Senin, 24 September 2012

Menemani Anak : MENANAMKAN DAN MENUMBUHKEMBANGKAN SIKAP TOLERANSI

Para tokoh / perwakilan dari berbagai agama hadir dalam Pameran Kitab Suci dari berbagai agama yang diadakan di Gedung Sukasari - Komplek Gereja Katedral Semarang pada tanggal 22-23 September 2012


 
Setiap 2 tahun sekali, di Gedung Sukasari diadakan Pameran Kitab Suci Lintas Agama. Untuk kali ini, pameran yang terbuka untuk umum ini berlangsung Sabtu-Minggu 22-23 September 2012.




 
Ada berbagai stand dari berbagai agama di pameran ini. Ada juga banyak pelajar (selain pengunjung orang tua) yang berkunjung, biasanya karena mendapat tugas untuk membuat laporan tertulis di sekolahnya dalam rangka menanamkan dan mengembangkan sikap toleransi beragama.




 

Blog kali ini lebih mengedepankan foto-foto dari berbagai stand yang ada. Semoga dengan demikian para pembaca setia blog pendidikan ini serasa mengunjungi pameran ini (sekalipun mungkin pada kenyataannya belum sempat karena pameran ini hanya dilakukan 2 hari saja).



 


Semoga dengan demikian sikap toleransi antar pemeluk umat beragama dan penganut kepercayaan juga semakin tertanam dan berkembang di kalangan anak-anak kita dan juga di kalangan para orang tua.




 --------------------



--------------------






Selamat menemani anak.

Selamat menemani anak untuk menanamkan dan menumbuhkembangkan sikap toleransi beragama / berkepercayaan kepada Tuhan Yang Mahaesa, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----o0o-----

Foto dan tulisan oleh  Constantinus Johanna Joseph. Alumni Penataran P-4 dan Latihan Kepemimpinan Pemuda Tingkat Nasional Angkatan XXII / Cibubur Tahun 1990 mewakili Universitas Diponegoro Semarang, diadakan oleh Kantor Menteri Pemuda dan Olah Raga Republik Indonesia bekerja sama dengan BP-7 Pusat Jakarta. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Sarjana di bidang Ilmu Sosial. Magister Manajemen di bidang Marketing, Praktisi Psikologi Industri & Komunikasi, dan Praktisi Perbankan.
 
  
www.holiparent.blogspot.com diterbitkan oleh "Holiparent Studio 89" (dahulu "Jantera Study 89") yang memberikan bimbingan & konsultasi untuk anak-remaja-dewasa tentang Article Writing & Scientific Photography for  Communication & Creativity Purposes. Bimbingan & konsultasi di Jalan Anjasmoro V no. 24 Semarang setiap Senin-Jumat pk. 18.00-21.00 (Minggu pagi khusus Scientific Photography - Outdoor).


Minggu, 23 September 2012

Menemani Anak : BELAJAR TENTANG STANDAR "SAFETY" SAMBIL MAKAN



SAFETY FOR USE.
NO BLEACH, NO BRIGHTENER, NO CHEMICAL ADDITIVE.

Sebenarnya restoran cepat saji yang mengkhususkan diri pada masakan Jepang ini sudah lama saya kenal. Bahkan, anak saya sering mengajak saya untuk sengaja makan siang atau makan malam di situ. Yang dimaksud dengan sengaja adalah memang dari rumah sengaja menuju ke restoran ini, bukan karena sedang jalan-jalan kemudian (kebetulan) mampir.

Tetapi bukan itu yang masu dituliskan dalam Blog Holiparent kali ini. Dan seperti biasa, ini tidak dimaksudkan untuk mempromosikan restoran ini.

--------------------


Seperti biasa, sambil makan, anak saya, istri saya, dan saya memperhatikan dan membahas apa saja yang menurut kami cukup unik.

Kali ini yang jadi perhatian adalah sumpit. Alat makan yang terbuat dari bambu ini dikemas dalam wadah khusus supaya bersih. Juga sekali pakai langsung buang.

