Rabu, 08 Mei 2013

MELEPAS FORMALITAS - MENEMANI ANAK BERKARYA KREATIF

"PUJI SYUKUR KEPADA TUHAN. TERIMA KASIH KEPADA PEMBACA SETIA. HARI INI, 8 MEI 2013, BLOG INSPIRASI PENDIDIKAN KREATIF "HOLIPARENT" GENAP BERUSIA 1 (SATU) TAHUN"




Sejenak bebas melepas formalitas, untuk mendukung kreativitas anak dalam MENGHASILKAN karya

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Ketika saya menulis artikel ini, usia saya sudah 43 tahun. Sudah tidak muda lagi. Ditambah lagi dengan rambut saya yang sudah banyak ber-uban, maka penampilan saya memang cenderung "tua dan formal", agak jauh dari kesan santai. Setidaknya, itulah penampilan saya sehari-hari, ketika harus mengikuti / mengadakan rapat, memberikan pelatihan di berbagai perusahaan, rapat dengan Bank Indonesia (saya selalu pakai jas dan dasi).

Tetapi bukan itu yang akan saya ceritakan. Dalam foto yang terpampang di awal blog edisi kali ini, saya berkacamata hitam, bermain harmonika, dan menabuh jimbi (sejenis ketupung)...mengiringi Agatha, anak saya memainkan gitar dan menyanyikan lagu ciptaannya sendiri.

Bagi Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak yang membuka blog ini dengan Personal Computer / Laptop / Notebook, dapat pula disaksikan video pendek yang dibuat (direkam) oleh Susana, istri saya, ketika Agatha dan saya "bermain musik bersama" (mohon maaf, di beberapa "gadget" seperti HP / Smartphone / BB, belum tentu video ini dapat dilihat; untuk melihatnya diperlukan software tertentu tergantung jenis masing-masing "gadget").





Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Pada saat saya menunjukkan foto / video tersebut kepada relasi bisnis, tidak sedikit dari mereka yang kaget melihat penampilan saya yang "nyentrik", tetapai setelah itu bertanya kepada saya, "Pesan apa yang mau Pak Tinus sampaikan ?"

Saya menjawabnya begini, "Bahwa meskipun kita di kantor memang harus menjaga penampilan dan serius, tetapi cobalah kita bersantai bersama anak, menemani anak berkreativitas, dan kita melakukan "refreshing" dengan penampilan yang "benar-benar beda". Percayalah, dengan itu, kita pun bisa santai, sedikit "slengekan" tetapi kreatif dalam menemani anak menghasilkan karya-karya kreatif".

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Barangkali saja ada di antara Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak yang di masa mudanya gemar menari atau menyanyi atau melukis atau bermain musik atau bermain teater atau baca puisi, semua itu bisa "diungkapkan" kembali dalam rangka menemani anak dan mendukung kreativitas anak.

Saya sendiri hanya bisa bermain harmonika, karena hanya alat musik itu yang bisa dibelikan oleh orang tua saya ketika saya masih anak-anak. Tetapi itu tidak merupakan halangan untuk menemani anak bermain gitar atau bermain piano (saya tidak bisa), karena anak juga tidak akan melecehkan kita (saya) karena tidak bisa main gitar atau piano. Anak justru merasa tersemangati, sebab meskipun ayahnya (saya) hanya bisa bermain harmonika, tetapi orang tua dengan setia menemani dan ikut TERLIBAT dalam proses kreatif yang dihasilkannya (meskipun saya hanya bermain harmonika di bagian intro / pembukaan saja).

Semoga "sharing" kali ini memberikan inspirasi bagi Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak dalam menemani anak...sekalipun (relatif) tidak bisa main alat musik (yang mahal-mahal) seperti saya.

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0o-----

Foto dan video oleh Susana Adi Astuti.

Lirik, lagu, dan aransemen oleh Bernardine Agatha Adi Konstantia (Kelas VIII-F SMP Pangudi Luhur Domenico Savio Semarang).

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.

MENEMANI ANAK - MENGATASI HAMBATAN TEKNIS


-->
 "PUJI SYUKUR KEPADA TUHAN. TERIMA KASIH KEPADA SEMUA PEMBACA SETIA. HARI INI, 8 MEI 2013, BLOG INSPIRASI PENDIDIKAN KREATIF "HOLIPARENT" GENAP BERUSIA 1 (SATU) TAHUN".


