilai 10,00 atau Matematika-nya yang mendapat nilai 9,50. Tetapi tentang bagaimana anak DITEMANI untuk membaca buku-buku yang SANTAI atau LUCU tetapi ILMIAH, yang menambah PENGETAHUAN anak (di saat anak dan orang tua sedang BERSANTAI BERSAMA). Salah satunya adalah seperti yang saya ceritakan di bawah ini.

Buku yang fotonya saya tampilkan di atas adalah buku KOMIK. (Ya, sampai usia 44 tahun sekarang ini, saya masih suka membaca komik bersama Agatha). Judul komik di atas adalah KARTUN KIMIA, ditulis oleh LARRY GONICK dan CRAIG CRIDDLE. Larry Gonick (seperti yang ditulis pada halaman akhir buku komik ini) adalah anak dan menantu ahli kimia. Dia pernah ingin menjadi ilmuwan, tetapi "dengan bijaksana membatalkan ide itu setelah memecahkan dua belas buah tabung percobaan dalam satu kali tiga jam yang menegangkan di laboratorium kimia". Saat ini, Larry Gonick menulis dan menggambar buku komik NON FIKSI dan menjadi staf kartunis untuk sebuah majalah. Dia hidup di California dengan keluarganya. (Kita merasakan, betapa biografi ini ditulis dengan gaya yang LUCU dan MENYENANGKAN).

CRAIG CRIDDLE adalah seorang PROFESOR Teknik Lingkungan dan Sain di Stanford University. Dia mengajar KIMIA AKUATIK dan BIOTEKNOLOGI LINGKUNGAN. Dia telah menulis banyak artikel tentang zat-zat kimia dalam air dan tentang PEMBERSIHAN AIR. Profesor Criddle dan istrinya tinggal di California (empat orang anaknya sudah dewasa dan punya rumah sendiri). Dia percaya bahwa "peralatan yang pecah adalah sesuatu yang wajar dalam sain". (Kita juga bisa merasakan, bahwa di sini pun, gaya yang digunakan juga LUCU dan MENYENANGKAN).

KOMIK memang sudah seharusnya hadir sebagai bacaan yang LUCU dan MENYENANGKAN, meskipun isinya ILMIAH dan MENAMBAH PENGETAHUAN. Apakah sebagai orang tua, kita sering berpikir terlalu serius dan TIDAK LUCU / TIDAK MENYENANGKAN (terutama bagi anak kita) ? Apakah sebagai orang dewasa, kita malu untuk membaca buku KOMIK sain (padahal kita juga belum paham tentang isi yang ditulis dalam komik ILMIAH itu) ?

Menemani anak membaca buku-buku komik ilmiah seperti ini sangat mengasyikkan. Pertama, tentu saja dalam rangka "ngobrol" dengan anak tentang apa yang ditulis dalam buku komik sain ini. Kedua, kita sendiri sebagai orang tua juga bisa menambah wawasan (meskipun dulu pernah mendapatkan ilmu ini saat kuliah) sekaligus "bernostalgia" (apa yang dulu terasa sulit dipahami ketika kita masih di sekolah, sekarang menjadi LUCU dan GAMPANG ketika membaca komik ilmiah ini). Saya sebagai Insinyur Perikanan lulusan Universitas DIponegoro pun (yang cukup akrab dengan kuliah Kimia Dasar, Kimia Non Organik, Kimia Organik, Biokimia, Kimia Pangan) tetap merasakan "indahnya" membaca buku komik ilmiah seperti ini di usia 44 tahun sekarang ini.

Memang, kualitas komik sain ini tidak diragukan, karena salah satu penulisnya adalah seorang PROFESOR di bidang ini. 

Jadi, mengapa kita harus malu untuk membaca buku komik sain seperti ini, baik untuk menambah wawasan maupun sekaligus untuk menemani dan ngobrol dengan anak kita ?

Marilah kita bersama dengan anak kita belajar hal-hal ilmiah lewat buku yang LUCU tetapi juga BERKUALITAS seperti buku Kartun Kimia ini. Dengan demikian anak juga memiliki PENGALAMAN bahwa MEMAHAMI sesuatu yang ILMIAH itu juga bisa dilakukan secara LUCU dan MENYENANGKAN lewat KOMIK SAIN.



