Selasa, 04 Desember 2018

Menemani Anak : HOLIPARENT - SKOT Parenting



Seminar Parenting untuk ibu / calon ibu & ayah / calon ayah yang ingin anaknya kelak siap memasuki dunia kerja di era industry 4.0 yang penuh dengan disruptive innovation.



Gambar :
Susana Adi Astuti, S.Pi, MM, M.Si 
(pemerhati Biopsychosocial, 
pengalaman di dunia industri selama lebih dari 20 tahun)


"Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka ?" begitulah pertanyaan yang menjadi kesimpulan obrolan saya dan istri (Susana) di suatu hari di bulan Nopember 2018.

Istri saya dan saya memang biasa ngobrol tentang banyak hal sesuai latar belakang kami yang memang  sama : 
- sama-sama menyelesaikan S-2 psikologi
- sama-sama menjadi pembicara di seminar-seminar tentang psikologi terkait parenting maupun pekerjaan / bisnis di perusahaan maupun sekolah
- sama-sama bekerja di industri perbankan selama lebih dari 20 tahun
- sama-sama menyesaikan S-2 manajemen
- sama-sama menyelesaikan S-1 budidaya perairan
- sama-sama lulus dari prodi IPA di SMA Kolese Loyola
- sama-sama menjadi instruktur karate dan menjadi anggota Keluarga Sabuk Hitam di INKADO Jawa Tengah.

Sudah tidak terhitung berapa banyak orang yang berkomentar, "Apa saja kok selalu bisa berdua". Dan dengan enteng kami jawab, "Karena kami mengikuti jalan hidup kami".

Kembali ke pertanyaan tentang apa yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka, saat itu istri saya dan saya sedang membahas tentang kenyataan banyaknya pertanyaan yang kami terima dari para ibu maupun ayah tentang bagaimana menemani anak supaya anak kelak bisa siap memasuki dunia kerja (karena perkembangan teknologi yang demikian pesat). Pertanyaan lain yang juga sering kami terima adalah bagaimana mengatasi masalah anak yang kecanduan bermain game dengan gadget. Tentu saja, pertanyaan tentang masalah bullying yang dialami anak, dan juga masalah kesulitan komunikasi orang tua dengan anak, tetap menjadi pertanyaan yang juga sering diajukan.

Itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang kami dapatkan ketika bertemu dengan para orang tua.


*****

Gambar :
Constantinus, S.Pi, S.Psi, MM, MM, M.Psi, Psikolog 
(pemerhati Ecopsychology, 
pengalaman di dunia industri selama lebih dari 20 tahun)

Ada lagi kenyataan yang lain.

Kenyataan ini kami temui di dunia industri / perusahaan. Ada banyak sekali orang yang sudah lulus sekolah / kuliah, tetapi tidak siap untuk bekerja di era industry 4.0 sekarang ini, sehingga tidak bisa diterima di perusahaan yang dilamarnya.

Tetapi ada juga yang sudah bisa diterima bekerja di perusahaan, dan diberikan pelatihan-pelatihan, namun akhirnya dievaluasi oleh manajemen perusahaan dan akhirnya diberhentikan sebagai karyawan karena tidak bisa mengikuti perkembangan di perusahaan (sesuai materi yang sudah diberikan dalam pelatihan).

"Sudah diberi pelatihan, tetapi tetap saja tidak bisa menjalankan pekerjaan dengan baik," demikian kalimat umum yang biasanya dilontarkan oleh manajemen perusahaan.

Sebagai orang dengan latar belakang psikologi, manajemen, dan kerekayasaan (engineering), saya maupun istri akan memberikan tanggapan yang sangat logis, "Orang itu sejak kecil dibesarkan dengan pola asuh orang tuanya, selama belasan tahun. Adalah sulit untuk merubah orang itu hanya dengan pelatihan selama beberapa hari di perusahaan".

*****

Apakah permasalahan di atas juga terjadi pada anak yang diharapkan oleh orang tuanya untuk meneruskan (dan mengembangkan) perusahaan yang sudah dirintis dan didirikan oleh orang tuanya ?

Ya !

Permasalahan di atas juga muncul di kalangan keluarga wirausahawan, bukan hanya di kalangan para pencari kerja.

*****

Diskusi-diskusi saya dan istri dengan para guru (dan juga dosen) juga menunjukkan bahwa guru (maupun dosen) saja tidak cukup untuk menyiapkan anak (atau remaja / orang dewasa awal) untuk menyiapkan seseorang untuk memasuki dunia kerja.

