Sabtu, 20 Oktober 2012

KETIKA ANAK MAU TERBUKA KEPADA ORANG TUA


Anak akan secara terbuka bercerita kepada orang tuanya 
ketika dia melihat orang tua sebagai sahabat terbaiknya.

Siang itu sekitar pk. 10.00 saya sedang berbincang-bincang dengan seorang karyawati sebuah perusahaan swasta. Beliau ini punya jabatan sebagai Manajer Keuangan. Katanya, "Saya sekarang ini lebih tenang, Pak...bisa menemani anak belajar...meskipun saya harus ikut menghafal lagi pelajaran IPA kelas 5 SD...saya senang....".

Saya menyimak sungguh-sungguh kata demi kata yang diucapkannya. Terlihat mata beliau berkaca-kaca.

"Saya tiba-tiba sadar...sejak kelas 1 sampai kelas 4 SD saya kurang menemani anak... Sekarang saya senang sudah bisa menemani anak...anak juga jadi terbuka dengan saya...tidak protes terus seperti dulu...," kata beliau lagi.

--------------------

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Apa yang mau saya ceritakan kali ini sebenarnya sederhana saja. Tetapi karena ini sungguh-sungguh terjadi, maka saya melihat bahwa pengalaman ini layak untuk saya sharing-kan dalam blog inspirasi pendidikan kreatif ini.

Apakah itu ?

Bahwa beliau ini adalah seorang ibu dari dua orang anak, satu orang kelas 5 SD dan satu orang kelas 1 SD, tetap dapat bekerja di sebuah perusahaan sambil tetap menemani anaknya (belajar, dll). Dan karena anaknya merasa ditemani oleh ibunya, maka anak menjadi terbuka dan mau bercerita atas inisiatif sendiri kepada ibunya.

Memang beliau ini sebagai karyawati pernah sangat gila kerja sehingga kurang memiliki waktu yang cukup untuk menemani anak-anaknya.

Tetapi dengan tekad yang kuat untuk meluangkan waktu yang lebih banyak untuk menemani anak-anaknya, beliau ini rela bahwa gajinya turun sampai 30%, asalkan jam kerjanya juga berkurang.

Dalam sebuah perbincangan dengan saya hampir satu tahun lalu, beliau mengatakan bahwa penurunan gaji 30% itu tidak sebanding dengan kesempatan beliau untuk bisa menemani anak yang dinilai begitu penting. Ini adalah sebuah pilihan yang tidak mudah (turun gaji sampai 30%), tetapi menurut beliau tidak menjadi masalah (padahal saya tahu betul bahwa beliau juga memerlukan uang itu. Artinya, dengan penurunan gaji itu, beliau harus berhemat).

Saya lalu teringat dua atau tiga tahun lalu ketika saya sebagai pembicara seminar bagi orang tua / wali murid di SMA Kolese Loyola Semarang ditanya oleh salah seorang peserta seminar seperti ini, "Bagaimana caranya menanyai anak supaya anak mau berterus terang bercerita kepada orang tua ?"

Ketika itu saya memberikan jawaban ini, "Yang menjadi perhatian kita sebenarnya bukan bagaimana caranya menanyai anak supaya anak mau bercerita terus terang kepada kita, tetapi bagaimana kita sebagai orang tua menemani anak sehingga anak dengan inisiatifnya sendiri bercerita terus terang kepada kita karena kita dipandang sebagai sahabat terbaik baginya".

Apa yang diceritakan oleh ibu dua orang anak sekaligus karyawati di sebuah perusahaan ini merupakan salah satu pembuktian bahwa anak akan menjadi terbuka dengan sendirinya manakala orang tua memang menemani dia dan menjadi sahabat terbaiknya.

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----o0o-----

Foto dan tulisan oleh Constantinus.

CONSTANTINUS (pengelola HOLIPARENT) adalah lmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Sarjana di bidang Ilmu Sosial. Magister Manajemen di bidang Marketing, Praktisi Psikologi Industri & Komunikasi, dan Praktisi Perbankan.
 
 
  
www.holiparent.blogspot.com diterbitkan oleh "Holiparent Studio 89" (dahulu "Jantera Study 89") yang memberikan bimbingan & konsultasi untuk anak-remaja-dewasa tentang Article Writing & Scientific Photography for  Communication & Creativity Purposes. Bimbingan & konsultasi di Jalan Anjasmoro V no. 24 Semarang setiap Senin-Jumat pk. 18.00-21.00 (Minggu pagi khusus Scientific Photography - Outdoor).