Gambar 1. Orang tua menemani anak mencetak hasil karya di salah satu Jasa Fotokopi di kawasan Jalan Arteri Sukarno-Hatta (depan kampus Universitas Semarang) di kota Semarang.

Menemani anak menghasilkan karya kreatif adalah sebuah PROSES BERKELANJUTAN. Artinya, anak bukan hanya ditemani dan didukung untuk MENGHASILKAN KARYA KREATIF, tetapi juga ditemani dan didukung untuk SECARA AJEG & BERKELANJUTAN menghasilkan karya kreatif seperti itu. Sebab, dalam proses yang ajeg dan berkelanjutan seperti itulah, anak akan BERPROSES untuk MENYEMPURNAKAN TEKNIK PEMBUATAN & HASIL karya kreatifnya.

Gambar 2. Majalah Jurnalistik "FRESH !" Tahun I Nomor 3 April 2013

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Sebagaimana telah saya "sharingkan" dalam tulisan di blog Holiparent edisi-edisi sebelumnya (tentang Majalah Jurnalistik "Fresh !" edisi perdana dan edisi kedua), anak memang perlu ditemani, didukung, dikenalkan dengan BANYAK PROSES YANG KOMPLEKS dan BEKERJA DENGAN BERBAGAI ORANG / PIHAK supaya sebuah karya seperti Majalah Jurnalistik "Fresh !" bisa "jadi" seperti yang diharapkan : dengan orang-orang di "digital printing station", dengan orang-orang di "jasa fotokopi", selain (tentu saja) anak bekerja sama dengan teman-teman dan gurunya sehingga isi / materi serta disain sampul plus iklan juga dapat tercapai sesuai target.

 

Gambar 3. Jasa fotokopi di kawasan Jalan Arteri Sukarno-Hatta (depan kampus Universitas Semarang) di Semarang.

 Gambar 4. Halaman isi Majalah Jurnalistik "Fresh" sedang difotokopi di salah satu jasa fotokopi di kawasan Jalan Arteri Sukarno-Hatta (depan kampus Universitas Semarang) di Semarang.

 Gambar 5. Berbagai peralatan yang dipakai dalam penjilidan Majalah Jurnalistis "Fresh !".

 Gambar 6. Majalah Jurnalistik "Fresh !" sedang dipotong dengan mesin pemotong kertas.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Adakalanya dalam proses yang berkelanjutan ini, anak menemuni HAMBATAN TEKNIS seperti jasa fotokopi langganan yang biasanya dipakai untuk memfotokopi & menjilid Majalah Jurnalistik "Fresh !" ternyata tutup hari itu, padahal majalah harus segera diterbitkan / didistribusikan keesokan harinya. Maka, terpaksalah menggunakan jasa fotokopi yang "baru" / belum pernah "dipakai" untuk memfotokopi dan menjilid Majalah Jurnalistik "Fresh !".

 Gambar 7. Salah satu jasa fotokopi yang dipakai untuk memfotokopi & menjilid Majalah Jurnalistik "Fresh !". Meskipun tidak biasa, tetapi karena terpaksa, maka dipilih juga untuk memfotokopi dan menjilid majalah yang harus segera terbit.

Dari kesulitan / pengalaman seperti anak, anak diajak oleh orang tuanya untuk memahami bahwa dalam mewujudkan sebuah cita-cita, bisa jadi muncul MASALAH-MASALAH TEKNIS yang tidak diduga (dalam hal ini : fotokopi yang sudah jadi langganan ternyata tutup), dan ini harus DIANTISIPASI & DIATASI SEGERA (dalam hal ini : diputuskan memakai jasa fotokopi yang baru). Tentu saja, karena belum terbiasa, ada banyak hal yang harus dijelaskan kepada jasa fotokopi baru ini, dan anak perlu diajak untuk memahami bahwa INILAH REALITANYA, bahwa INILAH PILIHAN TERBAIK yang harus segera diambil.

Selamat menemani anak.

Selamat menemani anak, bukan hanya pada tataran konsep dan ide-ide saja, bukan hanya pada tataran teknis sesuai perencanaan saja, tetapi juga pada tataran MENGATASI MASALAH TEKNIS YANG MUNCUL TIDAK TERDUGA. Anak akan belajar untuk menentukan pilihan dengan cepat di antara alternatif-alternatif "darurat" yang ada.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0o-----

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.

