Sabtu, 27 April 2013

MENEMANI ANAK "MENCINTAI INDONESIA"


Aku cinta petani Indonesia. Entah mengapa, senang rasanya bisa melihat tulisan ini terpampang di toko langganan saya. Memang, sudah sejak dulu saya selalu berpesan kepada keluarga, kalau membeli buah, kita beli saja buah "dalam negeri" saja. Kecuali, buah "dalam negeri" itu belum ada, barulah kita beli buah yang diimpor dari lua negeri.

Tidak dipungkiri, buah dari "dalam negeri" sedikit lebih mahal daripada buah yang diimpor dari luar negeri (untuk jenis buah yang sama, jeruk misalnya). Tetapi dalam hal ini saya justru jadi teringat tentang kisah bagaimana Toyoda membuat mobil Toyota yang "relatif lebih mahal" bahkan "relatif lebih ribet / sering perlu perbaikan" dibandingkan mobil "bukan Jepang", tetapi "orang Jepang" saat itu memang sangat antusias membeli dan memakai mobil Toyota, sehingga memang sejarah menunjukkan bahwa mobil buatan Jepang "merajari" otomotif dunia, karena bangsanya sendiri begitu suka memakai "mobil buatan dalam negeri".
(Dalam hal ini, saya sudah bilang kepada anak dan istri bahwa "kalau ada rejeki" untuk beli mobil baru, kami sekeluarga akan memilih membeli mobil "Esemka" atau semacamnya yang "buatan dalam negeri". Tentu saja, kami juga memakai mobil merek lain, karena sudah dirakit di "dalam negeri", tetapi mengombinasikannya dengan mobil "Esemka" adalah suatu pemikiran yang patut diwujudkan).


"Bagaimana jalan-jalan ke luar negerinya ?" tanya beberapa teman dalam berbagai kesempatan kepada saya, ketika tahu saya baru saja menemani beberapa karyawan sebuah perusahaan "piknik" ke luar negeri.

"Masih lebih bagus Indonesia," jawab saya. 

Tentu saja, jawaban ini cukup mengagetkan beberapa teman yang mengajukan pertanyaan, karena jawaban yang saya berikan ternyata masih juga "mengandung komparasi / perbandingan" dengan keindahan Indonesia.

"Pantainya, lebih cantik pantai-pantai di Indonesia. Candinya, lebih bagus dan megah candi-candi di Indonesia. Tetapi saya memang kagum dengan mereka (bangsa itu), karena mereka begitu pandai mempromosikan apa yang mereka punya, sehingga orang dari negara-negara lain berduyun-duyun datang untuk berwisata ke negeri mereka," kata saya. 

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Tentu saja, kita juga boleh / perlu untuk membeli buah dan sayuran yang diimpor dari luar negeri. Kita juga boleh / perlu (kalau memang ada uang dan ada kesempatan) untuk piknik ke luar negeri. Tetapi pada kesempatan ini marilah kita renungkan bersama : apakah "milik" Indonesia juga sebenarnya sudah ada, dan kalau begitu, kenapa kita tidak (mengombinasikannya) dengan membeli / menikmati yang "dari" Indonesia ? Artinya, jangan karena semata-mata gengsi maka kita memilih / membeli / menggunakan "yang penting buatan luar negeri". Tetapi kalau memang yang luar negeri itu "lebih bagus", memang perlu "kita pakai" guna membangun / mengembangkan Indonesia. Sekolah / kuliah di luar negeri, misalnya. Saya mendukung para orang tua yang menyekolahkan anaknya di luar negeri, dengan semangat bahwa mencari ilmu sampai ke manca negara itu memang dalam rangka memajukan Indonesia. Demikian juga halnya bekerja di luar negeri.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
 Selamat menemani anak untuk mencintai bangsa dan negara kita secara nyata & dengan cara yang biasa-biasa saja.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0o-----

Tulisan dan foto oleh Constantinus Johanna Joseph. Alumnus Latihan Kepemimpinan Pemuda Tingkat Nasional oleh Menpora RI Angkatan XXII / Cibubur - Jakarta. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. 

Kamis, 25 April 2013

MENEMANI ANAK MEMASUKI DUNIA KERJA


Suster Dra. Lidwiana, CB (Kepala SMK Pius X Magelang) sedang memberikan pengarahan sekaligus membuka acara workshop "Memasuki dan Beradaptasi di Dunia Kerja"

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Kali ini saya akan men-sharing-kan pengalaman tentang menemani anak dalam "mengasah" pengetahuan dan ketrampilan, sekaligus mendampingi dan menyiapkan mereka "memasuki sekaligus beradaptasi / bertahan" di dunia kerja (karena pada hakekatnya semua anak yang kita dampingi akhirnya akan memasuki dunia kerja, jadi itu merupakan tanggung jawab kita sebagai "orang tua").

Bu Anjar, Guru SMK Pius X Magelang. Beliau adalah Asesor Uji Kompetensi - Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Pariwisata yang diakui oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Republik Indonesia.
SMK Pius X Magelang sendiri merupakan Tempat Uji Kompetensi (TUK) - LSP Pariwisata - BNSP RI.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.
Ini adalah cerita tentang SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) Pius X yang ada di kota Magelang. SMK yang mendidik para siswa dan siswinya di bidang tata boga (makanan) dan tata busana (pakaian) ini memang sudah terkenal kualitasnya, yang setidaknya dapat dilihat dari 3 hal ini : (1) Memiliki akreditasi A, (2) Menjadi Tempat Uji Kompetensi (TUK) sesuai standar dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Republik Indonesia - LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) Pariwisata, serta (3) Lulusannya selalu "dipesan" untuk bekerja di berbagai perusahaan swasta maupun instansi pemerintah (termasuk Kedutaan Besar Republik Indonesia di setidaknya 12 negara).

Pak Par, Guru SMK Pius X Magelang

Berinteraksi dengan SMK Pius X Magelang (saya menjadi pendamping bagi para siswa-siswi kelas XII yang akan memasuki & beradaptasi / bertahan di dunia kerja dengan memberikan pelatihan / workshop), membuka mata dan pikiran saya bahwa anak memang perlu ditemani / didampingi dalam berbagai kesempatan secara menyeluruh : di rumah, di sekolah, di masyarakat (persiapan memasuki dunia kerja).

Secara khusus saya sungguh salut kepada para Suster dan Guru di SMK Pius X Magelang, yang ternyata (ini yang di luar dugaan saya) selain mengajar di sekolah (baik teori maupun praktek) juga melakukan kunjungan-kunjungan sampai ke luar kota demi memantau sekaligus mendampingi / menemani anak didiknya yang baru lulus dan sudah bekerja namun kebetulan sakit di tempat kerjanya, maupun mengunjungi murid yang sedang "praktek industri" di perusahaan namun ternyata jarang berangkat praktek kerja (murid tersebut dikunjungi di rumahnya). Dan, kunjungan-kunjungan seperti ini dilakukan di luar jam mengajar. Artinya, para pendidik ini sungguh-sungguh meluangkan waktu guna menemani / mendampingi anak didiknya.

