Kamis, 28 Februari 2013

MENEMANI ANAK : "HIDUP ADALAH PERJUANGAN"

Nenek ini adalah tenaga kebersihan di salah satu tempat doa di kawasan Ambarawa. Meskipun sudah berusia lanjut, beliau tetap dengan tekun dan disiplin menjalankan pekerjaannya. Kata-kata "hidup adalah perjuangan" bukan berarti bahwa hidup itu berat, tetapi bahwa hidup itu harus dijalani dengan keikhlasan dan kesungguhan hati. Dan, orang tua perlu menemani anak supaya anak dapat MERESAPKAN makna ini : bahwa hidup bukan hanya sekedar enak saja.

Malam ini, ketika tulisan untuk blog Holiparent ini saya buat, saya dan anak saya semata wayang sedang duduk berdua di dalam mobil menunggu istri saya yang sedang lembur akhir bulan di kantor tempatnya bekerja. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Sudah menjadi tradisi bahwa karyawan bank seperti istri saya pasti lembur sampai malam karena "akhir bulan". Dan ini dijalaninya sejak 17 tahun yang lalu (sejak tahun 1996).

**********

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Pada kesempatan kali ini saya bermaksud men-sharing-kan hal ini : bahwa anak (apabila dipandang sudah cukup umur, seperti anak saya yang saat ini sudah duduk di kelas VIII atau kelas II SMP) ada baiknya diajak untuk MERASAKAN bahwa HIDUP ITU ADALAH PERJUANGAN. Bahwa orang tua harus bekerja sampai malam untuk mendapatkan penghasilan. Bahwa untuk itu diperlukan doa, kegigihan / kemauan, dan juga fisik / tubuh yang mendukung.

**********

ANAK BELAJAR DARI PROSES BELAJAR SOSIAL. Begitulah para ahli psikologi mengatakan. Artinya, anak akan meniru apa yang dilihatnya. Pendapat ini dalam pengalaman saya terbukti benar.

Saya tidak pernah menyuruh anak saya untuk belajar atau mengerjakan tugas-tugas sekolahnya hingga larut malam bahkan hingga dini hari. Bahkan anak saya seringkali minta saya antar untuk memfoto kopi dan menjilid tugas-tugas pada pujul 02.00 atau 03.00 dini hari. Tentu saja, sebagai orang tua saya MENEMANI / MENGANTARNYA.

Tentu saja, kalau tugas-tugas sekolah bisa diselesaikan tanpa lembur, pasti lebih bagus, karena tubuh juga perlu istirahat malam. Akan tetapi yang mau saya sampaikan adalah ini : kalau tugas-tugas menumpuk, maka orang tua sebaiknya memberikan contoh ataupun menemani anak UNTUK TIDAK MENYERAH dalam menyelesaikan tugas-tugas itu. Orang tua dapat menjadi contoh untuk tetap gigih mengerjakan tugas hingga tuntas.
(Anak saya memang mencontoh tanpa disuruh : saya terbiasa lembur hingga larut malam bahkan dinihari ketika mengerjakan tugas-tugas kuliah maupun pekerjaan. HIDUP ADALAH PERJUANGAN DALAM DOA DAN USAHA, demikian saya katakan kepada anak saya).

**********

Selamat menemani anak....

Selamat memberikan contoh dan menemani anak....bahwa orang harus gigih dalam menyelesaikan tugas hingga tuntas....

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

**********28/02/2013**********

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi, anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.

Minggu, 24 Februari 2013

MENEMANI ANAK BERKARYA NYATA


Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
"Karya nyata" yang saya maksud dalam tulisan ini adalah sederhana saja : Majalah Sekolah. Mengapa saya sebut "karya nyata" ? Karena secara "nyata" menghasilkan "karya" yang merupakan "gabungan" dari berbagai "teori / konsep" yang telah dipelajari anak bersama teman-temannya : (1) menulis artikel, (2) melakukan wawancara dan menuliskannya, (3) memotret dan mengedit potret, (4) membuat / menyusun tata letak isi / rubrik, (5) mencari sponsor dan memikirkan biaya produksi serta cara distribusi / menjualnya, (6) mengkoordinir teman-teman / membagi tugas masing-masing personil, (7) membuat dan melaksanakan jadwal kerja, (8) mendisain dan mencetak sampul termasuk disain-disain iklan, (9) bekerja dengan komputer pribadi, (10) bekerja sama / mencari percetakan untuk sampul majalah (berwarna, kertas ivory) maupun fotokopi (untuk isi) sekaligus penjilidannya.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Anak tentu membutuhkan BIMBINGAN untuk itu semua, tetapi itu bukan berarti bahwa orang tua MEMBUATKAN anak. Kalau orang tua MEMBUATKAN untuk anak, maka anak TIDAK AKAN BELAJAR tentang itu semua secara maksimal. Jadi, yang penting bukanlah majalah yang dihasilkan adalah bagus sekali atau tidak, tetapi apakah anak belajar secara maksimal untuk menghasilkan karya nyata itu.