Kamis, 02 Mei 2013

"MENYAMBUT HARI ULANG TAHUN PERTAMA BLOG HOLIPARENT 8 MEI 2013"
Ibu Sri Hartini berfoto bersama Bapak Untung Luwarso. Beliau berdua terlihat bahagia dan menjalani hidup dengan penuh semangat.

Saya bertemu beliau berdua secara kebetulan, ketika saya sedang berada di "Cendana - Digital Printing Station" di Jalan MT Haryono 661A Semarang.  

Ibu Sri Hartini adalah pensiunan Guru Bahasa Mandarin di sekolah YSKI Jalan Tanjung Semarang. Bapak Untung Luwarso adalah seniman tulisan indah dalam Huruf Cina, dan membuka toko yang menjual karya seninya di Pasar Semawis di Kota Semarang. 

Saat ini beliau tinggal di Jalan Kuala Mas Barat VI nomor 261 Semarang, telepon 024 356 0952. Nomor HP Bapak Untung Luwarso adalah 087 775 801 135.
Sampai saat ini Ibu Sri Hartini masih memberikan kursus / les Bahasa Mandarin di rumah beliau.

 Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Perkenalan kita (orang tua) dengan orang-orang yang memiliki bermacam-macam pekerjaan / profesi seringkali terjadi di tempat yang tidak terduga dan secara tidak terduga pula. Dalam sharing kali ini, saya bertemu dengan Ibu Sri Hartini dan Bapak Untung Luwarso pada saat saya berada di "Cendana - Digital Printing Station". Pada saat bertemu dengan beliau berdua, saya langsung saja ngobrol-ngobrol berbasa-basi, tetapi kami sama-sama saling memperkenalkan diri dengan jujur, dan memanfaatkan kesempatan ini untuk saling memperkenalkan / mempromosikan usaha / kegiatan masing-masing. Dengan demikian, setiap ada kesempatan selalu dimanfaatkan untuk membentuk / memperluas "networking".

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Sebagaimana sudah saya tuliskan dalam blog-blog saya terdahulu, bahwa anak meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Demikian pula dalam membentuk networking. Kalau kita sebagai orang tua selalu aktif dan tidak malu-malu membentuk "networking", maka anak pun akan memiliki keberanian untuk melakukan "networking". Tentu saja, orang tua harus selalu menemani anak-anaknya, sehingga anak tidak salah dalam memasuki "networking" (jejaring sosial).

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

---o0o---

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. 

Selasa, 30 April 2013

MENEMANI ANAK - MENGAMATI LINGKUNGAN


Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Sebenarnya tulisan kali ini adalah untuk edisi 1 Mei 2013. Tetapi karena sudah terlanjur diterbitkan 30 April 2013, ya sudahlah. Yang penting, tulisan ini dapat menjadi bahan renungan kita bersama.

Foto-foto di atas dibuat oleh anak saya ketika dia masih di kelas III Sekolah Dasar.

Lalu, apa istimewanya siput di atas, sehingga difoto segala ?
Tidak ada yang istimewa ! Itu adalah siput biasa. Siput yang biasa kita lihat atau kita temui sehari-hari. Yang istimewa adalah ini : bagaimana kita selaku orang tua menemani anak, manakala anak mulai MEMPERHATIKAN apa yang ada di sekitarnya ATAS INISIATIFNYA SENDIRI, dan juga MENGGUNAKAN ALAT-ALAT yang ada di rumah guna mendukung KEINGINTAHUANNYA itu. Dalam hal ini : menggunakan kamera digital.

Tentu saja, anak memang perlu DIDAMPINGI menggunakan alat-alat seperti kamera digital ini. Tetapi, anak JANGAN DILARANG. Dalam berbagai kesempatan menjadi pembicara, saya menyampaikan hal ini berulang-ulang : lebih baik membeli kamera digital saku yang murah meriah tetapi BISA DIPAKAI MENEMANI ANAK MENGGUNAKAN KAMERA ITU, daripada membeli kamera digital yang mahal-mahal tetapi ANAK DILARANG MENGGUNAKANNYA KARENA TAKUT RUSAK. Kecuali, tentu saja, kalau orang tuanya adalah seorang fotografer profesional yang kameranya memang harus mahal-mahal karena untuk mencari nafkah. Dalam tulisan kali ini, konteksnya adalah : membeli kamera untuk hobi sekaligus sebagai alat untuk menemani anak "mengeksplorasi" alam sekitarnya. (Anak tidak hanya ditemani untuk MENGHAFAL PELAJARAN saja, tetapi juga ditemani untuk PEKA & BELAJAR LANGSUNG DARI ALAM).