165 orang siswa dan siswi SMK Pius X Magelang kelas XII sedang mengikuti acara pembukaan workshop "Memasuki dan Beradaptasi di Dunia Kerja"

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Seperti biasa, saya tidak bermaksud mempromosikan apapun dalam blog inspirasi pendidikan kreatif ini. Tetapi memang ada hal yang layak kita renungkan dan kita teladani dari cerita yang saya sharing-kan di atas : menemani / mendampingi anak itu berarti harus meluangkan waktu dan harus dilakukan secara berkesinambungan / menyeluruh baik di rumah maupun di sekolah / masyarakat.

Ini membuat kita layak untuk merenung : apakah sebagai orang tua, kita juga sudah menjalin komunikasi yang baik dengan para guru anak kita di sekolah, sehingga semua norma yang diajarkan di sekolah memang "nyambung" / sesuai dengan norma yang kita ajarkan / kita contohkan di rumah. Dengan demikian, anak dapat tumbuh dan berkembang dalam keselarasan / harmoni, dan bukannya mengalami kebingungan / konflik karena norma yang diajarkan di sekolah ternyata tidak sesuai bahkan bertentangan dengan norma yang diajarkan / dicontohkan orang tuanya di rumah. 

Tampak di atas : sebagian peserta yang berasal dari Jurusan Tata Boga maupun Tata Busana - SMK Pius X Magelang kelas XII

Bersiap diri memasuki dan beradaptasi di dunia kerja. Siswa-siswi SMK Pius X Magelang berasal dari Jawa maupun luar Jawa. Prinsipnya, Bhinneka Tunggal Ika.

Pakaian merupakan hal yang sangat diperhatikan di SMK Pius X Magelang. Sebagai sekolah yang dikelola / dipimpin oleh para Suster, sopan santun berpakaian diatur dengan tegas dan jelas. Untuk murid perempuan, rok harus di bawah lutut. Kesan ke-seksi-an memang ditiadakan. Ini merupakan bagian dari pembentukan karakter yang disiplin dan penuh susila, dalam rangka pembinaan sumber daya manusia yang tangguh dan profesional.

Bersiap diri memasuki dan beradaptasi di dunia kerja. Lulusan SMK Pius X Magelang (milik Yayasan Tarakanita) Jurusan Tata Boga dan Tata Busana banyak "dipesan" oleh berbagai perusahaan maupun instansi, bahkan sejak mereka masih duduk di kelas XI. Tercatat ada sekitar 12 (dua belas) Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia yang selama ini memesan para lulusan SMK Pius X Magelang untuk bekerja di Kantor KBRI di luar negeri.


Mendidik sikap dan perilaku yang dewasa. Para Guru memberikan pendampingan bukan hanya di sekolah, tetapi juga mengunjungi murid / mantan murid yang sakit di tempat kerjanya (di luar kota) maupun mengunjungi rumah murid yang tidak masuk "kerja praktek" di perusahaan. Artinya, Guru tidak hanya mendampingi di dalam kelas / di sekolah saja, tetapi juga sampai ke lingkungan keluarga dan perusahaan / masyarakat.

Selamat menemani anak.

Selamat menjalin komunikasi yang baik dengan para guru anak kita di sekolah.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Kehidupan Bangsa"

-----o0o-----

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.

Minggu, 21 April 2013

SELAMAT HARI KARTINI 2013


Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Tidak dapat dipungkiri bahwa seluruh Bangsa Indonesia pada hari ini, 21 April, pasti merayakan Hari Kartini.

Pada kesempatan ini, saya ingin mengajak kita semua merenung : seberapa kuatkah kita sudah "mengaitkan" nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh Raden Ajeng Kartini dengan kehidupan sehari-hari, utamanya dalam kaitannya dengan kegiatan kita untuk menemani / mendampingi anak-anak kita.

Kebetulan, anak saya semata wayang adalah seorang perempuan. Tetapi pada dasarnya saya percaya bahwa kalaupun Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak hanya mempunyai anak laki-laki saja, tetaplah relevan untuk "mengajarkan" nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh Raden Ajeng Kartini.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Sejarah telah menunjukkan bahwa Raden Ajeng Kartini telah mendobrak tradisi lama, sehingga muncullah apa yang kemudian disebut dengan "Habis Gelap Terbitlah Terang" sebagaimana judul yang diberikan pada buku yang berisi kumpulan tulisan / pemikirannya.

Jadi, apakah "Habis Gelap Terbitlah Terang" itu hanya relevan untuk kaum wanita saja, ataukah untuk pria maupun wanita Indonesia saat ini ?

Jujur saja, dengan sekian banyak permasalahan yang masih dihadapi oleh Bangsa Indonesia saat ini (tidak pandang pria maupun wanita), maka perjuangan Raden Ajeng Kartini untuk mewujudkan "Habis Gelap Terbitlah Terang" masih RELEVAN untuk TERUS KITA PERJUANGKAN di masa sekarang ini.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Tentu saja ketika kita sebagai orang tua mencoba "mengaitkan" nilai luhur perjuangan Raden Ajeng Kartini dengan KEADAAN BANGSA INDONESIA sekarang ini, kita harus memperhatikan umur anak kita dan memilih-milih kata yang kita gunakan. Tetapi intinya tetap sama : PERJUANGAN masih harus dilanjutkan karena HABIS GELAP TERBITLAH TERANG itu memang masih dalam proses.

Kepada anak (misalnya) dapat kita ajak merenung : kalau anak kita belajar keras, itu bukan semata-mata untuk menjadi juara kelas / menjadi pandai, tetapi untuk membuat bangsa ini maju. Seperti perjuangan Raden Ajeng Kartini yang bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk seluruh bangsanya.

Hal yang lain : Raden Ajeng Kartini tidak ragu untuk BERKORESPONDENSI dengan temannya di luar negeri guna membahas hal-hal yang PERLU UNTUK MEMAJUKAN BANGSANYA. Sekarang, anak-anak kita memang sudah tidak berkirim surat seperti zaman Raden Ajeng Kartini : sekarang sudah diganti dengan BBM atau FB atau Twitter. Masalahnya : apakah BBM atau FB atau Twitter ini juga sudah "MENIRU" apa yang dilakukan Raden Ajeng Kartini dulu, yaitu membahas hal-hal untuk memajukan bangsa, ataukah anak-anak kitq justru "kualitas pembicaraannya" di dalam BBM atau FB atau Twitter justru hanya "ber-ha-ha-hi-hi" atau sekedar "iseng-iseng" saja ?

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Memang kita tidak berharap bahwa anak kita jadi "aneh" di antara teman-temannya karena "sok serius" atau "sok idealis". Cukuplah kiranya kalau dalam ber-BBM ria atau ber-FB ria atau ber-Twitter ria itu anak-anak membahas pelajaran sekolah atau membuat program / kegiatan bersama yang positif di sekolah. Jangan sampai malah teknologi itu dipakai untuk saling bertukar foto atau video porno atau yang sejenisnya (apalagi : malah bikin foto atau video porno).