Keterbatasan alokasi waktu untuk mengajar sekian banyak materi yang ditetapkan dalam kurikulum, dengan  jumlah murid yang sekian banyak, membuat guru (dan juga dosen) memerlukan dukungan dari orang tua.

*****


Apa artinya ?

Pengalaman di atas menunjukkan bahwa parenting adalah sangat penting untuk menyiapkan seseorang supaya siap memasuki dunia kerja (di saat anak sudah dewasa). Kehidupan seseorang adalah suatu kontinum. Artinya, apa yang didapatkan seseorang di masa kanak-kanak, akan berpengaruh pada masa remaja dan dewasa secara berkesinambungan. Karena memang begitulah manusia itu. Karena manusia bukanlah robot yang bisa diprogram ulang setiap saat (dengan menghapus memory yang sudah terlanjur ada).

*****

Selamat menemani anak.

Selamat mengikuti seminar tentang parenting untuk menemani anak di zaman now.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

 ----- oOo -----

Mengisi hari Minggu dengan menambah ilmu
SEMINAR PARENTING
untuk ibu / calon ibu
& ayah / calon ayah

Minggu ke-3 setiap bulan
pk 10.00 - 14.00 di Happy Resto
Jl. D.I. Panjaitan 19 Semarang

Menemani anak dan remaja di era milenium ke-3 memiliki keunikan tersendiri. Terlebih lagi, mempersiapkan mereka untuk memasuki dunia kerja di era industry 4.0 yang penuh dengan disruptive innovation.

Melanjutkan seminar-seminar yang kami adakan di berbagai sekolah dan perusahaan, serta konsultasi kami tentang parenting sejak tahun 2007, program ini dipersembahkan bagi para ibu / calon ibu & ayah / calon ayah yang sangat peduli pada pentingnya kegiatan menemani anak & remaja di zaman now.

- Januari : Menemani anak berbasis minat bakat
- Februari : Menemani anak berbasis kecerdasan multipel
- Maret : Menemani anak berbasis kepribadian
- April : Menemani anak berbasis biopsychosocial
- Mei : Menemani anak berbasis ecopsychology
- Juni : Menemani anak untuk menumbuhkembangkan kepemimpinan sejak dini
- Juli : Menemani anak untuk keseimbangan intelektual, spirit, dan fisik
- Agustus : Menemani anak dengan kegiatan science-smile photography
- September : Menemani anak dengan jurnalistik
- Oktober : Menemani anak dengan kegiatan wicara
- Nopember : Menemani anak dengan kegiatan laboratorium sederhana
- Desember : Menemani anak dengan kegiatan wirausaha


Untuk bulan Januari 2019
seminar parenting akan diadakan 
tanggal 20 Jan 2019 (Minggu ke-3)
bertempat di Happy Resto 
Jalan D.I. Panjaitan 19 Semarang 

pk. 10.00 - 14.00 WIB



Investasi Rp 150.000,- 
per orang untuk tiap program
(Early bird Rp 100.000,-)

Fasilitas : ruang AC, makan siang, materi

Seminar Parenting diadakan oleh
HOLIPARENT - SKOT Parenting
Sekretariat : 
Jalan Anjasmoro V no. 24 Semarang 50149

Info lengkap :
Susana (WA : 085 215 406 189)


Gambar :
Brosur Seminar Parenting

 HOLIPARENT - SKOT Parenting
(Social Kindness for 
Opportunities and Top Grading)
 adalah bagian dari HOLIPARENT 
(Holistic Parenting, berdiri sejak 
5 Agustus 2012).



www.skot.holiparent.com

Minggu, 25 November 2018

Menemani Anak : Mengenali Bakat Anak






 Oleh :
 Constantinus, S.Pi, Psikolog
(Ekopsikologi)
&
Susana Adi Astuti, S.Pi, M.Si
(Biopsikososial)

Bakat adalah anugerah dari Tuhan yang diberikan kepada masing-masing orang. Ada orang yang berbakat menyani, ada orang yang berbakat menari, ada orang yang berbakat menjadi atlet olah raga. Kalau orang itu ditanya, bagaimana dia bisa punya bakat itu, maka dia akan menjawab "tidak tahu". Ya, bakat adalah sesuatu yang inheren. Artinya, sudah ada secara alamiah di pada seseorang.