Selanjutnya, marilah kita sebagai orang tua "mencari akal" bagaimana caranya supaya hasil eksplorasi / foto-foto buatan anak itu "ada ceritanya". Dalam contoh kali ini, ketika anak saya memotret siput, maka  "cerita" yang diangkat oleh saya dan istri saya adalah ini : bahwa ketika istri saya kuliah di Perikanan Undip tahun 1989-1994, skripsinya adalah tentang pembuatan pakan ikan dengan bahan baku tepung siput. Lalu, kami ceritakan betapa susahnya mencari siput dalam jumlah banyak. Juga betapa susahnya mengolah daging siput menjadi tepung siput, sebelum dibuat bentuk "pelet" (butiran) pakan ikan. Ditambah lagi, masih harus dicobakan kepada ikan dalam penelitian : dari pagi sampai malam sampai pagi lagi menunggui ikan-ikan memakan pelet / pakan ikan dari tepung siput ini, kemudian berat ikan-ikan itu ditimbang, kualitas airnya diukur dengan metode dan alat-alat yang secara ilmiah sudah diakui. Dan akhirnya, data-datanya ditulis sebagai skripsi dan diuji dalam ujian skripsi Sarjana Perikanan bidang Budidaya Perairan (Aquaculture).
Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Tentu saja, cerita tadi hanyalah sekedar contoh. Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak pasti juga punya pengalaman-pengalaman hidup yang dapat dikait-kaitkan dengan apapun yang sedang "diminati" anak, sehingga anak memang merasa bahwa apa yang sedang diperhatikannya juga diminati oleh orang tuanya. Anak merasa DITEMANI oleh orang tuanya dalam mengembangkan pengetahuannya, bahkan merasa DIDUKUNG PENUH.
Selamat menemani anak.
Selamat menemani anak dalam mengembangkan minat, bakan, dan pengetahuan. Dari contoh  cerita di atas, anak juga mendapatkan wawasan bahwa ada PROSES PERJUANGAN yang harus dijalani oleh orang tuanya (kebetulan kuliah istri dan saya adalah sama, sama-sama di Perikanan Undip, sama-sama di bidang Aquaculture tapi beda topik penelitian), sehingga semua itu memang memberikan PENGALAMAN HIDUP yang nyata. Anak tahu bahwa TIDAK ADA YANG INSTAN.
"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"
-----o0o-----
Foto oleh Bernardine Agatha Adi Konstantia (saat itu, murid SD Pangudi Luhur Bernardus Semarang, saat tulisan ini dibuat : murid SMP Pangudi Luhur Domenico Savio).
Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.

BERSEKOLAH DAN TETAP MENGASAH KREATIVITAS & KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS

"MENYAMBUT HUT KE-1 BLOG HOLIPARENT, 8 MEI 2013"

Seperti biasa, setiap hari Minggu pagi saya selalu menyempatkan diri membaca Koran Sindo (dulu namanya : Koran Seputar Indonesia) yang setiap hari memang dikirim ke rumah saya. Yang selalu menjadi bacaan favorit saya (dan hanya ada di edisi Minggu) adalah kolom-nya Profesor Sarlito Wirawan Sarwono. Beliau adalah Guru Besar Fakultas Psikologi - Universitas Indonesia.

Tulisan-tulisan Profesor Sarlito Wirawan Sarwono selalu aktual dan mengandung ulasan dari segi "ilmu kejiwaan dan perilaku" alias psikologi. Nah, khusus untuk edisi hari Minggu tanggal 28 April 2013, saya secara khusus menampilkannya di sini (bukan bermaksud mempromosikan koran tertentu), sebagaimana yang dapat Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak lihat pada gambar di atas.