Selamat menemani anak.
"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----oOo-----

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Ilmu Sosial. Anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI). Praktisi Psikologi Industri dan Komunikasi.

Dapat dihubungi lewat SMS di nomor 082 322 678 579, atau lewat e-mail : constantinus99@gmail.com. Alamat surat : Jl. Anjasmoro V nomor 24 Semarang 50149.

Minggu, 08 Juni 2014

BELAJAR FISIKA TENTANG KATROL SAMBIL JALAN-JALAN NAIK SEPEDA




Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Jalan-jalan naik sepeda di dalam kota memang olah raga yang menyenangkan. Apalagi, di saat pagi di hari libur. Kita bisa bersama seluruh keluarga menikmati udara segar.

Sambil bersantai seperti itu, kita sebagai orang tua juga tetap bisa "mendongeng" tentang pelajaran anak di sekolah, TANPA HARUS MEMBAWA BUKU. Ide dasarnya sederhana saja : anak merasa DITEMANI OLEH ORANG TUANYA untuk menambah pengetahuan SAMBIL BERSANTAI, sehingga belajar itu tidak harus berarti membaca / menghafalkan HURUF-HURUF yang ada di buku pelajaran.



Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Salah satu hal yang bisa kita ceritakan kepada anak sambil jalan-jalan naik sepeda adalah tentang gigi / persneling sepeda. Kalau diamati, ini merupakan susunan KATROL yang bertumpuk-tumpuk, seperti katrol yang dipelajari oleh anak-anak kita di sekolah (juga diperagakan di TAMAN PINTAR di Yogyakarta).  Maka, sambil bersitirahat ketika bersepeda, anak dapat kita ajak ngobrol tentang MENGAPA dengan adanya gigi / persneling itu maka kita bisa menyetel berat - ringannya kita mengayuh sepeda. Anak juga bisa kita ajak ngobrol tentang prinsip rantai yang digunakan di sepeda kita, sehingga rantai itu bisa menggerakkan roda sepeda kita.



Lalu, dari mana kita bisa mendapatkan SUMBER bacaan untuk obrolan SANTAI ILMIAH seperti ini ? Saya melihat bahwa SMARTPHONE sudah merupakan barang yang banyak kita miliki dan kita pakai sehari-hari. Maka, anak bisa kita ajak untuk MEMBACA BERSAMA di smartphone kita : apa yang tertulis di internet tentang KATROL, KATROL BERTINGKAT, dan masih banyak lagi. Dengan demikian, smartphone / gadget kita justru menjadi ALAT NGOBROL SANTAI ILMIAH BERSAMA ANAK KITA, dan bukannya menjadi ALAT PEMISAH antara kita dan anak kita. (Saya masih sering melihat ada ayah, ibu, dan anak yang duduk satu meja di rumah makan, tetapi masing-masing justru asyik dengan smartphone masing-masing. Inilah yang saya maksud dengan SMARTPHONE MENJADI ALAT PEMISAH : DEKAT DI MATA, JAUH DI HATI. He....he....he....).



Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Bukan berarti saya tidak mendukung bahwa ayah, ibu, dan anak masing-masing punya smartphone atau gadget sendiri-sendiri. Jujur saja, anak saya ketika bepergian biasa membawa BB / Tablet Samsung / Notebook Lenovo Core i-7. Istri saya membawa Smartphone Lenovo. Saya sendiri biasa membawa Smartphone Lenovo, Tablet Lenovo, dan Notebook Lenovo saya. Tetapi kami MEMBIASAKAN DIRI untuk MEMBACA BERSAMA-SAMA atau NGOBROL BERSAMA tentang apa yang tertulis di internet (yang kami bawa dari gadget yang kami bawa); jadi, masing-masing orang TIDAK ASYIK SENDIRI-SENDIRI MEMBACA GADGET MASING-MASING justru ketika sedang bepergian / jalan-jalan bersama.



Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Salah satu berita yang KAMI BAHAS BERSAMA adalah berita yang tertulis di www.detik.com edisi Sabtu tanggal 7 Juni 2014 tentang Pemerintah Belanda memberikan hadiah 2,5 juta Euro atau setara Rp 40 milyar kepada setiap ilmuwan yang dinyatakan sebagai "ilmuwan terbaik" di sana pada tahun 2014 ini. Berita ini pertama kali saya baca di Smartphone Lenovo saya, kemudian kami jadikan obrolan bersama dengan anak dan istri. Maka, GADGET MERUPAKAN SUMBER MATERI NGOBROL SEKELUARGA YANG MENGASYIKKAN.



Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Selamat berolah raga sambil menemani anak ngobrol SANTAI ILMIAH.
Dan selamatb menggunakan GADGET SEBAGAI SUMBER BAHAN OBROLAN SEKELUARGA yang SANTAI ILMIAH.

Selamat menemani anak.
"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----oOo-----

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia, Kandidat Psikolog Industri dan Organisasi. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Ilmu Sosial.

Selasa, 20 Mei 2014

MUSEUM KARS INDONESIA di PRACIMANTORO, WONOGIRI, JAWA TENGAH





Ibu-Ibu dan bapak-Bapak pecinta blog inspirasi pendidikan Holiparent Yth.,

Hampir satu tahun yang lalu, saya melihat sebuah mobil yang memasang stiker Museum Kars Indonesia, Pracimantoro, Wonogiri. Saya bertanya di dalam hati, seperti apa isi museum ini, ya ?




Kesempatan untuk mengunjungi museum yang diresmikan pada tahun 2009 ini baru terwujud pada tanggal 15 Mei 2014 yang lalu. Agatha (anak saya semata wayang), Susana (istri saya, juga semata wayang), dan saya sendiri sudah membuat rencana untuk jalan-jalan sampai ke Museum Kars Indonesia yang (ternyata) 6,5 jam perjalanan dari Kota Semarang (dengan mengendarai mobil pribadi).






Jauhnya jarak yang harus ditempuh seketika hilang, ketika kami tiba di Museum Kars Indonesia sekitar pk. 12.00 WIB dan disambut dengan hangat dan ramah oleh para pegawai Museum Kars Indonesia.


Bahkan, Ibu Henni (yang foto-fotonya ada di bawah ini) dengan ramah, detail, dan penuh semangat memandu kami berkeliling Museum Kars Indonesia di lantai atas. Penjelasan Ibu Henni yang disertai dengan alat peraga yang komplit berupa foto, film, maupun miniatur / maket sangat membantu kami dalam memahami apa sebenarnya kars itu dan bagaimana peranannya bagi kehidupan manusia.


























Kemudian kami sampai ke lantai bawah, dan Pak Agung Kurniawan memandu kami berkeliling museum melihat-lihat koleksi yang ada di lantai bawah. Sama seperti Ibu Henni, Pak Agung juga memberikan penjelasan dengan ramah, detail, dan penuh semangat.


Hal yang sangat menarik dan sangat membantu kami dalam memahami kars adalah banyaknya alat-alat peraga 3 dimensi.








Museum Kars Indonesia juga menampilkan foto dan alat-alat peraga yang berkaitan dengan manfaat kars bagi manusia, bahkan sejak zaman manusia prasejarah !












Di Muesum Kars Indonesia juga ditampilkan contoh alat-alat yang terbuat dari batu, yang digunakan oleh manusia prasejarah yang tinggal di kawasan kars.


















Ternyata, ada banyak hewan cantik yang tinggal di kawasan kars. Berikut ini adalah foto dari binatang yang diawetkan untuk keperluan ilmu pengetahuan.























































Tentu saja, ada banyak penjual makanan di sekitar Museum Kars Indonesia, yang dapat kami gunakan untuk sekedar mengisi perut yang lapar setelah berkeliling dan belajar (secara sangat mengasyikkan) di Museum Kars Indonesia.


Jadi, kapan Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth. mengajak putra dan putri tersayang ke Museum Kars Indonesia ?



Selamat menemani anak.
"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----o0o-----

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi - anggota Himpunan Psikologi Indonesia. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Ilmu Sosial. Dapat dihubungi melalui telepon 082 322 678 579 atau e-mail : constantinus99@gmail.com. Alamat surat : Jalan Anjasmoro V nomor 24 Semarang 50149.