--------------------

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Di bulan Februari 2013 ini anak saya bersama teman-temannya dari Ekstra Kurikuler Jurnalistik mendapat tugas dari guru pembimbing ekstra kurikuler jurnalistik untuk membuat "majalah ekstra kurikuler jurnalistik". Mereka mengerjakan tugas ini dengan penuh semangat, karena di sekolah anak saya selama ini baru ada "majalah sekolah", dan belum ada "majalah ekstra kurikuler jurnalistik". Memang, tulisan anak saya juga sering dimuat di "majalah sekolah"-nya, tetapi mampu menerbitkan sendiri "majalah ekstra kurikuler" tentu saja sangat membanggakan bagi dia dan teman-temannya. Mereka juga bisa belajar tentang 10 hal yang saya sebutkan di awal tulisan ini secara nyata dan menghasilkan "karya nyata". ANAK JADI PUNYA PENGALAMAN MENG-EKSEKUSI APA YANG TELAH DI-KONSEP-NYA, BERDASARKAN SEMUA ILMU YANG TELAH DIPELAJARINYA.

--------------------

Selamat menemani anak....

Selamat mendukung anak (bukan membuatkan), sehingga anak punya PENGALAMAN menghasilkan karya nyata....

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

----------24/02/2013----------

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph, Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.

Tulisan ini dibuat sebagai penghargaan atas terbitnya "Majalah Jurnalistik untuk Kita Semua : FRESH!" di SMP Pangudi Luhur Domenico Savio Semarang, yang terbit perdana di bulan Februari 2013 (oleh kelompok ekstra kurikuler kelas VIII, dengan Pemimpin Redaksi Bernardine Agatha Adi Konstantia, dan didukung oleh semua teman-teman, guru-guru, dan para orang tua yang setia menemani.....).

Sabtu, 23 Februari 2013

MENEMANI ANAK...NOSTALGIA MASA KECIL....


Agatha ketika usia 8 bulan dengan Mamah-nya (Mamahnya saat itu usia 30 tahun). Foto dibuat tahun 2000.



Sidik kaki bayi yang ada dalam Buku Bayi Agatha (tahun 1999)



Agatha di kelas VIII-F SMP PL Domenico Savio (usia 13 tahun).  Foto dibuat tahun 2012.


Mamah-nya Agatha usia 41 tahun. Foto dibuat tahun 2011.

----------

Beberapa orang tua berdiskusi dengan saya tentang anaknya yang sudah beranjak dewasa.

"Tidak seperti ketika masih kecil dulu, sekarang anak saya mulai tidak mau saya ajak jalan-jalan atau nonton bioskop bersama orang tuanya," begitulah keluhan dari para orang tua ini.

Intinya adalah bahwa anaknya sekarang ini sudah mulai punya "dunia sendiri", sehingga kurang tertarik dengan acara / kegiatan / "dunia" orang tuanya.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya hal ini juga kita lakukan kepada orang tua kita dulu, pada saat kita beranjak dewasa. Jadi, memang tidak ada yang aneh atau mengherankan. Bedanya adalah, di zaman kita remaja dulu (tahun 1980-an misalnya) tingkat kesibukan orang tua maupun anak tidak setinggi sekarang ini. Sekarang ini, dengan berbagai fasilitas komputer dan smartphone / handphone dan sebagainya, anak bisa "sungguh-sungguh sibuk" dan "sungguh-sungguh asyik" dengan barang-barang canggih tersebut, sehingga "lupa / tidak asyik lagi" kalau ngobrol atau bercanda dengan orang tuanya.