Intinya, Profesor Sarlito Wirawan Sarwono mengatakan bahwa memang sekolah itu penting, tetapi jangan lantas hanya fokus pada formalitas per-sekolah-an itu saja : yang penting naik kelas, yang penting dapat nilai bagus, yang penting lulus. Memang, naik kelas itu penting. Memang, mendapat nilai bagus itu penting. Memang, lulus itu penting. Tetapi, apakah "makna" yang terkandung di dalamnya memang benar-benar sudah dikuasai ? Dalam salah satu kegiatan di mana saya menjadi pembicara di sebuah sekolah, saya menceritakan bagaimana "kondisi kesadaran" yang diciptakan ketika saya bersekolah di SMA Kolese Loyola - Semarang : bahwa naik kelas itu memang penting, tetapi lebih penting lagi adalah KEJUJURAN dan KESADARAN DIRI. Dalam arti begini : menyontek itu adalah lebih memalukan daripada tidak naik kelas, karena naik kelas dengan cara yang tidak jujur (hasil menyontek) adalah sungguh-sungguh memalukan. Juga "kesadaran diri" ini : kalau memang aku belum layak naik kelas, ya memang lebih baik (meskipun menyedihkan) bahwa aku (kali ini) tidak naik kelas dulu, baru tahun depan aku naik kelas. Dan kenyataannya : teman-teman yang dulu saya tahu betul pernah tidak naik kelas tetapi memiliki KEJUJURAN dan KESADARAN DIRI seperti itu, pada saat sudah memasuki dunia kerja ternyata mereka ini menjadi PRIBADI YANG MATANG / DEWASA sehingga secara umum orang-orang menilai mereka sebagai pandai (termasuk : pandai secara akademis, karena mereka SADAR DIRI untuk selalu TEKUN BELAJAR secara RUTIN & DISIPLIN, bahkan ketika sudah bekerja).

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
   KREATIVITAS & KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS oleh Profesor Sarlito Wirawan Sarwono dikatakan lebih penting dibandingkan hanya sekedar mengejar formalitas sekolah. (Sekali lagi, saya tidak melihat bahwa beliau mengatakan bahwa sekolah itu tidak penting. Tidak. Saya melihat bahwa beliau menggarisbawahi bahwa jangan hanya mengejar formalitas per-sekolah-an saja, tetapi kuasailah konten / isi / makna-nya). Harus diakui bahwa di zaman yang serba instan ini, anak-anak tergoda / cenderung untuk dikejar-kejar supaya "yang penting hafal" dan "yang penting naik kelas / lulus". Saya melihat bahwa apabila anak memang memiliki minat dan bakat yang luar biasa, maka kecepatan belajar seperti itu baik-baik saja. Tetapi tidak semua anak seperti itu. Artinya, bagi anak-anak yang biasa-biasa saja, maka perlu didampingi oleh para orang tua dan gurunya untuk secara lebih rutin dan disiplin belajar sambil mengasah kreativitas & kemampuan berpikir kritisnya, dan bukan sekedar menghafal saja (apalagi malah dibela-belain mencari contekan / bocoran soal segala).

Selamat menemani anak.

Selamat menemani anak untuk menguasai materi pelajaran sekolah dengan mengembangkan kreativias & kemampuan berpikir kritis.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0o-----

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.  

Senin, 29 April 2013

MENEMANI ANAK : "CITY TOUR" JALAN KAKI 2,5 JAM


"Mengapa tulisan di blog Holiparent banyak yang membahas tentang jalan-jalan di dalam kota saja ?" tanya seorang teman kepada saya.

"Karena murah dan meriah. Sehingga ide ini semoga bisa ditiru oleh banyak keluarga lainnya dengan mudah dan murah juga," kata saya. "Kalau saya menuliskan tentang jalan-jalan di luar negeri, 'kan tidak semua keluarga bisa jalan-jalan di luar negeri...". Kemudian (di dalam hati) saya juga menambahkan bahwa saya memang jarang sekali jalan-jalan ke luar negeri... He...he...he...