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Kalau dipikir-pikir, menemani anak untuk meneladan / meneruskan nilai-nilai luhur Raden Ajeng Kartini itu sebenarnya sederhana saja. Kalau misalnya ada guru di sekolah yang ulang tahun, makq anak-anak (para murid) mengucapkan Selamat Ulang Tahun dan berfoto bersama. Foto-foto ini kemudian di-share di Group BB atau di FB, supaya RASA SYUKUR ini bisa jadi KENANGAN INDAH BERSAMA. Dengan demikian, anak memang berlatih untuk MEMIKIRKAN orang lain supaya bisa GEMBIRA, dan itu bisa dinikmati BERSAMA-SAMA, tidak EGOIS.

Semoga dengan demikian, kelak ketika sudah dewasa, anak juga memang sudah terbiada untuk MEMIKIRKAN KEBAHAGIAAN ORANG LAIN, dan setiap langkahnya memang selalu dilandasi oleh prinsip ini.

Jayalah Indonesia !
Selamat Hari Kartini !
Habis Gelap Terbitlah Terang !

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----21 April 2013-----

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Alumnus Latihan Kepemimpinan Pemuda Tingkat Nasional Angkatan XXII / Cibubur -Jakarta 1990. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia.

Sabtu, 20 April 2013

MENJADI REPORTER / CAMERAMAN UNTUK "CERITA" KEPADA ANAK


Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Salah satu hal yang membuat saya sedih adalah ketika saya "harus" jalan-jalan tanpa didampingi anak dan istri. Rasanya, saya ingin berkata, "Ngapain bisa jalan-jalan, kalau tidak dengan anak dan istri".

Memang, adakalanya kita menemui tugas yang aneh. Contohnya, ya seperti yang saya katakan tadi : saya ada tugas menemani beberapa karyawan sebuah perusahaan sampai ke luar negeri, tetapi anak dan istri memang tidak bisa saya ajak (namanya juga tugas / kerja !). Terlebih lagi, anak dan istri saya belum pernah saya ajak jalan-jalan ke tempat itu.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Dalam kondisi seperti ini, apa yang bisa saya lakukan adalah "membawa oleh-oleh pengetahuan", sehingga sekalipun anak dan istri tidak ikut jalan-jalan, tetapi pada saat pulang kita bisa "bercerita" tentang "hal-hal unik" apa yang ada di tempat itu.

Caranya sederhana saja. Saya menggunakan handycam / camcoder merk Samsung dengan harga Rp 1.950.000,- (untuk handycam / camcoder, ini adalah harga yang murah meriah) untuk MEREKAM APA SAJA yang nantinya akan saya gunakan sebagai BAHAN CERITA kepada anak dan istri di rumah. Jadi, memang di dalam hati ini saya tidak BERNIAT PIKNIK / JALAN-JALAN seorang diri, tetapi memang sudah menanamkan niat di dalam hati bahwa saya adalah seorang REPORTER / CAMERAMAN yang membuat film dokumenter untuk anak dan istri. Jujur saja, dengan cara ini "rasa bersalah" saya karena tidak bisa jalan-jalan bersama anak dan istri bisa terkurangi.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
VIDEO yang saya buat dalam tugas "jalan-jalan" seperti itu memang bisa dijadikan bahan cerita sambil ditonton bersama. Contohnya, seperti video pada contoh di bawah ini (dalam tugas "jalan-jalan menemani karyawan");  tetapi mohon maaf bahwa sepertinya hanya dapat dilihat dengan Notebook / Laptop / Personal Computer. Semoga Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth berkenan memaafkan saya tentang hal ini.



Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Demikianlah sekedar "sharing" kali ini : tentang mengurangi rasa bersalah ketika terpaksa jalan-jalan tanpa bisa mengajak anak dan istri turut serta (sebab memang secara teknis dan etik tidak dimungkinkan). Caranya yaitu dengan menanamkan niat di dalam hati untuk menjadi REPORTER / CAMERAMAN bagi anak dan istri di rumah. Dengan demikian, anak dan istri juga bisa ikut menikmati kisah perjalanan itu, bahkan menambah pengetahuan juga.

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----20 April 2013-----

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia.

Jumat, 19 April 2013

BERJUANG UNTUK "AJEG" & MENGATASI BANYAK ALASAN

Majalah Jurnalistik "Fresh !" SMP Domenico Savio - Edisi ke-2

Bukan hanya anak-anak, kita para orang tua juga ada kecenderungan "tergoda" untuk menggebu-gebu ketika memulai sesuatu, tetapi kemudian jadi bosan dan akhirnya "padam"....

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Tidak terasa sekarang ini sudah bulan April 2013. Ini berarti Blog Holiparent ini sudah hampir berumur 1 tahun. Tentu saja, dengan segala liku-likunya : sering tidak terbit karena berbagai alasan, sampai beberapa edisi yang karena ada "trouble teknis" yang menyebabkan edisi tertentu hanya dapat dibuka dengan Personal Computer / Notebook (tetapi tidak bisa dibuka dengan Smartphone / BB / Tablet). Saya sungguh-sungguh bersyukur kepada Tuhan dan berterima kasih kepada Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth., yang sudah menjadi pembaca setia Blog Pendidikan ini (yang seharusnya terbit setiap hari). Sungguh, saya begitu berterima kasih bahwa Blog Pendidikan ini sudah dibaca hampir 15.000 kali... Dulu, ketika baru dibaca 100 kali saja, saya sudah senang bukan main...

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Ngomong-ngomong tentang "keajegan" dalam melanjutkan apa yang sudah dimulai, saya jadi ingat anak saya yang di bulan Februari 2013 yang lalu menerbitkan Majalah Jurnalistik di sekolahnya, bersama teman-temannya. Semangat mereka menggebu-gebu. Dan senangnya bukan main waktu Majalah Jurnalistik SMP Domenico Savio Semarang ini terbit perdana. Ditambah lagi tanggapan para pembaca (guru dan teman-teman sekolah), membuat kegembiraan dan semangat mereka semakin meluap-luap.

Saya ketika itu justru berpesan, bahwa semua semangat itu jangan dihabiskan begitu saja untuk menggarap edisi perdana. Masih ada edisi-edisi berikutnya yang harus diterbitkan setiap bulannya. Masih selalu perlu ide-ide baru supaya Majalah Jurnalistik yang diberi nama "Fresh !" ini benar-bemar "fresh" setiap bulannya dibaca semua guru dan murid di sekolah itu. Ibarat lari, ini adalah lari marathon yang perlu mengatur strategi dan stamina. Terutama, MENGATASI RASA BOSAN.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Saya tidak menuduh bahwa semua orang adalab pem-bosan alias orang yang mudah bosan. Tidak. Tetapi memang kalau kita lihat, biasanya untuk MEMULAI sesuatu itu, entah membuat Majalah Jurnalistik, entah membuat Blog Pendidikan, adalah jauh LEBIH MUDAH & LEBIH BERSEMANGAT daripada tetap MENERUSKANNYA SECARA RUTIN. Biasanya, rasa bosan itu muncul dengan berbagai macam kedok / alasan. Yang paling umum adalah : sibuk.