--------------------

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Hal-hal tersebut di atas adalah KENYATAAN yang oleh kita (para orang tua) harus hadapi sekarang ini. Anak tidak salah. Komputer / tablet / notebook tidak salah. Smartphone / handphone tidak salah. Karena "zamannya" memang seperti ini. TINGGAL BAGAIMANA KITA SEBAGAI ORANG TUA MENYIKAPINYA sehingga tetap ada "keasyikan yang sama" yang dapat membuat anak dan orang tua dapat ngobrol di rumah saat santai, di sela-sela kesibukan / "keasyikan" masing-masing.

--------------------

Saya selalu saja membawa foto anak saya ketika masih usia 8 bulan. Dia sedang digendong ibunya (istri saya). Wajahnya lucu. Matanya bundar. Sangat berbeda dengan anak saya sekarang (tahun 2013) yang berusia 14 tahun.

Foto itu saya simpan di dalam dompet. Sore hari, di rumah, saya sengaja mengajak anak ngobrol tentang foto yang saya keluarkan dari dompet saya ini. Kami memandangi foto itu bersama-sama, lalu tertawa bersama.  Gembira melihat betapa lucunya dia ketika itu. Matanya hitam bulat seperti mata boneka.

Atau, saya juga biasa menunjukkan kepada anak "buku bayi" ketika dia lahir di rumah sakit pada usia 8 bulan di kandungan Mamahnya (lahir prematur) dengan berat badan hanya 2,1 kg. Ada "cap telapak kaki" bayi anak saya di buku itu. Saya dan anak saya selalu saja tertawa bersama, menyadari betapa kecilnya dia pada saat dilahirkan. Begitu kecilnya, sampai-sampai kalau menimangnya harus dilakukan dengan alas berupa bantal tidur (artinya, anak saya ketika bayi demikian kecil mungil, sampai-sampai bantal tidur pun "terlihat besar" dan bisa djjadikan alas).

Ketika anak saya umur 2 tahun, saya dan dia juga membuat "jiplakan tangan" kami bersama. Caranya, jari-jari dan telapak tangan kiri ditaruh di atas kertas, lalu "dijiplak" dengan spidol. Ketika tangan di angkat dari kertas, maka pada kertas itu tampak gambar ukuran sebenarnya dari telapak tangan dan jari-jari tangan anak saya. 

Gambar seperti ini pun membuat kami tertawa bersama, menyadari betapa kecilnya tangan dia ketika itu.

Tentu saja, masih ada koleksi barang-barang lain yang dapat dipakai sebagai sarana ngobrol dengan anak, dengan menggunakan "barang-barang nostalgia". Misalnya, kertas kerja saya yang tanpa saya duga (waktu itu) dicoret-coret dengan spidol warna-warni oleh anak saya. Bukannya marah, saat itu justru kertas itu saya simpan dan saya laminating supaya tidak rusak. Sekarang, setiap kali saya menunjukkan kertas itu, anak saya tertawa melihat "hasil karyanya" ketika itu.

----------

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Selamat menemani anak....

Selamat bernostalgia dengan foto-foto atau barang-barang lama sambil bercerita dan tertawa gembira bersama anak....

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----23/02/2013-----

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph.
Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.

Rabu, 30 Januari 2013

MENEMANI ANAK BERSANTAI SAMBIL MEMPERDALAM PENGETAHUAN




Sebenarnya, ada banyak sekali alat peraga Ilmu Pengetahuan Alam yang sudah secara otomatis / alamiah tersedia di sekitar kita. Hanya saja, kita mungkin saja sudah terbiasa membayangkan bahwa alat peraga itu harus berupa alat-alat yang ada seperti di dalam laboratorium yang kita lihat di film atau di televisi. 

Sebenarnya tidak.

Alat peraga itu ada banyak sekali di alam terbuka. Ada banyak sekali di sekitar kehidupan kita sehari-hari. Karena sejak zaman dahulu kala, para filsuf, insinyur, dan ilmuwan alam juga selalu mengamati apa saja yang ada / terjadi di alam, dan kemudian pengamatan yang berulang-ulang itu dicatatnya menjadi buku Ilmu Pengetahuan Alam.

**********

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Tulisan kali ini mengajak kita untuk memanfaatkan apa yang ada di sekitar kita sebagai alat peraga ketika kita sebagai orang tua sedang menemani anak, bahkan ketika sedang bersantai.