"Murah meriah dan bisa ditiru oleh banyak keluarga lain dengan murah meriah juga", itulah semangat yang sejak awal "berdirinya" blog pendidikan inspirasi kreatif ini sudah "dipegang erat-erat". Bahkan, dalam edisi-edisi awal hampir satu tahun yang lalu, blog Holiparent ini juga memberikan tips dan menunjukkan foto-foto hasil "jepretan" menggunakan Handphone "tidak ber-merk" yang murah meriah. Intinya, yang penting hati kita senang dan niat kita baik, yang murah meriah pun bisa membawa kesenangan, tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri. Sebab, Indonesia ini cantiknya luar biasa. Kota tempat tinggal kita pun cantiknya luar biasa. Tinggal bagaimana kita menikmati dan mengabadikannya dalam foto-foto yang mengesankan (kamera pinjam teman juga bisa dipakai, kamera HP-pun oke, untuk kali ini foto-foto dibuat dengan kamera saku Samsung ES95 seharga Rp 925.000, bukan dengan kamera DSLR yang harganya jutaan rupiah)
Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Foto-foto kali ini dibuat sepanjang kami melakukan "City Tour" di kota tempat tinggal kami : Semarang. 


Hari itu adalah hari Minggu. Kami bertiga (anak, istri, saya) berangkat dari rumah sekitar pukul 07.00. Cuaca cerah. Dan kami bertiga berjalan kaki saja. (Nantinya terbukti bahwa perjalanan ini memakan waktu 2,5 jam. Ini sudah membuat kami senang dan kami memutuskan untuk kembali ke rumah. Padahal, belum semua pelosok kota Semarang kami jelajahi. Tetapi, yang penting hati sudah merasa senang, sekaligus sudah berolah raga murah meriah juga).

Ada banyak foto yang kami buat di Jembatan Banjir Kanal Barat yang baru selesai dan diresmikan pada tahun 2012. Kami menuruni anak tangga yang cukup tinggi dan berfoto-foto : di dekat sungai, di anak tangga, dan di dekat jembatan bagian atas (dekat jalan raya).

Sebenanrnya, setiap hari kami melewati jembatan ini minimal dari dua kali : Berangkat kerja / berangkat sekolah, pulang kerja / pulang sekolah. Tetapi ada sesuatu yang terlihat dan terasa sungguh berbeda ketika kami mendatangi jembatan ini dengan niat untuk menikmati keindahannya & berfoto-foto bersama. Artinya, niat apa yang sudah kita tanamkan di dalam hati & pikiran kita itu memang sangat besar pengaruhnya dalam melihat & menikmati sesuatu (benda / keadaan) !

Dengan kamera saku yang sederhana, saya mengabadikan anak dan istri saya di anak tangga Jembatan Banjir Kanal Barat di kota Semarang. "Serasa piknik di luar kota," kata anak dan istri saya. Padahal, kami hanya berfoto-foto di dalam kota di mana sehari-hari kami bertempat tinggal !

Kepada Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak yang akan melakukan "City Tour" murah meriah dengan jalan kaki seperti yang kami lakukan, saya menyarankan untuk membawa kamera dan memotret tempat-tempat yang dirasa indah untuk berfoto. Kamera (sekali lagi) tidak usah yang mahal-mahal. Kamera HP-pun oke.

Mungkin karena melihat keasyikan kami dalam berfoto-foto di Jembatan Banjir Kanal Barat, ada juga pejalan kaki (seorang anak usia SMP dan ibunya) yang kemudian juga berfoto-foto menggunakan kamera HP-nya. Pada mulanya mereka hanya lewat saja. Tetapi setelah melihat kami begitu sibuk berfoto-foto di jembatan (ha...ha...ha...) maka mereka berfoto-foto juga !


Kami melanjutkan perjalanan "City Tour" jalan kaki kami, dan membuat foto di banyak tempat. "Foto-foto seperti ini akan menjadi kenang-kenangan tentang kota Semarang...besok 50 tahun lagi...," kata saya kepada anak saya tentang salah satu "kegunaan" dari fotografi.

Saya ingat materi semasa kuliah S-1 Psikologi dulu : tergantung fokus kita akan kita arahkan melihat ke mana, mau melihat hal-hal yang indah-indah supaya hati ini ikut senang, atau melihat hal-hal yang tidak indah sehingga hati kita jadi sumpek. Saya memilih melihat hal yang indah-indah dalam hidup ini. Dengan melihat bunga-bunga yang mekar di seputar taman Tugu Muda misalnya, maka hati kita akan ikut menjadi senang. 
 
Berfoto di trotoir di sekitar bundaran Tugu Muda, ditemani bunga-bunga yang cantik bermekaran.

Berfoto di halte Angkutan Umum. 

Jalan-jalan sambil minum di sepanjang Jalan Pandanaran kota Semarang.

