Jumat, 02 November 2018

Menemani Anak : Memupuk Minat Bakat Kepemimpinan di Bidangnya

Kepemimpinan di bidang kepenulisan / jurnalistik
memerlukan dukungan dari orang tua, 
sejak anak masih di usia sekolah dasar
sampai dengan usia sekolah menengah,
sebagai bekal di usia dewasa.



Oleh :

Susana Adi Astuti, S.Pi, MM, M.Si
(Psikologi Sosial dan Lingkungan)

Constantinus, S.Pi, S.Psi, MM (Mktg), MM (SDM), M.Psi, Psikolog
(Psikologi Organisasi dan Lingkungan)


Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak pembaca blog inspirasi pendidikan kreatif Holiparent yang terhormat,

Masih terkait dengan tulisan edisi 1 Nopember 2018 tentang menemani anak sesuai tahap perkembangannya, tulisan edisi 2 Nopember 2018 ini menguraikan betapa kegiatan menemani anak itu sangat penting bagi masa depan anak, termasuk ketika anak memasuki dan meniti karir di dunia kerja (entah sebagai pemilik perusahaan, entah sebagai karyawan). Anak sudah harus ditemani sejak masih usia sekolah dasar (SD) supaya minat bakatnya berkembang sehingga bisa menjadi pemimpin di bidang tertentu. Kalau anak sudah terlanjur dewasa (usia kuliah), maka akan semakin sulit untuk ditemani / dididik supaya memunyai minat bakat kepemimpinan di bidang tertentu.

Mengapa anak perlu ditemani supaya minat bakatnya menjadi pemimpin (di bidang tertentu) bisa berkembang ?  Karena dalam kenyataannya, orang yang menjadi pemimpin memiliki kesejahtaraan yang baik (dibandingkan yang bukan pemimpin), dan setiap orang tua pasti ingin anaknya menjadi sejahtera dalam pekerjaannya kelak. Kesejahteraan itu merupakan anugerah dari Tuhan, dan manusia harus berdoa dan berusaha untuk itu. Salah satu bentuk usaha nyata dari orang tua adalah dengan menemani anak-anaknya untuk mengembangkan minat bakat kepemimpinan anak di bidangnya masing-masing.


*****

Tidak dapat dipungkiri bahwa ketika perusahaan mulai berkembang, diperlukan lebih banyak orang untuk menjalankan peran sebagai pemimpin di berbagai bidang yang ada dalam perusahaan itu. Di sini digunakan kata pemimpin, bukan manajer. Manajer adalah orang yang menjalankan manajemen perusahaan, dengan melakukan plan, do, check, dan action untuk perbaikan / penyempurnaan lebih lanjut. Sedangkan pemimpin adalah orang yang meyakinkan, memengaruhi, menggerakkan setiap orang di dalam timnya, supaya semua orang itu bergerak bersama, melakukan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai. Jelas bahwa perusahaan tidak sekedar membutuhkan orang-orang untuk menjalankan peran sebagai manajer (mulai dari manajer tingkat paling bawah yaitu supervisor). Perusahaan membutuhkan orang-orang untuk menjalankan peran sebagai pemimpin sekaligus manajer.

MINAT BAKAT KEPEMIMPINAN

Pertanyaannya adalah : apakah semua orang dapat dididik untuk menjadi pemimpin di bidangnya ? Jawabannya adalah : tidak, tidak semua orang dapat dididik untuk menjadi pemimpin di bidangnya. Hanya orang-orang yang memunyai bakat atau minimal minat tentang kepemimpinan, yang menjadi pemimpin. Orang dikatakan memiliki bakat kepemimpinan di bidang tertentu kalau dia menonjol dibandingkan orang lain dalam hal itu. Bakat ini bersifat inheren, artinya melekat secara alamiah dalam diri orang itu. Sedangkan orang dikatakan memiliki minat kepemimpinan di bidang tertentu kalau dia menonjol dibandingkan orang lain dalam hal itu, akan tetapi dia sendiri menyadari bahwa ke-menonjol-an (keunggulan) ini dikarenakan dia banyak memelajari bidang tertentu tersebut karena dia merasa suka. Memang pada kenyataannya sulit membedakan apakah seseorang menonjol karena dia berbakat atau karena dia berminat. Oleh karena itu, digunakan istilah minat bakat sebagai satu kesatuan.

