Kamis, 04 Oktober 2012

MENEMANI ANAK MELAKUKAN PENGAMATAN DAN MENGGUNAKAN LOGIKA UNTUK MENGAMBIL KESIMPULAN


Di sekolah, anak biasanya mendapatkan tugas untuk mewawancarai seseorang. Tujuannya, agar anak memiliki pengalaman berinteraksi dengan orang lain yang belum dikenalnya, sehingga ketrampilan sosial anak meningkat. Juga, pengetahuan anak menjadi bertambah. Setidaknya, tentang pekerjaan dari orang yang diwawancarai itu, yang sebelumnya tidak banyak diketahui oleh anak.

--------------------

Pertanyaan yang diajukan dalam wawancara itu (sesuai arahan dari guru di sekolah) biasanya juga menyangkut berapa penghasilan dari orang yang diwawancarai.

Beberapa pekerjaan memang dengan mudah dapat diketahui penghasilannya oleh anak (yang mewawancarai), karena orang yang diwawancarai memang dengan jelas menyebutkan penghasilannya. Misalnya, seorang Customer Service yang baru bekerja kira-kira 1 tahun memiliki penghasilan Rp 1,5 sampai Rp 2 juta. Atau seorang Direktur HRD sebuah perusahaan swasta memiliki penghasilan Rp 15 juta.

--------------------

Tetapi beberapa pekerjaan memang tidak dapat diketahui secara langsung penghasilannya. Artinya, anak harus kita temani / kita beritahu bahwa penghasilan orang itu harus kita hitung sendiri karena orang yang diwawancarai itu memang tidak terbiasa mendapatkan penghasilan yang diterima secara bulanan (sebulan sekali).

Penjulan "Pecel F2" langganan saya, misalnya. Orangnya ramah. Kalau ditanya / diwawancarai, pasti menjawab (ditengah-tengah kesibukannya melayani sekian banyak pembeli pecelnya). Masalahnya, penjual pecel memang tidak punya gaji / penghasilan bulanan.

Nah, anak kita temani / kita beritahu caranya mencari tahu berapa penghasilannya sebulan. 

Di sini, kita sebagai orang anak menemani anak untuk menggunakan logika dalam mencari data apa saja yang diperlukan, sehingga nantinya bisa diambil suatu kesimpulan, dalam hal ini penghasilan sebulan.



Pertama, anak kita beritahu bahwa jangan mengajukan pertanyaan yang sifatnya tidak familiar bagi orang yang diwawancarai. Di sini, anak kita temani untuk menggunakan logika. Contoh pertanyaan yang tidak familiar bagi seorang penjual pecel adalah : Berapa orang pembeli pecel setiap harinya ? Atau : Berapa orang pembeli pecel setiap bulannya ? Anak kita beritahu bahwa penjual pecel tidaklah sama dengan pramugari pesawat terbang yang ketika pesawat akan berangkat maka pramugari pesawat itu akan menghitung jumlah penumpang dengan alat hitung (counter) sambil berjalan dari depan ke belakang pesawat. Tidak. Penjual pecel tidak melakukan itu. 

Tetapi, anak kita temani / beritahu bahwa jumlah pembeli dapat diketahui lewat jumlah pincuk / piring terbuat dari daun. Maka anak kita ajari untuk bertanya : Berapa pincuk yang dibuat dalam sehari ? Dalam hal ini, penjual "Pecel F2" akan menjawab : 200 pincuk. Lalu anak kita ajari untuk bertanya lebih lanjut : apakah 200 pincuk itu selalu habis dalam sehari ? Dan karena penjual "Pecel F2" menjawab : Ya, maka anak dapat menyimpulkan bahwa dalam sehari rata-rata ada 200 orang pembeli.

Lalu, anak masih kita temani / kita ajari untuk melihat fakta guna mengumpulkan data : Apakah ada banyak pembeli yang membeli pecel untuk dibawa pulang ? Penjual pecel "F2" menjawab : Ya, kira-kira 50 bungkus.
 