Saya di penghujung tahun 2012 yang lalu sedang jalan-jalan di daerah Solo bersama anak dan istri. Ketika sedang sarapan pagi, pandangan kami bertiga tertuju pada kolam ikan yang ada di dekat ruang makan hotel tempat kami menginap. Maka, setelah makan, kami pun bersantai sambil memperhatikan apa saja yang ada di kolam ikan itu. Juga memperhatikan pancuran airnya.

Sambil menikmati pemandangan yang menyejukkan hati itu, kami pun bercakap-cakap dengan anak tentang "air". Bahwa menurut teori, air itu mengalir ke tempat yang lebih rendah (secara alamiahnya). Bahwa Ada perubahan bentuk dari "energi potensial gravitasi" (pada saat air masih di sumber pancuran) yang menjadi "energi bunyi" (pada saat air jatuh ke permukaan kolam ikan). Dan tentu saja masih ada banyak obrolan-obrolan lain sambil pandangan mata tetap menikmati kolam ikan dan pancurannya yang indah.

**********

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Memang menemani anak mempelajari atau lebih memahami sesuatu adalah cenderung sulit kalau hanya membayangkan saja. Tetapi dengan adanya alat peraga alamiah yang ada di depan mata, yang dapat dinikmati dengan hati yang senang, maka proses belajar menjadi lebih mudah dipahami dan mengendap sebagai pengetahuan praktis yang tidak melulu sekedar dihafalkan saja.

**********

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0o-----

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph.
Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Sarjana di bidang Ilmu Sosial.
      

Jumat, 25 Januari 2013

MEMUPUK CINTA TANAH AIR : RENUNGAN DARI FILM "HABIBIE DAN AINUN"





Tidak biasanya saya nonton film bioskop hanya berdua saja dengan istri saya, karena biasanya anak saya semata wayang pasti ikut serta. Tetapi siang hari itu (kebetulan hari libur nasional), anak saya lebih memilih untuk tinggal di rumah dan mengerjakan tugas dari sekolahnya yaitu membuat karya tulis.

Jadilah, istri dan saya menonton film bioskop berdua saja di salah satu bioskop di Semarang. Judul filmnya "Habibie dan Aiunun".

**********

Sebagai sebuah film, "Habibie dan Aiunun" menurut saya (dari segi Psikologi, karena saya adalah ilmuwan di bidang ini) menghadirkan nilai-nilai positif yang layak untuk direnungkan oleh para orang tua, untuk kemudian dapat diceritakan sebagai nilai luhur yang perlu dimiliki oleh anak. Nilai luhur itu adalah cinta kepada tanah air dengan keahlian yang ada. Jadi, keahlian itu bukan semata-mata atau bukan terutama untuk mendapatkan uang.

**********

Sebagai manusia, Profesor Dr. Ing. B. J. Habibie tentu tidak luput dari kekurangan. Tetapi rasa cintanya kepada tanah airnya, termasuk ketika pemikiran-pemikirannya juga tidak sepenuhnya dapat diterima oleh bangsanya sendiri, tidak membuatnya surut untuk tetap mencintai Indonesia.

Saya pribadi juga merenungkan hal ini : apakah saya sudah mencintai Indonesia dengan menggunakan / membeli barang-barang buatan Indonesia (sepanjang memang sudah ada yang buatan Indonesia) ?

Tokoh Habibie dalam film "Habibie dan Ainun" telah menunjukkan bahwa kita mestinya jangan "berbuat atau tidak berbuat" sekedar karena mencari uang saja, tetapi karena memang kita cinta kepada Indonesia.

**********

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0o-----

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph.

Penulis adalah lulusan Perikanan Universitas Diponegoro (1989-1995) dalam bidang aquaculture engineering. Belajar Hukum dan Psikologi di Universitas Semarang. Bekerja sebagai praktisi psikologi industri dan komunikasi bisnis (2002 - sekarang). Sebelumnya, bekerja di international service / export-import PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk dan di export marketing of yarn division PT Polysindo Eka Perkasa Tbk (Texmaco Group). Menjadi salesman buku, agen asuransi, dan guru les matematika & IPA sejak usia 19 tahun (setelah lulus dari SMA Kolese Loyola Semarang, Jurusan Fisika).