Untuk bisa menjadi orang yang memiliki minat bakat kepemimpinan di bidang tertentu, maka orang itu harus memiliki tujuan hidup ingin menjadi ahli di bidangnya, memiliki kecerdasan yang sesuai dengan bidangnya, dan memiliki kepribadian yang ekstrovert + intuitif + thinking + judging.

Sangat kecil kemungkinannya, seseorang bisa menjadi pemimpin di semua bidang. Oleh karena itu, dalam tulisan ini digunakan istilah menjadi pemimpin di bidangnya. Bidang yang dimaksudkan di sini mengacu pada macam-macam kecerdasan menurut Dr. Howard Gardner, yaitu : 
1. Kecerdasan logika matematika
2.  Kecerdasan eksistensial spiritual (berpikir mendalam, berpikir filsafat)
3. Kecerdasan bahasa
4. Kecerdasan interpersonal (menjalin relasi dengan orang lain)
5. Kecerdasan interpersonal (sadar diri, sadar untuk mengembangkan potensi diri)

Kecerdasan 1 sampai 5 diperlukan untuk menjadi pemimpin secara umum. Artinya, menjadi pemimpin di bidang apapun, memerlukan kecerdasan yang tinggi di lima macam kecerdasan tersebut.

Selanjutnya, masih ada macam-macam kecerdasan yang lain, yaitu :
6. Kecerdasan visual spasial (terkait dengan desain ruang, arsitektur, dan semacamnya)
7. Kecerdasan kinestetik tubuh (terkait dengan olah raga, menari, dan semacamnya)
8. Kecerdasan musikal (terkait dengan musik)
9. Kecerdasan natural (terkait dengan alam, beternak, berkebun, dan semacamnya)

Untuk menjadi pemimpin sebuah tim arsitek, misalnya, maka orang itu harus memiliki kecerdasan nomor 1 – 5 ditambah dengan kecerdasan nomor 6. Untuk menjadi pemimpin sebuah tim musik, orang itu harus memiliki kecerdasan nomor 1 – 5 ditambah dengan kecerdasan nomor 8.

Tetapi, sesungguhnya kecerdasan itu apa ?

Kecerdasan adalah kemampuan seseorang untuk memelajari hal-hal baru secara utuh dalam kondisi yang berubah secara cepat.

Selain hal-hal di atas, masih ada yang harus diperhatikan, yaitu kepribadian. Kepribadian adalah kombinasi dari kecerdasan dan kondisi fisik untuk bereaksi / berinteraksi dengan orang lain / lingkungan. Untuk menjadi pemimpin, seseorang harus memunyai kepribadian :
  1. Ekstrovert (mendapatkan semangat  dari orang di sekitarnya / lingkungannya, dan memberikan semangat kepada orang di sekitarnya / lingkungannya)
  2. Intuitif (melihat makna di balik peristiwa, bukan sekedar memperhatikan fakta saja)
  3. Thinking (menggunakan logika, bukan sekedar perasaan suka – tidak suka)
  4. Judging (memunyai pendapat berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, bukan sekedar mengekor orang lain)

*****

Selamat menemani anak…..

“Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa”

----- oOo -----


Kamis, 01 November 2018

Menemani Anak Sesuai dengan TAHAP PERKEMBANGAN ANAK

 Agatha mengetik dengan mesin ketik manual, 
sebelum dia mempunyai komputernya sendiri




Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak pembaca Blog Holiparent yang terhormat,

Mulai 1 Nopember 2018, Holiparent hadir kembali dengan tulisan-tulisan yang ditujukan untuk menemani para orang tua dalam menemani anak-anaknya.