Saya sendiri mengakui bahwa kesibukan memang yang membuat Blog Holiparent ini beberapa kali tidak terbit setiap hari. Tetapi saya sadar bahwa ITU TETAPLAH ALASAN SAJA. Perlu tekad yang kuat dan kesadaran yang penuh untuk KEMBALI BANGKIT : kalaupun memang sibuk, ya harus DILUANGKAN di sela-sela waktu sibuk itu untuk tetap MENERUSKAN apa yang sudah DIMULAI.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Saya mengawali menulis blog edisi kali ini sekitar pk. 17.30, di dalam mobil, sambil menunggu istri pulang kantor (kebetulan hari ini saya menjemput istri pulang kantor). Dan, baru saya lanjutkan / saya selesaikan sekitar pk 20.30 di salah satu rumah makan sambil saya makan malam dengan istri (karena saya tidak mungkin nge-blog sambil nyetir mobil; istri saya biasa tidak mau nyetir mobil kalau ada saya).

Ini adalah PERJUANGAN bagi saya untuk tetap menulis blog secara AJEG. Dan...tidak menggunakan alasan ini itu.

Semoga dengan demimian, kita pun dapat menemani dan memberi contoh kepada anak kita untuk selalu AJEG meneruskan apa yang sudah dimulai, dan tidak terjebak pada RASA BOSAN ataupun BANYAK ALASAN.

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----19 April 2013-----

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia.

Kamis, 18 April 2013

BELAJAR DARI & DALAM PROSES

Orang tua memiliki banyak kesempatan untuk menemani anak supaya anak selalu belajar dari dan dalam proses. Ketika ada kesempatan jalan-jalan bersama anak di pantai / laut misalnya, anak ditemani oleh orang tuanya untuk MENGAMATI & MENIKMATI proses-proses apa saja yang ada di lingkungan pantai / laut. Dengan demikian, anak terbiasa untuk SECARA DITAIL  belajar dalam PROSES, tidak serba instan.


Waktu saya menulis blog ini, hujan lebat sedang mengguyur bumi. Jam (di smartphone) menunjukkan pukul 20.00 Waktu Indonesia Barat. Hujan sudah turun sejak pukul 16.00 tadi. Sudah empat jam, dan belum reda juga.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Saya hampir saja terlena untuk menulis cerpen (cerita pendek) dengan kalimat pembuka di atas. Memang, semasa masih SMP sampai SMA, saya adalah penulis cerpen. Juga artikel ilmiah populer. Tetapi tulisan saya yang pertama baru dimuat ketika saya kelas III SMA. Dimuat di surat kabar Jawa Tengah. Wah, senangnya bukan main. Padahal, kalau dihitung-hitung, sudah sejak enam tahun sebelumnya saya mengirim tulisan ke surat kabar. Baru setelah enam tahun proses yang panjang dan tidak terhitung banyaknya tulisan yang sudah saya kirim, akhirnya ada juga SATU tulisan yang dimuat !

Memang, setelah itu tulisan demi tulisan saya dimuat di berbagai surat kabar, tabloid, dan majalah. Meskipun, ada yang harus disertai dengan PRESENTASI di hadapan dewan redaksi salah satu media massa di Jakarta. Waktu itu umur saya 29 tahun. (Sekarang umur saya 43 tahun. Artinya, itu sudah 14 tahun yang lalu).

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Pengalaman berjuang untuk me jadi penulis ini berkali-kali saya ceritakan kepada anak saya. Juga kepada banyak orang yang lai . Intinya sederhana saja : tidak ada yang instan. Semua itu perlu proses, perlu waktu, perlu perjuangan dan doa.

Saya juga selalu mengatakan, beberapa orang ada yang memerlukan waktu kurang dari enam tahun ketika tulisan-tulisannya sudah dimuat di media massa. Beberapa orang yang lain perlu waktu lebih dari enam tahun. Semua itu adalah proses. TIDAK PERLU IRI. TIDAK PERLU MINDER / RENDAH DIRI.

Yang penting sebenarnya bukan waktu enam tahun, atau tujuh tahun, atau delapan tahunnya. Tetapi MENJALANI PROSES, BELAJAR DARI & DALAM PROSES, itulah esensinya. Di sini terkandung keteguhan, ketekunan, kesabaran, hasrat, cinta dan kesabaran.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Anak memang perlu kita beri cerita, perlu kita beri contoh, tentang nilai-nilai keteguhan, ketangguhan dan sebagainya tadi. Semoga dengan demikian, anak kita jadi lebih siap memasuki dunia kerja di saat dia dewasa kelak. Sebab sebagai seorang praktisi psikologi industri dan komunikasi di perusahaan-perusahaan, saya sudah membuktikan secara empiris / berdasarkan pengalaman bahwa kesuksesan orang bekerja tidak dapat lepas dari KESUNGGUHANNYA BELAJAR DARI & DALAM PROSES yang memerlukan WAKTU dan juga KESUNGGUHAN / KETABAHAN dan sebagainya tadi.

Selamat menemani anak.

Selamat menemani anak untuk BELAJAR DARI & DALAM PROSES.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----18 April 2013-----

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Il.uwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia.

Rabu, 17 April 2013

MENGENALKAN "REALITA ORANG" KEPADA ANAK

Ibarat cabai, meskipun sama-sama cabai, tetap saja ada variasinya : warnanya, ukurannya, rasa pedasnya. Ada baiknya orang tua menemani anak dalam hal ini : bahwa orang itu bermacam-macam, tidak semuanya baik, juga tidak semuanya jelek; dan tidak ada yang 100% baik pula tidak ada yang 100% jelek. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri. Dengan demikian, anak sudah belajar tentang "bagaimana" menghadapi realita bahwa orang itu memang bermacam-macam.


Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Malu rasanya, sudah hampir sebulan saya tidak men-sharing-kan apapun dalam blog inspirasi pendidikan kreatif ini. Ada sekian banyak alasan, tetapi alasan tetaplah alasan. Jadi, tidak layak saya uraikan di sini.

Hari-hari dalam satu bulan terakhir ini saya beberapa kali ngobrol ringan dengan anak saya semata wayang yang duduk di kelas VIII (SMP Kelas II). Intinya, saya sedang ada kasus yang harus ditangani di tempat kerja. Ada dua orang pimpinan perusahaan yang bersekongkol sehingga membuat perusahaan dalam kondisi bahaya : bisa rugi, bisa tutup karena bangkrut.