Yang menjadikan menarik adalah adanya tulisan pada bungkusnya : Safety for use. No bleach. No  brightener. No chemical additive.

Seperti biasa, anak saya bertanya, "Apa artinya".

Tentu saja, bukan sekedar arti dalam arti terjemahannya dalam Bahasa Indonesia. Tetapi maknanya, maksudnya.

Saya katakan bahwa bambu secara alamiah (seperti halnya kayu) kalau dipakai untuk bahan bangunan rumah / mebel (meja, kursi, lemari, dll.) disemprot atau direndam  dalam zat kimia tertentu supaya awet / tidak mudah lapu. Juga supaya lebih bersih / putih.

Tetapi karena bambu ini dibuat sumpit dan ketika dipakai untuk makan akan dimasukkan (kena) mulut / air ludah manusia, maka bambu ini tidal diberi zat kimia / pemutih seperti itu. Tujuannya adalah supaya orang yang memakan dengan sumpit ini benar-benar aman / sehat karena makan dengan sumpit yang terbuat dari bambu alami.

--------------------

 Pengunjung sedang berfoto di depan lambang restoran masakan Jepang

Dari hal-hal kecil seperti ini, anak bisa kita temani untuk menambah pengetahuan berdasarkan pengalaman sehari-hari. Kali ini tentang keselamatan terkait makanan.

Kebetulan dulu ketika masih kuliah di Perikanan Undip, saya dan istri saya dapat kuliah tentang pangan , selain kuliah tentang pakan.  Kalau pangan, artinya bahan makanan untuk manusia. Kalau pakan, artinya bahan makanan untuk hewan (ikan, ternak, dll).

Nah, terkait dengan pangan  itu, memang bukan hanya zat-zat di dalam pangan itu yang harus diperhatikan agar aman bagi manusia, tetapi juga pengemasannya harus tidak membahayakan manusia.

Membeli makanan di restoran dengan standar yang sudah jelas seperti ini memang makanan maupun kemasannya sudah memperhatikan keamanan / kesehatan (termasuk kemasan dan alat makannya, seperti dicontohkan dalam sumpit di atas).

Tetapi di beberapa tempat yang lain (saya menjumpainya di sebuah toko), ada  makanan yang  dikemas dengan cara yang rawan / dapat membahayakan  kesehatan. Contonya, tape singkong yang saya (biasa) saya beli. Tape singkong ini dikemas dalam wadah plastik, kemudian di-taples. Pada saat kemasan plastik dibuka, staples ini rawan jatuh / masuk ke dalam makanan yang dikemas. Karena itu harus benar-benar hati-hati dalam membuka kemasan. Sebenarnya, menutup kemasan dengan isolasi / selotip adalah lebih aman.

Anak juga saya beritahu bahwa nasi bungkus yang kita beli di pasar tradisional sebenarnya lebih aman kalau di-karet-i, bukan di-staples. Tetapi masih ada penjual mencari praktisnya saja, karena itu mereka memakai staples. Jadi, memang kita yang harus hati-hati ketika membuka bungkusan yang di-staples. Biasanya bungkus itu saya potong dengan gunting saja, sehingga staplesnya tetap melekat di kemasan yang dibuang dan tidak terbuka / jatuh ke dalam makanan.

 
--------------------



Kembali ke restoran makanan Jepang tadi.

Sambil makan, kita bisa menemani anak dalam menambah pengetahuannya melalui pengalaman sehari-hari seperti tentang sumpit / alat makan yang aman bagi kesehatan (yang disediakan di restoran ini).

Anak akan bertambah pengetahuannya dan juga selalu melihat hal-hal yang dijumpainya dengan sudut pandang yang kreatif  karena selalu mempertanyakan makna dari hal-hal yang belum betul-betul dipahaminya.



---------------------

Selamat menemani anak.