Kali ini, Holiparent memuat tulisan tentang perkembangan anak. Tulisan ini dibuat oleh Susana Adi Astuti, S.Pi, MM, M.Si, seorang pemerhati psikologi sosial dan lingkungan. Susana menyelesaikan pendidikan sarjana di bidang budidaya perairan / perikanan dengan predikat cumlaude, magister manajemen di bidang pemasaran dengan predikat cumlaude, dan magister sain di bidang psikologi dengan predikat cumlaude. Dia pernah bekerja di bank umum selama 20 (dua puluh) tahun, di bidang layanan nasabah, operasional, dan juga marketing, mulai dari posisi staf hingga manajerial. Susana mempunyai sabuk hitam karate, dan melatih karate untuk wanita remaja dan dewasa.

Semoga bermanfaat !

Salam Redaktur,

(Constantinus, S.Pi, S.Psi, MM (Mktg), MM (SDM), M.Psi, Psikolog)

*****

MENEMANI ANAK SESUAI DENGAN
TAHAP PERKEMBANGAN ANAK

Oleh :
Susana Adi Astuti, S.Pi, MM, M.Si

Menurut Erikson, perkembangan anak dibagi menjadi  :
·         masa bayi (sejak lahir sampai usia 1 tahun)
·         masa kanak-kanak awal /early childhood  (lebih dari 1 tahun sampai dengan  3 tahun)
·         usia bermain /play Age (lebih dari 3 tahun sampai dengan 5 tahun)
·         usia sekolah (lebih dari 5 tahun sampai dengan 13 tahun)
Kali ini saya akan membahas anak pada usia sekolah.

Mengapa ?

Karena masa ini penting untuk tugas perkembangan anak selanjutnya di masa remaja.

Anak usia sekolah menurut Erikson  digolongkan dalam rentang umur antara 6 tahun (atau lebih dari 5 tahun) sampai 13 tahun. Periode disebut juga sebagai masa latensi psikoseksual. Masa ini  memungkinkan anak untuk mengalihkan kelebihan energinya untuk mempelajari interaksi sosial di luar diri dan lingkungan keluarganya.  Mereka mulai membentuk gambaran diri sebagai ego identity, saya atau ke-saya-an, yang nantinya akan berkembang secara utuh ketika masa remaja.

*****

Agatha di usia 8 tahun berlatih karate dengan sabuk putih. 

Saya dan suami juga berlatih karate untuk menemani Agatha. 



Ketika anak saya (namanya Agatha) berumur 8 atau 9 tahun, saya dan suami membelikan personal computer (PC) dan kamera untuknya.  Saya dan suami bersepakat untuk membentuk kompetensi dirinya,  supaya rasa percaya dirinya meningkat.

Tiap akhir pecan, saya dan suami berburu foto (ini adalah istilah yang kami pakai untuk kegiatan outbound) ke tgempat yang dia sukai. Kemudian foto akan dia upload ke komputer, dengan diberi tulisan tulisan singkat tentang perjalanan kami hari itu.

Agatha melakukan apa yang dia sukai, yaitu memfoto objek yang menjadi minatnya, dan membuat cerita-cerita tentang foto tersebut. 

Ini adalah salah satu contoh kegiatan dalam menemani anak, supaya anak tumbuh dengan memiliki percaya diri yang sesuai dengan usianya, dan juga memiliki kompetensi yang sangat penting untuk modal perkembangan selanjutnya di masa remaja.

Saat ini Agatha adalah mahasiswa teknologi pangan di Unika Soegijapranata, dan aktif menjadi jurnalis sejak masih di Sekolah Dasar sampai sekarang. Saat ini Agatha adalah aktivis Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers Paraga, serta jurnalis Kronik yang dikelola oleh Humas Unika Soegijapranata.

*****

 Agatha sedang latihan split ketika masih sabuk putih


Karena pada masa ini anak sedang dalam pembentukan ego, maka kalau tidak didampingi atau ditemani orang tuanya, dikawatirkan mereka akan mengalami kesulitan ketika menginjak masa remaja.

