Rabu, 01 Januari 2014

KONSTRUKSI yang KUAT dan yang TIDAK KUAT



Bangku kayu yang bisa "bergoyang ke kiri dan ke kanan" pada saat diduduki karena 
konstruksinya tidak kokoh (foto di atas)

Agatha (anak saya semata wayang) dan saya pagi itu sedang sarapan "nasi ayam" dalam perjalanan kami bersepeda keliling kompleks perumahan (dan pertokoan) di dekat rumah. Sambil duduk menunggu makanan yang kami pesan, kami berdua merasa ada yang aneh dengan tempat duduk (bangku kayu) yang kami duduki : bisa bergoyang ke kiri dan ke kanan, meskipun "masih cukup aman / kokoh" alias kecil kemungkinan untuk roboh / ambruk.


Konstruksi "sudut-sudut kaki" bangku kayu yang tidak kokoh karena tidak dipasang "kayu segitiga" 
(foto di atas)

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Saya lalu mengajak Agatha untuk mengamati (dan memotret) : bagaimana KONSTRUKSI penyambungan "sudut-sudut kaki" bangku kayu itu, sehingga bisa bergoyang kiri kanan.


Konstruksi "sudut-sudut kaki" meja kayu yang kokoh karena dipasang "kayu segitiga" 
dengan cara dipaku (foto di atas dan foto di bawah).



Ternyata benar ! Berbeda dengan KONSTRUKSI penyambungan "sudut-sudut kaki" meja kayu dibuat kokoh karena ada "tambahan kayu segitiga" yang dipaku pada "sudut-sudut kaki" meja kayu yang ada di situ, hal itu tidak dilakukan pada "sudut-sudut kaki" bangku kayu yang (kebetulan) sedang kami duduki. Entah mengapa demikian. Mungkin pembuat bangku kayu itu kehabisan "kayu segitiga" untuk dipasang di "sudut-sudut kaki" bangku kayu ini. Tetapi demi kokohnya bangku kayu ini pada saat diduduki oleh orang (dan supaya tidak mudah rusak), seharusnya "kayu segitiga" itu tetap di-ADA-an dan dipaku pada "sudut-sudut kaki" bangku kayu.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Seperti biasa, kejadian-kejadian sederhana seperti ini justru menjadi KEASYIKAN tersendiri, karena bisa menjadi bahan OBROLAN Agatha dengan saya. Juga, menjadi bahan TULISAN di blog inspirasi pendidikan kreatif Holiparent ini.

Apa sih yang bisa kita renungkan dari cerita "sudut kaki bangku kayu" yang tidak kokoh itu ?

1. Bahwa kita sebagai orang tua dapat menjadikan hal-hal SEDERHANA yang ada di sekitar kita sebagai BAHAN OBROLAN dengan anak kita.

2. Bahwa obrolan seperti ini bisa MENAMBAH WAWASAN anak berdasarkan PENGALAMAN PRAKTIS sehari-hari yang dikaitkan dengan TEORI-TEORI PELAJARAN yang didapatkan anak di sekolah. Dengan demikian, anak secara OTOMATIS sudah TERBIASA untuk MENGAITKAN teori yang didapatkan di sekolah dengan pengalaman praktis yang dialaminya. Contoh, dari pengamatan (dan foto) tentang "bangku goyang kiri kanan" itu, Agatha dan saya kemudian mengaitkannya dengan RESULTAN GAYA-GAYA yang kami berikan kepada bangku kayu ini, yang kebetulan KONSTRUKSI-nya tidak kokoh, sehingga bangku kayu bisa goyang kiri dan kanan (dan pasti lambat laun akan rusak !). Seandainya KONSTRUKSI bangku kayu itu kokoh / kuat, maka RESULTAN GAYA-GAYA yang kemi berikan tidak mampu membuat bangku kayu itu bergoyang kiri dan kanan. Sehingga, anak belajar tentang FISIKA  di luar kelas, dalam hal ini di warung "nasi ayam".


Bangku kayu yang tidak kokoh konstruksinya (foto di atas)

Selamat menemani anak.

Selamat menemani anak supaya anak bisa BELAJAR tentang TEORI PELAJARAN justru pada saat berada di warung makan (atau di tempat lain) saat jalan-jalan dengan orang tua. Orang tua dapat memanfaatkan Google yang ada di Smartphone / Tablet / BB yang selalu dibawa oleh orang tua ke mana saja. Jadi, Smartphone / Tablet / BB itu juga menjadi SARANA PENDUKUNG bagi orang tua untuk menemani anak-anaknya belajar DI LUAR SEKOLAH.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".


Warung Nasi Ayam (foto di atas)

-----o0o-----


Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi - Anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.