Tentu saja, saya mengemas cerita saya secara garis besar saja, yang penting anak saya tahu bahwa perbuatan kedua orang pimpinan ini adalah TIDAK BENAR baik secara manajemen maupun secara hukum. Akibatnya, kedua orang pimpinan ini harus dicopot dari jabatannya. Padahal, kedua orang pimpinan perusahaan ini sudah menutupi perbuatannya sedemikian rupa, namun akhirnya ketahuan juga.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Ada kalanya kita perlu menceritakan kepada anak kita (sesuai umur mereka) bahwa memang ada orang yang berbuat CURANG. Dan bahwa kita memang harus TEGAS bertindak menghadapi orang yang seperti itu. Perlu juga dijelaskan bahwa ketika ketahuan, orang seperti itu pasti punya ALASAN PEMBENAR, tetapi kita harus tetap teguh untuk MENGUNGKAP supaya kebenaran itu dapat menjadi jelas.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Selain itu, kita juga harus menjelaskan kepada anak kita bahwa apa yang kita lakukan TIDAK DIDASARKAN PADA RASA BENCI kepada orang yang curang seperti itu, tetapi justru kita MENGASIHI orang itu; karena yang kita benci adalah PERBUATAN CURANGNYA, bukan orangnya. Supaya anak tidak bingung, kita jelaskan bahwa : kecurangan orang itu kita ungkap, orang itu harus menerima hukuman atas kecurangannya, tetapi apabila orang itu juga ada perbuatan baik atau dia sudah insaf, maka dia kita beri kesempatan untuk memperbaiki diri (meskipun bukan berarti dia boleh menjadi pimpinan lagi di perusahaan itu). Bisa jadi, dia tetap bekerja di perusahaan yang sama, tetapi menjadi anak buah, bukan pimpinan lagi. Atau bisa jadi dia bekerja di perusahaan lain. Kita tidak boleh selalu menceritakan kejelekannya saja. Kalau dia punya kebaikan, harus kita katakan juga secara jujur.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Tulisan kali ini mungkin terkesan agak muram. Memang, apa yang saya sharingkan di atas adalah kenyataan yang sedang saya alami. Bahwa kedua orang pimpinan yang bersekongkol untuk berbuat curang itu salah satunya adalah mantan anak buah saya sekitar 7 (tujuh) tahun yang lalu. Tetapi waktu berlalu, dan orang bisa berubah. Dan mantan anak buah saya itu entah bagaimana pergaulannya akhir-akhir ini, ternyata bisa sedemikian curang. Dan, saya memang memberikan penilaian yang "fair" : bahwa dia salah, bahwa dia harus menanggung hukumannya.

Semoga dengan demikian anak kita menjadi lebih dewasa dalam menilai orang lain : bahwa tidak semua orang jelek, dan bahwa tidak semua orang baik.

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----17 April 2013-----

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia.

Minggu, 24 Maret 2013

MENEMANI ANAK : BELAJAR DARI DOKTER AN LIONG




(Mohon maaf, video di atas mungkin hanya bisa dilihat memakai Personal Computer / Laptop / Notebook. Video di atas juga bisa dilihat memakai Smartphone / Gadget tertentu asalkan software dan memorinya mencukupi)

Lagu di atas diciptakan (syair dan liriknya) dan diaransemen sendiri oleh anak. Kita sebagai orang tua barangkali memang tidak bisa menemani anak bermain gitar (karena memang tidak bisa main gitar, misalnya), tetapi adalah baik kalau selalu menyempatkan diri menikmati permainan gitar anak dan selalu memberikan tepuk tangan ketika anak selesai memainkan sebuah lagu (apalagi lagu ciptaan anak sendiri). Anak akan merasa dihargai dan didukung oleh orang tuanya. 


Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Malam itu saya bertemu dengan Dokter An Liong, seorang dokter yang tinggal di Belgia dan praktek sebagai dokter di Belanda. Apa yang menarik dari Dokter An Liong hingga saya ingin menuliskannya dalam blog pendidikan ini ?

Dokter An Liong bukanlah orang yang gemar olah raga. Tetapi anaknya sangat gemar olah raga. Suatu ketika, Dokter An Liong bertanya kepada anaknya, "Kamu ingin dibelikan apa sebagai hadiah ulang tahunmu ?"

Anaknya menjawab, "Saya tidak ingin dibelikan apa-apa. Saya ingin punya kenangan lari marathon New York 42 K. Waktunya masih 8 bulan lagi."

Artinya, anaknya ingin Dokter An Liong menemaninya ikut lari marathon di New York sepanjang 42 kilometer !  

Maka, Dokter An Liong pun sejak saat itu rajin berlatih lari marathon. Waktunya masih 8 bulan lagi. Demi sang anak yang ingin punya kenangan lari marathon 42 kilometer bersama dengan ayahnya ! Bahkan, Dokter An Liong sampai menyewa pelatih dan dokter ahli olah raga untuk persiapannya ini.

*****

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Cerita nyata di atas sengaja saya sharingkan untuk menunjukkan bagaimana orang tua memberikan hadiah bukan sesuai kemauannya sendiri saja, tetapi juga dengan memperhatikan keinginan anak. Tentu saja, orang tua perlu melihat, apakah yang diinginkan anak adalah sesuatu yang baik atau tidak. Kalau yang diinginkan oleh anak bukanlah sesuatu yang baik / bermanfaat, tentu orang tua harus mengarahkan / meluruskan. 

Intinya adalah menemani anak, bukan sekedar memberikan materi / barang / uang semata.

Ketika anak saya masih duduk di kelas IV Sekolah Dasar (sekarang dia duduk di kelas VIII Sekolah Menengah Pertama), dia ingin bermain gitar. Karena kami tidak punya gitar, maka saya dan istri membelikan gitar untuk anak. Kami sengaja membeli dua gitar, untuk anak dan untuk saya. Padahal saya tidak bisa main gitar. Dan sejak saat itu, anak dan saya selalu main gitar bersama. Jujur saja, sebenarnya saya hanya sebatas menemani saja, karena saya memang tidak bisa dan (menurut saya) memang saya tidak berbakat. Meskipun saya hanya sebatas menemani saja dengan permainan yang pas-pasan, anak menjadi senang dan bersemangat. Saya juga mengenalkan anak dengan teman-teman saya yang pandai main gitar (anak saya tidak ingin les gitar, hanya ingin belajar secara otodidak saja). Saya juga selalu menyempatkan diri melihat video di www.youtube.com tentang Sung Ha Jung dan tentang Jubing Kristanto (keduanya pakar main gitar). Tentu  saja, seiring dengan berjalannya waktu, anak saya semakin mahir main gitar, sedangkan saya tetap saja...pas-pasan.... 

*****

Selamat menemani anak....

Bukan sekedar memberikan uang / materi saja...

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----o0o-----

Foto, video, tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.


Minggu, 10 Maret 2013

MENEMANI ANAK - BELAJAR ILMU ALAM DI PANTAI SENJA



Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Meskipun biasanya pantai di kala senja digunakan untuk pasangan muda-mudi yang sedang memadu kasih alias berpacaran, tidak ada salahnya mengajak anak kita jalan-jalan di pantai ketika senja hari. Tentu saja, bukan untuk menonton muda-mudi yang sedang berpacaran, tetapi untuk menikmati temaram senja di pantai bersama anak sambil ngobrol santai tentang ilmu alam "yang sedang dilihat dengan pandangan mata secara langsung".