Kemarin, Sabtu 24 Nopember 2018, kami berdua (saya dan istri) melakukan obrolan ringan dengan sepasang suami istri tentang pentingnya menemani anak untuk mengembangkan bakat anak. Untuk apa ? Supaya anak dapat mengembangkan bakatnya, dan nantinya hidup di dunia kerja dengan bakat yang sudah berkembang karena dukungan orang tua. Kami menceritakan pengalaman-pengalaman yang kami alami dalam menemani para orang tua dalam melakukan parenting. Kami menceritakan juga tentang anak-anak muda yang menjadi apatis ketika harus memasuki dunia kerja, karena ketika remaja karena orang tua menghambat pengembangan bakatnya, dengan alasan bakat itu tidak bergengsi atau tidak banyak dibutuhkan di dunia kerja.

(Bersambung)


Sabtu, 24 November 2018

Menemani Anak : Biopsikososial dengan SKOT Parenting


Susana Adi Astuti, S.Pi, M.Si adalah praktisi dan konsultan parenting dengan pendekatan biopsikososial. Lulus dengan predikat cumlaude dari program sarjana budidaya perairan Universitas Diponegoro tahun 1994, dan lulus dengan predikat cumlaude dari program magister psikologi Unika Soegijapranata tahun 2018. Pemegang sabuk hitam karate dan aktif mengajar karate terutama untuk para wanita usia remaja dan dewasa dalam kerangka biopsikososial. Susana juga memberikan seminar tentang parenting bagi karyawan dan keluarganya di berbagai perusahaan.


Sabtu, 03 November 2018

Menemani Anak : Menjadi Pemimpin Tidak Harus Menjadi Ketua

Menjadi pemimpin di bidangnya bukan berarti harus menjadi ketua kepanitiaan / kegiatan.
Anak bisa saja menjadi pemimpin di bidangnya (panutan bagi orang lain) 
sesuai dengan minat bakatnya.
Misalnya, menjadi orang yang menonjol secara akademis.




Oleh :
Susana Adi Astuti, S.Pi, MM, M.Si
(Psikologi Sosial & Lingkungan)

Constantinus, S.Pi, S.Psi, MM, MM, M.Psi, Psikolog
(Psikologi Organisasi & Lingkungan)

*****

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak pembaca blog inspirasi pendidikan Holiparent yang terhormat,

Ada pertanyaan yang menggelitik untuk direnungkan dalam rangka menemani anak menjadi pemimpin di bidangnya : apakah hal ini berarti bahwa anak harus menjadi ketua dalam kepengurusan kelas, atau kepanitiaan, atau semacamnya ?

Jawabannya adalah : tidak !

Menemani anak dalam rangka mendukung anak supaya menjadi pemimpin di bidangnya bukan berarti mengarahkan anak untuk menjadi ketua kepengurusan / kepanitiaan.

Memang, menjadi ketua memang merupakan salah satu perwujudan menjadi pemimpin. Akan tetapi, itu bukanlah satu-satunya. Anak bisa saja menjadi wakil ketua, sekretaris / wakil sekretaris, bendahara / wakil bendahara, ketua seksi / wakil ketua seksi. Semua itu juga sudah termasuk dalam istilah pemimpin di bidangnya.

PEMIMPIN DI BIDANGNYA
TAPI TIDAK MENJADI PENGURUS ORGANISASI

Pertanyaan berikutnya adalah : apakah menjadi pemimpin di bidangnya itu berarti harus menjadi pengurus organisasi sebagai mana dicontohkan di atas : menjadi ketua / wakil ketua, menjadi sekretaris / wakil sekretaris, menjadi bendahara / wakil bendahara, mwnjadi ketua seksi / wakil ketua seksi ?

Jawabannya adalah : tidak !

Anak bisa saja menjadi anggota dari kelas / kegiatan ekstra kurikuler leadership, misalnya. Di kelas seperti ini, diajarkan berbagai macam ilmu tentang kepemimpinan, disertai dengan penugasan-penugasan untuk mengasah ketrampilan memimpin. Maka, meskipun di kelas leadership ini anak tidak menjadi pengurus kelas, tetapi dia sudah menjalankan peran sebagai pemimpin : memengaruhi / menggerakkan / meyakinkan orang lain untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai.