Anak masa sekolah sedang mengembangkan diri terutama untuk mengembangkan kekuatan dasar kompetensi, yaitu rasa percaya diri untuk menggunakan kemampuannya, baik fisik maupun kognitif dalam menyelesaikan masalah yang mengiringi usia sekolah mereka. Apabila orang tua gagal mendidik (dalam arti tidak pernah menemani anak), maka kompetensi dalam diri yang harusnya berkembang, menjadi surut bahkan mereka tidak berhasil untuk mengembangkannya sama sekali. Akibatnya timbul rasa rendah diri, yang terus akan terus diingatnya sampai usia remaja.

Kasihan bukan, apabila anak kita mempunyai rasa rendah diri ?

Anak yang rendah diri terlihat tidak semangat, minder, tidak mau bergaul, selalu pesimis. Akibatnya mereka menutup diri dan menjadi anak yang asosial, tidak mau bergaul dengan teman. Temannya menganggap dia sombong, dan semakin mengucilkannya dalam pergaulan dengan teman sebaya.

Bisa dibayangkan : pergi ke sekolah adalah suatu sikasaan bagi anak-anak seperti ini….

Maka dari itu penting bagi orang tua untuk selalu menemani, dan menumbuhkan kompetensi dalam diri anak, sehingga anak berkembang sempurna, tanpa merasa ada paksaan.
  
*****

 Agatha (nomor 2 dari kanan) bersama saya dan suami,
 berfoto setelah lulus ujian sabuk hitam di tahun 2017. 
Yang memakai pakaian hitam adalah Sihan Yani, 
Wakil Ketua Dewan Guru INKADO.



Selamat menemani anak….

“MENEMANI ANAK = MENCERDASKAN BANGSA”

--- oOo ---



Minggu, 30 September 2018

Menemani Anak : Membuat Film tentang Lingkungan Hidup

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak pembaca Blog Inspirasi Pendidikan Kreatif "HOLIPARENT" yang terhormat,

Kali ini saya menuliskan salah satu cara untuk menemani anak secara mudah, mudah, dan bermanfaat, yaitu tentang membuat film pendek tentang semut dan tentang ulat bulu.



1. MUDAH

Semut ada di sekitar kita dalam kehidupan sehari-hari. Begitu juga ulat bulu. Memang, anak harus diberitahu untuk tidak mengganggu makhluk hidup ini, karena kalau merasa terusik, mereka bisa membuat kita gatal / sakit. Di sini, kita sudah menambahkan pengetahuan kepada anak : semua makhluk hidup (termasuk semut dan ulat bulu) pasti punya mekanisme untuk mempertahankan diri.

Smartphone untuk membuat film juga umumnya sudah kita miliki. Di dalamnya, pada umumnya terdapat fasilitas untuk membuat video / film pendek.



2. MURAH

Karena mudah mendapatkannya, maka relatif tidak ada biaya untuk mendatangkan semut atau ulat bulu yang akan dijadikan objek film pendek (ha....ha....ha....).

Smartphone juga yang sudah dimiliki saja. Tidak usah secara khusus beli handycam untuk membuat film tentang lingkungan hidup.



3. BERMANFAAT

Karena film yang dibuat adalah terkait dengan lingkungan hidup, maka pengetahuan anak akan bertambah. Bukan hanya pengetahuan tentang lingkungan hidup, tetapi juga pengetahuan tentang membuat film tentang lingkungan hidup. Yang penting adalah selalu siap untuk mem-film-kan hal-hal yang menarik tentang lingkungan hidup.

Selamat menemani anak !

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

----- oOo -----

Film dan tulisan oleh :
Constantinus, S.Pi, S.Psi, MM (Mktg), MM (SDM), M.Psi, Psikolog
Surat Izin Praktik Psikologi no. : 14561821

Alamat : Jl. Anjasmoro V / 24 Semarang 50149
WA : 082 136 424 089

Penulis adalah psikolog dan peminat lingkungan hidup. 
Menyelesaikan pendidikan dalam ilmu 
psikologi, budidaya perairan, manajemen marketing, dan manajemen sumberdaya manusia.

Wakil Ketua INKADO (Indonesia Karate-Do) Pengurus Provinsi Jawa Tengah,
melatih karate di beberapa dojo di Semarang.

Sehari-hari bekerja sebagai praktisi psikologi industri dan organisasi.
  