Selamat menemani anak sambil makan atau jalan-jalan.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----o0o-----

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Sarjana di bidang Ilmu Sosial. Magister Manajemen di bidang Marketing, Praktisi Psikologi Industri & Komunikasi, dan Praktisi Perbankan.
 
 
  
 
www.holiparent.blogspot.com diterbitkan oleh "Holiparent Studio 89" (dahulu "Jantera Study 89") yang memberikan bimbingan & konsultasi untuk anak-remaja-dewasa tentang Article Writing & Scientific Photography for  Communication & Creativity Purposes. Bimbingan & konsultasi di Jalan Anjasmoro V no. 24 Semarang setiap Senin-Jumat pk. 18.00-21.00 (Minggu pagi khusus Scientific Photography - Outdoor).

Sabtu, 22 September 2012

Menemani Anak : MENGGUNAKAN ANGKUTAN UMUM


Ketika istri saya bercerita bahwa ada anak salah satu kenalannya yang tidak mau berangkat sekolah naik angkutan umum (kebetulan mobil pribadi milik orang tua anak itu sedang rusak), saya hanya diam saja. 

Mungkin istri saya ingin tahu bagaimana pendapat saya tentang anak yang tidak mau naik angkutan umum seperti itu.

Saya diam saja, sebab saya memang tidak mau gegabah menyalahkan anak itu, yang tidak mau naik angkutan umum ke sekolah (= maunya selalu naik mobil pribadi). Sebab saya percaya bahwa anak tidak akan dengan tiba-tiba berperilaku seperti itu.

Maksud saya begini. Apakah selama ini orang tua anak itu  sudah memberi contoh   untuk tidak selalu tergantung pada mobil pribadi ketika bepergian ?

--------------------

Naik angkutan umum bagi (anak) yang belum terbiasa melakukannya memang tidak selalu mudah. Duduk bersama / berdesak-desakan dengan penumpang lain, plus aroma bau badan sekian banyak orang yang tidak dikenal (= penumpang lain), apalagi di saat panas terik tidak ada AC-nya memang bisa membuat nyali jadi ciut.  Belum lagi takut kecopetan. Atau ketularan flu atawa panu. Bahkan takut telat sampai sekolah juga bisa terjadi.

Saya sejak TK sampai kuliah naik angkutan umum. Tidak pernah telat. Tetapi istri saya bercerita, dulu  dia yang biasa diantar sopir ke sekolah naik mobil pribadi  malah beberapa kali telat.

Sebenarnya, bukan sopir atau mobil pribadinya yang membuat telat. Tetapi anak / orang itu sendiri yang membuat telat (bangun kesiangan dan sebagainya). Naik mobil pribadi maupun naik angkutan umum sama-sama bisa telat. Sama-sama bisa tidak telat juga.

Hanya saja, kalau terbiasa naik angkutan umum, anak / orang akan terlatih untuk disiplin dan membuat perencanaan yang matang supaya tidak telat, sebab angkutan umum tidak bisa disuruh-suruh semau kita sendiri (kecuali angkutan umum yang bernama taksi !).

--------------------

Kalau tidak ada rencana rapat dengan Bank Indonesia atau Dinas Tenaga Kerja atau dengan tamu di luar kantor, saya masih biasa ke mana-mana naik angkutan umum. Sebenarnya, ke Bank Indonesia naik angkutan umum juga tidak dilarang. Tetapi kalau rapat dengan Bank Indonesia 'kan saya harus pakai dasi dan jas. Nah, kalau naik angkutan umum sambil pakai dasi dan jas memang terlihat "terlalu menarik perhatian".

Ke mana-mana masih naik angkutan umu (sepanjang tidak pakai dasi dan jas, supaya tidak jadi perhatian penumpang lain) memang sengaja saya lakukan karena  ada unsur pendidikan untuk anak.  

Anak biasa meniru tingkah laku orang tuanya. Kalau orang tuanya pernah menunjukkan perilaku lebih baik tidak berangkat kerja kalau tidak ada mobil, maka anak juga akan demikian pula.