Atau, anak memang lebih berminat / berbakat di bidang kepenulisan / jurnalistik, musik, olah raga, dan sebagainya. Artinya, anak memang sangat suka secara permanen dengan kegiatan ini (= berminat) dan / atau menonjol dibandingkan teman sebayanya (= berbakat). Di sini pun, anak sudah menjadi pemimpin di bidangnya meski bukan menjadi ketua / pengurus organisasi. Anak menjadi pemimpin karena sangat terampil / memunyai keahlian di bidang ini, sehingga dia bisa menginspirasi orang lain yang ingin belajar hal ini, dan orang lain menjadikan anak sebagai panutan (idola) dalam bidang ini. Misalnya :
- Anak memunyai sabuk hitam karate. Maka dia menjadi panutan / idola bagi teman-temannya yang ingin belajar karate. Di sini, dia sudah menjadi pemimpin di bidangnya.
- Anak memunyai keahlian yang menonjol di bidang kepenulisan / jurnalistik. Dia sudah menjadi panutan, sudah menjadi pemimpin di bidangnya, bagi teman-temannya yang ingin belajar kepenulisan / jurnalistik.
- Anak memiliki nilai akademis (rapor) yang baik. Ini juga berarti sudah menjadi panutan / pemimpin di bidangnya, karena menjadi tempat bertanya bagi teman-temannya.

*****

Selamat menemani anak....

Menemani anak menjadi pemimpin berarti mendukung anak menjadi ahli di bidangnya.... 
dan menjadi panutan / idola / tempat bertanya (belajar) bagi orang lain; 
tidak harus menjadi ketua, tidak harus menjadi pengurus....

"MENEMANI ANAK = MENCERDASKAN BANGSA"

----- oOo -----

Tentang penulis :

Susana dan Constantinus adalah pasangan suami istri. Keduanya lulus dari SMA Kolese Loyola tahun 1989. Alamat rumah : Jalan Anjasmoro V no. 24 Semarang 50149. WA : 085 215 406 189.





Jumat, 02 November 2018

Menemani Anak : Memupuk Minat Bakat Kepemimpinan di Bidangnya

Kepemimpinan di bidang kepenulisan / jurnalistik
memerlukan dukungan dari orang tua, 
sejak anak masih di usia sekolah dasar
sampai dengan usia sekolah menengah,
sebagai bekal di usia dewasa.



Oleh :

Susana Adi Astuti, S.Pi, MM, M.Si
(Psikologi Sosial dan Lingkungan)

Constantinus, S.Pi, S.Psi, MM (Mktg), MM (SDM), M.Psi, Psikolog
(Psikologi Organisasi dan Lingkungan)


Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak pembaca blog inspirasi pendidikan kreatif Holiparent yang terhormat,

Masih terkait dengan tulisan edisi 1 Nopember 2018 tentang menemani anak sesuai tahap perkembangannya, tulisan edisi 2 Nopember 2018 ini menguraikan betapa kegiatan menemani anak itu sangat penting bagi masa depan anak, termasuk ketika anak memasuki dan meniti karir di dunia kerja (entah sebagai pemilik perusahaan, entah sebagai karyawan). Anak sudah harus ditemani sejak masih usia sekolah dasar (SD) supaya minat bakatnya berkembang sehingga bisa menjadi pemimpin di bidang tertentu. Kalau anak sudah terlanjur dewasa (usia kuliah), maka akan semakin sulit untuk ditemani / dididik supaya memunyai minat bakat kepemimpinan di bidang tertentu.

Mengapa anak perlu ditemani supaya minat bakatnya menjadi pemimpin (di bidang tertentu) bisa berkembang ?  Karena dalam kenyataannya, orang yang menjadi pemimpin memiliki kesejahtaraan yang baik (dibandingkan yang bukan pemimpin), dan setiap orang tua pasti ingin anaknya menjadi sejahtera dalam pekerjaannya kelak. Kesejahteraan itu merupakan anugerah dari Tuhan, dan manusia harus berdoa dan berusaha untuk itu. Salah satu bentuk usaha nyata dari orang tua adalah dengan menemani anak-anaknya untuk mengembangkan minat bakat kepemimpinan anak di bidangnya masing-masing.