Senin, 02 April 2018

Menemani Anak untuk Memasuki Dunia Kerja (Bagian III)


Kecerdasan dan juga kepribadian anak di satu pihak, dan kecerdasan dan juga kepribadian orang tua di lain pihak, sangat menentukan sampai kapan orang tua menemani anak bermain dan belajar.

Ditinjau dari kecerdasan dan kepribadian orang tua, apabila orang tua tidak memiliki pengetahuan, pemahaman, dan ketrampilan yang mencukupi tentang menemani anak bermain dan belajar, maka orang tua harus segera mengajak orang lain yang memiliki pengetahuan, pemahaman, dan ketrampilan yang mencukupi tentang hal ini. Dengan demikian, kegiatan orang tua dalam menemani anak bermain dan belajar berjalan dengan baik.

Membaca tulisan dalam Blog Inspirasi Pendidikan Kreatif "HOLIPARENT" ini juga merupakan salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang menemani anak bermain dan belajar. Selain itu, dapat juga dilakukan dengan membaca buku atau majalah tentang hal ini.

(Bersambung)

*****

Selamat menemani anak....
Menemani anak = mencerdaskan bangsa

----- oOo -----


Keseimbangan antara Bekerja dengan Menemani Anak

"Ada sebagian orang tua yang berpikir
bahwa bekerja dan meniti karir
adalah lebih penting daripada
menemani anaknya bermain dan belajar.
Padahal, pengalaman anak
bermain dan belajar bersama orang tua
di masa kanak-kanak itulah yang
akan menjadi pondasi dari TUJUAN HIDUP, 
KECERDASAN, dan KEPRIBADIAN orang itu
sebagai manusia dewasa di dunia kerja."

*****

Selamat menemani anak.....
Menemani anak = mencerdaskan bangsa

*****

Oleh :
Susana Adi Astuti, S.Pi, MM. Cand.M.Si(Psi)
Constantinus, S.Pi, S.Psi, MM, MM, M.Psi, Psikolog
www.holiparent.blogspot.com

----- oOo -----



Minggu, 01 April 2018

Orang Tua Sangat Besar Pengaruhnya


"Orang tua sangat besar pengaruhnya
terhadap anak karena dua hal ini.
Yang pertama adalah sifat genetis.
Yang kedua adalah pengalaman
menemani anaknya belajar
sampai anak usia (lulus) sekolah dasar.
Kedua hal ini akan dibawa anak
sampai memasuki dunia kerja."


*****

Selamat menemani anak.....
Menemani anak = mencerdaskan bangsa

*****

Oleh :
Susana Adi Astuti, S.Pi, MM. Cand.M.Si(Psi)
Constantinus, S.Pi, S.Psi, MM, MM, M.Psi, Psikolog
www.holiparent.blogspot.com

----- oOo -----


Menemani Anak untuk Memasuki Dunia Kerja (Bagian II)



Sebagaimana tampak pada model di atas, proses belajar seseorang ----- sejak masa kanak-kanak sampai dengan dewasa ----- adalah suatu kontinum, artinya merupakan mata rantai yang sambung-menyambung. Pengalaman anak yang di masa kecilnya ditemani belajar oleh orang tuanya (dan tentu saja juga hasil belajarnya) memberikan pengaruh pada proses (dan hasil) belajar anak tersebut di masa remaja (SMP dan SMA / sederajat), hingga nantinya sampai dewasa. Pengalaman yang baik dan menyenangkan tentang proses belajar (dan juga hasil belajar) di masa kanak-kanak karena ditemani oleh orang tuanya akan "dibawa" sampai dewasa; demikian pula sebaliknya.

Kembali ke pertanyaan awal : sampai kapan orang tua perlu menemani anak belajar ?

Jawabannya tergantung pada tingkat kecerdasan dan kepribadian anak (dan juga orang tuanya). 

(Bersambung)




----- oOo --- 

Sabtu, 31 Maret 2018

Menemani Anak untuk Memasuki Dunia Kerja (Bagian I)


Oleh :
CONSTANTINUS, Psikolog

"Sampai kapan orang tua harus menemani anak ?"