--------------------

Selamat menemani anak.

Selamat menemani anak untuk tidak terlalu lekat dengan mobil pribadi atau sejenisnya. Selamat menemani anak untuk berani naik angkutan umum.  Selamat menemani anak untuk bersosialisasi sambil naik angkutan umum. Tentu saja, anak juga perlu diberitahu : (1) Jangan memakai perhiasan emas yang menyolok. (2) Jangan "mainan" BlackBerry atau HP di jalan (potensial dirampas orang). (3) Dan sebagainya.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----o0o-----
Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Sarjana di bidang Ilmu Sosial. Magister Manajemen di bidang Marketing, Praktisi Psikologi Industri & Komunikasi, dan Praktisi Perbankan.
 
 
  
 
www.holiparent.blogspot.com diterbitkan oleh "Holiparent Studio 89" (dahulu "Jantera Study 89") yang memberikan bimbingan & konsultasi untuk anak-remaja-dewasa tentang Article Writing & Scientific Photography for  Communication & Creativity Purposes. Bimbingan & konsultasi di Jalan Anjasmoro V no. 24 Semarang setiap Senin-Jumat pk. 18.00-21.00 (Minggu pagi khusus Scientific Photography - Outdoor).

Jumat, 21 September 2012

Menemani Anak : MENANAMKAN POLA PIKIR PRODUKTIF




Stiker alias gambar tempel. Ya, benda yang satu ini disukai oleh anak-anak maupun orang dewasa. Tidak jarang kita bertemu mobil yang kacanya ditempeli bermacam-macam stiker. Kaca belakang mobil yang saya pakai juga ada stikernya : SMA Kolese Loyola, ELTI   (English Language Training International), EF (English First), dan CLT (Centre for Language Training).

Teman saya (seorang bankir) ada yang menempelkan stiker Manchester United di pintu mobilnya. Dan banyak teman-teman  yang berprofesi Advokat atau Dokter yang menempelkan stiker organisasi profesi (PERADI (Perhimpunan Advokat Indonesia) atau IDI (Ikatan Dokter Indonesia) di kaca mobilnya.

Stiker jadinya sudah seperti identitas diri.

--------------------

Bukan hanya membeli. Adakalanya anak (ingin) membuat stiker sendiri. Biasanya, didisain bersama teman-teman sekelas. Beramai-ramai membuat stiker untuk kenang-kenangan saat kenaikan kelas atau momen lainnya. 

Tetapi, bisa jadi anak ingin mendisain dan membuat stiker sendiri. Nah, orang tua dapat memanfaatkan momen ini untuk menemani dan menanamkan pola pikir kreatif - produktif dalam diri anak.

Dua tahun lalu, menjelang kelulusan SD, anak saya mendesain stiker (nantinya juga dibuat spanduk untuk foto bersama seluruh teman sekelasnya) : Stiker 6B. Uniknya, huruf "B" (dalam Bahasa Inggris dibaca "Be", homofon / sama bunyinya dengan "Bee" alias lebah) digantikan dengan gambar lebah.

Disain itu dibuat dengan cara sederhana saja. Hanya dengan MS-Word yang diberi gambar lebah (yang diambil dari Google / internet, tetapi di-edit lagi tata letaknya). 

Jadinya, sebagai sebuah kreasi disain stiker, boleh juga. Apalagi, ini dibuat oleh anak kelas 6 SD. Stiker dimaksud dapat dilihat pada gambar di atas.

--------------------

Apa yang dituliskan di sini dimaksudkan sebagai sharing : bahwa anak seringkali di luar dugaan orang tua ternyata sudah membuat disain-disain kreatif. (Saya tidak menduga sebelumnya bahwa saya akan punya ide untuk mendisain dan membuat stiker sendiri). Dan hal ini tentu memerlukan dukungan nyata dari orang tua. Misalnya, membantu anak mewujudkan disain itu menjadi stiker.