Sabtu sore itu, tanggal 9 Maret 2013, tiba-tiba saja saya dan istri merasa kangen dengan suasana pantai di kala senja. Memang, ini ada kaitannya dengan nostalgia ketika kami berdua masih usia 19-24 tahun, ketika kami berdua sebagai mahasiswa Perikanan Universitas Diponegoro biasa melakukan praktikum di Laboratorium Pengembangan Wilayah Pantai (LPWP) "Prof. Dr. Gatot Rahardjo Joenoes" di kawasan Pantai Kartini - Jepara.

Maka, saya dan istri mengajak Agatha anak kami untuk jalan-jalan di Pantai Marina - Semarang, yang letaknya relatif dekat rumah kami (hanya 15 menit dengan kendaraan bermotor).



Jalan-jalan di Pantai Marina ketika pagi hari memang sudah sering kami lakukan bersama. Tetapi jalan-jalan di pantai ketika senja hari memang belum pernah. Dan....anak merasa senang sekali melihat pantai di senja hari karena "berbeda dengan pantai di pagi hari".



Sambil berfoto-foto ria, anak dapat melihat kenyataan alam bahwa air laut mengalami "pasang naik" ketika senja hari. Dari istilah "pasang naik" ini pun, anak sudah bisa kita ajak ngobrol ilmiah tentang pelajaran Bahasa Indonesia, bahwa istilah yang baku sebenarnya adalah "pasang naik" ketika permukaan air laut sedang meninggi di pantai, dan "pasang surut" ketika permukaan air laut sedang menjadi rendah di pantai. Akan tetapi, dalam istilah sehari-hari, istilah "pasang naik" biasa disebut sebagai "pasang" saja, sedangkan istilah "pasang surut" biasa disebut sebagai "surut" saja.


Dengan berdiri di tepi pantai (kebetulan pantainya sudah merupakan pantai buatan), maka anak dengan ditemani istri juga bisa "merasakan" bahwa "gelombang air laut" itu adalah salah satu bentuk "energi" ketika debur ombak membasahi kaki. Jadi, ketika kaki sedang terkena ombak, maka sambil tertawa-tawa gembira, jangan lupa untuk tetap me-ngobrol-kan hal-hal yang ilmiah....


Karena anak sudah sering diajak jalan-jalan di Pantai Marina ketika pagi hari, maka pada saat anak diajak jalan-jalan di pantai yang sama ketika senja hari, anak memang dapat melihat perbedaan kondisi pantai ketika sedang "pasang naik" di senja hari (dengan gelombang yang relatif besar) dan ketika sedang "pasang surut" di pagi hari (dengan gelombang yang relatif kecil).

 Di sini, anak sebenarnya sedang mengalami / menjalani sendiri apa yang disebut dengan metode ilmiah yaitu melakukan pengamatan dengan melihat (meskipun tidak terlalu sistematis) gejala-gejala / perubahan apa yang terjadi....pada saat pagi seperti apa...pada saat sore seperti apa...pada saat "pasang naik" seperti apa...pada saat "pasang surut" seperti apa.... Anak diajak untuk memiliki pengalaman untuk melakukan pengamatan guna mengetahui perbedaan alam dan memikirkan mengapa hal itu terjadi.


Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Bahkan warna langit temaram senja yang berwarna lembayung pun dapat pula dijadikan bahan obrolan ilmiah sambil menikmati syahdunya pantai. Anak bisa diajak ngobrol tentang teori warna yang me-ji-ku-hi-bi-ni-u (merah - jingga - kuning - hijau - biru - nila - ungu). Kalau kebetulan sudah pernah menonton film dengan judul "Habibie & Ainun" (sempat ditulis di blog ini juga), maka anak bisa diingatkan bahwa perubahan warna langit itu dikarenakan panjang gelombang warna yang tidak sama antara warna yang satu dengan warna yang lainnya.


Selamat menemani anak....

Selamat menemani anak dengan jalan-jalan secara murah meriah dan tetap ilmiah....

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".


-----10 Maret 2013-----

Foto-foto oleh Bernardine Agatha Adi Konstantia (siswi kelas VIII-F SMP Pangudi Luhur Domenico Savio - Semarang) dan Constantinus Johanna Joseph.

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph, sarjana di bidang ilmu alam dan sarjana di bidang ilmu sosial. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.

Minggu, 03 Maret 2013

MENEMANI ANAK : MAKAN YANG BIASA-BIASA SAJA....


Makan soto ayam di emperan GOR Tri Lomba Juang - Semarang juga menyenangkan.....

**********

-->
Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Di beberapa perusahaan di mana saya memberikan jasa profesional sebagai "Praktisi Human Resources", saya selalu berpesan kepada para karyawan yang akan mendapatkan promosi jabatan, baik dari level staf menjadi supervisor, dari level supervisor menjadi manajer, maupun dari level manajer menjadi direktur (sebenarnya, menurut Undang-Undang Perseroan Terbatas yang berlaku saat ini, direktur itu bukan karyawan, tetapi pengelola perusahaan), supaya menjaga diri untuk tidak terlena "hidup mewah" ketika sudah mendapatkan jabatan baru, sebab memang sudah banyak bukti / korban di mana "karyawan yang dulunya sederhana dan jujur, ketika mendapat jabatan lebih tinggi justru terpeleset karena uang / hidup mewah sehingga akhirnya dikeluarkan dari perusahaan / karirnya hancur".

**********

Lalu, apa kaitannya dengan blog pendidikan anak Holiparent ini ?

Perilaku orang dewasa menurut para ahli psikologi memang ditentukan oleh faktor genetis / keturunan dan faktor proses belajar sosial / belajar dari pengalaman sehari-hari. Saya tidak mengatakan bahwa "karyawan yang ketika mendapat jabatan lebih tinggi akhirnya menyalahgunakan keuangan / wewenangnya" disebabkan oleh pendidikan yang salah di masa kecilnya. Tidak. Sebab proses belajar sosial itu terus berlanjut sampai ketika dia dewasa. Tetapi yang saya maksudkan adalah ini : bahwa pendidikan di masa kecil (termasuk proses belajar sosial dari pengalaman-pengalaman yang dialami sehari-hari) merupakan fondasi yang berpengaruh dalam proses belajar sosial di usia-usia selanjutnya.

Kalau ketika masih kecil anak dibiarkan untuk selalu hidup bermewah-mewah, misalnya makan harus selalu di restoran yang mahal-mahal, maka pengalaman ini akan tertanam di dalam diri anak, dan dimungkinkan makin berkembang ketika anak bertambah usianya.

