Sabtu, 02 Juni 2012

FRANKENSTEIN ? NO !


Frankenstein adalah judul sebuah novel cerita fiksi. Novel ini dibuat oleh Mary Shelley. Pertama kali terbit tahun 1818. Dan sejak itu sudah berkali-kali di-film-kan dengan berbagai judul. Juga dengan berbagai variasinya.

Saya menonton salah satu film Frankenstein pada saat saya masih SD. Sekitar tahun 1970-an akhir atau 1980-an awal. Menonton di televisi. Seingat saya, filmnya sudah cukup kuno saat saya tonton. Entah sudah berwarna, entah masih hitam putih, saya lupa. 

Dalam novel maupun film Frankenstein, dikisahkan tentang seorang dokter (namanya dokter Frankenstein) yang berupaya meng-hidup-kan lagi jenazah orang yang sudah meninggal. Seingat saya, di film itu diceritakan bahwa jenazah itu dijahit di sana - sini. Juga disambung dengan kabel-kabel listrik. Dengan cara itulah, akhirnya jenazah itu berhasil di-hidup-kan.

Tetapi, lalu jenazah yang hidup itu tidak bisa hidup sebagaimana manusia layaknya. Dia menjadi monster. Hanya wujudnya saja yang (mirip) manusia. Tetapi gerak-geriknya kaku.  Bahkan dia itu merasa kesepian. Bahkan juga, monster ini protes kepada dokter Frankenstein, karena dokter ini telah membuat dirinya seperti itu. Karena dia dipaksa di-hidup-kan lagi. Dokter ini punya tujuan baik dengan meng-hidup-kan kembali. Tetapi dia merasa terpaksa.

--------------------

Saya tiba-tiba saja ingat tentang Frankenstein. Ketika menemukan fakta ada anak yang dipaksa orang tuanya untuk les piano. Untuk les Bahasa Inggris. Untuk les pelajaran ini. Untuk les pelajaran itu. 

Ya. Saya menjadi guru les privat sejak tahun 1999. Dan sejak dulu ----- sampai sekarang ini ----- saya secara nyata menemukan adanya anak-anak seperti ini. Yang melakukan sesuatu tidak dengan kemauannya sendiri. Anak-anak seperti ini bisa saja pintar di bidang itu.  Tetapi dia terpaksa. Maka, dia benci hal itu.

Memang, sebagai guru les privat saya biasa dijadikan tempat curhat. Murid les privat saya ada juga yang terang-terangan bilang, dia les dengan saya juga terpaksa. Walah !

--------------------

Saya tidak mengatakan bahwa anak tidak perlu diarahkan. Tetapi yang penting, bagaimana cara mengarahkannya. Jangan sampai dia merasa terpaksa.

Nah, bagaimana caranya ?

Ini yang unik. Khas untuk setiap anak. Tetapi secara umum saya mengatakan, orang tua harus bisa membuat anak dengan sukarela bergerak melakukan sesuatu. Les, misalnya. Les apa saja.

Nah, anak (juga orang dewasa) akan dengan sukarela bergerak kalau dia tahu keuntungan apa yang akan didapatnya. Misalnya, anak dengan sukarela bergerak melakukan les Bahasa Inggris karena tahu bahwa dia akan mendapatkan keuntungan yaitu bisa kuliah di luar negeri nantinya (sebab memang itu adalah cita-citanya). 

Itu tadi faktor yang pertama. 

Faktor yang kedua, anak akan dengan sukarela bergerak kalau hal itu tidak mengganggu / mengurangi  / menghilangkan keuntungan lain yang sedang / akan dia dapatkan. Misalnya, anak dalam contoh tadi memang bisa les Bahasa Inggris di saat dia sedang tidak les piano (yang juga disukainya, karena merupakan hobby-nya).

--------------------

Selamat menemani anak. 
Selamat menemukan cara / gaya yang tepat untuk menggerakkan anak, sehingga anak dengan sukarela bergerak melakukan sesuatu, sesuai arahan orang tua.
Setidaknya, anak tidak merasa terpaksa.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

----------o0o----------

  • Tulisan dan repro foto oleh Constantinus. Guru les privat Matematika dan IPA untuk SD, SMP, SMA sejak tahun 1999. Saat ini banyak memberikan sharing kepada orang tua tentang menemani anak = menjadikannya kreatif.