Kalau kita punya printer sendiri di rumah, cukup kita beli kertas stiker di toko-toko komputer (misalnya, di Matahari Plaza lantai 5 Semarang) untuk memprint disain stiker itu. Kertas stiker dijual dengan ukuran A-4 / kuarto.

Atau, ada juga cara lain untuk mem-print stiker yang didisain sendiri oleh anak (= anak membuat stiker sendiri). Di Semarang, stiker bisa di-print-kan di "Fotokopi Cendana" Jalan MT Haryono Semarang, tepatnya di seberang SMA Sedes Sapientiae Semarang. Untuk kertas stiker ukuran A-3 (double A-4 / double kuarto), biaya mem-print Rp 6.500,-. (Kalaupun anak mendisain stiker dengan MS-Word (karena belum bisa Corell Draw), petugas di "Fotokopi Cendana" yang akan mengubah file MS-Word ke file Corell Draw, karena mereka mem-print dengan Corell Draw).

Catatan : Stiker "6 Bee" untuk kelas 6B yang diceritakan di sini, dibuat dalam ukuran 1/2 halaman kuarto. Jadi, kalau biaya print kertas stiker ukuran A-3 adalah Rp 6.500,- maka harga produksi 1 stiker "6 Bee" adalah Rp 1.625,-. Seandainya dijual, stiker ukuran ini layak dijual dengan harga Rp 3.000,- sampai Rp 4.000,-. Tetapi dalam hal stiker "6 Bee", stiker ini hanya dibagi-bagikan saja untuk kenang-kenangan.

--------------------

Sebenarnya bukan hanya stiker. Kartu nama anak (bahkan kartu nama kita sendiri, contohnya kartu nama "Holiparent Studio 89" yang ditampilkan pada bagian akhir blog ini) bisa juga didisain sendiri. Anak bersama orang tua bisa membuat kegiatan bersama : mulai memilih kata-kata, memilih jenis huruf, memilih warna, memilih gambar, membuat disain tata letak, sampai memilih jenis kertas untuk kartu nama maupun stiker.

Dari kegiatan bersama orang tua ini (atau bersama teman-temannya) anak belajar untuk :
(1) Produktif, bukan konsumtif semata. Anak tidak hanya membeli stiker yang sudah jadi, tetapi anak punya pengalaman membuat stiker sendiri.
(2) Mentransformasi konsep menjadi kenyataan. Anak mewujudkan disain stikernya menjadi stiker betulan. Di sini anak belajar / mendapatkan pengalaman teknis mem-print. Entah itu mem-print dengan printer sendiri, ataupun mem-print dengan jasa orang lain (misalnya "Fotokopi Cendana").
(3) Bersosialisasi dan berbagi dengan orang lain. Stiker yang sudah jadi bisa dibagi-bagikan ataupun dijual (untuk dana kas kelas misalnya). Di sini, anak mendapatkan pengalaman berinteraksi bahkan bertransaksi bisnis dengan teman-temannya (menjual stiker).

--------------------

Selamat menemani anak.

Selamat menemani anak untuk memproduksi sesuatu, mulai dari menyusun konsep, membuat disain, sampai mencetak dan memasarkan / membagikan kepada orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian anak menjadi kreatif sekaligus punya ketrampilan sosial yang baik (dalam hal ini lewat me-marketing-kan stiker buatannya).

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----o0o-----

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Sarjana di bidang Ilmu Sosial. Magister Manajemen di bidang Marketing, Praktisi Psikologi Industri & Komunikasi, dan Praktisi Perbankan.
 
 
  
 
www.holiparent.blogspot.com diterbitkan oleh "Holiparent Studio 89" (dahulu "Jantera Study 89") yang memberikan bimbingan & konsultasi untuk anak-remaja-dewasa tentang Article Writing & Scientific Photography for  Communication & Creativity Purposes. Bimbingan & konsultasi di Jalan Anjasmoro V no. 24 Semarang setiap Senin-Jumat pk. 18.00-21.00 (Minggu pagi khusus Scientific Photography - Outdoor).