Kamis, 24 Januari 2013

WISATA KE MUSEUM RADYA PUSTAKA




Beberapa orang tua yang memiliki anak usia SD bertanya kepada saya, objek wisata apa yang relatif murah dan bagus untuk dikunjungi.

"Muesum," jawab saya.

Ternyata, jawaban saya cukup mengagetkan mereka. 

"Wisata kok ke museum ? Bukankah itu tempat untuk studi wisata murid-murid dengan gurunya di sekolah ?" begitu kira-kira tanggapan dari beberapa orang tua tersebut.

********************



Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Sebagaimana sudah pernah saya tuliskan di pertengahan tahun 2012 tentang Museum Ronggowarsito di Kota Semarang, Museum juga merupakan tempat yang baik untuk dijadikan sebagai objek kunjungan wisata para orang tua dengan anak-anaknya.

"Bukankah di museum hanya ada barang-barang kuno ?" tanya salah satu orang tua murid kepada saya.

"Ya. Dan mempelajari barang-barang kuno itu banyak gunanya," jawab saya berusaha meyakinkan. "Karena dengan begitu, kita bisa melihat trend dari kemajuan zaman, termasuk juga nilai-nilai luhur yang menjadi dasar dari kemajuan yang kita alami sekarang ini."

********************

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----o0o-----



Minggu, 20 Januari 2013

MENEMANI ANAK : PRAKTIKUM "OUT BOND" SEDERHANA


Di hari Minggu atau di hari Libur, anak dapat diajak untuk membuat praktikum sederhana secara “out bond” alias berkegiatan di alam terbuka.
Tampak pada gambar di atas, Susana Adi Astuti (alumnus Perikanan Universitas Diponegoro tahun 1995) menemani Bernardine Agatha Adi Konstantia (sedang memotret sambil menderngarkan penjelasan) siswi kelas VIII SMP Pangudi Luhur Domenico Savio Semarang.

Prinsipnya, sambil jalan-jalan di hari libur, orang tua dapat memanfaatkan pengetahuan / pengalamannya untuk menemani anak guna menambah pengetahuan / wawasan / pengalaman anak dengan membuat praktikum sederhana.


Kegiatan praktikum sederhana ini dapat dilakukan secara sederhana saja. Anak diajak oleh orang tuanya untuk berhenti dan mengamati apa yang ada di alam sekitar, kalau misalnya praktikum sederhana ini tentang ekologi.

Tampak dalam gambar di atas, Susana Adi Astuti (orang tua) sedang berjongkok sambil bercerita kepada Bernardine Agatha Adi Konstantia (juga berjongkok, memakai jaket warna putih). Bernardine Agatha mendengarkan cerita ibunya sambil memotret apa yang dilihatnya / menarik perhatiannya, sehingga nanti dapat dijadikan sebagai koleksi foto dan bahkan dapat digunakan untuk memperdalam pengetahuannya. Jadi, anak terbiasa belajar dari kenyataan sehari-hari yang ada di lingkungannya, selain membaca teori yang ada di buku-buku pelajaran.


Bagi Susana, kegiatan ini juga merupakan nostalgia tentang kegiatan praktikum Ekologi Laut, Biologi Laut, Mangrove / Bakau, dan Ekologi Ikan yang dulu dijalaninya ketika masih kuliah di Perikanan Universitas Diponegoro 1989-1995. Jadi, sambil bernostalgia pun, orang tua juga dapat menambah wawasan / pengetahuan / pengalaman anak.

Anak dibiasakan untuk belajar dari ke-NYATA-an, bukan semata-mata meng-HAFAL-kan buku pelajaran. Dengan demikian, anak lebih me-MAHAM-i apa yang dituliskan dalam TEORI-TEORI.


Mengamati muara sungai.

Foto di atas dibuat oleh Bernardine Agatha Adi Konstantia sambil mendengarkan uraian dari Susana Adi Astuti (ibunya) dan Constantinus Johanna Joseph (ayahnya).

Praktikum sederhana dengan metode “out bond” alias kegiatan di alam terbuka dengan tema “Ekologi Pantai dan Muara” dalam contoh tulisan ini dapat dilakukan dengan mudah karena ibu dan ayah dari Bernardine Agatha Adi Konstantia adalah lulusan dari Perikanan Universitas Diponegoro Semarang.