*****

Tidak dapat dipungkiri bahwa ketika perusahaan mulai berkembang, diperlukan lebih banyak orang untuk menjalankan peran sebagai pemimpin di berbagai bidang yang ada dalam perusahaan itu. Di sini digunakan kata pemimpin, bukan manajer. Manajer adalah orang yang menjalankan manajemen perusahaan, dengan melakukan plan, do, check, dan action untuk perbaikan / penyempurnaan lebih lanjut. Sedangkan pemimpin adalah orang yang meyakinkan, memengaruhi, menggerakkan setiap orang di dalam timnya, supaya semua orang itu bergerak bersama, melakukan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai. Jelas bahwa perusahaan tidak sekedar membutuhkan orang-orang untuk menjalankan peran sebagai manajer (mulai dari manajer tingkat paling bawah yaitu supervisor). Perusahaan membutuhkan orang-orang untuk menjalankan peran sebagai pemimpin sekaligus manajer.

MINAT BAKAT KEPEMIMPINAN

Pertanyaannya adalah : apakah semua orang dapat dididik untuk menjadi pemimpin di bidangnya ? Jawabannya adalah : tidak, tidak semua orang dapat dididik untuk menjadi pemimpin di bidangnya. Hanya orang-orang yang memunyai bakat atau minimal minat tentang kepemimpinan, yang menjadi pemimpin. Orang dikatakan memiliki bakat kepemimpinan di bidang tertentu kalau dia menonjol dibandingkan orang lain dalam hal itu. Bakat ini bersifat inheren, artinya melekat secara alamiah dalam diri orang itu. Sedangkan orang dikatakan memiliki minat kepemimpinan di bidang tertentu kalau dia menonjol dibandingkan orang lain dalam hal itu, akan tetapi dia sendiri menyadari bahwa ke-menonjol-an (keunggulan) ini dikarenakan dia banyak memelajari bidang tertentu tersebut karena dia merasa suka. Memang pada kenyataannya sulit membedakan apakah seseorang menonjol karena dia berbakat atau karena dia berminat. Oleh karena itu, digunakan istilah minat bakat sebagai satu kesatuan.

Untuk bisa menjadi orang yang memiliki minat bakat kepemimpinan di bidang tertentu, maka orang itu harus memiliki tujuan hidup ingin menjadi ahli di bidangnya, memiliki kecerdasan yang sesuai dengan bidangnya, dan memiliki kepribadian yang ekstrovert + intuitif + thinking + judging.

Sangat kecil kemungkinannya, seseorang bisa menjadi pemimpin di semua bidang. Oleh karena itu, dalam tulisan ini digunakan istilah menjadi pemimpin di bidangnya. Bidang yang dimaksudkan di sini mengacu pada macam-macam kecerdasan menurut Dr. Howard Gardner, yaitu : 
1. Kecerdasan logika matematika
2.  Kecerdasan eksistensial spiritual (berpikir mendalam, berpikir filsafat)
3. Kecerdasan bahasa
4. Kecerdasan interpersonal (menjalin relasi dengan orang lain)
5. Kecerdasan interpersonal (sadar diri, sadar untuk mengembangkan potensi diri)

Kecerdasan 1 sampai 5 diperlukan untuk menjadi pemimpin secara umum. Artinya, menjadi pemimpin di bidang apapun, memerlukan kecerdasan yang tinggi di lima macam kecerdasan tersebut.

Selanjutnya, masih ada macam-macam kecerdasan yang lain, yaitu :
6. Kecerdasan visual spasial (terkait dengan desain ruang, arsitektur, dan semacamnya)
7. Kecerdasan kinestetik tubuh (terkait dengan olah raga, menari, dan semacamnya)
8. Kecerdasan musikal (terkait dengan musik)
9. Kecerdasan natural (terkait dengan alam, beternak, berkebun, dan semacamnya)

Untuk menjadi pemimpin sebuah tim arsitek, misalnya, maka orang itu harus memiliki kecerdasan nomor 1 – 5 ditambah dengan kecerdasan nomor 6. Untuk menjadi pemimpin sebuah tim musik, orang itu harus memiliki kecerdasan nomor 1 – 5 ditambah dengan kecerdasan nomor 8.

Tetapi, sesungguhnya kecerdasan itu apa ?

Kecerdasan adalah kemampuan seseorang untuk memelajari hal-hal baru secara utuh dalam kondisi yang berubah secara cepat.