Saya ada satu contoh nyata yang baru-baru ini saya tangani. Seorang karyawan (dari berbagai sumber yang saya telusuri) sudah terbiasa hidup mewah karena ayahnya masih bekerja dan memiliki jabatan yang tinggi. Dia (sebut saja Jaka, bukan nama sebenarnya) terbiasa menggunakan mobil-mobil ayahnya secara gonta-ganti untuk mengunjungi pacarnya (sebut saja Bunga, bukan nama sebenarnya).
Jaka dan Bunga akhirnya menikah. Selama ayah Jaka masih bekerja / punya jabatan, keluarga mereka didukung secara keuangan oleh ayah Jaka. Tetapi kemudian ayah Jaka sakit, meninggal dunia, dan keuangan keluarga ayah Jaka merosot tajam. Otomatis, keuangan keluarga Jaka dan Bunga juga menjadi sulit, karena sebenarnya Jaka dan Bunga masing-masing hanya bekerja sebagai staf biasa. Tetapi gaya hidup mewahnya tidak bisa hilang. Mereka mulai berhutang ke banyak pihak. Bahkan ketika Jaka mendapatkan promosi jabatan (karena waktu itu kerjanya cukup baik) dan penghasilannya meningkat, aktivita berhutang itu justru semakin meningkat juga, bahkan Jaka juga berhutang kepada anak buahnya.

Singkat cerita, wibawa Jaka jatuh di mata anak buahnya, kepemimpinannya tidak efektif, dan kinerjanya dinilai jelek oleh manajemen perusahaan. Jaka akhirnya dicopot dari jabatannya....

**********

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Tentu saja, kita boleh-boleh saja mengajak anak kita untuk makan di restoran mahal, menginap di hotel bagus, dan sebagainya. Yang harus kita perhatikan adalah ini : bahwa kita jangan lupa juga memberikan pengalaman kepada anak kita untuk makan di soto pinggir jalan / di trotoir, belanja di pasar tradisional (tidak selalu ke mall), naik angkot (tidak selalu naik mobil pribadi ber-AC), dan sebagainya. Dengan demikian anak memiliki pengalaman bahwa "hidup itu tidak harus mewah, tidak harus mahal, karena yang biasa-biasa saja, yang murah meriah, juga ada dan bisa dinikmati". Anak dengan demikian tidak akan canggung untuk hidup "biasa-biasa saja", dan tidak memaksakan diri untuk hidup bermewah-mewah (kalau memang tidak mampu).

**********

Selamat menemani anak...

Selamat memberikan pengalaman kepada anak bahwa "yang biasa-biasa saja itu juga bisa dinikmati"...

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

**********03 Maret 2013**********

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.
Melayani pertanyaan lewat e-mail : constantinus99@gmail.com.



Kamis, 28 Februari 2013

MENEMANI ANAK : "HIDUP ADALAH PERJUANGAN"

Nenek ini adalah tenaga kebersihan di salah satu tempat doa di kawasan Ambarawa. Meskipun sudah berusia lanjut, beliau tetap dengan tekun dan disiplin menjalankan pekerjaannya. Kata-kata "hidup adalah perjuangan" bukan berarti bahwa hidup itu berat, tetapi bahwa hidup itu harus dijalani dengan keikhlasan dan kesungguhan hati. Dan, orang tua perlu menemani anak supaya anak dapat MERESAPKAN makna ini : bahwa hidup bukan hanya sekedar enak saja.

Malam ini, ketika tulisan untuk blog Holiparent ini saya buat, saya dan anak saya semata wayang sedang duduk berdua di dalam mobil menunggu istri saya yang sedang lembur akhir bulan di kantor tempatnya bekerja. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Sudah menjadi tradisi bahwa karyawan bank seperti istri saya pasti lembur sampai malam karena "akhir bulan". Dan ini dijalaninya sejak 17 tahun yang lalu (sejak tahun 1996).

**********

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Pada kesempatan kali ini saya bermaksud men-sharing-kan hal ini : bahwa anak (apabila dipandang sudah cukup umur, seperti anak saya yang saat ini sudah duduk di kelas VIII atau kelas II SMP) ada baiknya diajak untuk MERASAKAN bahwa HIDUP ITU ADALAH PERJUANGAN. Bahwa orang tua harus bekerja sampai malam untuk mendapatkan penghasilan. Bahwa untuk itu diperlukan doa, kegigihan / kemauan, dan juga fisik / tubuh yang mendukung.

**********

ANAK BELAJAR DARI PROSES BELAJAR SOSIAL. Begitulah para ahli psikologi mengatakan. Artinya, anak akan meniru apa yang dilihatnya. Pendapat ini dalam pengalaman saya terbukti benar.

Saya tidak pernah menyuruh anak saya untuk belajar atau mengerjakan tugas-tugas sekolahnya hingga larut malam bahkan hingga dini hari. Bahkan anak saya seringkali minta saya antar untuk memfoto kopi dan menjilid tugas-tugas pada pujul 02.00 atau 03.00 dini hari. Tentu saja, sebagai orang tua saya MENEMANI / MENGANTARNYA.

Tentu saja, kalau tugas-tugas sekolah bisa diselesaikan tanpa lembur, pasti lebih bagus, karena tubuh juga perlu istirahat malam. Akan tetapi yang mau saya sampaikan adalah ini : kalau tugas-tugas menumpuk, maka orang tua sebaiknya memberikan contoh ataupun menemani anak UNTUK TIDAK MENYERAH dalam menyelesaikan tugas-tugas itu. Orang tua dapat menjadi contoh untuk tetap gigih mengerjakan tugas hingga tuntas.
(Anak saya memang mencontoh tanpa disuruh : saya terbiasa lembur hingga larut malam bahkan dinihari ketika mengerjakan tugas-tugas kuliah maupun pekerjaan. HIDUP ADALAH PERJUANGAN DALAM DOA DAN USAHA, demikian saya katakan kepada anak saya).

**********

Selamat menemani anak....

Selamat memberikan contoh dan menemani anak....bahwa orang harus gigih dalam menyelesaikan tugas hingga tuntas....

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

**********28/02/2013**********

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi, anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.

Minggu, 24 Februari 2013

MENEMANI ANAK BERKARYA NYATA


Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
"Karya nyata" yang saya maksud dalam tulisan ini adalah sederhana saja : Majalah Sekolah. Mengapa saya sebut "karya nyata" ? Karena secara "nyata" menghasilkan "karya" yang merupakan "gabungan" dari berbagai "teori / konsep" yang telah dipelajari anak bersama teman-temannya : (1) menulis artikel, (2) melakukan wawancara dan menuliskannya, (3) memotret dan mengedit potret, (4) membuat / menyusun tata letak isi / rubrik, (5) mencari sponsor dan memikirkan biaya produksi serta cara distribusi / menjualnya, (6) mengkoordinir teman-teman / membagi tugas masing-masing personil, (7) membuat dan melaksanakan jadwal kerja, (8) mendisain dan mencetak sampul termasuk disain-disain iklan, (9) bekerja dengan komputer pribadi, (10) bekerja sama / mencari percetakan untuk sampul majalah (berwarna, kertas ivory) maupun fotokopi (untuk isi) sekaligus penjilidannya.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Anak tentu membutuhkan BIMBINGAN untuk itu semua, tetapi itu bukan berarti bahwa orang tua MEMBUATKAN anak. Kalau orang tua MEMBUATKAN untuk anak, maka anak TIDAK AKAN BELAJAR tentang itu semua secara maksimal. Jadi, yang penting bukanlah majalah yang dihasilkan adalah bagus sekali atau tidak, tetapi apakah anak belajar secara maksimal untuk menghasilkan karya nyata itu.