Berfoto di depan salah satu rumah makan yang berjualan Soto Ayam di kawasan Tri Lomba Juang kota Semarang.

Duduk di trotoir...melepas lelah sambil menunggu angkutan pulang ke rumah....

Sambil jalan-jalan dan berfoto ria, juga melihat tulisan di Jembatan Banjir Kanal Barat : selesai dibuat tahun 2012. 

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Selamat menemani anak.

Di hari Minggu atau hari libur lainnya, selamat mengajak dan menemani anak melakukan "City Tour" yang murah meriah dengan berjalan kaki (sekaligus olah raga) dan membuat foto-foto cantik (dengan kamera HP atau kamera saku, seadanya saja)....

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----o0o-----

Foto oleh Constantinus Johanna Joseph dan Susana Adi Astuti. 

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.

Minggu, 28 April 2013

ANYTHING BUT ORDINARY


Sabtu siang itu (27 April 2013) saya sedang jalan-jalan keliling kota sambil mencari makan siang, setelah saya selesai mengikuti acara yang menghadirkan banyak orang pintar secara akademis /pendidikan formal dan sekaligus terbukti nyata sukses menjalankan bisnis swasta.
Masih terpengaruh oleh semangat positif dari acara yang baru saja selesai saya ikuti, sambil makan siang di salah satu rumah makan di Jalan Pemuda di kota Semarang, saya ajak anak saya untuk melihat-lihat "bahwa rumah makan ini tidak sekedar menjual ayam goreng" tetapi dia "memasarkan" suasana yang khas. Di salah satu dinding rumah makan ini terpampang poster besar bertuliskan "ANYTHING BUT ORDINARY" dilengkapi gambar anak muda yang bisa menari dalam posisi "jungkir balik". Justru bukan gambar ayam goreng yang dipajang menyertai tulisan itu. Toh, nyatanya rumah makan ini selalui dipenuhi pembeli / pelanggan.
Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Ide yang mau saya sharing-kan dalam blog inspirasi pendidikan kreatif kali ini adalah "perlunya anak ditemani untuk belajar dari pengalaman / apa yang ditemui sehari-hari", dalam contoh kali ini adalah tentang KONSEP MARKETING.
"Menampilkan sesuatu yang menarik" dan "memenuhi kebutuhan orang lain" adalah ide-ide dasar yang selalu menyemangati orang-orang marketing. Contohnya, gambar dan tulisan "anything but ordinary" yang saya sebutkan tadi. Ini menarik perhatian siapapun yang melihatnya. Dan tidak merugikan orang lain. Ini "tidak biasa-biasa saja", karena terlihat kreatif dan unik. Orang jadi senang melihatnya.
Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Konsep marketing bagi saya (saya sudah menjadi salesman sejak usia 19 tahun, dan lulus Magister Marketing pada umur 30 tqhun atau 13 tahun sebelum tulisan ini saya buat sekarang) adalah tentang "peduli kepada orang lain" dan "tidak hanya mengutamakan / mementingkan diri sendiri". Itu sebabnya orang marketing itu "customer oriented" atau berorientasi pada (kebutuhan / keinginan) konsumen.
Nah, spirit marketing yang "peduli kepada orang lain" serta tidak "yang penting gue suka" inilah yang perlu kita kenalkan kepada anak-anak. Anak-anak juga ditemani untuk menghasilkan yang unik dan kreatif dengan "melihat dan membahas" apa saja yang unik dan kreatif "yang hadir di depan mata". Sehingga, belajar itu MENIKMATI KEADAAN, bukan sekedar menghafalkan.
Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Dalam tulisan-tulisan sebelumnya di blog ini, saya sudah menceritakan betapa saya sudah berkali-kali menemui orang dewasa yang pandai secara akademis tetapi karena tidak punya konsep marketing dalam bekerja akhirnya "tidak punya teman" di tempat kerja dan karirnya pun tidak bagus (karena dia tidak menggunakan prinsip "customer oriented" yang merupakan hal mendasar dalam konsep marketing; dan hal ini berlaku untuk semua bidang kerja, bukan hanya untuk yang bekerja di bidang marketing saja).
Selamat menemani anak.
Semoga anak-anak kita jadi semakin peduli dan siap membantu orang lain, tidak asal "suka-suka gue".
"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"
-----o0o-----
Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.