Selain hal-hal di atas, masih ada yang harus diperhatikan, yaitu kepribadian. Kepribadian adalah kombinasi dari kecerdasan dan kondisi fisik untuk bereaksi / berinteraksi dengan orang lain / lingkungan. Untuk menjadi pemimpin, seseorang harus memunyai kepribadian :
  1. Ekstrovert (mendapatkan semangat  dari orang di sekitarnya / lingkungannya, dan memberikan semangat kepada orang di sekitarnya / lingkungannya)
  2. Intuitif (melihat makna di balik peristiwa, bukan sekedar memperhatikan fakta saja)
  3. Thinking (menggunakan logika, bukan sekedar perasaan suka – tidak suka)
  4. Judging (memunyai pendapat berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, bukan sekedar mengekor orang lain)

*****

Selamat menemani anak…..

“Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa”

----- oOo -----


Kamis, 01 November 2018

Menemani Anak Sesuai dengan TAHAP PERKEMBANGAN ANAK

 Agatha mengetik dengan mesin ketik manual, 
sebelum dia mempunyai komputernya sendiri




Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak pembaca Blog Holiparent yang terhormat,

Mulai 1 Nopember 2018, Holiparent hadir kembali dengan tulisan-tulisan yang ditujukan untuk menemani para orang tua dalam menemani anak-anaknya.

Kali ini, Holiparent memuat tulisan tentang perkembangan anak. Tulisan ini dibuat oleh Susana Adi Astuti, S.Pi, MM, M.Si, seorang pemerhati psikologi sosial dan lingkungan. Susana menyelesaikan pendidikan sarjana di bidang budidaya perairan / perikanan dengan predikat cumlaude, magister manajemen di bidang pemasaran dengan predikat cumlaude, dan magister sain di bidang psikologi dengan predikat cumlaude. Dia pernah bekerja di bank umum selama 20 (dua puluh) tahun, di bidang layanan nasabah, operasional, dan juga marketing, mulai dari posisi staf hingga manajerial. Susana mempunyai sabuk hitam karate, dan melatih karate untuk wanita remaja dan dewasa.

Semoga bermanfaat !

Salam Redaktur,

(Constantinus, S.Pi, S.Psi, MM (Mktg), MM (SDM), M.Psi, Psikolog)

*****

MENEMANI ANAK SESUAI DENGAN
TAHAP PERKEMBANGAN ANAK

Oleh :
Susana Adi Astuti, S.Pi, MM, M.Si

Menurut Erikson, perkembangan anak dibagi menjadi  :
·         masa bayi (sejak lahir sampai usia 1 tahun)
·         masa kanak-kanak awal /early childhood  (lebih dari 1 tahun sampai dengan  3 tahun)
·         usia bermain /play Age (lebih dari 3 tahun sampai dengan 5 tahun)
·         usia sekolah (lebih dari 5 tahun sampai dengan 13 tahun)
Kali ini saya akan membahas anak pada usia sekolah.

Mengapa ?

Karena masa ini penting untuk tugas perkembangan anak selanjutnya di masa remaja.

Anak usia sekolah menurut Erikson  digolongkan dalam rentang umur antara 6 tahun (atau lebih dari 5 tahun) sampai 13 tahun. Periode disebut juga sebagai masa latensi psikoseksual. Masa ini  memungkinkan anak untuk mengalihkan kelebihan energinya untuk mempelajari interaksi sosial di luar diri dan lingkungan keluarganya.  Mereka mulai membentuk gambaran diri sebagai ego identity, saya atau ke-saya-an, yang nantinya akan berkembang secara utuh ketika masa remaja.

*****

Agatha di usia 8 tahun berlatih karate dengan sabuk putih. 

Saya dan suami juga berlatih karate untuk menemani Agatha. 



Ketika anak saya (namanya Agatha) berumur 8 atau 9 tahun, saya dan suami membelikan personal computer (PC) dan kamera untuknya.  Saya dan suami bersepakat untuk membentuk kompetensi dirinya,  supaya rasa percaya dirinya meningkat.

Tiap akhir pecan, saya dan suami berburu foto (ini adalah istilah yang kami pakai untuk kegiatan outbound) ke tgempat yang dia sukai. Kemudian foto akan dia upload ke komputer, dengan diberi tulisan tulisan singkat tentang perjalanan kami hari itu.

Agatha melakukan apa yang dia sukai, yaitu memfoto objek yang menjadi minatnya, dan membuat cerita-cerita tentang foto tersebut. 

Ini adalah salah satu contoh kegiatan dalam menemani anak, supaya anak tumbuh dengan memiliki percaya diri yang sesuai dengan usianya, dan juga memiliki kompetensi yang sangat penting untuk modal perkembangan selanjutnya di masa remaja.