Sampai di sini, anak sudah dapat menggunakan logika untuk mengambil kesimpulan bahwa dalam sehari (berjualan mulai pk. 17.00 sampai 20.00 WIB) penjual "Pecel F2" menjual 250 porsi pecel. (Catatan : Ada banyak penjual pecel sejenis ini di sepanjang Jalan MT Haryono Semarang, juga ada di Kawasan Simpang Lima Semarang, dan di Jalan Gajahmada Semarang. Tetapi pecel "F2" yang buka di Jalan MT Haryono Semarang, tepatnya sebelum jalan masuk menuju Stadion Diponegoro Semarang, terkenal tidak terlalu pedas sehingga bagi yang tidak suka pedas, pecel "F2" menjadi pilihan tepat (termasuk bagi keluarga saya)).

--------------------

Anak masih kita temani / kita ajari untuk mencari data : Berapa yang dibayar oleh pembeli untuk setiap porsi ? Ini bisa didapat dari yang rata-rata kita alami sendiri sebagai pembeli. Maksudnya begini : kalau yang makan 2 orang, makan 2 porsi, harus membayar Rp 18.000,- (termasuk lauk pauk dan minum), maka anak kita ajari untuk menyimpulkan sendiri bahwa 1 porsi (termasuk lauk pauk dan minum) = Rp 7.000,- (rata-rata).

Mengapa anak kita ajari untuk menyimpulkan sendiri ? Karena penjual (seperti penjual pecel "F2" ini) kalau ditanya tentang omzet / jumlah uang yang diterima seperti ini hanya akan tersenyum simpul saja.

Jadi, bisa disimpulkan dengan pendekatan / kira-kira bahwa dalam sehari penjual pecel "F2" ini menerima uang hasil penjualan (omzet) 250 porsi X Rp 7.000,- = Rp 1.750.000,-.

--------------------

Karena dalam sebulan jarang sekali penjual pecel "F2" ini tutup, anak kita temani untuk menghitung hasil penjualan (omzet) sebulan yaitu sekitar 30 hari X Rp 1.750.000,- = Rp 52.500.000,-.

Kalau begitu, berapa penghasilannya ? Penghasilan seorang penjual pecel (seperti pecel "F2" ini) berasal dari keuntungan bersihnya, yaitu hasil penjualan (omzet) setelah dikurangi biaya-biaya untuk modal, membayar listrik PLN, transportasi. 

Nah, tentang keuntungan bersih ini, lagi-lagi kalau seorang penjual pecel seperti "Pecel F2" ditanya, maka hanya akan tersenyum simpul saja. Maka anak kita beritahu bahwa biasanya keuntungan bersih yang menjadi penghasilan penjual pecel seperti ini berkisar 15% sampai 20% dari hasil penjualan (omzet). 

Artinya, kalau hasil penjualan (omzet) sebulan adalah Rp 52.500.000,- maka keuntungan bersihnya / penghasilannya adalah antara Rp 5.250.000,- sampai Rp 7.875.000,-. Karena semua ini adalah hasil perkiraan saja, maka anak kita ajari untuk menyimpulkan : pengasilan rata-rata berkisar antara Rp 5 juta sampai Rp 7 juta atau Rp 8 juta sebulan.

--------------------

Dengan demikian, anak kita temani bukan hanya menyelesaikan tugas wawancara, tetapi juga mendapatkan pengalaman baru untuk mengumpulkan data-data yang relevan berdasarkan pengamatan langsung dan juga logika, sehingga anak dapat mengambil suatu kesimpulan.

--------------------

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".


-----o0o-----     


Foto dan tulisan oleh  Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Sarjana di bidang Ilmu Sosial. Magister Manajemen di bidang Marketing, Praktisi Psikologi Industri & Komunikasi, dan Praktisi Perbankan.
 
 
  
www.holiparent.blogspot.com diterbitkan oleh "Holiparent Studio 89" (dahulu "Jantera Study 89") yang memberikan bimbingan & konsultasi untuk anak-remaja-dewasa tentang Article Writing & Scientific Photography for  Communication & Creativity Purposes. Bimbingan & konsultasi di Jalan Anjasmoro V no. 24 Semarang setiap Senin-Jumat pk. 18.00-21.00 (Minggu pagi khusus Scientific Photography - Outdoor).