Setiap orang tua pada dasarnya dapat menggunakan ilmu ataupun pengalamannya sebagai tema praktikum sederhana dengan metode “out bond” alias kegiatan di alam terbuka bagi anaknya.

Sebagai contoh, apabila ayah dan ibu adalah seorang Sarjana Ekonomi, maka anak dapat diajak melakukan “out bond” praktikum sederhana ke pasa tradisional maupun ke pasar modern. Tentu saja, bukan untuk belanja seperti biasanya, tetapi untuk mendapat cerita dari ayah / ibunya (yang Sarjana Ekonomi) tentang apa definisi pasar, jenis-jenis pasar, tata niaga yang ada di pasar, dan sebagainya. Anak juga dapat sambil memotret apa saja yang dilihatnya di pasar, yang dinilainya perlu difoto untuk memperdalam pemahamannya tentang apa yang diuraikan oleh ayah / ibunya sambil praktikum sederhana dengan metode “out bond” di pasar.

Bakau / Mangrove.

Foto oleh Bernardine Agatha Adi Konstantia.

Sambil mendengarkan uraian dari ibu dan ayahnya tentang definisi bakau / mangrove, kegunaan dari bakau / mangrove, dan sebagainya, Bernardine Agatha Adi Konstantia memotret tanaman bakau / mangrove.

Foto-foto seperti ini selain berguna untuk memperdalam pemahamannya, juga dapat digunakan sebagai ilustrasi tulisan yang dibuat anak. Dengan demikian, secara alamiah anak akan terbiasa membuat tulisan ilmiah berdasarkan apa yang dialaminya dalam kehidupan sehari-hari. Anak akan tumbuh dengan pola pikir ilmiah, bukan semata-mata menjadi “burung beo” yang pandai menirukan (menghafalkan) tetapi tidak memahami dan karena itu tidak dapat mengembangkannya.
Memotret Muara.

Bernardine Agatha Adi Konstantia sedang memotret muara dari atas jembatan.

Memang, untuk melakukan kegiatan praktikum “out bond” seperti ini, ayah dan ibu harus siap mendampingi anak untuk berada di tempat-tempat yang dalam keseharian tidak pernah / jarang dikunjungi manusia dengan berjalan kaki.

Tampak dalam foto di atas, Bernardine Agatha sedang memotret dari atas jembatan yang memang relatif masih aman untuk didatangi manusia, meskipun pada kenyataannya memang jarang sekali manusia berkunjung ke tempat ini (sepi).

Perlu untuk diperhatikan adalah factor keamanan diri pada saat melakukan kegiatan praktikum “out bond” seperti ini. Dalam contoh di atas, yang perlu diperhatikan adalah bahwa jembatan yang dikunjungi relatif aman / tidak rusak sehingga tidak membahayakan keselamatan diri. Selain itu juga karena mengingat tempatnya relatif sepi, maka perlu anitisipasi terhadap pelaku kejahatan. Maka, pakaian yang dikenakan juga harus sederhana / jangan menyolok / jangan memakai banyak perhiasan. Selain itu, untuk berjaga-jaga, ada baiknya jangan berdua saja dengan anak, tetapi setidaknya bertiga atau berombongan ketika mengunjungi tempat praktikum “out bond” yang relatif sepi. Juga, mempersenjatai diri dengan peralatan yang tidak melanggar hukum adalah perlu. Misalnya, jangan membawa pisau / belati (apalagi kalau tidak bisa menggunakannya untuk membela diri); membawa kunci-tambahan stir mobil (terbuat dari besi) atau stang dongkrak mobil (juga terbuat dari besi) adalah lebih masuk akal (asalkan tidak terlalu menyolok, misalnya dengan dimasukkan ke dalam jaket).

Ini semata-mata untuk jaga-jaga saja. Membawa alat komunikasi seperti “handphone” juga perlu, untuk melakukan komunikasi / meminta bantuan saudara apabila memerlukan bantuan secara tidak terduga.
Selamat menemani anak.

“Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa”.

-----o0o-----

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph.
Foto-foto oleh Bernardine Agatha Adi Konstantia dan Constantinus Johanna Joseph.


Constantinus adalah Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922, Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Sarjana di bidang Ilmu Sosial.

Rumah : Jalan Anjasmoro V nomor 24 Semarang.
Telepon : 081 229 255 689.
E-mail : constantinus99@gmail.com