Saat ini Agatha adalah mahasiswa teknologi pangan di Unika Soegijapranata, dan aktif menjadi jurnalis sejak masih di Sekolah Dasar sampai sekarang. Saat ini Agatha adalah aktivis Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers Paraga, serta jurnalis Kronik yang dikelola oleh Humas Unika Soegijapranata.

*****

 Agatha sedang latihan split ketika masih sabuk putih


Karena pada masa ini anak sedang dalam pembentukan ego, maka kalau tidak didampingi atau ditemani orang tuanya, dikawatirkan mereka akan mengalami kesulitan ketika menginjak masa remaja.

Anak masa sekolah sedang mengembangkan diri terutama untuk mengembangkan kekuatan dasar kompetensi, yaitu rasa percaya diri untuk menggunakan kemampuannya, baik fisik maupun kognitif dalam menyelesaikan masalah yang mengiringi usia sekolah mereka. Apabila orang tua gagal mendidik (dalam arti tidak pernah menemani anak), maka kompetensi dalam diri yang harusnya berkembang, menjadi surut bahkan mereka tidak berhasil untuk mengembangkannya sama sekali. Akibatnya timbul rasa rendah diri, yang terus akan terus diingatnya sampai usia remaja.

Kasihan bukan, apabila anak kita mempunyai rasa rendah diri ?

Anak yang rendah diri terlihat tidak semangat, minder, tidak mau bergaul, selalu pesimis. Akibatnya mereka menutup diri dan menjadi anak yang asosial, tidak mau bergaul dengan teman. Temannya menganggap dia sombong, dan semakin mengucilkannya dalam pergaulan dengan teman sebaya.

Bisa dibayangkan : pergi ke sekolah adalah suatu sikasaan bagi anak-anak seperti ini….

Maka dari itu penting bagi orang tua untuk selalu menemani, dan menumbuhkan kompetensi dalam diri anak, sehingga anak berkembang sempurna, tanpa merasa ada paksaan.
  
*****

 Agatha (nomor 2 dari kanan) bersama saya dan suami,
 berfoto setelah lulus ujian sabuk hitam di tahun 2017. 
Yang memakai pakaian hitam adalah Sihan Yani, 
Wakil Ketua Dewan Guru INKADO.



Selamat menemani anak….

“MENEMANI ANAK = MENCERDASKAN BANGSA”

--- oOo ---



Minggu, 30 September 2018

Menemani Anak : Membuat Film tentang Lingkungan Hidup

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak pembaca Blog Inspirasi Pendidikan Kreatif "HOLIPARENT" yang terhormat,

Kali ini saya menuliskan salah satu cara untuk menemani anak secara mudah, mudah, dan bermanfaat, yaitu tentang membuat film pendek tentang semut dan tentang ulat bulu.



1. MUDAH

Semut ada di sekitar kita dalam kehidupan sehari-hari. Begitu juga ulat bulu. Memang, anak harus diberitahu untuk tidak mengganggu makhluk hidup ini, karena kalau merasa terusik, mereka bisa membuat kita gatal / sakit. Di sini, kita sudah menambahkan pengetahuan kepada anak : semua makhluk hidup (termasuk semut dan ulat bulu) pasti punya mekanisme untuk mempertahankan diri.

Smartphone untuk membuat film juga umumnya sudah kita miliki. Di dalamnya, pada umumnya terdapat fasilitas untuk membuat video / film pendek.



2. MURAH

Karena mudah mendapatkannya, maka relatif tidak ada biaya untuk mendatangkan semut atau ulat bulu yang akan dijadikan objek film pendek (ha....ha....ha....).

Smartphone juga yang sudah dimiliki saja. Tidak usah secara khusus beli handycam untuk membuat film tentang lingkungan hidup.



3. BERMANFAAT

Karena film yang dibuat adalah terkait dengan lingkungan hidup, maka pengetahuan anak akan bertambah. Bukan hanya pengetahuan tentang lingkungan hidup, tetapi juga pengetahuan tentang membuat film tentang lingkungan hidup. Yang penting adalah selalu siap untuk mem-film-kan hal-hal yang menarik tentang lingkungan hidup.

Selamat menemani anak !