Pertanyaan seperti ini sering ditanyakan para orang tua kepada saya. Untuk itu, dalam tulisan kali ini saya menampilkan model yang dibuat oleh saya bersama istri saya (Susana, seorang kandidat magister psikologi) tentang proses belajar seseorang sejak masih kanak-kanak sampai dengan dewasa. Model ini perlu ditampilkan di sini supaya para orang tua mempunyai gambaran yang utuh bahwa peran orang tua untuk menemani anaknya belajar akan mempunyai pengaruh sampai dengan ketika anak tersebut sudah menjadi orang dewasa dan memasuki dunia kerja." 

(Bersambung)





Selamat menemani anak.....

Menemani anak = mencerdaskan bangsa

----- oOo -----

Rabu, 25 Oktober 2017

MENEMANI ANAK : Belajar Karate itu Belajar Mengembangkan Diri



MENEMANI ANAK UNTUK MENGEMBANGKAN DIRI LEWAT KARATE

Oleh :
Ir. Constantinus, S.Psi., M.M., M.M.
(Praktisi Karate, Ilmuwan Psikologi, Kandidat Psikolog)



Menemani anak belajar karate itu
bukan sebatas berolah raga,
tetapi juga menemani anak mengembangkan diri
untuk memasuki dunia kerja.

Memang,
yang biasanya diketahui oleh masyarakat luas
tentang karate adalah aspek olah raganya,
terutama aspek kejuaraan olah raga.




Hal ini tidak salah,
akan tetapi masyarakat juga harus diberi
informasi yang lengkap bahwa
belajar karate juga berarti
belajar mengembangkan diri
untuk memasuki dunia kerja.



Orang tua yang menemani anaknya belajar karate
sebenarnya menemani anaknya
untuk melatih INTELEKTUAL anaknya,
karena ketika anak ditemani orang tua
untuk belajar karate,
anak akan belajar untuk TAHU - PAHAM - TERAMPIL
tentang "kihon" (gerakan dasar),
tentang "kata" (jurus),
dan tentang "kumite" (latihan berpasangan),
yang melatih aspek KOGNITIF-nya.




Orang tua yang menemani anaknya belajar karate
sebenarnya menemani anaknya
untuk melatih KEPRIBADIAN anaknya,
karena ketika anak ditemani orang tua
untuk belajar karate,
anak belajar untuk bersikap dan berperilaku
sesuai DOJO KUN (sumpah karate), yaitu :

- Sanggup memelihara KEPRIBADIAN
- Sanggup patuh pada KEJUJURAN
- Sanggup mempertinggi PRESTASI
- Sanggup menjaga SOPAN-SANTUN
- Sanggup MENGUASAI DIRI



Dengan demikian, anak yang belajar karate
memang bukan sekedar belajar "pukul-pukulan"
atau "belajar berkelahi"
(sebagaimana yang sering dipersepsikan masyarakat selama ini).
Orang tua yang menemani anaknya belajar karate
berarti menemani anak untuk menumbuhkembangkan
KEPRIBADIAN,
KEJUJURAN,
PRESTASI (dalam segala bidang kehidupan, bukan sebatas pada kejuaraan olah raga karate, tetapi juga dalam belajar di sekolah),
SOPAN SANTUN,
dan PENGUASAAN DIRI.

Selain itu,
orang tua yang menemani anak belakar karate
tentu saja berarti menemani anak untuk
berlatih supaya memiliki FISIK yang kuat.
Sebab, karate memang merupakan aktivitas fisik.




Selamat menemani anak....

Selamat menemani anak belajar karate
untuk mengembangkan dirinya :
- dari aspek INTELEKTUAL
- dari aspek KEPRIBADIAN
- dari aspek FISIK.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----oOo-----

Penulis bersama istri (Ir. Susana Adi Astuti, M.M.) dan putrinya (Bernardine Agatha Adi Konstantia) adalah anggota KELUARGA SABUK HITAM di INKADO (INDONESIA KARATE-DO).