--------------------

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Di bulan Februari 2013 ini anak saya bersama teman-temannya dari Ekstra Kurikuler Jurnalistik mendapat tugas dari guru pembimbing ekstra kurikuler jurnalistik untuk membuat "majalah ekstra kurikuler jurnalistik". Mereka mengerjakan tugas ini dengan penuh semangat, karena di sekolah anak saya selama ini baru ada "majalah sekolah", dan belum ada "majalah ekstra kurikuler jurnalistik". Memang, tulisan anak saya juga sering dimuat di "majalah sekolah"-nya, tetapi mampu menerbitkan sendiri "majalah ekstra kurikuler" tentu saja sangat membanggakan bagi dia dan teman-temannya. Mereka juga bisa belajar tentang 10 hal yang saya sebutkan di awal tulisan ini secara nyata dan menghasilkan "karya nyata". ANAK JADI PUNYA PENGALAMAN MENG-EKSEKUSI APA YANG TELAH DI-KONSEP-NYA, BERDASARKAN SEMUA ILMU YANG TELAH DIPELAJARINYA.

--------------------

Selamat menemani anak....

Selamat mendukung anak (bukan membuatkan), sehingga anak punya PENGALAMAN menghasilkan karya nyata....

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

----------24/02/2013----------

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph, Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.

Tulisan ini dibuat sebagai penghargaan atas terbitnya "Majalah Jurnalistik untuk Kita Semua : FRESH!" di SMP Pangudi Luhur Domenico Savio Semarang, yang terbit perdana di bulan Februari 2013 (oleh kelompok ekstra kurikuler kelas VIII, dengan Pemimpin Redaksi Bernardine Agatha Adi Konstantia, dan didukung oleh semua teman-teman, guru-guru, dan para orang tua yang setia menemani.....).

Sabtu, 23 Februari 2013

MENEMANI ANAK...NOSTALGIA MASA KECIL....


Agatha ketika usia 8 bulan dengan Mamah-nya (Mamahnya saat itu usia 30 tahun). Foto dibuat tahun 2000.



Sidik kaki bayi yang ada dalam Buku Bayi Agatha (tahun 1999)



Agatha di kelas VIII-F SMP PL Domenico Savio (usia 13 tahun).  Foto dibuat tahun 2012.


Mamah-nya Agatha usia 41 tahun. Foto dibuat tahun 2011.

----------

Beberapa orang tua berdiskusi dengan saya tentang anaknya yang sudah beranjak dewasa.

"Tidak seperti ketika masih kecil dulu, sekarang anak saya mulai tidak mau saya ajak jalan-jalan atau nonton bioskop bersama orang tuanya," begitulah keluhan dari para orang tua ini.

Intinya adalah bahwa anaknya sekarang ini sudah mulai punya "dunia sendiri", sehingga kurang tertarik dengan acara / kegiatan / "dunia" orang tuanya.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya hal ini juga kita lakukan kepada orang tua kita dulu, pada saat kita beranjak dewasa. Jadi, memang tidak ada yang aneh atau mengherankan. Bedanya adalah, di zaman kita remaja dulu (tahun 1980-an misalnya) tingkat kesibukan orang tua maupun anak tidak setinggi sekarang ini. Sekarang ini, dengan berbagai fasilitas komputer dan smartphone / handphone dan sebagainya, anak bisa "sungguh-sungguh sibuk" dan "sungguh-sungguh asyik" dengan barang-barang canggih tersebut, sehingga "lupa / tidak asyik lagi" kalau ngobrol atau bercanda dengan orang tuanya.

--------------------

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Hal-hal tersebut di atas adalah KENYATAAN yang oleh kita (para orang tua) harus hadapi sekarang ini. Anak tidak salah. Komputer / tablet / notebook tidak salah. Smartphone / handphone tidak salah. Karena "zamannya" memang seperti ini. TINGGAL BAGAIMANA KITA SEBAGAI ORANG TUA MENYIKAPINYA sehingga tetap ada "keasyikan yang sama" yang dapat membuat anak dan orang tua dapat ngobrol di rumah saat santai, di sela-sela kesibukan / "keasyikan" masing-masing.

--------------------

Saya selalu saja membawa foto anak saya ketika masih usia 8 bulan. Dia sedang digendong ibunya (istri saya). Wajahnya lucu. Matanya bundar. Sangat berbeda dengan anak saya sekarang (tahun 2013) yang berusia 14 tahun.

Foto itu saya simpan di dalam dompet. Sore hari, di rumah, saya sengaja mengajak anak ngobrol tentang foto yang saya keluarkan dari dompet saya ini. Kami memandangi foto itu bersama-sama, lalu tertawa bersama.  Gembira melihat betapa lucunya dia ketika itu. Matanya hitam bulat seperti mata boneka.

Atau, saya juga biasa menunjukkan kepada anak "buku bayi" ketika dia lahir di rumah sakit pada usia 8 bulan di kandungan Mamahnya (lahir prematur) dengan berat badan hanya 2,1 kg. Ada "cap telapak kaki" bayi anak saya di buku itu. Saya dan anak saya selalu saja tertawa bersama, menyadari betapa kecilnya dia pada saat dilahirkan. Begitu kecilnya, sampai-sampai kalau menimangnya harus dilakukan dengan alas berupa bantal tidur (artinya, anak saya ketika bayi demikian kecil mungil, sampai-sampai bantal tidur pun "terlihat besar" dan bisa djjadikan alas).

Ketika anak saya umur 2 tahun, saya dan dia juga membuat "jiplakan tangan" kami bersama. Caranya, jari-jari dan telapak tangan kiri ditaruh di atas kertas, lalu "dijiplak" dengan spidol. Ketika tangan di angkat dari kertas, maka pada kertas itu tampak gambar ukuran sebenarnya dari telapak tangan dan jari-jari tangan anak saya. 

Gambar seperti ini pun membuat kami tertawa bersama, menyadari betapa kecilnya tangan dia ketika itu.

Tentu saja, masih ada koleksi barang-barang lain yang dapat dipakai sebagai sarana ngobrol dengan anak, dengan menggunakan "barang-barang nostalgia". Misalnya, kertas kerja saya yang tanpa saya duga (waktu itu) dicoret-coret dengan spidol warna-warni oleh anak saya. Bukannya marah, saat itu justru kertas itu saya simpan dan saya laminating supaya tidak rusak. Sekarang, setiap kali saya menunjukkan kertas itu, anak saya tertawa melihat "hasil karyanya" ketika itu.

----------

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Selamat menemani anak....

Selamat bernostalgia dengan foto-foto atau barang-barang lama sambil bercerita dan tertawa gembira bersama anak....

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----23/02/2013-----

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph.
Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.