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

----- oOo -----

Film dan tulisan oleh :
Constantinus, S.Pi, S.Psi, MM (Mktg), MM (SDM), M.Psi, Psikolog
Surat Izin Praktik Psikologi no. : 14561821

Alamat : Jl. Anjasmoro V / 24 Semarang 50149
WA : 082 136 424 089

Penulis adalah psikolog dan peminat lingkungan hidup. 
Menyelesaikan pendidikan dalam ilmu 
psikologi, budidaya perairan, manajemen marketing, dan manajemen sumberdaya manusia.

Wakil Ketua INKADO (Indonesia Karate-Do) Pengurus Provinsi Jawa Tengah,
melatih karate di beberapa dojo di Semarang.

Sehari-hari bekerja sebagai praktisi psikologi industri dan organisasi.
  

Senin, 02 April 2018

Menemani Anak untuk Memasuki Dunia Kerja (Bagian III)


Kecerdasan dan juga kepribadian anak di satu pihak, dan kecerdasan dan juga kepribadian orang tua di lain pihak, sangat menentukan sampai kapan orang tua menemani anak bermain dan belajar.

Ditinjau dari kecerdasan dan kepribadian orang tua, apabila orang tua tidak memiliki pengetahuan, pemahaman, dan ketrampilan yang mencukupi tentang menemani anak bermain dan belajar, maka orang tua harus segera mengajak orang lain yang memiliki pengetahuan, pemahaman, dan ketrampilan yang mencukupi tentang hal ini. Dengan demikian, kegiatan orang tua dalam menemani anak bermain dan belajar berjalan dengan baik.

Membaca tulisan dalam Blog Inspirasi Pendidikan Kreatif "HOLIPARENT" ini juga merupakan salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang menemani anak bermain dan belajar. Selain itu, dapat juga dilakukan dengan membaca buku atau majalah tentang hal ini.

(Bersambung)

*****

Selamat menemani anak....
Menemani anak = mencerdaskan bangsa

----- oOo -----


Keseimbangan antara Bekerja dengan Menemani Anak

"Ada sebagian orang tua yang berpikir
bahwa bekerja dan meniti karir
adalah lebih penting daripada
menemani anaknya bermain dan belajar.
Padahal, pengalaman anak
bermain dan belajar bersama orang tua
di masa kanak-kanak itulah yang
akan menjadi pondasi dari TUJUAN HIDUP, 
KECERDASAN, dan KEPRIBADIAN orang itu
sebagai manusia dewasa di dunia kerja."

*****

Selamat menemani anak.....
Menemani anak = mencerdaskan bangsa

*****

Oleh :
Susana Adi Astuti, S.Pi, MM. Cand.M.Si(Psi)
Constantinus, S.Pi, S.Psi, MM, MM, M.Psi, Psikolog
www.holiparent.blogspot.com

----- oOo -----



Minggu, 01 April 2018

Orang Tua Sangat Besar Pengaruhnya


"Orang tua sangat besar pengaruhnya
terhadap anak karena dua hal ini.
Yang pertama adalah sifat genetis.
Yang kedua adalah pengalaman
menemani anaknya belajar
sampai anak usia (lulus) sekolah dasar.
Kedua hal ini akan dibawa anak
sampai memasuki dunia kerja."


*****

Selamat menemani anak.....
Menemani anak = mencerdaskan bangsa

*****

Oleh :
Susana Adi Astuti, S.Pi, MM. Cand.M.Si(Psi)
Constantinus, S.Pi, S.Psi, MM, MM, M.Psi, Psikolog
www.holiparent.blogspot.com

----- oOo -----


Menemani Anak untuk Memasuki Dunia Kerja (Bagian II)



Sebagaimana tampak pada model di atas, proses belajar seseorang ----- sejak masa kanak-kanak sampai dengan dewasa ----- adalah suatu kontinum, artinya merupakan mata rantai yang sambung-menyambung. Pengalaman anak yang di masa kecilnya ditemani belajar oleh orang tuanya (dan tentu saja juga hasil belajarnya) memberikan pengaruh pada proses (dan hasil) belajar anak tersebut di masa remaja (SMP dan SMA / sederajat), hingga nantinya sampai dewasa. Pengalaman yang baik dan menyenangkan tentang proses belajar (dan juga hasil belajar) di masa kanak-kanak karena ditemani oleh orang tuanya akan "dibawa" sampai dewasa; demikian pula sebaliknya.

Kembali ke pertanyaan awal : sampai kapan orang tua perlu menemani anak belajar ?

Jawabannya tergantung pada tingkat kecerdasan dan kepribadian anak (dan juga orang tuanya). 

(Bersambung)




----- oOo ---