Ir. Susana Adi Astuti, M.M. adalah mahasiswa Magister Sain Psikologi di Universitas Katolik Soegijapranata, dan aktif membuat tulisan dan melakukan presentasi secara ilmiah tentang KARATE UNTUK KEHIDUPAN SEHARI-HARI (DITINJAU DARI ASPEK PSIKOLOGI). Susan belajar karate sejak tahun 1989.



Bernardine Agatha Adi Konstantia adalah mahasiswa Teknologi Pangan di Universitas Katolik Soegijapranata, dan merupakan aktivis jurnalistik sejak masih Sekolah Dasar hingga kini di Unika Soegijapranata. Agatha belajar karate sejak tahun 2007 ketika berusia 8 tahun.



Ir. Constantinus, S.Psi., M.M., M.M. adalah praktisi psikologi industri dan saat ini sedang mengerjakan tugas akhir untuk menyelesaikan pendidikan Profesi Psikolog di Universitas Katolik Soegijapranata. Belajar karate sejak tahun 1989.






Kamis, 29 Juni 2017

Main Katapel dari Botol Bekas dan Balon


Pertama-tama tentu saja kami selaku pengelola Blog Inspirasi Pendidikan Kreatif "Bengkel Mainan & Sanggar Kreatif HOLIPARENT" mengucapkan :
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI
Mohon maaf lahir dan batin.

Hari-hari libur bersama lebaran tahun 2017 ini memang panjang, mulai hari Jumat tanggal 23 Juni 2017 sampai hari Minggu tanggal 2 Juli 2017.

Tentu saja, selain berkunjung dan bersilaturahmi ke sanak saudara dan handai taulan, saat libur panjang ini perlu juga kita isi dengan kegiatan yang tidak bisa kita lakukan di hari-hari kerja biasa, yaitu berolah raga.


Pada liburan kali ini, saya bersama istri dan anak membuat sendiri katapel dari botol bekas dan balon.


Harga balon adalah Rp 1.200,- per satuan. Sedangkan botol bekas yang digunakan adalah kemasan teh botol Javana (harga dengan isinya Rp 4.900,- per dua botol). Botol teh Javana dipilih karena diameter bagian atas lebih panjang dibandingkan diameter bagian atas botol merek lain.

Selain itu, digunakan dua karet gelang untuk mengikat erat balon pada botol bekas. Adapun alat yang digunakan hanya gunting kecil saja (untuk memotong ujung balon dan untuk memotong botol bekas (yang dipakai hanya ujung atas botol saja)).



Membuat katapel model ini hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit saja.

Dan setelah itu, sudah langsung dipakai untuk bersenang-senang sambil berolah raga : membidik sasaran yang telah ditentukan dengan peluru kacang atom (ha...ha...ha...).

Awas, untuk anak usia delapan tahun ke bawah memang harus didampingi orang tua, supaya tidak asal menembakkan peluru (apalagi sampai kena wajah atau mata orang lain).


Lalu, mengapa bermain katapel seperti ini kami katakan olah raga ?

Sebab ada banyak sekali kegiatan fisik yang dilakukan selama bermain katapel ini : membungkuk, berjalan ke sana - ke mari, melonjak kegirangan....


Tentu saja, sebagai praktisi beladiri praktis dan praktisi karate, kami melihat bahwa katapel ini bisa dimodifikasi menjadi alat jaga diri / alat beladiri. 

Bagaimana caranya ?

Cukup dengan mengganti pelurunya, dari kacang atom (ha...ha...ha...) dengan batu kerikil kecil !

Tapi awas ! Harus terlatih menembakkannya. Selain itu, terus terang kami melihat bahwa katapel ini sebagai alat beladiri kurang praktis karena tidak bisa dipakai ketika jarak lawan sudah sangat dekat dan lawan dengan cepat sudah menyergap.

Bagaimanapun, untuk sekedar berjaga-jaga, boleh juga sih....


Selamat bersenang-senang dan berolah raga bersama anak....



Selamat menemani anak....

Menemani anak, mencerdaskan bangsa.....

(Tinus, Susan, dan Agatha adalah praktisi karate dan pengajar "tactical sport" (sport & combat))

----- oOo -----